Happy Reading ^_^
***
Lentera baru selesai meeting saat pesan dari dokter Ganendra masuk dan menjadi yang teratas. Lentera tidak merasa pernah membagikan nomornya, tapi ia pikir itu pasti ulah Ganendra. Jadi, ya, ia tidak kaget sedikit pun.
Justru yang mengagetkannya adalah panggilan telpon Ganendra yang terjadi tepat setelah ia selesai membaca pesan sang dokter. Ia malas mengangkatnya, tapi membiarkan nama pria itu terus menghiasi layar ponselnya juga membuat Lentera sebal. Mematikannya? Sepertinya itu juga bukan ide yang baik, kecuali ia mau sosok itu hadir di depan wajahnya beberapa jam kemudian dan merusuhinya.
"Cuma kamu yang mengangkat panggilan aku dengan rentang waktu yang terlalu lama, Tera."
Teguran itu tidak bermakna. Lentera cuek.
"Aku bukan pengangguran yang bisa selalu mengurusi ponsel aku, Ganendra. Kalau kamu ingin seseorang yang cepat mengangkat telpon kamu, maka kamu jangan menelpon aku."
"Well, kalau kamu sudah berkata begitu, maka aku hanya bisa menurut. Untuk kamu, aku bisa sabar menunggu."
Basa-basi itu membuat Lentera memutar kedua bola matanya. Pria itu mulai menggodanya lagi.
"Kamu sudah baca chat dari dokter pribadi aku? Aku memberikannya dengan terpaksa karena katanya ada sesuatu yang harus dia katakan ke kamu sendiri. Kata dia aku bukan siapa-siapa sehingga tidak pantas mewakilinya untuk memberitahu kamu."
"Hmm."
Dalam hati Lentera ia memuji alasan sang dokter. Tapi, mengingat Ganendra Tanaka menghubunginya sesaat setelah pesan sang dokter tersebut masuk, maka artinya pria itu pasti tahu sesuatu. Pada akhirnya pemberitahuan itu bukan hanya antara pasien dengan dokternya saja. Jadi, ya, dia tidak terlalu kagum dengan dokter tersebut.
"Lalu?"
"Lalu apanya?"
"Tentang kontrasepsi itu. Apa balasan kamu, Tera?"
Dugaannya terbukti benar. Dan setelah dipikir-pikir malah aneh kalau Ganendra Tanaka sampai tidak tahu hal ini.
"Aku hanya membalas kalau aku akan memikirkannya. Dan memikirkannya sampai kapan, aku juga tidak tahu." Tera menjeda. Sorot matanya tampak lelah, diiringi dengan punggungnya yang menyandar pasrah ke sandaran kursi. Kemudian ia menambahkan, "Lagipula ini masalah aku, jadi kalian tidak perlu tahu. Dan bukankah aku juga sudah memperingatkan kamu agar tidak perlu ikut campur urusan aku, bukan? Aku serius, Ganendra. Leave me alone—please."
"Aku tidak akan ragu meninggalkan kamu sendirian kalau faktanya kamu memang semampu itu, Tera. Tapi faktanya tidak seperti itu. Aku tahu kamu membutuhkan aku, tapi terlalu gengsi untuk memintanya."
"Kamu terlalu percaya diri, Ganendra."
Sama seperti Lentera, di seberang sana sosok Ganendra juga tengah terkekeh. Perdebatan mereka tidak pernah berakhir, bahkan bisa dibilang berputar-putar pada hal yang sama. Dan pihak yang terus mengungkitnya juga sama, yaitu Ganendra. Tapi anehnya pria itu tidak merasa lelah, bahkan setelah ia ditolak lagi entah untuk yang ke sekian kalinya.
"Aku nggak akan berada di posisi ini kalau aku nggak punya kepercayaan diri itu, Tera."
"Meski agak menyebalkan, tapi itu memang benar."
Gelak tawa Ganendra semakin menjadi. Lentera cemberut di seberang sana.
"Kembali ke masalah kontrasepsi, aku sarankan kamu untuk menyetujuinya. Kamu memerlukannya."
"Stop mengurusi urusan aku—"
Ganendra memotong kalimat Lentera dengan cepat dan tajam. "Sekarang kamu tidak membutuhkannya, tapi nanti saat Arga pulang dinas, aku yakin kamu akan membutuhkannya. Sebenci-bencinya kamu dengan Arga, tapi kamu tidak dalam kapasitas bisa menolak keinginan dia untuk bercinta."
Meski agak cemburu saat mengatakan hal ini, tapi Ganendra mencoba tetap rasional. Lentera harus mendengarkannya agar apa yang paling ditakutinya tidak terjadi. Dan syarat mutlak agar perkataannya didengar Lentera adalah semua itu harus terdengar rasional.
"Pakai pengaman? Mengeluarkannya di luar? Mustahil. Hal itu tidak akan dilakukan pasangan yang tengah menanti anak." kata Ganendra lagi namun dengan blak-blakan. Toh, baik dia dan Lentera sudah dewasa. Mereka paham hal semacam ini dengan baik. "Katakanlah kamu berani memintanya, tapi setelahnya kamu akan dicurigai. So, kamu masih berani bilang tidak memerlukannya?"
"Aku tidak bilang kalau aku tidak memerlukannya. Aku hanya bilang agar kamu tidak perlu mengurus keperluan aku. Aku bisa melakukannya sendiri."
"Dengan siapa? Dokter pribadi kamu? Atau dokter lain yang kamu pilih secara random?" tebak Ganendra dengan sebuah seringai mengejek yang terukir. Ganendra tersenyum membayangkan betapa sebalnya Lentera saat ini. Kalau tidak memakinya dalam hati, maka pasti perempuan itu sedang mencebik kesal. "Privasi kamu tidak aman dengan mereka. Tapi dengan dokter aku—semuanya aman."
Lentera sebenarnya setuju dengan segala perkataan Ganendra. Semuanya memang masuk akal. Bahkan itu jugalah yang membuat rencana Lentera terhenti sejenak. Dokter yang dia pilih secara acak belum tentu aman, sementara dokter pribadi Ganendra sudah pasti. Bagaimana pun ada sosok Ganendra yang berdiri di belakang dokter itu sehingga dialah yang akan menyetir segala hal yang boleh dikatakan dan tidak boleh dikatakan oleh sang dokter.
Hanya saja, benar, ia gengsi untuk mengiyakannya. Batin Lentera meronta-ronta karena tidak mau berhutang budi pada pria itu. Ia takut hal ini akan menjadi boomerang untuknya di kemudian hari. Apalagi setelah ia tahu kalau Ganendra sedang dalam proses perceraian. Ia takut terlibat dalam kehidupan rumit pria itu.
"Aku bisa membuatkan appointment untuk kamu, Tera. Dan bersama orang-orang aku, segala rahasia ini aman. Nggak akan ada yang tahu kalau kamu memasang sebuah kontrasepsi demi mencegah kehamilan."
Lentera tergiur—sialan. Tapi dia masih menimbang kelebihan dari menerima tawaran ini daripada menolaknya. Sampai kemudian Ganendra berujar kembali,
"Kamu terlalu banyak berfikir, jadi aku simpulkan memang kamu yang nggak butuh bantuan aku. Baiklah. Aku nggak akan memaksa kamu lagi."
"Ganendra!" Lentera berseru untuk mencegah pria itu menutup panggilan mereka. Dia sudah mendapatkan keputusannya. "B-Baiklah. Untuk kali ini aku akan menuruti perkataan kamu. Aku terima bantuan kamu. Terima kasih." katanya setelah menekan dalam-dalam egonya.
"Masih terlalu dini untuk berterima kasih pada aku, Tera."
Tidak ada penghakiman dan Lentera bersyukur karena pria itu tidak mengomentari sikap plinplan-nya.
"Besok, jam empat sore. Kamu datanglah ke alamat yang nanti aku share. Nanti asisten aku akan mengarahkan kamu untuk kelanjutannya."
"Besok terlalu cepat, Ganendra." balas Lentera karena waktu yang dibuat Ganendra begitu cepat. Apalagi besok dia punya janji meeting di jam tersebut.
"Setiap kontrasepsi yang kamu pilih punya waktu jeda yang harus diperhatikan untuk keberhasilannya, Tera. Jadi, lebih cepat tentu saja lebih baik."
Lentera cemberut karena sekali lagi apa yang dikatakan Ganendra memang benar adanya. Astaga, bagaimana bisa seorang pria lebih aware terhadap hal ini dari pada perempuan? Antara memalukan sekaligus menjengkelkan.
"Jadi, bagaimana? Kamu akan datang atau tidak?"
"Baiklah. Aku akan menyelesaikan pekerjaan aku lebih cepat. Terima kasih."
Di seberang sana Ganendra tersenyum puas atas jawaban Lentera.
"Santai saja. Ini hanya bantuan kecil. Di masa depan akan ada banyak rintangan dan aku siap membantu lebih banyak."
Semoga saja ini adalah terakhir kalinya aku menggunakan bantuan kamu, batin Lentera sesaat setelah Ganendra berujar begitu. Dia tidak mau terikat lebih jauh dengan pria itu.
TBC