Rara mengira dia bakal diculik ketika baru saja keluar dari toilet dan ditarik oleh seseorang. “Lepas!” pekik Rara panik. “Ra, ini aku. Avin.” Rara mengangkat kepalanya, “Avin? Sejak kapan kamu di sini?” “Maaf, aku lambat lagi. Acaranya udah selesai, ya?” tanya Avin merasa bersalah. Mengingat itu membuat Rara sontak melepas cekalan tangan Avin. Dia kembali memikirkan keputusannya barusan. Gadis itu menutup matanya sejenak, menikmati hatinya yang serasa diiris pisau. Rara menguatkan hatinya. Sepertinya, takdir juga mendukung keputusannya. Dia meminta Shinta agar menyuruh orang tuanya pulang lebih dulu agar dia bisa menemui Avin, tak peduli di mana pacarnya itu berada. Namun, kini dia tak perlu mencari lagi karena Avin kini ada di hadapannya. “Ayo, ikut aku,” ucapnya dengan ekspresi t

