Telepon Cilla

1054 Kata
jangan lupa tap love yess . . . Sudah seminggu ini Cilla nggak ngehubungin gue sama sekali. Gue sendiri terlalu gengsi untuk nanyain kabar duluan. Rasa khawatir ada, tapi gimana ya. Gengsi masih berada di atas segalanya. Sebenernya setiap pagi sebelum berangkat dan sore sepulang kerja gue selalu sempetin berhenti beberapa meter samping rumah Cilla. Sengaja karena gue berharap bisa ngelihat kondisinya langsung. Tapi, sialnya gue gak pernah ngeliat dia keluar rumah. Jadinya gue gak tahu kondisi terkininya. "Ta, malam ini nginep di rumah Ibu ya? Ibu masih kangen sama kamu," wanita berambut panjang itu mendekat ke arah gue. Saat ini gue sedang ada di rumah Ibu. Sebenarnya gue malas datang ke sini, tapi aktingnya pura-pura sakit berhasil membawa gue datang ke rumah ini. "Maaf, tapi kayaknya nggak bisa. Gatta ada acara," jawab gue sembari menyesap kopi hitam bikinan Ibu. "Acara apa?" tanyanya. "Biasa." Gue ngerasain belaian lembut tangan Ibu. Rasanya nyaman. Kapan terakhir gue digituin sama Ibu ya? Setahun atau dua tahun atau kapan? Bahkan gue udah lupa karena saking lamanya. "Mau sampai kapan kamu dan Septa jauhin Ibu?" Gue menyingkirkan tangan Ibu lalu beralih menatapnya. "Siapa yang jauhin Ibu? Atta cuma mau mandiri, nggak bergantung, dan nggak mau nyusahin Ibu lagi." Ibu menghela napas panjang. Detik selanjutnya beliau duduk di sebelah gue. Matanya berkaca-kaca. "Ibu nggak pernah anggap kamu dan Septa sebagai beban—" "Bukan Ibu, tapi suami Ibu," sahut gue cepat. Ah kepancing juga kan emosi gue?! Ck. "Ta," lirihnya meraih kedua tangan gue. "Maafin Ibu. Maafin Ibu lebih milih nikah sama orang lain setelah kematian Bapak kamu. Maafin Ibu lebih milih tinggal di rumah ini dibandingkan tinggal sama kamu dan Septa. Maaf," Jujur gue udah muak sama permintaan maaf Ibu. Kalimat itu nggak sekali-dua kali beliau lontarin. Tapi, udah berkali-kali dan selalu sama. Apa gunanya minta maaf kalau nggak bisa ngerubah keadaan?Permintaan maaf itu nggak bisa ngerubah keputusan Ibu untuk nggak tinggal sama keluarga barunya. Kadang, gue mikir kenapa Ibu lebih milih tinggal sama suami dan anak tirinya ketimbang hidup sama gue dan Septa. Masalah ekonomi? Gue bisa kerja untuk memenuhi gaya hidup glamour beliau. Walaupun gue cuman kerja sebagai tatoo artist, tapi kalau untuk ngasih uang bulanan serta nyewain ibu instruktur senam yoga, gue juga bisa! Mau lebih dari itu juga boleh. Gue tersenyum kecut. "Maaf aja nggak cukup, Bu." "Ehem." Dehaman itu sepertinya gue kenal. Gak lama kemudian sosok pria berjas hitam muncul menampakan diri. "Malam, Ta. Apa kabar?" sapanya manis. "Puji Tuhan baik, Yah," jawab gue ramah. Meski sebenernya gue benci sama pria ini. Tapi, gue masih punya sopan santun serta etika untuk menghargai dan menghormatinya. "Akhirnya kamu datang juga. Nanti malam siap kan?" Siap? Untuk apa? "Siap? Maksudnya?" tanya gue mengernyitkan dahi. Ayah tiri gue membenarkan posisi duduknya. "Ibu kamu belum cerita? Oke, jadi—" "Mas. Mas Jian mandi aja dulu. Biar aku yang jelasin ke Atta," sahut Ibu cepat. Ini mencurigakan. Ayah mengangguk lalu segera beranjak. Beliau sempat menepuk punggung gue sebanyak tiga kali sebelum akhirnya beneran pergi. Sepeninggalnya gue langsung menatap Ibu. Meminta penjelasan. Ibu menghela napas panjang. "Ta, Ibu mau minta tolong sama kamu. Tapi, kamu harus janji mau turutin apa kata Ibu, ya?" awalnya. Kenapa sekarang gue jadi deg-deg-an? "Apa, Bu?" tanya gue. "Janji ke Ibu dulu kalau kamu mau nurutin apa yang nanti Ibu minta. Kalau kamu mau nurutin permintaan Ibu, Ibu juga akan turutin permintaan kamu. Apapun itu termasuk tinggal bersama kamu dan Septa." Sumpah. Kenapa perasaan gue jadi gak enak? Ibu menatap gue dengan tatapan memohon. Beliau terus berusaha meyakinkan gue sampai akhirnya gue mengangguk juga. Ibu meraih tangan gue untuk dielusnya. Senyumnya mengembang sempurna. "Ibu minta kamu..." ... Gue on the way pulang ke rumah setelah puas luapin amarah di salah satu club malam. Gue kacau setelah mendengar permintaan konyol Ibu. Dan bodohnya gue udah janji untuk menuruti permintaannya! Ck, double s**t! "b*****t ANJING!!!" teriak gue menghentikan mobil di pinggir jalan. Gatta lo emang sebodoh ini ya? Kenapa tadi lo nggak dengerin apa maunya Ibu dulu baru setuju. Ck! Gue nggak ngerti lagi mau ngapain. Gue terjebak, bodoh dan t***l. Anjing. Gue memenjamkan mata. Teringat akan sosok Cilla. Cewek itu bagaimana nasibnya, nanti? *drtttddrtttttdrttttttt* Gue ngerasain ponsel bergetar. Sambil memejam gue ambil dan menjawab panggilan masuk yang entah dari siapa. "Hallo," kata gue lebih terdengar sebagai gumaman. "Anjing lo udah mati beneran? Sekarat di mana lo, b*****t!" maki seseorang di seberang sana. Tunggu dulu... Gue gak salah dengar kan? Itu suara Cilla bukan? "Gatta b******n! Di mana lo?" teriaknya lagi. Bibir gue tertarik ke atas. Sebuah senyuman tercetak karena mendengar suara yang gue rindukan. "Santai bos, ngegas amat. Hehe," cengir gue. "Anak anjing masih hidup? Kangen sama aku ya?" lanjut gue membenarkan posisi duduk menjadi lebih tegap . "b******k ke mana aja lo satu minggu ini? Sekarang lo di mana? Gue di depan rumah lo dari tadi. Udah tuli? Gue ketokin pintu gak lo bukain juga. Gattaaa.... bukain pintu sekarang!" Gue tertawa renyah. "Kenapa? Lo beneran kangen ya sampai-sampai samperin gue?" "Bukain pintunya sekarang! Gue udah kedinginan." Gue benar-benar tertawa. Kencang. "Hahahaha apa hubungannya sama gue anak anjing?" "Gue mau masuk!" "Kalo gue gak mau?" "Gue gedor-gedor pintu rumah lo sambil teriak-teriak," jawabnya menggebu-gebu. Demi apapun gue suka Cilla yang kayak gitu. "Dalam kurun sepuluh menit gue akan bukain pintu." "Anjing lo ya! Ngapain nunggu sepuluh menit? Keburu gue jadi es batu, t***l!" "Lo mau gue bukain pintu gak?" tanya gue lagi. "Ya mau lah. Udah deh buru." Gue tersenyum jahil. "Ngaku dulu kalo lo kangen sama gue. Nanti gue bukain pintunya." "Harus banget gitu?" tanyanya. Gue hanya diam. Lama sampai akhirnya. "Oke, oke. GUE NGAKU KANGEN SAMA LO GATTARA DEAN PRASETYA. KANGEN BANGET SAMPAI GUE RELA DATANG KE RUMAH MALAM-MALAM HANYA UNTUK LIAT MUKA GANTENG LO. BUKAIN PINTUNYA YA SUPAYA KANGEN INI BISA TEROBATI," katanya berteriak. Tepat setelah perkataan Cilla berakhir gue langsung mematikan sambungan telefon. To: Anak Anjing Lo ngucapinnya terdengar nggak tulus. Hm... Karena gak tulus lo buka sendiri aja rumahnya. Lagian lo kan udah gede, masa iya masih mau dibukain pintu? Manja banget! Btw, pintu kunci rumah gue selipin di pot urutan ke enam dari gerbang rumah. See you di atas ranjang anak anjing :* Send. Gue tersenyum begitu pesannya dibaca Cilla. Gue gak bisa ngebayangin keselnya muka dia. Ah nggak sabar pengen cepat-cepat pulang ke rumah jadinya! "Im coming, Cilla..." #sasaji
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN