“Kamu apaan, sih, pakai nantang dosen pembimbing aku? Nanti kalau pertemuan selanjutnya jadi kaku, gimana?” tanya Rara dengan kening mengerut kesal ketika mobil sudah melaju membelah jalan raya. “Berarti dia nggak profesional. Nggak bisa bedain waktu kerja dan waktu pribadi,” sahut Avin datar dengan pandangan tetap ke depan. “Iya, tapi tetap saja harusnya kamu nggak ngomong kayak gitu.” “Terus, aku harus gimana?” Avin menatap gadis itu sejenak. “Kalau nggak kayak tadi, dia bakal tetap maksa biar kamu pulang bareng dia.” “Nggak sopan ya pakai kata ganti dia. Beliau itu dosen, tahu!” tegur Rara tak habis pikir. “Bukan dosenku.” “Ck, suka-suka kamu ajalah.” “Kamu ini emang nggak peka, ya? Jelas banget dosenmu itu suka sama kamu.” Avin menatap gadis itu heran ketika mereka berhenti di l

