“Tujuan kami sama.” Avin masih saja menggoda gadis itu bahkan saat sudah ada dalam mobil. Rara meliriknya sinis. “Nggak usah kepedean! Aku cuma nggak enak aja semobil sama dosen sendiri.” Tuh kan, mulut pedas Rara mode on lagi. “Iya, iya,” sahut Avin mencebikkan bibirnya singkat. “Buah yang di belakang untuk siapa?” Rara menoleh ke jok belakang, di mana keranjang buah duduk dengan nyaman. “Oleh-oleh untuk jenguk calon mertua.” “Ck.” “Avin ...,” panggil Rara kemudian. “Hm?” “Umm, aku ... aku minta maaf.” “Hah?” Avin menatap gadis itu sekilas dengan wajah tak percaya. “kamu bilang apa?” “Ck, kamu tuli?” tanya Rara kesal. “Ya enggaklah. Aku nggak percaya aja kamu minta maaf sama aku. Minta maaf untuk apa emangnya?” tanya Avin menahan senyum. Sayang sekali, ia tidak bisa melihat waj

