10. GANENDRA DAN GANGGUANNYA

1399 Kata
Happy Reading ^_^ *** Ganendra lagi... Lagi... Dan lagi. Lentera sampai muak melihat sosok Ganendra yang sering sekali muncul di hadapannya. Memang benar tentang perusahaan keluarganya yang bekerja sama dengan perusahaan yang dipimpin Ganendra. Tapi wajarkah kalau sesering ini? Sebenarnya wajar, batin Lentera mengoreksi. Hanya saja logika Lentera yang sudah terlanjur sebal dengan pria tersebut mempermasalahkannya. Menurut Lentera, Ganendra terlalu suka ikut campur dan ini berbahaya bagi dia untuk membiarkan pria itu berada di sisinya. Rahasianya tidak aman. Dan tentu saja tidak nyaman. Lagipula ini salah Lentera karena bersikap terlalu santai pada Ganendra. Sikapnya yang tak hati-hati membuat Ganendra sadar kalau ia tidak mengalami amnesia. Tapi siapa sangka orang yang ia pikir tidak begitu berbahaya malah menjadi orang yang paling mengancam rencananya saat ini. Bahkan pria itu lagi-lagi berusaha mendekati Lentera. Tak main-main lagi, aksinya pun dilakukan di area kantor yang notabene-nya bisa memicu salah paham dan rasa penasaran orang-orang. Lentera harus segera membereskannya. "Ganendra, stop. Kita berada di area yang siapa pun bisa muncul. Apa kamu mau membuat gosip merebak dengan liar?" "Aku hanya ingin bertanya kenapa kamu menghindari aku belakangan ini. Ada yang salah, Tera?" Ada yang salah katanya? Lentera melengos antara sebal dan juga muak. "Aku nggak menghindari kamu. Memangnya kenapa aku harus menghindari kamu?" jawab Lentera. Dia memilih kata ini agar Ganendra tidak terlalu terprovokasi. Kalau mengatakan ya, maka urusannya akan panjang sekali. "Pembohong." "Alih-alih menghindari kamu, aku lebih setuju kalau aksi aku ini disebut sebagai menjaga jarak. Menjaga jarak karena apa? Ya karena kamu bukan siapa-siapa aku. Terlebih lagi aku sudah menikah, jadi aku harus menjaga perasaan suami aku." Kalimat diplomatis itu membuat Arga terkekeh geli. Pria itu mengejeknya! "Di satu sisi kamu bilang ingin menjaga perasaan suami kamu, tapi di sisi lain kamu bahkan merencakan hal yang tak terduga untuk dia. Betapa manisnya ucapan yang keluar dari bibir kamu itu, Tera." Lentera mendelik. Keduanya tengah berada di ruang meeting. Tidak ada siapa pun selain mereka. Bahkan CCTV juga tidak ada. Tapi bukan berarti Ganendra bisa membicarakan hal tersebut seenteng itu. Setelah mengalami banyak hal, Lentera berprinsip bahwa tembok pun tidak bisa dipercaya. Bukan tidak mungkin kalau saat ini ada orang yang tengah menguping pembicaraan mereka dan akan memanfaatkan hal tersebut untuk mengganggu rencananya. "Tutup mulut kamu, Ganendra," Lentera mendesis dengan telunjuk yang terarah tajam ke wajah pria tersebut. "Selagi aku masih memperingatkan dengan sopan, jangan bertingkah kurang ajar. Aku bukan orang yang akan tinggal diam kalau ada penghalang yang akan menghambat rencana aku. Kamu dengar aku?" ancamnya. Ganendra menangkap telunjuk Lentera dan menggenggamnya dengan seringai santai. "Tidak perlu seperti ini pun aku bisa mendengarnya dengan baik. Santai saja." jawabnya. "Bahkan kalau kamu bisa lebih lembut sedikit, bukan tidak mungkin kalau aku akan membantu kamu. Bersikap baiklah pada aku." Lentera menarik tangannya. "Aku tidak butuh bantuan kamu. Just go away. Berpura-puralah seperti kamu tidak tahu apa pun dan biarkan aku melakukan apa pun yang aku kehendaki." Lentera berbalik dan hendak meninggalkan Ganendra, tapi ucapan Ganendra selanjutnya menghentikan aksi Lentera. Perempuan itu melirik melalui bahunya. "Kenapa kamu tidak mau aku bantu? Padahal, alih-alih sendiri, memiliki partner yang bisa dipercaya akan membuat rencana kamu lebih lancar. Aku menawarkan diri aku untuk menjadi partner kamu, bagaimana?" "Kenapa? Jawabannya simple," Lentera menggantung kalimatnya. "Karena kamu adalah sosok yang tidak bisa dipercaya. Aku tidak bisa percaya bahwa kamu akan menolong aku secara cuma-cuma." "Oh jelas. Tidak ada yang gratis di dunia ini." Lentera memiringkan tubuhnya agar bisa melihat Ganendra dengan lebih jelas. Dan di momen ini dia menyeringai puas karena Ganendra begitu blak-blakan. Antara tidak percaya sekaligus jengkel akan kejujurannya. "Apa yang sebenarnya kamu inginkan, Ganendra? Kamu tidak pernah semengganggu ini sebelumnya?" "Simple juga." Ada jeda sejenak. Tapi Lentera yakin itu bukan penjedaan yang bermakna baik. Apalagi dilihat dari seringaian Ganendra yang tak lekang sejak awal pria itu menahan dirinya agar tidak keluar dari ruang meeting yang sudah kosong ini. Dan apa pun itu, ini jelas bukan rencana yang baik. "I want you." Lentera menyeringai. "In your dream." *** Lentera tidak menyangka bahwa penolakannya pada pria itu di masa lalu akan membuatnya begitu gigih mengejarnya di masa kini. Sebenarnya Lentera agak risih dengan anggapan bahwa dirinya sedang 'dikejar' oleh Ganendra, tapi sayangnya memang itulah yang sedang dilakukan pria itu. Ganendra merasa tertantang apalagi setelah tahu bahwa Lentera tidak sebahagia itu dengan pilihannya. Jadi ya, dia tahu bahwa ini hanya nafsu semata. Pada dasarnya Ganendra hanya ingin melecehkan perempuan yang pernah menolaknya. Dan ya, ini melukai harga diri Lentera. Memang apa salahnya menolak seorang pria demi mendapatkan seseorang yang dicintai? Pada dasarnya dia mencintai Arga makanya dia memilih Arga tanpa memandang Ganendra. Meskipun pada akhirnya dia diselingkuhi sampai sebegini parahnya, tapi tetap saja Ganendra tidak seharusnya melakukan pembalasan semacam ini. Ini tidak adil. Di tengah rasa kesal akan sosok Ganendra, Lentera dikejutkan dengan sosok Arga yang secara tiba-tiba menarik tangannya agar lebih dekat sesaat setelah dia memasuki ruang kerja sang suami. Dalam hatinya Lentera menggerutu kenapa para pria senang sekali melakukan hal kasar semacam ini. Ini jelas bukan tanda cinta. Ini adalah bentuk rasa posesif yang berlebihan. Apalagi dia tahu bahwa sosok Arga bukanlah sosok yang sesetia itu. Sehingga aksinya ini terasa agak berlebihan. Tapi sebagai seseorang yang berlagak tidak tahu apa pun, dia pun mencoba menerimanya walau muak. "Apa yang kamu bicarakan dengan Ganendra?" tanya Argani Rahadyan dengan to the point. "Membicarakan apa sih? Aku nggak tahu apa-apa." "Pembohong." Satu julukan yang sama persis dia dapatkan dari dua pria yang berbeda. Bahkan di hari yang sama pula. Lengkap sudah rasa jengkelnya. "Aku tahu kamu dan Ganendra mengobrol berduaan di ruang meeting. Di saat orang-orang sudah pergi, kamu dan dia masih di dalam. Aku tahu, Tera." "Aku dan Ganendra hanya mengobrol ringan," jawab Lentera. Kemudian untuk membujuk Arga dia pun meletakkan kedua tangannya di bahu sang suami. Alih-alih mengelak, dia akan memanfaatkan momen ini untuk mengukuhkan dirinya posisinya. "Kenapa? Apa kamu cemburu?" Lentera melingkarkan kedua tangannya ke leher sang suami. Posisi wajahnya ia buat sedekat mungkin dengan tujuan agar sang suami terlena dan tidak fokus pada pertemuannya dengan Ganendra. Dia malas merangkai kebohongan yang terlalu detail. Dan teknik manipulasi murahan ini harusnya berhasil. "Tera, aku adalah suami kamu. Dan wajar bagi aku untuk cemburu." jawabnya. "Apalagi kamu dan dia pernah punya masa lalu. Bagaimana mungkin aku tidak cemburu?" Gerutuan itu membuat Lentera terpana selama beberapa detik. Lentera sungguh tidak menyangka bahwa kalimat tersebut keluar dari bibir pria yang sudah mengkhianatinya. Selama beberapa detik Lentera berandai-andai bahwa semua kemalangan rumah tangganya hanyalah mimpi. Tapi tidak—semua itu nyata. Pengkhianatan Arga itu nyata. Ia adalah korbannya, begitu juga dengan anak mereka yang masih berupa janin. Kesadaran Lentera kembali dengan sebuah senyum getir yang terpatri. Dia mencoba kembali beradaptasi dengan situasi ini. "Masa lalu apa sih? Aku dan Ganendra belum sempat membuat masa lalu. Aku tegaskan ya, kami hanya dijodohkan. Dan aku menolaknya. Tidak ada momen romantis apa pun karena pada akhirnya aku lebih memilih kamu." Lentera mencoba menenangkan walau sebenarnya dialah yang mulai tidak tenang. Apalagi dengan kedekatan yang dia buat sendiri. Tapi sayang, kini tangan Arga sudah berada di pinggang Lentera hingga ia tidak bisa keluar dari kungkungan tersebut dengan mudah. "Tapi aku tetap cemburu." Kalimat bernada merajuk itu berhasil membuat Lentera jengah. Ia berusaha keluar dengan halus, tapi bukannya berhasil, tubuhnya malah semakin rapat dengan Arga. Bahkan kini ia bisa merasakan deru napas Arga di wajahnya. Lentera gelisah. Dia menyulut api di atas tebaran minyak. Dan Arga tersulut. Tanpa basa-basi sosok Arga mencium bibir Lentera. Lentera terkejut, tapi tidak bisa menolak. Dia sedang berada di mode istri yang baik serta tidak tahu apa pun. Dan menolak ciuman pria 'yang begitu dicintainya' hanya akan membuat ia dicurigai. Pada akhirnya Lentera hanya pasrah meski sebenarnya dia lumayan jijik dengan sentuhan itu. Sialan. "Janji ya kamu nggak akan berpaling dari aku. Aku tahu dari beberapa spesifikasi pria itu memang lebih baik dari aku, tapi please, jangan tinggalin aku. Aku cinta kamu, Lentera." Lentera mencoba tersenyum di tengah rasa tidak nyaman yang dirasakan bibirnya. Ia pun mengangguk hanya agar perdebatan kecil ini lekas usai. Dia sudah terlampau jijik dengan bibirnya yang baru saja dicium oleh bibir pria yang sudah mencium perempuan selain dirinya. Tepat setelah anggukan itu, Lentera langsumg pamit untuk ke kamar mandi sebentar. Dan di dalam kamar mandi yang lenggang itu Lentera langsung mengusap bibirnya dengan kasar. Dia benar-benar jijik dengan situasi ini. TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN