13. GENCATAN SENJATA 1

1174 Kata
Happy Reading ^_^ *** Rasa penasaran Ganendra pada sosok Lentera membawa pria awal tigapuluhan tersebut mendatangi perusahaan yang menaungi Lentera. Dan tak main-main, ia pun langsung datang ke ruangannya. Ralat, ruangan Argani Rahadyan. Tentunya hal ini sudah melalui pertimbangan di mana Ganendra tahu kalau Argani Rahadyan -suami Lentera yang b******k- sedang tidak berada di sisinya. Begitu juga dengan sekretarisnya. Lentera sendirian di ruang kerja Arga padahal jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Bagaimana dia tahu—tentu saja itu bukan hal yang sulit. Rasa penasaran Ganendra akan sosok Lentera membuat ia tidak segan memasang mata-mata untuk mengawasi wanita itu. Dia harus tahu segalanya, bahkan kalau perlu tentang rencana wanita itu yang masih begitu misterius baginya. Dan ya, dari mata-mata tersebutlah dia tahu bahwa Lentera sedang sendirian di ruangannya saat ini. Tadinya Ganendra pikir Lentera sedang bekerja keras. Atau mungkin sedang merana di ruangan Arga karena ditinggal sang suami ke luar kota, persis seperti desas-desus yang ia dengar dari mulut para pegawai. Tapi sungguh tak terduga karena yang Ganendra dapati ketika memasuki ruangan tersebut adalah sosok Lentera yang tengah terlelap di sofa. Dia tertidur dalam posisi menyamping. Hal ini semakin mengulik rasa penasaran Ganendra akan wanita itu. Ia menyeringai seraya mendekati perempuan itu. Saat dirinya tepat berada di sampingnya, Ganendra pun berlutut. Dia mengamati wajah Lentera yang seperti tak menua sedikit pun. Ya, Lentera masih sama cantiknya seperti saat mereka pertama bertemu. Dan acuh tak acuhnya juga masih tampak sama, bahkan dalam posisi tidurnya sekali pun. Sampai kemudian keningnya berkerut dalam karena perubahan raut wajah Lentera. Lentera menangis. Apakah dia bermimpi? Tapi mimpi macam apa yang sampai membuat orang tersebut menangis bahkan saat dirinya masih berada di alam mimpi? Lentera, sebenarnya apa yang sudah kamu lewati? Apa yang sudah menyakiti kamu dengan begitu dalamnya sampai kamu begitu menyedihkan begini? Tangan Ganendra terulur secara spontan untuk mengusap air mata tersebut. Tapi Lentera begitu sensitif. Sentuhannya yang sudah ia usahakan seringan bulu ternyata tetap membangunkan wanita itu. Tangan Ganendra pun langsung dicengkeram oleh Lentera. Cengkeramannya tergolong kuat meski kesadarannya belum sepenuhnya kembali. "Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Lentera setelah kesadarannya sepenuhnya kembali. Dadanya naik-turun. Pertama, karena mimpinya begitu menyedihkan dan kesedihannya diiterupsi. Lalu kedua, karena dia mendapati sosok Ganendra begitu dekat dengannya. Bahkan tangannya pun menyentuh wajahnya. Lentera kemudian menghempaskan tangan pria itu. "Aku sedang tidak mau berdebat dengan kamu, jadi tolong jangan ganggu aku dulu. Pergilah." usir Lentera. Dia mengubah posisinya menjadi duduk sambil membenahi penampilannya yang agak berantakan. Tak lupa juga dia mengusap wajahnya yang basah karena air mata dengan cepat. "Kalau aku tidak mau bagaimana?" balas Ganendra sambil bangkit dari posisi berjongkok. Kemudian ia mendudukkan dirinya tepat di sebelah Lentera. Pria itu duduk dengan menyilangkan kakinya secara angkuh. Lentera mendengus. "Ganendra, please!" balas Lentera agak emosi. Arga dan sekretarisnya sedang di luar kota dan sudah bukan jam kerja juga, jadi ia merasa aman untuk meluapkan emosinya seperti ini. "Kenapa? Apa kamu begitu merindukan suami kamu yang sedang berada di luar kota makanya kamu menangis sampai terbawa mimpi? Kamu sudah kangen sekali dengan dia?" Ganendra menyindir. "Atau jangan-jangan karena hal lain?" imbuhnya. Jelas-jelas ia tahu jawabannya, hanya saja Ganendra begitu senang memprovokasi Lentera. Raut kesalnya begitu menyenangkan untuk dilihat. "Sebenarnya apa yang sudah kamu alami, Tera? Aku tidak bohong saat bilang mau membantu kamu. Bahkan aku pun tidak masalah kalau kamu mau mengeluarkan semua keluh kesah kamu pada aku. Aku siap menampungnya." Ganendra kembali bersuara, namun kali ini dengan intonasi yang lebih bersahabat. Ia terdengar lebih tulus dari sebelumnya. Tapi Lentera sama sekali tidak menggubris. Ia tidak tahu apa yang apa yang diinginkan pria itu makanya ia sehati-hati ini. Dia takut tertipu lagi. "Daripada menceritakannya pada kamu, aku lebih baik menceritakannya ke psikiater. Aku lebih baik dianggap gila oleh orang-orang!" Lentera berdiri karena hendak menjauh dari sosok Ganendra. Tapi pria itu dengan sigap menarik Lentera hingga wanita itu terduduk di pangkuan Ganendra. Lentera panik dan memberontak agar bisa pergi, tapi cengkeraman Ganendra malah semakin kuat. Tatapannya pun tampak lebih garang dari sebelumnya. "Ganendra, lepaskan aku. Kalau ada yang melihat, kita berdua akan mati. Dan aku tidak mau mati bersama kamu karena dendamku belum terbalaskan! Jadi, please, lepaskan aku sekarang." "Bukankah aku sudah bilang kalau bersedia membantu kamu? Kenapa kamu begitu keras kepala?" "Karena aku tahu kalau kamu tidak tulus! Aku sudah muak terjebak di antara orang-orang yang tidak tulus!" "...." "Just let me go!" bentaknya. "Biarkan aku melakukan apa pun sesukaku. Bahkan kalau pada akhirnya aku akan kalah dan mati, maka its totally fine." "Aku tidak akan membiarkan kamu mati, Tera." Lentera kembali memberontak. Dan kali ini ia berhasil bangkit dari pangkuan Ganendra walaupun dengan susah payah. "Aku benar-benar minta maaf karena aku melakukan kesalahan di masa lalu dengan lebih memilih Arga daripada kamu. Aku melukai harga diri kamu. Tapi, please, mari kita lupakan itu. Aku juga sudah mendapat karma dari pilihanku, jadi kamu tidak perlu menghukum aku lagi. Toh, kamu pun juga sudah menikah dan bahagia dengan istri kamu." Lentera melirik jari Ganendra yang terakhir kali tampak dihiasi oleh cincin kawin. Tapi-tunggu, ke mana cincin itu? Kenapa sekarang jari tangannya tampak polos tanpa hiasan benda sakral itu? Apa yang sebenarnya terjadi? "Aku bukan datang untuk menghukum kamu." Lentera memutar bola matanya. Ia lelah sekali berdebat masalah yang sama dengan Ganendra. Tapi kenapa pria itu begitu sulit untuk memahaminya? Dilingkupi oleh rasa frustrasi membuat Lentera sedikit oleng. Dia mencoba mencari pegangan. Single sofa yang berada tak jauh darinya pun menjadi sasaran. Sebelah tangannya yang bebas mencengkeram perutnya yang secara tiba-tiba ikut kram. Lentera memejamkan matanya sebentar untuk mengendalikan dirinya. Emosinya hari ini mudah sekali untuk meluap dan ini pasti imbasnya. Gerak-gerik halus ini langsung disadari oleh Ganendra. Dengan sigap pria itu langsung berdiri dan menahan tubuh Lentera agar tidak roboh. "Kamu kenapa?" tanya Ganendra dengan suara panik. Dia tidak menyangka kalau perempuan itu akan menampilkan raut lemah yang mengkhawatirkan begini. "Bisakah kamu diam? Apa sampai sini kamu masih tidak paham kalau ini semua karena ulah kamu?" Ganendra tidak peduli pada cibiran itu dan memilih memeriksa kening Lentera. Suhu tubuhnya lumayan panas. "Kamu demam." Lentera menepis tangan Ganendra. "Kalau kamu pergi sekarang maka demam aku akan segera turun. Pergilah." ketusnya. Mengabaikan keketusan Lentera, Ganendra kembali berujar penuh inisiatif. Meski pada akhirnya Lentera bersikeras menolak. "Ayo ke rumah sakit." "Tidak perlu. Kamu saja yang ke rumah sakit, mungkin otak kamu yang bermasalah." "Ke rumah sakit sekarang juga. Ini perintah." "Dan siapa kamu sampai bisa memerintah aku, hah?" "Aku adalah orang yang tahu rahasia kamu. Kalau kamu mau rahasia kamu aman, maka turuti perkataan aku. Kamu dengar aku, Lentera Hadiyata?" Ganendra tampak serius. Tangan Lentera pun masih ia genggam sebagai bukti keseriusannya. Lentera menatap Ganendra dengan kekehan mengejek. Lagi-lagi pria itu menekannya dengan segala hal yang dia ketahui. Sialan. "Aku tidak menerima penolakan." Ganendra tampak keras kepala. "Kamu bisa memilih untuk jalan sendiri atau aku gendong. Terserah kamu mau pilih yang mana." Tidak ada pilihan yang baik. Lentera pun menghempaskan tangan Ganendra dengan sebal. Namun, meskipun begitu Lentera tetap menuruti perintah Ganendra dengan baik. TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN