“Kamu dengar apa yang aku bilang dari tadi, gak, sih?” Avin bertanya sembari melirik sekilas gadis yang duduk di sampingnya. Raut wajah Rara terlihat ogah – ogahan saat mengangguk. “Beneran?” Rara mengangguk kesal. “Iya!” “Ulangi coba.” “Kemarin kamu bareng Shinta ke kampus karena motor Shinta rusak. Kamu juga ke kampus karena pengen jemput aku.” Rara mengulangi dengan nada malas. “Jadi, sekarang udah nggak salah paham lagi? Udah nggak cemburu lagi?” Rara melirik pemuda itu dengan kita sinis. “Dih, pede banget. Yang cemburu siapa?” “Terus, kemarin kok mukanya mendung amat.” Avin menahan senyum. “Emang selalu mendung pas lihat muka kamu.” “Mana kemarin kata-katanya ditekan banget bilang aku pulangnya sama Shinta aja. Itu cemburu namanya.” Avin mengompori. “Maksa banget, sih, kamu!

