Rara dan Shinta turun dari taksi. Shinta langsung duluan masuk ke halaman rumahnya sedangkan Rara tinggal membayar sewa taksi. Setelah selesai, Rara menyusul temannya itu dengan kaki berlari-lari kecil. “Ta, ke sana nggak, ya?” Shinta yang sedang membuka pintu rumahnya berdecak pelan. “Aku bahkan lupa hitung berapa kali kamu tanyain itu ke aku. Udah sana aja, sih!” suruh Shinta. Rara memutar bola matanya. Dia ikut masuk ke dalam rumah ketika pintu sudah terbuka. Tasnya langsung diletakkan ke sofa sederhana di ruang tamu Shinta. “Tapi, Avin ada di sana, ‘kan?” Shinta muncul dari dapur dengan tangan yang basah. “Iya, mobilnya masih di garasinya tadi.” “Oke, deh, aku ke sana aja dulu.” Rara kembali mengambil tasnya dan berjalan keluar menuju rumah Avin. “Eh, nanti kembali ke sini, ya,

