“Kamu ngerjain aku, ya?” “Abis wajah ketakutan kamu lucu banget, ih! Lagipula ngapain coba aku mau cincang kamu, yang ada aku kembali jomblo dan masuk penjara, amit-amit, deh!” ucap Rara bergidik ngeri. Avin menghela napas berat. Rasanya ingin mencakar wajah mulus Rara itu. Untung sayang. “Kamu penakut banget, ih! Nggak masuk akal juga aku mau apa-apain kamu sekarang, nggak ada benda tajam disini,” ejek Rara. “Sekarang? Jadi, bisa aja kamu bunuh aku kapan-kapan, dong?!” tanya Avin parno. Rara mengedikkan bahunya, “Mungkin aja.” Avin meremas kepalanya. “Kok, bisa, ya, aku cinta sama perempuan yang ambisi banget cincang aku?” Rara tertawa lalu menepuk-nepuk punggung Avin, “Canda doang. Kok, kamu jadi takut, sih.” “Masalahnya bahan candaan kamu seram banget, Ra,” keluh Avin lalu berdi

