16. POST KONTRASEPSI

1069 Kata
Happy Reading ^_^ *** Setelah berdiskusi lumayan panjang, Lentera Hadiyata memutuskan untuk menggunakan KB suntik sebagai tindakan pencegahan. Hanya KB ini yang Lentera rasa paling aman, karena tidak akan ada alat yang dipasang di tubuh seperti implan dan IUD yang rawan ketahuan. Paling-paling siklus menstruasinya akan kacau, tapi itu bukan masalah. Arga tidak akan menyadarinya sampai ke titik itu. Katakanlah Arga sadar, Lentera hanya perlu berdalih kalau ini mungkin efek samping pasca kegugurannya. Sebenarnya ada opsi KB pil yang sama mudahnya juga, tapi ia takut akan melupakan jadwal minumnya. Belum lagi kalau kecurigaan Arga timbul karena ada obat rutin yang harus diminumnya. Sekarang ini Lentera harus bermain cantik. Ia tidak boleh membuat Arga curiga walau pun hanya sedikit saja. Prosesi suntik KB sudah selesai dan kini dokter yang bertanggung jawab juga sudah pergi. Lentera kini hanya ditinggalkan berdua dengan Ganendra yang entah bagaimana bisa datang di jam temunya dengan sang dokter. Tentu saja pria itu bisa, tapi kenapa? Ini benar-benar memalukan untuk Lentera, tapi pria itu tidak merasa risih sama sekali. Sebuah botol minuman dingin menyentuh lengan kiri Lentera yang menutupi kedua matanya. Lentera menyingkirkan tangannya dan langsung menjumpai sosok Ganendra yang tengah menatapnya. Sorot matanya aneh. Lagipula, kenapa ia masih berada di sini sih? Dokter yang meng-handlenya saja sudah pergi, tapi kenapa dia masih bertahan? "Thank you," ujar Lentera seraya menerima botol minuman yang diberikan padanya. Keningnya berkerut karena ada serangan rasa nyeri di bagian b****g. "Kamu bisa menginap di hotel ini untuk pemulihan. Toh, aku juga sudah membooking-nya." "Nggak perlu. Akan ada yang curiga kalau aku tidak pulang." "Arga kan tidak ada." "Arga memang tidak ada, tapi kan ada orang-orang rumah yang akan berbisik-bisik. Bayangkan kalau bisikan itu sampai ke telinga Arga." "Jadi apa rencana kamu selanjutnya?" Lentera menatap Ganendra melalui botol minuman yang diteguknya. Tatapannya seolah mempertanyakan pertanyaan Ganendra. "Kenapa aku harus memberitahu kamu?" "Tentu saja. Karena sekarang kita adalah partner." Lentera mengubah posisi duduknya agar lebih mudah menatap mata Ganendra yang penuh kesombongan. Lentera bisa merasakan aura dominan pria itu karena merasa berpengaruh setelah membantunya. Inilah yang Lentera khawatirkan. Sial. "Kamu membantu aku, jadi tentu saja aku merasa berterima kasih sama kamu. Tapi itu tetap nggak akan mengubah apa pun, Ganendra. Kita nggak akan bisa jadi partner." suara Lentera setegas pendiriannya. Ditatap Ganendra yang wajahnya masih sangat datar. "Bahkan, untuk apa gitu? Kamu nggak ada keuntungan apa pun dengan melakukan ini. Ini sepenuhnya obsesi aku. Untung-ruginya hanya untuk aku." "Kata siapa?" Lentera terbata. Mulutnya yang sudah terbuka, langsung tertutup lagi karena kehilangan kata-katanya. Sebenarnya apa yang pria ini inginkan darinya sih? Batin Lentera dengan gelisah. "Aku mendapatkan kamu, Lentera Hadiyata." "Konyol!" pekik Lentera. "Aku tahu kamu hanya ingin balas dendam ke aku karena sudah menolak kamu di masa lalu. Iya kan?" Tidak ada jawaban, tapi Lentera menyimpulkan sendiri bahwa itu memang benar. Katakanlah itu tidak sepenuhnya benar, tapi tetap ada niat terselubung itu. Ganendra tidak sepenuhnya tulus. "Aku tahu kamu hanya ingin menunjukkan superioritas kamu di sini dengan mendapatkan perempuan yang sudah menolak kamu mentah-mentah. Itu memang seru. Tapi, Ganendra, kamu harus menghargai perempuan yang saat ini masih berstatus istri kamu tersebut. Setidaknya kalian belum—" "Kami sudah bercerai." Lentera tertegun. Secepat itu kah? Lentera kembali melirik tangan Ganendra yang hanya dihiasi oleh jam tangan Patek Philippe simpel nan elegan. Benar-benar sudah tidak ada pengikat di jari manis pria itu. Astaga. "Pokoknya—tetap tidak boleh. Bercerai atau tidak, kamu tidak perlu ikut campur pada rencana aku." jawab Lentera dengan mata yang sepenuhnya menghindari mata gelap Ganendra. "Kamu tidak mau aku ikut campur, tapi aku bersedia untuk ikut campur. Aku yang mau ini, Lentera." "Kenapa? Kenapa kamu mau? Do you love me?" tanya Lentera dengan cepat. Sorotnya tajam dan mengejek. "Jelas nggak mungkin. Lebih tepatnya kamu cuma kasian karena ternyata perempuan yang sudah menolak kamu mentah-mentah ternyata nggak sebahagia itu. Kamu mengasihani aku dan aku nggak menyukainya." Ganendra terdiam. Ia agak kebingungan untuk menjawab. Pada dasarnya ia memang tidak mencintai Lentera. Ia datang berulang kali ke arah perempuan itu karena penasaran seperti apa hidup perempuan yang sudah menolaknya. Apalagi Ganendra sendiri sempat memergoki suami perempuan itu berselingkuh di pesawat. Ganendra seperti ingin menertawakannya. Tapi kenyataannya ia tidak bisa melakukannya karena hidup perempuan itu ternyata tidak sebahagia bayangannya. Apa ini artinya ia memang mengasihaninya persis seperti yang dikatakan perempuan itu? Tapi kenapa ada rasa ingin menguasai serta membuatnya tunduk padanya? "Katakanlah aku memang mengasihani kamu, lantas kenapa? Posisi kamu memang pantas untuk dikasihani, Lentera. Lihat kamu yang semenyedihkan sekarang karena pria itu?" Kata-kata Ganendra terdengar kejam. Lentera tertawa tak percaya. Egonya sedikit tersentil, tapi karena itu fakta jadi ia menahan diri. Ditatapnya Ganendra dengan ekspresi lelah dan muak. "Dan bukankah aku juga sudah mengatakan apa yang aku inginkan? Jadi sebenarnya ada transaksi di dalamnya, bukan hanya sekedar rasa kasihan saja." tambah Ganendra dengan nada yang masih terdengar tanpa empati. "Kalau aku memberikan apa yang kamu inginkan, apa kamu akan berhenti mengganggu aku?" tantang Lentera. Lentera frustrasi. Ia membuka kancing kemeja yang dipakainya dengan cepat, kamudian menyingsingkan bagian bahu hingga bra hitamnya kelihatan. p******a yang masih tertutupi itu tampak menggugah. Diamatinya sosok Ganendra Tanaka yang terlihat masih sedatar sebelumnya. Tatapan pria itu terasa merayapi tubuh Lentera yang sengaja diekspos. Tapi kenapa ekspresinya seperti itu? Lentera benar-benar tidak bisa menebak pikiran pria itu. "Tidak perlu terburu-buru, Lentera," jawab Ganendra setelah beberapa detik terdiam. Tangannya terulur sambil membenarkan posisi bahu baju perempuan yang ada di depannya tanpa merasa canggung. "Aku tidak suka hubungan seksual yang tidak skin to skin, jadi aku tidak berminat untuk melakukannya sekarang. Mungkin nanti." imbuhnya bagaikan janji yang sarat akan sensualitas. "Apa?" Ganendra mengancingkan baju perempuan itu dengan telaten. "Dokter bilang selama seminggu ke depan kamu tidak boleh berhubungan badan. Kalau pun berhubungan badan, kamu diwajibkan menggunakan pengaman terlebih dahulu. Agak merepotkan memang, tapi pastikan laki-laki b******k itu tidak melakukannya. Kamu tidak mau kan KB diam-diam ini gagal total?" Ah, maksudnya tidak skin to skin adalah adanya pengaman. Lentera tidak suka, tapi fakta kalau ialah yang memulai ini membuat perempuan itu bungkam. Dan tentang Arga, tentu saja tidak perlu dikhawatirkan. Tanpa diperingatkan pun Lentera pasti akan melakukannya. Ia akan menjaga jarak sebaik mungkin agar Arga tidak bisa menyentuhnya barang sejengkal pun. Meski memiliki anak memang menjadi salah satu keinginan terbesarnya selama ini, tapi setelah terkuaknya perselingkuhan itu Lentera jadi mempertimbangkan siapa ayah dari sosok anak yang akan dikandungnya kelak. Dan sosok Arga sudah dia blacklist. Dia tidak sudi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN