Happy Reading ^_^
***
Dari kalimat-kalimat yang dilontarkan Arga tadi, sudah jelas bahwa pria itu memang memandang rendah Lentera dari dahulu. Sikapnya memang seperti itu. Dia memandang Lentera hanya sebatas komoditi yang sempurna untuk memajukan karirnya. Sejak kapan ini terjadi? Apakah sejak awal memang tidak ada cinta dari pria itu untuk dirinya? Lalu apa arti lamarannya yang romantis dan penuh cinta waktu itu? Apakah semuanya hanya tipuan?
Katakanlah semuanya memang tipuan, tapi apa hatinya tidak bergetar karena ketulusannya? Lentera melakukannya dengan tulus. Dia benar-benar mencintai pria itu. Dia memberikan semua yang dia punya pada pria itu. Bahkan batu yang keras pun akan terkikis apabila terus-terusan dihujani, lalu sekeras apa hati Arga sampai perasaannya sama sekali menggoyahkan pria itu?
Jahat sekali.
Bahkan, setelah semua yang terjadi pun dia tetap tidak menyesalinya. Dia punya kesempatan untuk mengakhiri hubungan amoral tersebut. Tapi alih-alih melakukannya, dia malah menyuruh si perempuan untuk tidak berulah dulu. Benar-benar pria yang jahat. Bahkan anak mereka yang menjadi korban pun tidak membuat hatinya terenyuh. Dia benar-benar sudah salah memilih seorang pria.
Sudut matanya tampak basah dan Lentera mengusapnya dengan cepat. Air matanya tidak boleh menitik. Arga saja tidak menitikkan air mata, lantas kenapa dia harus mengalami hal ini berkali-kali?
Lentera sampai di parkiran basement dan bergegas mencari mercy-nya. Dia tidak tahu apa yang sedang dilakukan Arga dan perempuan itu saat ini makanya dia harus bergegas. Jangan sampai Lentera belum berhasil pergi dan dua insan itu memergoki dirinya. Rencananya akan berantakan kalau begini.
Lentera ingat memarkirkan mobilnya di sudut yang lumayan dalam. Dan seingatnya juga tidak ada mercy lain yang diparkirkan di situ. Lalu kenapa ada seorang pria menyender santai di sebuah mercy seolah-olah itu adalah miliknya?
Dan tunggu—itu mercy Lentera!
Siapa sebenarnya orang itu?
"Kau siapa?" katanya dengan agak lantang.
Dan saat orang itu berbalik, mata Lentera membulat sempurna. Ganendra Tanaka. Kenapa pria itu ada di sini?
"Hai, Lentera..."
Lentera melengos. Dia malas sekali berada di situasi ini. Lentera mendekat dan hendak melewati pria itu tanpa menggubrisnya, tapi pintu mobilnya ditutup lagi bahkan sebelum Lentera sempat masuk ke dalam. Dua kali dia melakukannya dan dua kali juga dia dihalangi seperti tadi.
Lentera langsung melemparkan tatapan galak ke arah pria yang dulu pernah dijodohkan padanya tersebut. "Kamu apa-apaan sih? Aku nggak punya urusan ya sama kamu. Minggir!" usir Lentera karena sebal. Dia sedang buru-buru tapi Ganendra tidak memahaminya. "Ganendra Tanaka!" tegurnya sekali lagi.
"Yes, i am." jawabnya enteng. "Kalau ada yang menyapa dan kamu mengenalnya, maka kamu harus menyapa balik. Tidak sopan bagi kamu mengabaikan aku begini."
Lentera memutar bola matanya. Dasar kekanakan!
"Ganendra, bisa dibilang aku tidak terlalu mengenal kamu. Jadi wajar dong kalau aku nggak mempedulikan kamu. Apalagi kehadiran kamu begitu nggak aku harapkan." jawab Lentera blak-blakan.
"Kita sudah sampai di titik dijodohkan lho. Masa hal itu nggak cukup untuk membuat aku masuk dalam list manusia yang kamu kenal? Karena perjodohan kita, aku yakin kamu pasti mendapatkan banyak informasi tentang aku. Jangan membohongi diri kamu sendiri, Tera." ujar Ganendra dengan penuh penekanan. Sorot matanya menajam seiring pemberontakan kecil yang dilakukan perempuan itu demi menghindarinya.
Tak ingin terintimidasi, Lentera turut menatap Ganendra. Sorot matanya terlihat seperti menantang pria itu. Tapi sepertinya dia salah memilih lawan karena Ganendra makin intens mengamatinya. Bahkan, pria itu semakin berani. Kedua tangannya memerangkap Lentera, bahkan wajahnya semakin dia tundukkan agar sejajar dengan Lentera. Jarak mereka tergolong sangat dekat untuk ukuran kenalan lama yang baru bertemu lagi setelah sekian lama.
"Kamu bersikap tidak sopan, Ganendra Tanaka. Apa kamu mau mati?" tegur Lentera dengan mata yang sedikit bergetar.
"Aku dengar kamu kecelakaan dan hilang ingatan. Benarkah? Kenapa kedengarannya seperti kamu baik-baik saja?"
Mata Lentera membulat. Dia mendorong d**a Ganendra sekuat tenaga agar pria itu berhenti mengamatinya. Yah, meskipun pria itu hanya terdorong satu langkah saja, tapi itu cukup membuat jarak yang melegakan untuk Lentera.
"Bahkan intonasi dan gestur kamu ke aku masih sama. Did you really lose your memory, Lentera Hadiyata?"
"Kalau kamu tidak percaya, silakan cari tahu sendiri saja."
"I did it. Tapi hasilnya agak tidak memuaskan. Apa keluarga kamu berusaha menutupi insiden itu?"
Mata Lentera membelalak. Dia lumayan tercengang dengan jawaban blak-blakan pria di depannya. Kenapa pria itu menyelidikinya? Lentera mulai resah. Dia merasa terancam.
"Well, kalo kamu mau merusuh, merusuhlah di lain waktu. Sekarang aku sedang sibuk."
Lentera berusaha membuka pintunya, tapi usahanya tetap nihil. Dia memutar matanya ke arah Ganendra. Usahanya menghindari pria itu lagi-lagi digagalkan.
"Sebenarnya kamu mau apa sih? Aku sedang buru-buru."
Lentera lengah. Kunci mobilnya dirampas. Secara refleks dia langsung berusaha meraihnya kembali. Tapi Ganendra dengan kekanakannya malah mengangkat kuncinya tinggi-tinggi hingga Lentera tidak bisa meraihnya. Sialan!
Ganendra membuka pintu mobil untuk penumpang yang berada tepat di belakang Lentera hingga perempuan itu terdorong ke depan. Secara spontan tangan Lentera memegang d**a Ganendra agar tubuh mereka tidak terlalu merapat. Hal ini sontak saja membuat keduanya berpandangan dengan canggung. Posisi mereka terlalu dekat. Dan terlalu berbahaya. Buru-buru Lentera mendorong d**a Ganendra agar momen ini lekas berakhir.
"Berikan kunci mobil aku, Ganendra." gerutunya.
"Masuklah. Aku yang akan menyetir. Kita makan bersama dan kamu yang mentraktir. Anggap saja sebagai perayaan atas pertemuan kita setelah sekian lama."
"Lain kali saja, please? Aku sedang buru-buru."
Kali ini suara Lentera lebih memohon. Tatapannya mengedar. Dia takut ada yang memergoki mereka. Kalau orang lain tidak masalah, tapi kalau Arga, maka ini akan jadi masalah yang super besar.
"Makanya cepat masuk supaya kita bisa cepat pergi."
Lentera memicingkan matanya penuh dendam. Ingin sekali dia mencakar wajah Ganendra Tanaka yang saat ini tengah menyeringai puas ke arahnya. Pria itu sengaja mengganggunya dan tidak akan berhenti sebelum dia mendapatkan apa yang diinginkannya.
Tapi apa yang diinginkannya? Apakah Lentera yang segera masuk mobil sesuai perintahnya sudah cukup?
"Aku tidak masalah berdiri di sini sampai besok pagi untuk menunggu keputusan kamu, tapi aku rasa kamu yang nggak akan sanggup. Atau kamu ingin keberadaan kamu dipergoki lagi?" kata Ganendra lambat-lambat. Sorot matanya menegaskan seolah-olah dia tahu segalanya.
Karena keadaan yang tidak mendukung, Lentera akhirnya menyerah. Dia masuk ke mobil, lebih tepatnya ke kursi penumpang yang di belakang, lalu menutupnya dengan keras. Ganendra menunjukkan gelagat anehnya dan Lentera merasa terancam. Oleh karena itu Lentera harus menyelesaikan masalah yang ini dulu sebelum Ganendra mengacau lebih jauh lagi.
Sambil menutup pintu mobil Lentera, Ganendra menyeringai puas karena perempuan itu tunduk pada perintahnya. Ternyata hanya begini cara menaklukkan perempuan yang dulu pernah menolak dijodohkan dengannya secara mentah-mentah.
Kalau sudah begini, kira-kira apa yang harus dilakukan untuk membalaskan rasa malunya di masa lalu?
TBC