Setelah meminum ramuan obat- yang kubuat dengan mengorbankan tanganku- yang tidak sengaja teriris- Brian berangsur pulih dan membaik.
Setelah sebelumnya; bersikap cuek dan acuh padanya- jujur; aku cukup lega karena usahaku tidak sia- sia- ketika mengetahui; adikku yang mulai sembuh dari sakitnya.
Lambat laun, aku yang awalnya; selalu acuh padanya saat tidak ada siapapun di sekelilingku- semenjak aku ketakutan- ketika; adikku sakit- aku mulai benar- benar menjaganya- meski tidak ada siapapun yang mengawasi kami.
Tak heran, aku- yang tidak ingin membuat mommy khawatir dan kecewa- membuatku memilih menjaga adik bungsuku itu.
Ada atau tidak ada orang yang mengawasi.
Entah sejak kapan; aku- yang awalnya; menjaga adikku karena takut mommy kecewa padaku- menjadi terbiasa.
Lambat laun, muncullah rasa sayangku pada adik lelaki ku itu.
Tak heran bukan?
Aku orang pertama yang menginginkan seorang adik. Aku juga orang pertama yang selalu di sisi mommy ketika ia mengandung adikku- bahkan, aku sudah menyaksikan tumbuh kembang adikku saat ia masih di kandungan- hingga ia lahir kedunia.
Akulah orang pertama yang ada di sisi adikku- sedari ia masih menjadi bayi merah.
Tak heran; jika ia lebih dekat padaku dari pada orang tuaku.
Bangga? Tentu saja aku bangga. Rasa bangga itulah yang mungkin..; menjadikanku menyayangi adik laki- lakiku itu.
Sedari dulu; Brian memang lebih sering tidur denganku. Baru ketika; mommy tidak ada jadwal di rumah sakit- barulah Brian akan kembali ke kasur bayinya di kamar orang tuaku.
Sepi. Itulah yang kurasa; ketika adikku- yang terbiasa tidur denganku- tidak tidur di kasurku. Saat kecil- Brian juga melewati masa- masa cerewet karena belajar berceloteh. Dan aku merasa; seolah ada yang hilang ketika; sisi di kasurku kosong.
Itulah alasan- mengapa; terkadang, aku akan mengunjunginya di kamar kedua orang tuaku- untuk sekedar melihat keadaannya atau membenarkan selimutnya, mungkin.
Mommy yang peka- jelas akan terbangun ketika mendapati aku kekamar mereka- hanya untuk mengunjungi Brian.
Saat itu, Mommy hanya tersenyum sekilas sebelum akhirnya mengelus rambutku dan memujiku;
“ good boy.” kekeh Mommy.
Aku masih ingat;
Gurat wajah mommy yang jelas terlihat lelah.
Aku tahu; Mommy sudah lelah akan pekerjaan di rumah sakit- dan karena; aku yang meminta adik padanya- jelas itu membuatnya bertambah lelah.
Akan sangat egoist bukan? Jika aku malah membeci adik yang di berikan mommy atas permintaanku.
Jika aku membenci Brian- bukankah itu berarti; aku juga membenci mommy?
Aku adalah anak yang egoist. Rasa bersalah itulah- yang membuatku; tidak mau membuat nya semakin kelelahan. Biarlah aku yang menggantikan tugas mommy- untuk mengecek selimut adikku dan sebagainya.
Satu hal yang selalu aku ingat tentang mommy adalah;
Ia memang wanita terkonyol yang aku ketahui. Di depan orang lain; ia seolah menyayangi orang lain dan menindasku- yang merupakan putra kandungnya- namun sejujurnya, aku tahu; kasih sayangnya kepada keluarganya- tidak bisa di bandingkan oleh orang lain. Entah daddy ku atau grandpa atau mungkin; grandma ku- apa lagi, kakak kaku ku; Christ.
Jika di rumah; mommy adalah orang pertama yang mementingkan keluarganya. Cintanya pada keluarga sama besarnya dengan tanggung jawabnya sebagai dokter.
Tak heran;
Mommy selalu mementingkan patient melebihi apapun- terkadang; kerap aku mendapati jika; mommy tidak pulang sama sekali karena mementingkan patient nya melebihi apapun.
Tak heran bukan? Jika ia menjadi dokter yang hebat dan di segani oleh dokter lain.
Mommy; wanita yang konyol- namun, memiliki cinta yang menjadi nomor satu juga di hatinya. Wanita terhebat yang pernah aku temui.
Aku ingin menjadi orang yang seperti mommy.
Orang yang terlihat konyol- namun; sejatinya, juga menjadi orang yang mencintai keluarganya melebihi apapun.
Mungkin; itulah alasan mengapa aku memilih menjadi pria konyol juga.
Brian yang awalnya hanya tahu jika; aku adalah kakak yang acuh- menjadi pria yang konyol- hanya diam. Tak banyak protes akan perubahan yang terjadi. Arnold yang awalnya; adalah anak ceria pun tak ambil pusing dengan perubahan yang terjadi padaku kala itu. Karena memang; sifat acuhku hanya kuberikan pada Brian kala itu.
Tanpa terasa; hari mulai berganti menjadi minggu. Dari minggu sudah berganti menjadi bulan dan dari bulan akhirnya berjalan menjadi tahun.
Beberapa tahun terlewat begitu saja.
Tanpa terasa; aku telah berusia 17 tahun.
Christ semakin jarang dirumah karena kegiatan campusnya.
Catherine yang masih mengejar kakak kaku ku.
Dan Arnold dengan segala kelakuan remajanya saat itu.
Brian yang saat itu telah berusia 3 tahun; telah di beri kamar sendiri.
Namun, meski telah di beri kamar sendiri- terkadang; adikku itu masih akan menyusul ke kamarku untuk tidur bersamaku. Ia baru akan tidur ke kamarnya; ketika Gabriela dan keluarga dari uncle ku serta saudara jauhku datang kemari.
Tentu karena; Brian yang tidak ingin di olok seperti anak kecil.
Meski sebenarnya; ia memang anak kecil.
Namun, aku sendiri tidak heran.
Kakakku Christ sangat kaku- sehingga, tampak lebih dewasa- melebihi usianya.
Sedangkan aku?
Meski aku ini putra kedua- aku lebih sering di beri tanggung jawab oleh keluargaku. Dan mungkin; Brian ingin menjadi sepertiku- itu sebabnya, terkadang; ia akan bersikap seolah pria dewasa di usianya yang masih 3 tahun itu.
Ingat Gabriela..., aku jadi ingat jika;
Wanita yang menjadi ibu dari ketiga keponakan itu; adalah gadis tomboy memang lebih sering berperilaku seperti anak laki- laki, dulu.
Bahkan; wanita yang sudah di jodohkan sedari kecil untuk kakak tertuaku itu terbiasa memanjat pohon- ia juga selalu memakai topi- agar menutupi rambut panjangnya. Karena memang; keluarganya tidak pernah setuju jika wanita tomboy itu memotong rambutnya. Meski sejujurnya; mereka juga tidak pernah setuju jika Gabriela suka memakai celana. Namun, aneh rasanya; memanjat pohon menggunakan rok bukan?
Lucu rasanya ketika mengingat jika; wanita tomboy itu bisa menyukai kakak kaku ku. Wajahnya sangat lucu ketika diam- diam mencuri pandang menatap ke arah kakak kaku ku. Wajah kaku yang sangat jarang tersenyum. Berekspresi pun jarang. Aku bahkan enggan berbincang padanya- karena; ia type orang yang akan berbicara panjang lebar jika di perlukan.
* Kembali ke masa sekarang *
Aku melihat ke arah saudara jauhku yang sedang menggendong istrinya ke kamar pengantin- setelah sebelumnya kami ceburkan ke kolam- bersama- sama.
Lantas; aku melihat lagi ke arah selebaran berisikan mimpiku.
Beasiswa untuk study ke Jepang.
Ya.
Aku bercita- cita membuat humanoid.
Dulu, lebih tepatnya; saat aku berumur 18 tahun- pernah ada pameran robot di negaraku. Aku yang awalnya iseng- memutuskan melihat- lihat pameran itu.
Dan perhatianku langsung tertuju pada kehebatan salah satu negara dengan symbol matahari terbit itu.
Robot humanoid yang bisa bernyanyi dan menari.
Aku kembali pada keinginanku memiliki adik perempuan. Jika tidak bisa memilikinya- aku bisa membuat robot anak perempuan kecil bukan? Itulah pikirku saat itu.
Aku kembali tersenyum mengingat hal itu. Itulah alasan yang mengantarku sampai ke titik ini. Dimana aku mulai belajar memogram dan membuat robot- robot sederhana.
Aku yang memulai nya dari nol- tentu sangat kesusahan memulai hal yang baru tersebut. Namun; aku semakin tertantang untuk mencoba segalanya. Membuat robot adik perempuan adalah tujuanku saat itu.
Butuh waktu bertahun- tahun untuk ku mempelajari ilmu pemograman- hingga akhirnya aku bisa sedikit ilmu yang biasanya di gunakan untuk menghacker akun orang lain. Namun; aku lebih sering membuat firewall untuk melindungi laptop atau computer orang lain.
Itulah yang sering aku lakukan- ketika ada temanku yang mengeluh jika; laptop atau akunnya di hack seseorang.
Keluargaku adalah seorang dokter. Ibuku dokter dan ayahku seorang apoteker- kakakku seorang ahli kimia dan adikku?
Sekarang ia juga adalah seorang dokter hebat yang memiliki rumah sakit sendiri.
Hanya aku saja yang tidak memiliki profesi yang ada kaitannya dengan kedokteran.
Mungkin, itulah alasanya; dulu, aku memilih mengumpulkan uangku sendiri untuk cita- citaku.
Keluargaku memang tidak masalah jika aku memilih menentukan jalanku sendiri- namun; aku memilih menggunakan kemampuanku sendiri untuk menentukan jalanku.
Itulah alasan aku memilih mengambil jalur beasiswa- yang hanya ada setiap beberapa tahun sekali.
Selain itu; aku juga masih harus melatih diriku sendiri. Aku yang baru memulai dari usia remaja- pasti tidak ada apa- apanya dengan orang yang sudah menyadari bakatnya sedari kecil.
Karena memang; dari yang aku tahu; anak kecil di negara dengan symbol matahari terbit itu saja bisa merangkai robot sederhana.
Sebenarnya; semenjak ada Ale- aku merasa memiliki adik perempuan. Ia manis dan menggemaskan.
Tak jarang; aku suka mengusel rambutnya- seolah adik perempuanku sendiri- namun, aku sadar; jika ada hati yang harus kujaga.
Ada Brian ada pula Arnold dan juga kekasih hatiku Catherine.
Itu sebabnya; aku memilih kembali untuk focus pada mimpiku kembali.