Rara turun dari mobil Avin dengan tangan yang memegang tas laptop. Mata gadis itu lantas menyipit karena berhadapan dengan sinar matahari yang sudah sangat terang di jam delapan pagi ini. “Semangat, ya, kuliahnya.” Avin menyusul keluar dan menatap Rara dengan bibir tersenyum. Rara mengangguk dengan wajah datar. Tidak ada yang berubah selain hubungan mereka. Gadis itu masih saja hobi menyemprot Avin dengan kata-kata pedas kalau cowok itu mengganggunya lagi. Namun bagi Avin, itu tidak ada artinya lagi. Ia sudah tahu bagaimana sifat Rara. Gadis itu memang agak kasar namun sebenarnya lembut. Avin sendiri juga akan merasa aneh kalau Rara tiba-tiba bersikap cute di depannya. “Proposal kamu udah ada, 'kan?” Rara mengangkat tas laptopnya yang terlihat penuh. “Udah ada, kok, tenang aja.” “Oke,

