12. RASA JIJIK

1615 Kata
Happy Reading ^_^ *** Melamun sepertinya menjadi salah satu kegiatan resmi Lentera sejak kecelakaan itu terjadi. Lamunannya dalam seperti tak tertolong lagi. Ia seperti ingin menyerah dalam lamunannya karena merasa sangat terluka. Tapi di momen krusial tersebut, Tuhan selalu menghadirkan sosok Arga untuk menjadi pengingat Lentera bahwa ia tidak boleh menyerah. Argani Rahadyan harus mendapatkan balasannya dulu. "Kamu melamun lagi. Apa yang kamu pikirkan, sayang?" "Memangnya apa lagi? Tentu saja mendiang anak kita." jawab Lentera dengan nada yang lebih cuek dari biasanya. Sampai kemudian ia ingat untuk memperbaiki sikapnya demi kelancaran rencananya. "Aku rindu dia." imbuhnya dengan suara lebih lembut. Lentera menggenggam tangan Arga yang berada di pundaknya dan mengisyaratkan agar sang suami duduk di sebelahnya. Keduanya berpandangan dalam di bawah cahaya redup teras belakang rumah mereka. "Maaf karena aku membuat kamu cemas. Aku terlalu larut dalam kesedihan aku sampai lupa bahwa ada sosok hidup di samping aku yang lebih perlu diperhatikan. Aku minta maaf, Mas Arga." Lidah Lentera sebenarnya kelu menggunakan sapaan sesopan itu pada pria yang sudah mengkhianatinya. Tapi mau bagaimana lagi, ia tidak punya pilihan lain. "Nggak apa-apa, sayang. Aku paham kok. Aku malah lebih khawatir pada kamu. Are you okay, baby?" Lentera mengangguk. "Kalau kamu lelah, istirahat saja. Tidak perlu datang ke kantor. Kamu tidak harus bekerja, Tera." Bilang saja kamu tidak ingin aku menempati posisi aku lagi, batin Lentera menyela dengan ketus. "It's okay, Mas Arga. Melakukan pekerjaan kantoran malah membuat aku sedikit lebih baik. Aku sibuk, jadi aku tidak terlalu memikirkan mendiang anak kita. Malah aku yang duduk santai seperti inilah yang membuat aku terus kepikiran." Arga mengangguk sebagai tanda kalau ia mengerti. Kini ia sudah duduk di sebelah istrinya. "Bagaimana kalau aku menambah kegiatan aku lagi?" "Lakukan saja sesuka kamu. Acara amal, jalan-jalan, shopping—apa pun itu akan aku dukung." jawab Arga dengan enteng. "Untuk acara amal aku setuju, tapi jalan-jalan dan shopping aku agak malas. Aku malah ingin hal yang lain." ungkap Lentera dengan nada misterius. "Dan hal yang lain itu adalah?" "Bagaimana kalau aku bergabung di proyek resort pinggir pantai yang beberapa waktu lalu Papa bicarakan? Nantinya itu akan jadi salah satu bagian dari The Imperial." "Kamu tahu dari mana tentang proyek itu?" selidik Arga. Lentera menepuk lengan suaminya sebagai bentuk pengingat kalau dia memang tidak tahu. "Aku lupa bilang ya?" Lentera menjeda dengan dramatis. "Pas aku baru masuk, aku lagi jalan-jalan untuk nostalgia gitu. Eh tahunya lagi ada meeting yang berjalan. Waktu itu pasan kamu ada meeting di luar sama klien, jadi ya sudah deh aku sekalian ikut. Itung-itung menggantikan kamu." Arga tidak tahu kalau Lentera ikut meeting hari itu. Tidak ada yang memberitahunya juga. "Kamu yakin mau bergabung di proyek itu? Itu proyek besar, Tera." "Itu bukan proyek pertama aku lho," jawab Lentera dengan penuh penekanan. Hanya karena ia hilang ingatan dan Arga menganggapnya jadi bodoh. Tidak—sebenarnya Arga tidak menganggap Lentera bodoh. Dia hanya mau menghalangi Lentera mengambil proyek yang kemungkinan besar akan dilimpahkan padanya. Ini proyek besar. "Ada Ganendra Tanaka. Are you sure?" Lentera mengendikkan bahunya. "Ya. Dan memangnya kenapa?" "Well, aku cemburu." katanya to the point. "Cemburu pada?" "Ganendra Tanaka—memangnya siapa lagi?" Tak berhasil menggagalkan rencana Lentera dengan sebuah peringatan, kini Arga menggunakan sosok yang tidak disukai oleh Lentera. Bahkan dia menggabungkan pria itu dengan perasaan yang dia klaim sebagai cemburu. Memalukan. "Astaga, kamu masih cemburu pada pria itu? Mas Arga, kita bahkan nggak sempat menjalin hubungan apa pun, lantas apa yang membuat kamu cemburu? Tidak ada. Nothing happen between us, babe." "Lalu apa yang membuat kamu ingin satu proyek dengan dia? Kamu dan dia akan bertemu terus, bagaimana aku bisa tidak cemburu, hm?" Mengambil proyek ini sebenarnya membuat Lentera dilema. Bagaimana tidak, sosok Ganendra yang belakangan begitu mengganggu membuatnya tidak nyaman. Ia tidak ingin satu proyek dengan pria itu. Tapi di sisi lain ia perlu mengukuhkan posisinya. Dan proyek adalah opsi yang paling tepat. Berdasarkan skalanya yang besar, siapa pun yang meng-handle proyek ini akan mendapatkan banyak keuntungan. Jadi jelas, ini adalah batu loncatan terbaik terlepas partner-nya yang buruk. "Satu, aku tahu kalau kamu akan meng-handle proyek ini kalau aku nggak mengambilnya. Nah di sini poinnya—aku mau membantu kamu, Mas." Poin itu adalah poin terakhir, tapi demi membuat Arga merasa dicintai, Lentera rela menaruhnya menjadi alasan pertamanya. Kemudian dia melanjutkan dengan suara tenangnya yang menipu. "Agenda kamu terlalu padat, jadi aku ingin mengambil alih yang satu ini supaya kamu nggak sibuk banget." jeda sejenak. "Kedua, seperti yang aku bilang, aku ingin kegiatan tambahan. Yang padat sekali kalau perlu supaya pikiran aku nggak terus memikirkan tragedi aku. Dan ketiga, aku mau mengambilnya ya karena aku tahu kalau aku mampu." "..." "Jadi jelas bahwa ini bukan tentang Ganendra dan masa lalu kami. Bahkan kalau proyek ini bukan dengan perusahaan Ganendra, aku pun akan tetap memintanya." "Kenapa tidak yang lain saja? Aku tidak mau kamu kelelahan, sayang. Proyek ini akan sangat padat dan aku khawatir kesehatan kamu yang belum sepenuhnya pulih jadi menurun lagi." Arga kembali menghalangi. Di momen ini Lentera terkekeh dalam hatinya. Sebenarnya Arga tidak ingin Lentera mengambil alih proyek ini. Ingat, ada keuntungan besar yang menantinya. Tapi menolak secara gamblang hanya akan melukai Lentera, makanya dia berdalih dengan rasa cemburu serta kesehatannya. "I'm fine, Mas Arga. Please?" Tidak ada penjelasan lebih lanjut. Hanya sebuah permohonan. Dan Arga seharusnya menurutinya. "Kalau kamu kekurangan uang, cukup bilang saja pada aku, Tera. Jangan terlalu bekerja keras. Itu membuat aku merasa tak berguna sebagai suami." Lentera menipiskan bibirnya. Setelah ekspresinya cukup netral, dia menegakkan tubuhnya yang bersandar manja pada sang suami. Dia menatap suaminya lekat-lekat. "Lihat. Apa aku kekurangan uang?" Lentera merentangkan kedua tangannya. "Aku cuma sedang mencari kesibukan. Dan aku ingin yang sangat sibuk agar aku melupakan kemalangan yang menimpa aku dan calon anak kita." Karena Arga terus menggunakan kecemburuan dan kesehatannya, maka jangan salahkan Lentera karena menggunakan anak mereka yang sudah tiada. Terdengar tidak punya hati, tapi Lentera tidak punya pilihan lain. Ia tidak akan mau mengalah. Proyek ini harus menjadi miliknya "Sayang..." lirihnya. "Aku tidak bermaksud mengambil salah satu proyek besar kamu. Tentu saja kamu masih boleh terlibat. Tapi tolong izinkan aku fokus ke sini. Perhatian kamu di perusahaan membuat aku tidak punya kegiatan pasti. Bukan yang seperti ini yang aku harapkan saat meminta masuk ke perusahaan lagi." Arga menyentuh pipi Lentera. Dia mengusapnya dengan sayang. "Aku tidak pernah berfikir kalau kamu mengambil proyek aku, sayang. Kita adalah satu kesatuan, entah kamu atau aku yang mengerjakan ya intinya tetap saja. Tapi aku mempertimbangkan kesehatan kamu." "Aku baik-baik saja—sumpah! Dan selama prosesnya pun aku akan baik-baik saja. Apakah aku harus rutin minum obat, konsul ke dokter, atau apa pun syaratnya—aku akan setuju. Apa pun!" seloroh Lentera dengan semangat. Dia hampir berhasil. "Please?" Lentera memohon dengan lebih keras. Dia sudah membuat Arga mulai dilingkupi perasaan tidak nyaman atas permohonan yang terus menerus dia lontarkan. "Mas Arga..." "Baiklah, baiklah," Lentera terlonjak karena saking gembiranya. Dia pun secara spontan memeluk Arga. "Aku akan mengizinkan kamu. Kamu bebas untuk mengambil proyek ini." Meski terdengar begitu mementingkan Lentera, tapi ia tahu kalau pria itu menahan kekecewaannya. Memang harusnya begitu. Dia yang tidak menuruti permintaan Lentera hanya akan membuat dirinya terlihat pelit dan egois. Dan untungnya Argani Rahadyan masih perlu menjaga image-nya. "Thank you, sayang." "Tapi ada satu syarat lagi yang harus kamu setujui." Lentera menatap Arga dengan bingung. "Dan itu adalah?" "Simple. Jangan terlalu dekat dengan Ganendra. Aku cemburu sekali." "Sure! Kamu nggak perlu meragukan hal itu." Lentera kembali memeluk Arga. Ia bahagia sekali karena rencananya tampak lancar. Pandangannya untuk balas dendam tampak cerah. Meski pada dasarnya orang yang ia peluk adalah orang yang paling besar menorehkan luka, tapi anggap saja ini sebagai pelukan penuh cinta. Sekarang pelukannya membawa sebuah kebahagiaan untuk pria itu, tapi selanjutnya pelukannya hanya akan membawa luka. Pepatah mengatakan, tidak semua pelukan bertujuan untuk membahagiakan seseorang. Beberapa memang benar, tapi beberapa lagi karena ingin agar pisau yang dia pegang diam-diam menancap lebih dalam lagi ke tubuh orang yang dipeluknya. Dan Lentera ada di pilihan kedua. Sekarang ini Lentera hanya sedang mengasah pisau yang akan ia gunakan untuk menghabisi Arga dan pengkhianatannya. *** "Aku berangkat sekarang, okay? Kamu jaga diri baik-baik selama aku tidak ada." Lentera tersenyum dalam kondisinya yang masih acak-acakan sehabis bangun tidur. Dia mengangguk dan menerima kecupan Arga di bibirnya dengan santai. Tak lama berselang, sosok Arga pun melambai dan akhirnya hilang dari balik pintu ganda kamar mereka. Dan sepeninggal Arga, senyum Lentera langsung hilang. Wajahnya langsung murung. Ia menyibak selimut dengan kasar dan berjalan ke arah kamar mandi. Dalam langkahnya, Lentera melewati sekumpulan pakaian yang berhamburan di lantai. Ya, semalam dia dan Arga melakukan hubungan badan. Perasaan yang membuncah karena keinginannya dituruti oleh Arga membuat Lentera lupa bahwa ada harga yang harus ia bayar. Dan ya, harganya tidaklah murah. Sebuah percintaan panas adalah bayaran yang diinginkan pria itu. Lentera melenggang ke dalam kamar mandi dan mencengkeram pinggiran wastafel dengan kuat. Kuku jarinya tampak memerah, begitu juga dengan matanya yang terlihat di cermin kamar mandi. Ia marah pada sosok di depannya yang semalam begitu tidak berdaya hingga membiarkan sosok Arga menikmati tubuhnya. Sialan. Sialan. Makian itu ia tujukan pada sosok Arga dan dirinya yang tidak bisa menolak. Apalagi saat dia melihat jejak kemerahan yang disisakan Arga untuknya—Lentera semakin marah. Ia mengusapnya dengan kasar hingga kulitnya berubah kemerahan. Tapi bukannya hilang, jejak itu malah semakin kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih. Air matanya menitik. Lentera bersumpah bahwa ia akan sesegera mungkin membalaskan dendamnya. Ia tidak sudi melayani nafsu pria yang sudah mengkhianatinya. Apalagi pada momen yang sama ia juga dituntut untuk berpura-pura menikmatinya. Demi Tuhan Lentera jijik sekali. TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN