Rara menatap dua orang yang tengah sibuk bercengkrama itu sejenak lalu mendengus sinis. Dia beranjak keluar menuju cafe, namun baru saja ingin membuka pintu, Avin ternyata sudah menyadari kedatangannya. “Rara!” panggil Avin dengan suara lantang. Rara mengatur napasnya sejenak yang terasa sesak. Dia berbalik menatap Avin dengan senyum setengah hati. “Maaf, sudah mengganggu waktu kalian. Aku bakal pergi dari sini,” ucapnya lalu menunduk sekilas. Vika menggigit bibirnya dan menatap Rara dengan wajah bersalah. Niatnya ingin memperbaiki mood Rara, dia malah makin memperburuknya. Avin tak mengijinkan Rara pergi begitu saja. Dia segera berdiri dan mengejar Rara yang sudah berada di pinggir jalan menahan taksi yang lewat. “Ra, jangan pergi dulu,” pinta Avin menahan lengan gadis itu. Rara ya

