Permintaan Damien

1713 Kata
Damien. Namaku.., Damien Holland- seorang International Police dan saat ini aku beranjak menuju usia 32 tahun-saat aku melihat- jika akhirnya, saudara jauhku; sah- menjadi suami dari wanita yang dia cintainya. Lantas; aku melihat ke arah calon keluarga kecilku. Calon keluarga kecil? Karena; aku memang belum menikah dan statusku masihlah single- meski sebenarnya; aku sudah memiliki seorang putri- yang kini akan berusia 3 tahun. Bagaimana bisa; aku belum menikah- meski aku sudah memiliki seorang anak? Aku kembali melihat ke pasangan pengantin- yang berbahagia. Terutama pengantin pria- yang merupakan saudara jauhku. Ya, saudara jauhku inilah- alasan mengapa; aku tak kunjung menikah- meski aku sudah memiliki seorang putri. Ia yang pernah terjatuh ke dalam lembah penyesalan. Ia yang berubah karena kecewa. Dan aku yang tak ingin; ia berubah. Aku memilih; melupakan mimpiku- mengalihkan rasaku- apapun, hanya agar aku; menemukan wanita yang bisa mengembalikan saudara jauhku seperti semula. Itulah yang kurasakan saat itu. Itulah alasan; mengapa, aku tak juga menerima; wanita yang mencintaiku- meski, aku juga mencintainya. Saat itu; aku tak bisa mengikatnya- namun, tak juga ingin melihat dia di miliki orang lain. Itulah alasan; mengapa Anastasia bisa ada- meski aku belum menikahi Catherine. Aku memilih menggenggam tangan Catherine dan menggendong Anastasia. Saat ini aku berjanji; akan ganti mengejar Catherine- wanita yang dulu; selalu aku tolak- meski, selalu aku rindukan pula. Ia masih harus mengejar gelar Doctor nya- hanya agar; pantas bersanding denganku. Sebenarnya; keluargaku tidak masalah. Namun; ia hanya belum merasa pantas menyematkan; nama Holland- di belakang namanya. Akupun; mengantongi selebaran berisikan mimpiku. Kertas berisi ujian- untuk mendapatkan beasiswa ke Jepang- yang selama ini aku tunda; hanya untuk study psychologist ku. Setelah; Arnold menikah, sudah saatnya; aku kembali menggenggam mimpiku; cita- cita ku. Bagi sebagian orang; ini tidak adil. Melupakan mimpi- hanya untuk menolong orang lain. Aku memilih; menatap ke arah adikku yang berbeda 14 tahun dariku. Bukan hanya aku yang melupakan mimpiku- namun; Brian- yang sebelumnya; memilih tidur melebihi apapun; saat Arnold terjatuh- dengan tiba- tiba ia mengatakan; ingin menjadi seorang dokter. Padahal; saat itu, adikku baru berusia sekitar 7- 8 tahun. Adikku memang pandai. Tak heran jika bisa menjadi seorang doctor di usianya 17 tahun- dengan beasiswa di campus yang sama dengan Catherine mengambil study nya. Aku terlihat bangga padanya- menyayangi adik bungsu ku itu. Siapa yang menyangka jika; ada waktu- dimana; aku pernah membencinya- karena; aku pernah berharap ingin memiliki adik perempuan- bukannya laki- laki. Aku masih ingat- saat itu; aku masih berumur 12 tahun- saat dimana; aku meminta ibuku memberiku adik lagi; * “ mom, aku mau adik.” ucapku saat itu. “ Adik?” tanya mommy yang hanya aku jawab dengan anggukan. “ Kau lupa; jika kau sudah berumur 12 tahun? Kau mau memiliki adik kecil- saat kau sudah remaja?” heran Mommy. “ aku mau; adik perempuan, mom! Sementara; tidak ada yang mengatakan sebelumnya- jika; Aunt Berta tak lagi bisa memiliki anak lagi- selain Arnold.” jelas ku meletakkan kepalaku di pangkuan mommy. “ kenapa; kau tiba- tiba ingin adik perempuan, Dam?” heran Mommy. “ agar, bisa aku ajak; bermain dan aku dandani.” kekehku- ya, dulu; ada masa aku pernah sepolos anak- anak yang lain. “ ingin kau dandani? Atau karena; kau tidak ingin mommy dandani dengan baju anak perempuan?” kekeh mommy- yang sedang mengikat rambutku menjadi dua . “ dua- duanya.” kekehku. “ belum tentu; adikmu nanti; perempuan, Dam.” kekeh Mommy mencubit hidung ku. “ mommy! Kau seorang doktor; apakah, kau tidak bisa membuat anak perempuan dengan teory kedokteran?” tanyaku. “ teory- bagaimana; agar anak yang di kandung- sesuai dengan yang kita mau- memang ada, Dam. Namun; prakteknya, yang membuat tetap kuasa Bapa, kau tahu?” kekeh Mommy sekali lagi menoel hidungku. “ aku akan berdoa- semoga, adikku nanti; perempuan, mom.” ucapku dengan semangat. Ya, ada hari dimana; aku masih percaya dengan kekuatan doa- sama seperti anak- anak polos lainnya. Dan sejujurnya, alasan mengapa; aku yang melupakan berdoa- karena; aku merasa semua doa ku tak di dengar; aku yang tidak di kabulkan memiliki adik perempuan- uncle Lucas yang tiada- Arnold yang berubah dan ujung dari semua itu adalah; aku yang kehilangan Catherine. Meski begitu; aku pernah berada di masa; menjadi anak polos yang percaya pada kekuatan doa- itu sebabnya; ketika mommy berkata; akan mengabulkan permintaanku- aku tak juga lelah berdoa. Jangan tanya; mengapa mommy masih bisa mengandung- di usianya yang tak lagi muda? Tentu karena; kemesraan mommy dan Daddy yang tak lekang oleh waktu- adalah jawabannya. Apa lagi, sebagai seorang apoteker; daddy bisa meracik Vitamin yang berguna bagi tubuh mommy- Itu sebabnya; begitu mommy memulai program mengandung- tak butuh waktu lama bagi ia mengandung adikku. Kalian tahu; betapa senangnya aku saat itu? 9 bulan aku terus menunggu. Dan aku selalu menjaga mommy- mengelus perutnya dan memijiti pundak serta pinggangnya adalah pekerjaanku sehari- hari, kala mommy mengandung adikku. Namun; apa yang kulakukan terasa sia- sia; kala, melihat jika adikku adalah laki- laki. Aku kecewa. Dan rasa kecewa itu pernah hampir membuatku membenci adik laki- laki ku itu. Tak heran; perjuanganku membantu mommy menjadi sia- sia. Karena; aku akan kembali di dandani seperti anak perempuan. Apa lagi; aku melihat jika mommy ku- jadi; sibuk mengurus adik laki- laki ku itu. Dulu, meski aku tidak suka di dandani ibuku- aku paling suka bersandar di pangkuan mommy. Aku memang mengatakan jika; aku tidak suka di dandani- namun; aku tetap memanjangkan rambutku- hanya agar bisa bersandar di pangkuan ibuku. Dan kini; tempat itu di rebut adikku. Meski adikku juga laki- laki; aku yang sudah berumur 14 tahun- jelas tidak paham lagi akan bahasa bayi- sehingga, kala ia menangis; aku tak paham apa yang ia ucapkan. Dan aku tidak suka melihat; sifat ibuku yang konyol- berganti jadi kesusahan- kala mengurus adikku yang masih bayi. Aku memilih berganti mengurus adikku- hanya agar mommy ku bisa tidur. Sedari bayi merah- aku memang telah mengurusnya. Namun; saat itu; aku belum bisa menyayangi adikku itu. Aku hanya mengurusnya- karena tidak tega melihat mommy ku kelelahan.. Bisa di bilang; aku malah membencinya. Rasa kecewa karena yang terlahir bukanlah perempuan- di tambah; melihat ibuku yang kesusahan karena adikku- juga ia yang merebut tempat favorit ku membuat ku tidak bisa menyayanginya. Apa lagi; aku yang tidak bisa berkomunikasi padanya. Meski begitu; aku tetap mengurusnya- seolah kakak yang menyayangi adiknya. Bahkan; saudara jauhku saja, sampai iri pada kedekatan kami- namun, jauh dalam hatiku; aku merasa bersalah, karena membohongi diriku sendiri dan orang lain. Mungkin; itulah alasan mengapa Bapa menghukum ku. Ada yang bilang; Anak yang tidak di hargai- akan di ambil lagi oleh Bapa di surga. Dan itulah yang terjadi pada adikku ketika ia baru berumur beberapa tahun. Saat itu; mommy sudah kembali ke rumah sakit karena; sudah bisa bekerja kembali dan tinggalah aku sendiri dengan adikku- karena; mommy memang menyerahkan tanggung jawab menjaga adikku kepadaku. Entahlah! Aku sendiri tidak mengerti mengapa; aku yang merupakan kakak kedua malah di suruh menjaga adik bungsuku dan bukan kakakku Christ.. Mungkin; karena kakakku yang terlalu kaku dan sandiwaraku sebagai kakak yang menyayangi adiknya- terlalu terlihat nyata. Aku masih ingat- saat itu; Brian yang saat itu sudah bisa berjalan- berusaha menggapai ku. Namun; aku memilih mengacuhkannya. Ya, aku memang mengasuhnya; ketika ada keluarga ku- namun, ketika tidak ada orang di rumah- aku akan memilih mengacuhkan. Bahkan, ketika; Brian kecil menangis memanggil namaku- aku memilih pergi meninggalkannya. Saat itu, Arnold tidak sedang bermain kerumah ku dan Christ serta Gabriela sedang di campus- jadi, aku memilih bermain Game di kamarku. “ Brother.” lirih Brian kecil. Ya, saat kecil- pernah ada masa: dimana Brian sama seperti anak kecil lainnya yang bisa menangis ketika di ganggu atau untuk mendapatkan perhatian orang terdekatnya. Satu- satunya yang merubah kita semua adalah; Arnold. Ya, saudara jauh ku itu. Aku yang berubah menjadi ceria dan konyol- untuk menggoda nya agar kembali ceria dan Brian yang jadi kaku seperti Christ hanya agar bisa dewasa lebih cepat. “ apa?” aku masih ingat dengan jelas jika; saat itu, aku menjawab panggilan adikku dengan ketus. Tak ada kelemah lembutan atau khawatir- seperti; apa yang aku lakukan di rumah Ale. “ kepalaku..., sakit.” ucap Brian saat itu. Aku melihat; nafasnya tersengal dan seluruh wajahnya merah. Aku kemudian menghampirinya untuk memeriksa suhu tubuhnya. “ kau demam?” tanyaku dengan bodohnya. Mengetahui tubuhnya panas; seharusnya, tanpa di tanyapun aku tahu- jika; adikku itu tengah demam. Brian hanya mengangguk.. “ ya sudah! Tidur di kasurku; aku akan mengambilkan kompres untukmu.” jelasku saat itu. Setelah melihat adikku itu tidur di kasur ku dengan susah payah- aku memilih ke dapur untuk mengambil baskom kecil dan handuk kecil untuk mengompres. Akupun mengambil Paracetamol anak untuk Brian dan beberapa makanan untuk ia makan. Saat itu; aku belum bisa masak. Itu sebabnya; aku tidak memasak bubur untuk adikku dan memilih mengambilkan roti untuk Brian. Setelah menyiapkan itu semua aku memilih bergegas ke kamar untuk mengompres adikku itu. Tampak ia yang mulai menggigil kedinginan. Wajahnya pucat dan bibirnya mulai membiru. “ B.., Brian..., kau tidak apa- apa?” aku yang mulai panic- memilih untuk bertanya pada adikku. Jangankan menjawab- Brian saat itu bahkan tak kuat untuk membuka matanya. Panic? Tentu saja panic. Takut? Tentu saja aku takut. Mommy telah menyerahkan tanggung jawab menjaga adikku padaku. Jika sampai mommy tahu jika Brian sakit- ia bukan hanya sedih- namun, pasti kecewa padaku. Dan sedikitnya; aku juga khawatir pada adikku. Khawatir- jika tidak ada lagi yang memanggilku; Brother- yang berusaha; menggapaiku- meski aku selalu menghindarinya. Sial! Air mataku tanpa sadar mengalir ketika memikirkannya. “ Tuhan..., jaga adikku...; aku..., aku menyayanginya.” isakku. Ya..., sedikitnya aku sadar; jika aku memang menyayangi adikku. Ia adikku. Dan meski ia tidak terlahir perempuan- ia tetaplah adikku. Salahku tidak bersyukur di beri adik. Aku segera menggendong adikku dengan selimut tipis yang aku buat menjadi selendang. Aku segera ke dapur- untuk memasak ramuan yang sama seperti yang biasa mommy buat ketika kami sakit. Sambil menggendong adikku- aku berusaha mencari bahan- bahan yang aku ingat dan berusaha melakukan hal yang sama dengan biasa di lakukan mommy. “ aduh.” pekikku- ketika aku dengan tidak sengaja mengiris jariku. “ are you okay?” ucap Brian yang terkejut mendengar; pekikanku. “ I’m Okay. Tidurlah lagi.” ucapku sambil mengisap jari yang terkena irisan pisau itu. Dengan cepat- Brian meraih tangan yang terluka dan ganti menyesap lukanya. Ia sungguh manis. Akulah yang buta karena sempat membencinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN