“Nih, minum!” Rara meletakkan minuman Spr*te ke meja dengan kasar. Sungguh bukan tata krama yang baik dalam menjamu tamu yang datang menjenguk. Avin hanya bisa tersenyum dan mengambil minuman itu. Dia membukanya dan segera meminumnya. “Oh, iya, sekarang kamu lagi buat proposal skripsi, ya?” tanya Avin mengawali topik. Rara yang duduk di dekat brankar ibunya—sengaja agar jauh-jauh dari Avin— mengangguk cuek. Matanya tertuju pada layar ponselnya. “Udah sampai mana?” “Lagi buat draft bab satu sampai tiga.” “Kamu nggak kesulitan, ‘kan? Kalau iya, kasih tahu aku. Aku bisa bantuin kamu sekalian cari pengalaman gimana buat proposal skripsi.” Avin menawarinya dengan senyum penuh harap Namun, tidak seperti yang diharapkannya, Rara justru menatapnya tajam. “Kamu mau manfaatin aku?” Avin be

