Happy Reading ^_^
***
"Ayo keluar." kata Ganendra sambil menahan pintu untuk wanita tersebut. Tapi bukannya merespon, Lentera malah memunggunginya dan meringkuk. Ganendra mendengus. "Masih sama seperti tadi—kamu mau berjalan sendiri atau perlu aku gendong?" ancam Ganendra.
Lentera memberikan tatapan sinisnya. "Kamu bilang akan ke rumah sakit, tapi apa ini sebuah rumah sakit, Tuan Ganendra Yang Terhormat?" Lentera mendengus. "Ini pasti rumah kamu. Aku tidak mau!"
"Kamu benar, ini memang rumah saya. Lebih tepatnya apartemen. Tapi kamu tidak perlu khawatir kalau saya akan melakukan sesuatu yang salah, Nyonya Argani Rahadyan." balas Ganendra tak kalah sinisnya. "Aku sudah meminta asisten aku untuk menjemput dokter pribadi aku dan dia sekarang ada di atas. Dia menunggu kamu."
Lentera melirik Ganendra dengan tidak percaya.
"Tadinya aku memang mau membawa kamu ke rumah sakit, tapi berubah pikiran karena tidak yakin dengan privasinya. Kamu tidak mau kan kondisi kamu tersebar dengan mudahnya dan membuat segala sesuatunya jadi rumit?" terang Ganendra untuk membuat Lentera perlahan-lahan mengenyahkan segala pikiran buruknya. "Dan here we go, inilah solusi terbaik. Dokter aku tidak akan membeberkan apa pun tentang kamu ke siapa pun selain aku."
"...."
"Sampai sini kamu masih bersikeras tidak mau memakainya?" Ganendra semakin mempertegas. Tapi karena dia merasa Lentera semakin pucat -perasaannya mengatakan begitu- makanya Ganendra tidak punya kesabaran lebih. Sepersekian detik setelah mengatakan itu Ganendra langsung menunduk dan hendak membopong Lentera dengan paksa.
Perempuan itu kembali memberontak namun dengan pikiran yang sudah berubah total. Dia sedang berusaha menurunkan egonya namun tetap ingin menjaga gengsinya.
"Aku mau berjalan sendiri."
Dan Ganendra tidak mendebat lagi. Ia menegakkan tubuhnya dan mempersilakan Lentera untuk berjalan seperti kemauannya. Yang terpenting adalah Lentera mau bernegosiasi dengannya.
Dengan sabar Ganendra mengekori Lentera. Sesekali dia mendahului perempuan itu hanya agar Lentera tidak perlu menekan tombol lift atau memastikan supaya dia masuk dan keluar lift dengan aman. Sampai akhirnya keduanya berhasil sampai di unit apartemen Ganendra yang sangat ekslusif. Tidak ada siapa pun di sini karena setiap lantainya hanya terdiri dari satu unit saja. Lift-nya pun langsung tertuju ke unit masing-masing sehingga semakin menambah kesan ekslusifnya.
Lentera tidak tercengang karena dia sudah biasa dengan hal begini. Orang-orang kaya memang suka mencari sesuatu yang sifatnya eksklusif demi privasi mereka. Itu fakta. Tapi yang membuat Lentera agak kaget adalah unit apartemen Ganendra sendiri. Apartemen ini jelas tidak mencerminkan sosok si pemilik apartemen sebagai pria yang sudah menikah. Terlalu kosong dan... manly. Seperti tidak ada campur tangan wanita dalam setiap sentuhan furniture-nya.
Tapi Lentera tidak sempat berfikir banyak karena ia terlalu lemas. Ia langsung melupakan semua pikiran tersebut saat dokter keluarga Ganendra mendekat dan mulai merawatnya dengan telaten.
Lentera diperiksa sana-sini. Infus terpasang, begitu juga dengan beberapa obat yang mulai dipersiapkan. Tapi kemudian keheningan mendera Lentera saat ia ditanya mengenai obat apa saja yang diminumnya dalam waktu dekat. Diamnya Lentera pun semakin menambah kecurigaan dokter.
"Nyonya Lentera?" ulang dokter. "Aku bertanya bukan untuk memenuhi rasa penasaranku. Ini adalah bagian dari keselamatan pasien di mana aku memastikan obat yang anda minum sebelumnya tidak akan kontra dengan obat yang akan aku berikan."
Dokter itu menjelaskan dengan sabar. Tidak ada penghakiman di dalam suaranya. Tapi Lentera tidak begitu percaya diri. Dia ragu.
"Lentera?"
Kali ini Ganendra-lah yang menegur Lentera. Sorot matanya menyuruh Lentera percaya pada dokter.
"Tolong jawab dokter sesegera mungkin. Kamu sedang diobati bukannya diinterogasi."
Dokter mengibaskan tangannya agar Ganendra lebih sabar. Sebagai seseorang yang sudah lama bekerja sebagai dokter pribadinya, sang dokter cukup paham bagaimana watak Ganendra Tanaka. Dia paham banyak hal, kecuali sikap Ganendra sekarang ini pada perempuan itu. Dikatakan peduli—memang benar. Tapi kepeduliannya disampaikan dengan cara yang agak berbeda. Bahkan, istrinya dulu pun tidak mendapatkannya.
"Apa ini sesuatu yang sensitif? Kamu tidak mau dia mendengarnya?" kata sang dokter dengan sedikit canda dalam suaranya.
Ganendra mendengus tidak suka. "Lentera!"
"Berhenti berteriak. Kamu berisik sekali," Lentera menggerutu. Lalu ditatapnya sang dokter dengan penuh pertimbangan. "Tadi pagi aku meminum levonorgestrel, begitu juga dengan tadi siang. Karena masih khawatir, sore hari aku meminumnya lagi, tapi sayangnya aku muntah. Kupikir sejak itu perutku mulai tidak nyaman."
Dokter tampak terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya mengeluarkan seruan 'oh' yang singkat. Lentera masih merasa malu, tapi dokter itu kembali menyambung seruannya dengan kalimat penenang.
"Hanya itu kan? Tidak ada yang lain lagi?"
Lentera mengangguk.
"Kalau begitu aku akan mulai masukkan obat. Rileks saja ya."
Lentera mengangguk lagi dan jadi lebih rileks setelahnya. Kemudian ia memasrahkan semuanya pada sang dokter. Lentera terlena dan akhirnya tidur pulas selama beberapa waktu.
***
Empat jam kemudian infus yang diresepkan untuk Lentera habis. Kondisinya pun bisa dibilang jauh lebih baik. Bahkan sejujurnya ia jauh lebih segar dari sebelumnya. Dan tak dipungkiri kalau semua itu berkat inisiatif Ganendra Tanaka.
Sebenarnya Lentera sudah merasa tidak enak badan sejak mengonsumsi levonorgestrel untuk pertama kalinya. Tapi karena tekadnya agar tidak hamil anak Arga lagi begitu besar, makanya ia menahan perasaan tidak nyaman itu. Bahkan ia juga menambah dosis saat siang dan sore hari. Hanya saja, sayang, dosis ketiganya di sore hari tidak berhasil dia telan karena Lentera sudah terlampau mual sehingga memuntahkannya hanya selang beberapa detik setelah menelannya.
Merasa cukup dengan kondisinya, Lentera pun bergegas bangun. Ia sudah terlalu lama berada di apartemen Ganendra. Ia khawatir istri Ganendra akan datang dan memergoki dirinya berada di ranjang suaminya. Lentera tidak mau mencari musuh tambahan yang bisa mempersulit dirinya di masa mendatang.
"Semuanya baru selesai dan kamu sudah bergegas pergi. Apa begini caramu berterima kasih padaku?"
Sindiran itu membuat Lentera berhenti mengemasi barang-barang bawaannya. ia menatap Ganendra dengan ekspresi canggung.
"Terima kasih atas bantuanmu, Ganendra. Kirimkan tagihannya dan aku akan mengganti semuanya."
"Aku tidak butuh uang kamu."
Jawaban sinis itu membuat Lentera diam. Biasanya dia akan membalas dengan cepat, tapi Lentera sadar kalau ia tidak dalam posisi itu. Ganendra sudah membantunya—itu fakta.
"Kalau begitu terima kasih. Aku akan mengingat kebaikan kamu yang satu ini. Soon kalau kamu membutuhkan bantuan aku, aku akan membayarnya sebagai imbal balik."
"Lentera... Lentera..."
Ganendra mendekat sambil merapalkan nama perempuan di depannya dengan misterius. Lentera merasa terancam makanya ia mundur saat Ganendra terus mendekati dirinya. Tapi sialnya dia begitu dekat dengan tembok sehingga tidak bisa berkutik.
"Sebenarnya apa yang sudah Arga lakukan sampai kamu sebenci itu pada dia? Bahkan, kamu juga tidak sudi mengandung anak dia. Kenapa bisa begitu?"
Ganendra menyentuh dagu Lentera dengan main-main. Lentera memalingkan wajahnya. Dia tidak mau menjawab apa pun.
"Kenapa, Nyonya Argani Rahadyan? Apa sekarang sentuhan suami kamu sudah terasa hambar?" Ganendra menjeda. Dia memasang mimik pura-pura terkejut untuk kalimat selanjutnya, "atau jangan-jangan bukan karena terasa hambar, tapi karena terasa menjijikkan. Ya, menjijikkan karena pada akhirnya kamu tahu kalau kamu bukanlah satu-satunya yang dia sentuh. Apa aku benar, cantik?"
Lentera langsung menatap Ganendra dengan tajam. Tangan pria itu ia tepis dengan kasar.
"Kamu menyelidiki aku?" Lentera menatap Ganendra dengan sinis. "Aku pikir hanya perempuan saja yang suka mencari informasi lalu menggosipkannya. Siapa sangka kamu juga suka. Sungguh tidak terduga." ketus Lentera.
Ganendra terkekeh santai. "Dibilang mencari tahu sebenarnya tidak juga. Tapi, ya, aku memang tahu sesuatu. Aku pernah melihat suami kamu bermain mata dengan pramugari di pesawat yang kami tumpangi." jawab Ganendra dengan enteng, seolah-olah hal yang dia beritahukan adalah hal biasa. Padahal ini tentang perselingkuhan Arga yang ternyata sempat dipergoki oleh orang lain. "Hanya dari aksi sederhana itu aku tahu kalau Arga tidak sebaik yang orang-orang dengungkan. Dia tidak sesetia itu."
Kedua tangan Lentera saling mengepal di samping tubuhnya. Ia pikir perselingkuhan Arga begitu rapi sampai ia baru mengetahuinya sekarang. Tapi siapa sangka ada orang lain yang memergoki perselingkuhan tersebut. Ternyata Arga tidak serapi itu dalam berselingkuh. Dia ceroboh.
Tapi seceroboh-cerobohnya Arga, dia tetap berhasil mengelabui Lentera. Dan di momen ini Lentera bertanya-tanya siapa lagi yang tahu tentang perselingkuhan sang suami selain ia dan Ganendra.
Sialan. Jadi selama ini ada beberapa orang yang mengasihani dirinya alih-alih kagum dengan keharmonisan yang ia dan Arga tampilkan. Arga benar-benar sudah membuat harga dirinya tercoreng.
Melihat kemarahan di mata Lentera, Ganendra pun terkekeh sekilas. ia menyingkap anak rambut Lentera yang terurai ke depan. Ia menyelipkannya ke belakang telinga sambil berujar santai.
"Aku tahu semuanya, tapi tenang saja, aku tidak akan menggosipkannya. Semua rahasia kamu aman pada aku, Tera." Ganendra menjeda dengan percaya diri. "Makanya juga kamu bisa tenang kalau menceritakan semuanya pada aku. Rahasia kamu aman."
Sekali lagi, Lentera menepis tangan Ganendra dengan sebal. Pria di depannya ini benar-benar perusak suasana. Baru beberapa detik ia merasa bersyukur atas bantuannya dan sekarang ia sudah menyesalinya lagi.
"Rumah tangga aku memang seburuk ini—itu fakta. Jadi kalau kamu mau menertawakannya ya silakan saja." Lentera berusaha tegar. "Tapi satu yang aku minta—berhenti untuk ikut campur urusan aku. Kamu tidak akan mendapatkan keuntungan apa pun."
"Kata siapa aku tidak mendapatkan apa pun? Aku mendapatkan kamu. Kamu—dan itu sudah lebih dari cukup."
Lentera menyeringai. "Apa semua pria memang tidak pernah cukup dengan satu wanita? Apa seorang wanita yang menolak kamu mentah-mentah jauh lebih mempesona daripada wanita yang sudah menerima kamu tanpa pikir dua kali?"
Kalimat ini merujuk pada wanita yang sudah dinikahi pria itu. Lentera mencoba membawanya masuk ke dalam obrolan mereka agar Ganendra sadar kalau dirinya sudah beristri.
"Rasanya memang menyenangkan. Adrenalin kamu terpacu untuk mendapatkannya apa pun yang terjadi. Tapi, please, jangan begitu. Kami, para wanita, punya hati. Jangan menganggap kami menarik hanya karena kami sulit didapatkan. Hargai apa yang sudah ada di dalam genggaman tangan kamu, Ganendra."
Ganendra terdiam. Ia siap dengan segala makian atau kata-kata ketus Lentera, tapi sayang, ia tidak siap dengan kata-kata lembut yang penuh emosi ini.
"Dendam aku adalah masalah pribadi aku. Aku nggak mau melibatkan siapa pun. Jadi, please, kamu menjauhlah sejauh mungkin. Aku nggak mau ada korban lain." —entah itu nyawa atau pun perasaan wanita lain, tambah Lentera dalam hati.
"Aku bersedia melibatkan diri."
"Ganendra!"
"Lentera!"
"...."
"Percayakah kamu kalau aku bilang aku ingin bersama kamu setelah dua tahun ini membuang-buang waktu dengan perempuan yang salah?"
"Siapa? Istri kamu?" Lentera menggeleng. "Dia tidak salah, Ganendra. Kamulah yang salah karena berpikir dia adalah perempuan yang salah."
Lentera mendorong d**a Ganendra agar pria itu mundur sedikit. Ia perlu sedikit jarak untuk menjernihkan pikirannya yang kacau karena perkataan Ganendra. Bisa-bisanya laki-laki itu berpikir begitu terhadap sosok istrinya.
"Aku sedang kacau karena rumah tanggaku sudah berantakan. Aku diliputi dendam yang membara hingga tutur kataku tidak selembut dahulu. Di momen seperti ini kamu mungkin menganggap aku menarik dan tertantang untuk mendapatkan aku lagi. Tapi, percayalah, semua itu hanya ilusi. Pada akhirnya kamu akan tahu semenyebalkan apa aku sampai akhirnya Arga menyelingkuhi aku."
"Aku bukan Arga."
"Kamu memang bukan Arga, tapi sifat kamu tidak jauh berbeda dengan Arga." jawab Lentera dengan cepat dan frustrasi. Dia lelah sekali tapi Ganendra masih semangat untuk berdebat.
"Dari sudut mana kamu melihat sifat aku seperti Arga? Aku tidak berselingkuh. Setidaknya aku melepaskan perempuan yang pernah aku nikahi hanya agar dia tidak tertekan hidup bersama pria seperti aku. Bukannya terus mengikat dia hanya agar aku tidak kehilangan pijakanku sendiri. Aku mungkin menyakitinya tapi aku tidak akan menyiksanya lebih lama lagi—tidak seperti Arga."
"Kamu dan istri kamu bercerai? Astaga..." Lentera tercengang. Jadi ini alasan dia tidak melihat cincin yang melingkari jari Ganendra lagi. Dia bercerai. Jangan bilang ini karena dirinya? batin Lentera meliar. Dia menggeleng seraya menatap Ganendra dengan tidak yakin. Ini benar-benar salah kalau Ganendra sampai membenarkannya.
"Ya, kami akan bercerai." jawab Ganendra kalem. "Dan jangan berfikir kalau ini karena kamu. Ada atau tidaknya masalah kamu, aku dan istri aku memang akan tetap bercerai. Kami masih tidak cocok bahkan setelah kami berulang kali mencobanya."
Ini rumit.
Amat sangat rumit.
"Terserah kamu mau bercerai atau tidak, itu tidak ada urusannya dengan aku. Dan masalah aku juga bukan urusan kamu. Jadi, stop, bagi kita untuk saling ikut campur."
TBC