Shinta menutup pintu rumahnya lalu menguncinya. Dia menoleh ke rumah Avin setelah memasukkan kunci rumah ke dalam tasnya. Cowok itu sedang mencuci mobilnya di halaman depan. Bibirnya menyenandungkan lagu acak. Apa pun yang terlintas di pikiran Avin, ia akan memberinya nada. “Asyik banget nyuci mobilnya, Bang! Pasti sambil mikirin Rara, ya?” ledek Shinta lalu tergelak. Avin menoleh lalu tersenyum lebar mendengar nama Rara disebut. “Tahu aja kamu, Ta.” “Nggak ada jadwal kuliah?” tanya Shinta sembari menunggu ojol yang sudah dipesannya. “Nggak ada,” ucap Avin nyengir. “Cih, yang bener aja.” Shinta mendecih namun segera menampilkan senyumnya lagi. Avin menganggukkan kepala sembari terkekeh pelan dan tetap melanjutkan menggosok permukaan bagian luar mobil dengan kain yang sudah dibasahi a

