Luka Cilla Mulai Terbuka

1256 Kata
Gue membuka pintu kamar. Lampunya mati. Itu artinya Cilla udah tidur. Gue berjalan menghampirinya. Begitu sampai gue langsung naik ke atas ranjang—berbaring di sebelahnya. Gue menyalakan lampu tiduryang ada di atas nakas. Setelah menyala gue dapati ada yang berbeda di wajah Cilla. Ada bekas memerah di pipinya. "Lo kenapa?" tanya gue tak bisa menyembunyikan kekhawatiran. Perlahan mata Cilla terbuka. Dia sempat tersenyum sebelum akhirnya mendorong tubuh gue ke belakang. Untung kasurnya gede, kalau enggak udah ke jengkang di lantai gue. "Mulut lo bau banget, Ta!" katanya menutup hidung. Gue nggak menghiraukan perkataanya. Gue kembali mendekat untum menyentuh luka di wajah Cilla. Dia meringis, gue ikutan juga. "Ini kenapa?" tanya gue. Cilla bangkit. Dia duduk menghadap gue. "Papa," jawabnya singkat. "Lagi?" tanya gue, Cilla mengangguk. Gue merentangkan tangan. Meraih tubuh Cilla ke dalam dekapan. Sebisa mungkin menenangkan cewek keras kepala, tapi rapuh ini. Gue bisikin ke telinganya, setelah ini nggak akan ada yang bisa pukul dia lagi. Gue menciumi rambut Cilla. Gak lama, wajahnya mendongkak natap muka gue. "Kenapa lo nggak jemput gue? Ke mana lo seminggu ini? Kenapa nggak ngabarin gue sama sekali?" tanyanya beruntun. Gue diam. Nggak ada jawaban untuk pertanyaan Cilla. Alasan gue nggak jemput dan kabarin dia selama seminggu ini juga nggak ada. Gue cuma mau dia mikir. Tapi, gue nggak mikir dampak yang dihasilkan dari sifat egois ini. Sial. "Gue udah berontak Ta, gue udah kabur. Tapi, Papa selalu berhasil bawa gue balik. Dia kurung gue di dalam kamar itu lagi. Papa pukulin gue sepulang kerja karena katanya gue berontak." Ada nada takut dalam setiap kata yang dilontarkannya. "Dia udah beneran gila, Ta. Gila." Lalu perlahan air mata Cilla luruh juga. Gue nggak ngerti lagi sama Bapaknya Cilla. Dulu gue pernah beberapa kali ngobrol sama beliau. Orangnya baik, asik, dan enak kalau diajak bicara. Tapi, itu dulu, beberapa tahun yang lalu. Sekarang semua sudah berubah. Gue tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat berarti di hidup kita. Itu bukan satu hal yang mudah. Apalagi seseorang itu setiap hari ada di samping kita, menghabisakan waktu bersama kita. Gue pernah ngerasain apa itu yang namanya kehilangan. Kehilangan seorang yang gue panggil sebagai Bapak. Waktu itu gue baru lulus SMA sementara Septa kelas tiga SMP. Waktu itu bertepatan dengan kondisi keuangan keluarga kami benar-benar ada di titik terendah karena semua uang yang kita punya habis untuk pengobatan Bapak. Kesusahan yang keluarga gue alami semakin lengkap ketika fakta tentang perselingkuhan ibu terungkap. Gue hilang arah. Bayangan kematian Bapak ada di depan mata. Pikiran tentang pengkhianatan Ibu membuat semua menjadi runyam. Hingga akhirnya Bapak milih berhenti. Dia milih pergi ninggalin gue dan Septa sendiri. Gak lama setelah kematian Bapak, Ibu memilih menikah dengan orang yang dulu menjadikannya sebagai simpanan. Dan akhirnya? Akhirnya gue yang bekerja keras untuk hidupin Septa sendirian. Gue hidup berdua dengan Septa. Gue kerja kasaran untuk biayain sekolah Septa. Jatuh-bangun, kalah-menyerah, berkali-kali putus asa gue lewatin bersama Septa. Hingga sekarang kita bisa bangkit dan membuktikan bahwa kita bisa berdiri tegak di atas kaki sendiri. Tepat dua tahun lalu Mama Cilla meninggal dunia. Gue tahu seberapa dekat Cilla dengan Mamanya sampai-sampai waktu proses penutupan peti jenazah, dia menangis histeris dan pingsan berkali-kali. Tak sampai situ ia sempat mengancam bunuh diri di hadapan para pelayat. Sama seperti gue dulu, Cilla juga berubah. Dulu dia cewek manis, pinter, dan gak pernah macem-macem. Lalu setelah kematian ibunya, Cilla berubah. Drastis. Oke gue ngaku. Gue dan Septa ngaku salah karena sedikit banyak kita berdua yang membawa Cilla ke arah perubahan negatif. Bener apa yang dikatakannya kalau gue seorang b******n. b******n yang udah ngenalin Cilla ke lingkaran setan. Ya Tuhan... Cilla berubah begitu pula dengan anggota keluarganya. Dia punya satu kakak perempuan dan satu kakak laki-laki. Gue tahu dulu mereka dekat lalu sekarang mereka sejauh langit dan bumi. Mereka berubah menjadi seseorang yang asing satu sama lain. Mencari kebahagiaan dunia dengan cara masing-masing. Bukan hanya kedua kakak Cilla, tapi Papanya juga berubah. Cilla sering cerita ke gue semenjak Mamanya pergi, papanya berubah menjadi sesosok monster mengerikan. Beliau berubah menjadi orang yang ringan tangan. Awalnya gue nggak percaya sampai hari itu tiba. Hari dimana gue ngeliat pake mata kepala sendiri kalau Pak Gerald sedang menampar Cilla berkali-kali. Sejak kejadian itu gue berjanji sama diri sendiri untuk jagain Cilla sepenuh hati. Tapi, lihat sekarang. Gue gagal. Gue gak bisa jagain Cilla dengan benar. "Lo jahat l, Ta," katanya memukul d**a gue perlahan. "Lo jahat karena udah ninggalin gue sendirian!" Cilla melepas pelukan. Dia natap gue penuh dengan kebencian. "Gue benci banget sama lo, Ta! Benci banget!" teriaknya kembali memukul d**a gue. Gue hanya bisa diam. Menikmati pukulan Cilla secara beruntun. Sengaja gue diemin sampai emosinya benar-benar tercurah. Gak ada gunanya gue nyuruh dia berhenti karena saat ini yang dia butuhin adalah sasaran emosi. Cewek itu butuh pelampiasan dan secara suka rela gue mau jadi korban. "Kenapa, Ta?" Gue masih diam. "Lo biarin gue ngerasain ketakutan lagi! Lo biarin gue tersiksa lagi! Mana janji lo akan lindungin gue? Kemana lo semingguan ini?!" Cilla berhenti mukulin gue. "Lo sama Tuhan itu sama. Sama-sama tega biarin gue menderita. Sama-sama senang ngeliat gue sengsara. Tuhan ambil Mama dan lo ambil masa depan gue!" Satu yang nggak gue suka dari Cilla adalah sifatnya. Dia sudah berani menyalahkan kehendak Sang Pencipta. Cilla selalu menyalahkan Tuhan atas kematian Ibunya. Gue udah berkali-kali ingetin kalau itu adalah takdir. Kejadian itu adalah yang terbaik. Tapi, apa? Cilla terus menyalahkan Tuhan. Apalagi semenjak semua anggota keluarganya berubah, Cilla semakin menjauhi Tuhan. Ia tidak pernah mau berdoa. Tidak pernah mau menyambangi rumah-Nya. "Mau sampai kapan lo kayak gini terus?" tanya gue memegang kedua tangan Cilla. "Mau sampai kapan lo nyalahin Tuhan? MAU SAMPAI KAPAN?" lanjut gue emosi. Cilla tak menjawab. Dia diam, tapi masih terus terisak. "Gue udah bilang ribuan kali ke lo kalau ini jalan yang terbaik. Emangnya lo mau ngeliat Mama terus tersiksa karena penyakitnya? Lo tega?" tanya gue menangkup wajah Cilla. Cewek itu menggeleng. "Enggak mau," jawabnya lirih. "Gue mohon berhenti. Berhenti nyalahin takdir Tuhan. Berhenti berpikiran kalau Tuhan nggak adil sama lo," bisik gue tepat di telinga kanannya. Cilla kembali mendorong tubuh gue. Ia menghapus air matanya. "Gue butuh obat," katanya beranjak berdiri. Sigap, gue mencegah kepergiannya dengan meraih tangannya. "Lo lagi hamil." "Tapi gue butuh. Gue butuh obat penenang!" kekeuhnya mencoba melepaskan gengaman tangan gue. Gue menarik tubuhnya ke posisi semula "Lo nggak butuh obat itu. Sekarang lo dengerin lagu ini." Gue ambil gawai lalu memutar sebuah lagu. Perlahan suara Rara Sekar mengalun pelan. Gue mulai memutar lagu Banda Neira berjudul Yang Patah Tumbuh Yang Hilang Berganti. Lagu itu bermakna banget buat gue. Liriknya terasa nyata dan benar adanya. Setiap gue denger lagu itu, gue jadi semangat dan kembali percaya. Keraguan-keraguan dalam diri gue perlahan menghilang setelah mendengarnya. "Dengar dan resapi liriknya," bisik gue di telinganya. "Yang, yang patah tumbuh, yang hilang berganti. Yang hancur lebur, akan terobati. Yang sia-sia, akan jadi makna. Yang terus berulang, suatu saat henti. Yang pernah jatuh kan berdiri lagi. Yang patah tumbuh, yang hilang berganti~" Cilla memejam seakan mendalami setiap bait lirik lagunya. Gue mengelus rambutnya lembut. Lagunya masih terus berputar hingga membuat manik Cilla terpejam. Kemudian lagunya terhenti ketika satu pesan masuk ke gawai gue. From: 081567890xxx Hai Gatta ini Gisela. Besok jangan lupa jemput aku ya. Kita Gereja bareng. Ps. Kamu harus mau karena Om Jian yang nyuruh. Hehe... See you (calon) Gatta(ku) "Gisel?" Gue bisa pastikan cepat atau lambat luka Cilla akan kembali terbuka dan membesar. Ya tuhan... #sasaji
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN