Avin langsung memarkirkan mobilnya ke garasi. Ia keluar dengan senyum yang terus bertahan di bibirnya. Hari ini benar-benar membuatnya bahagia. Dari sekedar ingin menjenguk Lizasya—ibu Rara— padahal sebenarnya merindukan wajah Rara dan berakhir menghabiskan waktu hampir tiga jam bersama gadis itu dan ayahnya. Walaupun Rara masih tak acuh padanya, setidaknya dia sudah berhasil mengambil hati ayah gadis itu. Ada sedikit perkembangan. Ketika Avin sampai di dalam rumah, ia mendapati Vika, sang adik juga Shinta serta kedua adiknya di ruang tamu. Vika dan adik-adik Shinta tengah sibuk bercengkrama di bawah karpet bulu, sementara Shinta duduk di atas sofa sembari menatap layar TV dengan mata kosong. Mengingat cerita Rara tadi, pemuda itu menghela napas dan duduk di sebelah Shinta. “Galau, ya?”

