Rara dan Shinta berjalan beriringan meninggalkan kantin. Kepala mereka menggeleng-geleng kecil ketika mendengar suara Rojak yang samar-samar masih sibuk minta maaf dari dalam kantin. Rara sampai tidak habis pikir dengan pemuda berambut kribo yang sebenarnya cukup tampan jika mau merawat diri itu. Cara Rojak minta maaf terkesan lebay dan berlebihan. Bahkan melakukan kesalahan besar pun, cowok itu sebenarnya tidak perlu sujud dan menyembah – nyembah di dekat kaki Rara. “Abis ini mau langsung pulang atau jenguk mama kamu dulu?” tanya Shinta menyadari arah tujuan mereka menuju pintu keluar. “Mau cek keadaan mama dulu. Kemarin Papa sempat bicara dengan dokter. Katanya Mama sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat. Berhubung karena kondisi mama udah stabil dan masih banyak pasien lain yang mau ma

