Bab 1 Penculikan
“Akh!”
Wyne memekik kesakitan sebab sebilah senjata tajam mengoyak keperawanannya. Dia terbaring di atas tempat tidur dalam satu gudang yang diterangi cahaya temaram. Tangan dan kaki diikat. Tubuh bagian bawah sudah tidak menggenakan rok dan celana dalam.
“Si, siapa Kamu?” dia melihat ke Nini-perempuan yang menggenakan kostum jitam dengan wajah ditutup masker, di mana baru saja menoreh belati ke dalam oasenya. Dialihkan pandangan ke sekitar, lantas menemukan banyak pria yang memakai baju hitam dan wajah ditutup masker di sekitar mereka berdua.
“Nona sulung-“ pria terdepan menegur Wyne, “Apa Anda lupa mengapa bisa berada di sini?” lantas mengingatkan sang nona penyebab bisa berada di dalam ruangan ini.
Wyne mencoba mengingat kejadian sebelumnya.
Satu jip berwarna hitam metalik menghadang Wyne yang berjalan menuju mobilnya di parkir pada basement Scoot Clinic.
“Akh!” membuat dia kaget bukan main, lantas belum sempat dia bersuara lagi, turun dua pria berbadan kekar dengan kostum hitam-hitam dari jip, “Si, siapa kalian?” kedua matanya membesar, “Akh!” kembali pekiknya terdengar sebab kedua pria itu langsung mencengkram kedua tangan dia dan memaksa masuk ke dalam jip, “Tolong!” segera saja dia menjerit minta tolong, “Tolong!” dia meronta tidak mau masuk ke dalam kereta bermesin itu.
Jeritan lantang tersebut di dengar seorang pria tampan bertubuh tinggi kekar dalam balutan kemeja putih lengan pendek dan celana panjang blue dongker. Pria itu adalah Ricardo Elmer, cucu sulung Gordon, sedang bersama Marko-asistennya, melangkah menuju ke arah pintu basement yang tidak jauh dari tempat Wyne ini.
Mereka melihat Wyne meronta tidak mau dipaksa masuk ke dalam jip. Gegas, Ricardo berlari untuk menolong gadis malang berkacamata tebal itu. Marko terperangah, tapi cepat tersadar, mengejar dewa tampan tersebut.
Lantas tangan kekar Ricardo menarik kasar salah satu pria yang memukul Wyne berkali agar gadis itu tidak meronta lagi, lalu dihempas ke sembarang tempat.
Kedua mata Wyne melotot melihat aksi berani si dewa tampan.
“Akh!” terdengar pekikannya, karena Ricardo menarik kasar pria yang masih mencengkram tangan dia, dan diberi pukulan bertubi. “Tuhanku!” kembali dia memekik sebab satu pria dari dalam jip menariknya masuk,“To-!” suara berikutnya tertelan karena tekuk dia dipukul keras hingga dia pingsan.
Wajah Wyne tampak kecut setelah mengingat penyebab bisa berada di sini, lantas menghela napas sambil kedua manik mengamati semua orang di sekitarnya.
‘Dams!’ hatinya merutuk, ‘Siapa yang menyuruh mereka?’ dia mulai mempertanyakan keadaan saat ini, ‘Apakah Susan?’ alam pikirannya mengarah ke Susan, adik satu ayahnya, ‘Ha eh, kalau saja Aku sedang tidak menyamar sebagai Wyne si dokter cupu, mereka semua dengan mudah kulumpuhkan.’ Lantas merutuk diri sendiri yang tidak bisa berbuat apa pun dikarenakan menyamar sebagai dokter cupu yang bodoh.
“Akh!” pekiknya lagi sebab belati kembali melukai oase dia, “Hentikan! Sakitt!!” jeritnya minta aksi brutal ini dihentikan. Peluh mulai bercucuran ke wajah cantiknya. ‘Sialan, mereka ingin menghabisiku dengan cara ini!’ feeling yang dilakukan para penculik karena ingin melenyapkan nyawanya, ‘Apa Susan ingin perjodohanku sama Herman batal?’ dia kembali teringat sang adik.
Sebulan lalu, Kate-nenek kakak beradik itu membawa Wyne bertemu Gordon dan Herman-cucu kedua Gordon. Pertemuan tersebut untuk menjodohkan nona sulung dengan tuan muda kedua dalam pernikahan, agar keluarga Scoot dan keluarga Elmer menjadi satu keluarga.
Ternyata keputusan perjodohan membuat Susan tidak senang, sebab si adik yang penampilannya glamor merasa Wyne tidak pantas menikah sama Herman, pria sempurna dengan dandan necis.
Wyne mengarahkan pandangan ke Nini. Tampak Nini tersenyum puas, menghentikan aksi itu, sebab hanya diminta merusak keintiman Wyne oleh seseorang.
“Si, siapa kamu?” Wyne bicara gemetaran sebab rasa sakit terus mendera, “Mengapa Kalian rusak mahkotaku?” ditatap Nini yang memasukan pisau ke dalam plastic ditangan pria berbadan kekar.
“Itu hadiah untukmu-“ Nini menatap sadis Wyne, “Siapa suruh merebut kekasih Nonaku.” ujarnya enteng.
“Nona Kamu?” Wyne berusaha mengartikan jawaban Nini. “Siapa Nonamu?” mencoba mencari tahu siapa perencana kejadian ini.
Sementara di luar gudang, Ricardo yang sebelumnya berusaha menyelamatkan Wyne di Scoot Clinic, berhasil mengejar jip yang membawa gadis itu dan menumpang di atas atap mobil tersebut. Kini dia setengah berlari menuju ke belakang gudang, dan menemukan dua kaca jendela.
Kedua mata dia cepat menyisir ke sekitar, lantas mengambil sebilah kayu dari tumpukan papan bekas di sebelah kanan jendela, lalu dengan kayu itu dipecahkan satu kaca jendela, baru melompat masuk ke dalam.
Sesampai di dalam, dilepas ikat pinggang dari celana sambil menekan kait pengunci ikat pinggang itu agar berubah menjadi cemeti. Baru kemudian dengan langkah tergesa tapi hati-hati mencari Wyne, dan kedua mata dia terbelalak melihat gadis itu tengah dicekokan minuman sama seorang perempuan, lantas satu pria cepat menomplok tubuh si gadis.
Tak urung dia melompat dari balkon tempatnya berada ke bawah sambil membentangkan cemeti dan mengayunkan keras tali cemeti ke arah si pria yang hendak memperkosa Wyne.
Pletar!
Punggung pria itu kena sabetan cemetinya.
“Akh!” terdengar pekikan pria itu, “Akh!” pekiknya lagi karena satu tangan kekar dewa penolong Wyne menariknya dan melempar ke sembarang tempat.
Semua orang yang ada di sekitar Wyne terbelalak kaget, tapi belum sempat bergerak menyerang Ricardo, mereka kena hantam cemeti sang CEO itu.
Wyne menghembuskan napas, merasa lega Ricardo datang tepat waktu. Diangkat sedikit kepalanya untuk melihat siapa dewa tampan tersebut, tapi karena cahaya ruangan yang temaram, tidak bisa mengenalinya.
Namun dia tersadar tidak perlu mengenali siapa dewa itu, dipejamkan kedua matanya, hendak mengeluarkan tenaga dalam untuk melepaskan semua ikatan pada tangan dan kaki, tapi tidak jadi.
‘Hais!’ desahnya dalam hati sambil membuka mata, ‘Kalau Aku mengeluarkan tenaga dalam, pasti akan ketahuan bajigan-b******n itu Aku bukan Wyne si cupu yang penurut dan lemah.’ Dia tersadar hampir saja mengeluarkan tenaga dalam kungfu miliknya yang tidak boleh diketahui orang-orang itu dan Ricardo. ‘Terpaksa pura-pura ketakutan!’ ujarnya memutuskan berakting ketakutan, “Tolong!” dia pun berseru sambil mengangkat kepala, “Tolong!”
Nini yang mendengar ini, merasa mendapat kesempatan untuk menghentikan Ricardo dengan menyakiti Wyne, gegas, mendekati sambil mengacungkan belati, dan cepat menempelkan salah satu permukaan senjata tersebut ke permukaan leher Wyne.
“Akh!” Wyne terpaksa menjerit panic, “Tolong!” serunya panic, tapi hatinya merutuk, ‘Kampret! Mau menghentikan dewa penolongku menghabisi teman-temanmu? Mimpi Kamu!’
Ricardo mendengar jeritan itu, mengalihkan pandangan ke Wyne, dan cepat melecutkan cemeti ke arah belati yang menempel ke leher sang putri, hendak dibelit untuk ditariknya, tapi dilihat cucu sulung Kate cepat meludahi kedua mata Nini.
“Akh!” Nini terpekik kaget, sehingga melepas belati dari permukaan leher Wyne, mental ke belakang sambil menutup kedua matanya yang terasa panas kena saliva sang putri.
Belati yang terlepas dari tangan Nini cepat dibelit cemeti sama Ricardo, lantas dengan sekali ayunan kuat, belati tersebut dilempar sang CEO ke Nini, dan menancap tepat ke jantung perempuan itu hingga rubuh ke lantai tak bernyawa.
“Watch out-!”
Detik berikut terdengar suara lantang Wyne, membuat Ricardo mengalihkan pandangan ke perempuan itu dengan memutar badan, dan kedua matanya membesar sebab sebutir peluru berhenti di udara tepat hendak menembus jantung dia. Tidak lama dia melihat peluru itu berputar cepat dan menghantam orang yang melepas peluru tersebut ke dia. Gegas, sepasang manik dia meluaskan pandangan, mencari siapa yang menghentikan dan menggerakan timah panas.
Namun yang dilihat semua orang dan Nini bergeletakan di lantai, gegas, mengalihkan pandangan ke Wyne yang di tempat tidur. Dia sedikit terheran, karena setahu dia, yang tewas hanya Nini, mengapa ada yang lain? Bukan kah cemeti dia tidak membunuh orang-orang itu.
“Tuan-!” terdengar suara Wyne yang lantang, “Lekas lepaskan ikatanku ini!” dia menggerakan kedua tangan dan kaki yang terikat, wajahnya tampak ketakutan, “Tuan, kok malah bengong sih? Nanti orang-orang itu bangun dan menyerang kita lagi loh!” satu tangan menunjuk ke sembarang tempat, mengingatkan Ricardo agar cepat melepaskan semua ikatan tersebut.
Ricardo terkesiap, gegas, mendekati Wyne, naik ke tempat tidur, lantas mengecek sejenak setiap tali yang mengikat tangan dan kaki sang putri, lalu cepat mengeluarkan pisau lipat serbaguna dari saku kanan celana panjangnya, dan mulai mengerat satu persatu tali.
Wyne mengamati Ricardo, ‘Mengapa aku merasa mengenal pria ini-‘ dia seperti pernah melihat sang CEO, ‘Profil wajahnya mirip Opa Gordon dan Om Aldi putra Opa!’ pun merasa gurat wajah pria itu persis Gordon dan Aldiano-putra Gordon. ‘Apa dia cucu sulung Opa Gordon? Tidak mungkin, dia kan di Los Angeles, hendak menikah sama Isala Smith si j****g itu.’
Ricardo berhasil melepas semua ikatan, cepat menyambar rok dan celana dalam yang tergeletak di sisi p*** kanan sang nona, lantas tanpa berpamitan, memasangkan ke badan cucu sulung ini.
Membuat sepasang mata Wyne membesar, mengapa Ricardo seberani ini? Untung permukaan miss V dia mulus bening, jadi tidak membuatnya malu terlihat sama sang CEO.
Setelah itu, Ricardo turun dari tempat tidur, lantas tergesa mendekati satu persatu para pria di lantai, dirogohi semua saku di pakaian mereka, lalu mendapatkan kunci mobil dari salah satu pakaian pria-pria tersebut.
Setelah itu kembali ke Wyne, membungkukan setengah badan ke Wyne yang menegakan badan, lalu tanpa ragu membuat gadis ini dalam gendongannya.
Glek, Wyne menelan saliva dimana kedua manik indahnya membesar menatap Ricardo.
“Nona-“ terdengar suara sang CEO, “Aku segera membawamu keluar dari tempat terkutuk ini.” Bicara sambil memandang Wyne.
“Tuan-“ Wyne malah menegur Ricardo, “Anda ini siapa? Mengapa bisa di sini?” dia belum menyadari sang CEO lah yang berusaha menolongnya tadi di Scoot Clinic.