9. PERINGATAN

1265 Kata
Happy Reading ^_^ *** Lentera duduk berhadapan dengan sosok Ganendra Tanaka yang tengah sibuk melahap makanannya. Pria di depannya benar-benar makan dengan lahap seolah-olah tidak terjadi apa pun sebelumnya. Lentera menyipitkan matanya untuk menilai motif pria yang dulu pernah dijodohkan dengannya tersebut. "Kamu mungkin kelaparan, tapi aku bukan seseorang yang bisa menemani kamu makan seperti ini. Aku harus pulang sebelum suami aku pulang, Ganendra." Lentera memberitahu dengan harapan pria di depannya akan paham. Tapi jawabannya sungguh menakjubkan. "Kenapa?" Lentera mengerutkan keningnya. "Kenapa apanya?" "Kenapa kamu harus pulang?" Lentera memutar bola matanya. "Karena aku seorang istri. Aku harus menyambut suami aku ketika dia pulang kerja. Apa hal sesederhana ini masih harus dijelaskan? Bahkan pada pria yang juga sudah punya istri?" jawab Lentera dengan nada mengejek. Dia melirik cincin kawin Ganendra dan mata pria itu bergantian. Lentera merasa kasihan pada perempuan malang yang menjadi istri pria itu. Ganendra menyeringai sinis. "Kamu harus pulang karena ingin menyambut suami kamu atau agar suami kamu itu tidak mencurigai sesuatu?" Lagi--Lentera merasa terusik. Untuk menetralisir ekspresi wajahnya yang mulai berubah masam, perempuan itu meminum jusnya dengan perlahan. Minuman dingin itu serasa mengguyur pikirannya agar lebih tenang saat meladeni seseorang seperti Ganendra. Jika dipikir-pikir juga Ganendra semakin gencar mengganggunya karena Lentera menampilkan gelagat yang mencurigakan. Makanya juga dia harus bersikap sebiasa mungkin agar pria itu tidak semakin mengganggunya. "Mencurigai apa? Aku tidak melakukan sesuatu yang salah." jawabnya dengan suara yang lebih tenang dari sebelumnya. Bahunya terangkat sedikit sebagai gestur acuh tak acuh. Menurut Lentera, Ganendra adalah sosok yang cukup berbahaya. Apalagi di masa lalu Lentera pernah menolak perjodohan mereka mentah-mentah. Pria itu pasti tersinggung dan harga dirinya terluka. Kehadirannya saat ini pasti tidak jauh-jauh dari yang namanya balas dendam pada dirinya. Tapi balas dendam yang seperti apa, Lentera juga tidak tahu. Semuanya masih abu-abu. Dengan gestur yang elegan, Ganendra Tanaka meletakkan sendok dan garpunya. Kemudian dia mengelap sudut bibirnya dengan serbet yang ada. Lalu senyum itu terpatri. Dan senyum itulah yang langsung diwaspadai oleh Lentera. Manipulatif. "Aku tahu semuanya, Lentera." Suasana berubah dingin. Tatapan tajam keduanya beradu. Lentera yang tadinya duduk sambil bersandar malas langsung menarik punggungnya. Perempuan itu duduk tegak dengan kedua tangan yang tertaut di atas meja. Tapi tidak, ini bukan gestur tegang karena rahasianya diketahui oleh orang lain. Ini adalah gestur alpha woman yang sedang berusaha menguasai keadaan. Lentera Hadiyata bersumpah bahwa dia tidak akan kalah dari Ganendra Tanaka. "Memangnya apa yang kamu ketahui, Ganendra?" Lentera berusaha menginterogasi Ganendra dengan tenang. Jangan sampai kekhawatirannya malah memperkeruh suasana. "Semuanya." "Coba sebutkan salah satunya." "Hmmm..." Ganendra menggantungkan kalimatnya dengan main-main. Sama seperti Lentera, punggung pria itu pun sudah tidak bersandar santai. Kini mereka berdua sama-sama duduk dengan tubuh yang lebih condong ke arah masing-masing. Bedanya, Lentera tampak serius sedangkan Ganendra tampak kekanakan. Aksi Ganendra yang seperti ini membuat Lentera kehabisan kesabarannya. Yang seperti ini terlalu ambigu. Membuang-buang waktu saja. Antara Ganendra tidak tahu apa pun dan mencoba mencari tahu melalui dirinya atau pria itu memang tahu sesuatu namun ingin mempermainkannya. Raut wajah Lentera semakin masam. Tanpa banyak bicara perempuan itu meraih tasnya dan hendak pergi. "Kamu yakin mau pergi begitu saja? Tidak mau tahu apa saja yang aku ketahui?" "Sudah aku bilang kalau aku tidak punya waktu. Kalau kamu masih mau main-main, lebih baik aku pergi. Kamu dengar aku kan, Tuan Ganendra Tanaka Yang Terhormat?" Lentera berujar dengan penuh penekanan. "Aku tahu kalau kamu tidak hilang ingatan. Kamu berpura-pura untuk mengelabui semua orang." Lentera mendudukkan dirinya lagi. Karena sudah tahu maksud Ganendra, Lentera pun bisa memposisikan dirinya dengan baik. Dia menyelipkan rambutnya yang menjuntai ke belakang telinga dengan tenang. Dan ya, kini dia kembali ke mode berpura-pura lagi. "Atas dasar apa kamu bilang begitu. Apa kamu dokter?" "Hal sesederhana ini tidak memerlukan dokter. Aku langsung tahu hanya dengan sekali lihat." "Woah, hebat sekali." Itu bukan pujian. Itu sindiran. "Bahkan dokter perlu melakukan banyak pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosa aku, tapi kamu merasa benar hanya dengan sekali lihat? Hebat sekali kamu, Ganendra Tanaka." ketus Lentera. Ganendra menyeringai tipis. "Sikap kamu masih sama, Lentera. Dan aku mengingatnya dengan baik." "Apa?" Lentera mengerutkan keningnya. Dia tidak paham dengan jawaban Ganendra barusan. "Kamu tidak berubah. Dan aku tahu kalau kamu masihlah Lentera yang dulu." Ganendra menjeda. Dia menatap sosok Lentera lekat-lekat. "Gestur kamu, suara ketus kamu ke aku—semuanya masih sama. Tidak ada yang berubah, Tera." Lentera tidak tahu apakah harus merasa tersanjung atau tidak mengenai sikapnya yang masih diingat dengan baik oleh pria itu. Itu tidak penting. Tapi satu yang pasti: Ganendra Tanaka benar-benar terlalu banyak bicara. Pria itu bisa menjadi batu sandungan yang menyulitkannya di masa mendatang. "Aku tidak tahu apa maksud kamu. Stop berkata yang tidak masuk akal. Kamu membuang-buang waktu aku, Ganendra." "Kamu tidak kehilangan ingatan kamu. Dan kepada siapa rencana ini ditujukan—well, i dont know. Tapi kalau boleh menebak, mungkinkah ini untuk suami kamu?" Kata 'suami' dilafalkan pria itu dengan nada mengejek. Lentera menatap Ganendra dengan raut masam. "Aku tidak tahu seburuk apa dia sampai kamu bertindak begini, tapi yang jelas inilah rencana kamu yang sesungguhnya. You haven't lost your memory." "Ganendra..." Lentera menatap Ganendra dengan rasa tidak suka yang tampak jelas di matanya. "Kamu terlalu cerewet. Dan terlalu ikut campur. Di mana sosok Ganendra Tanaka yang dulu selalu acuh tak acuh pada urusan orang lain? Beberapa tahun berlalu dan kamu berubah lumayan banyak." Komentar Lentera ditanggapi Ganendra dengan mengangkat bahu. Dia tidak peduli dengan semua tudingan itu. Pria yang duduk dengan kaki menyilang tersebut tampak angkuh. "Waktu berlalu dan wajar bagi seseorang untuk berubah. Kamu pun berubah. Kamu yang dahulu juga tidak akan bertindak begini." Lentera terkekeh sinis. Dia paling tidak suka pria yang tidak tahu apa pun tapi berusaha ikut campur. Persis seperti pria di depannya. Ah, jangan lupakan juga kepribadiannya yang terlalu banyak bicara. "Karena kita sudah sama-sama berubah, jadi kita pertegas saja sekarang. Apa mau kamu yang sebenarnya, hah? Aku yakin kamu tidak datang kemari dengan tujuan kosong. Kamu merencanakan sesuatu." "Tidak ada." "Pembohong." seloroh Lentera dengan nada super ketus. "Aku hanya ingin mengatakan itu saja. Tidak lebih." Ganendra menarik diri. Mengubah duduk santainya, kini dia duduk tegak dengan ekspresi kekanakan seperti pertama kali mereka datang ke sini. Perubahan sikapnya terasa misterius. Lentera tidak bisa mempercayainya. "Dan karena kamu sudah mengatakannya, jadi bisa kita akhiri omong kosong ini? Aku benar-benar sudah muak." Lentera memilih jalan aman. Dia harus segera mengakhiri omong kosong ini. Semakin lama berargumen -apalagi dengan seorang Ganendra Tanaka- hanya akan mengganggu rencananya. Dan di momen ini rahasianya dipertaruhkan. "Kenapa kamu berubah? Arga mungkin sosok yang tidak baik, tapi bagaimana pun dia adalah pria yang kamu pilih dengan menolak aku secara mentah-mentah. Kenapa jadi begini, Tera?" Lentera terkekeh mengejek. Sekarang dia tahu tujuan Ganendra yang sebenarnya. Dia bukan hanya ingin mengganggu rencananya, tapi juga ingin meledek dirinya. Dengan cincin kawin mahalnya dia hadir untuk mengejek Lentera bahwa dia sudah menikah dengan perempuan lain yang lebih baik dan dia telah salah memilih suami—kira-kira begitu maksudnya. "Seperti kata kamu, waktu berubah, jadi tidak ada salahnya bagi seseorang untuk berubah. Termasuk aku. Tapi kamu tahu apa yang salah di sini? Pertanyaan kamu. Kamu tidak dalam kapasitas untuk bertanya tentang semua ini. Kamu bukan siapa-siapa aku, Ganendra." peringat Lentera. "Just shut up. Apa yang mau aku lakukan dan untuk siapa semua ini—kamu tidak berhak tahu. Dan karena kamu tidak tahu apa pun, maka kamu tidak berhak mengkritik aku dan perubahan aku." "...." "Jangan ganggu aku dan rencana aku, atau kamu akan tahu akibatnya. Kita berdua tahu bahwa kita sama-sama mampu untuk bermain kotor. Jadi jangan sampai kita saling menghancurkan, okay?" TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN