17. LONJAKAN EMOSI

1793 Kata
Happy Reading ^_^ *** Argani Rahadyan pulang tiga hari kemudian. Dan persis seperti yang dikatakan oleh Ganendra, pria itu memang meminta haknya sebagai suami. Dulu, kepulangan sang suami dari luar kota selalu menjadi momen yang mendebarkan. Didukung oleh rindu, percintaan mereka akan sangat intens dan menggairahkan. Yah, selayaknya pasangan yang bertemu lagi setelah terpisah karena keadaan. Tanda cinta ada di mana-mana, lengkap dengan desahan yang memenuhi seisi kamar. Dulu mereka seperti itu, tapi sekarang Lentera berusaha mati-matian menghindarinya. Selain karena pasca tindakan kontrasepsinya, ini juga tentang gairah yang sudah sepenuhnya redup. Bersama Arga hanya membuat Lentera jijik. Jangankan sebuah percintaan panas, sentuhan biasa saja begitu tak tertahankan. Namun karena terhalang oleh balas dendam, ia harus menekan perasaan jijiknya yang bergejolak. Ia menerimanya walau dengan berat hati. "Maafin aku, Arga. Besok pagi-pagi sekali aku harus segera berangkat ke pelabuhan untuk survey proyek. Aku pikir..." Kalimat Lentera yang menggantung ragu-ragu membuat Arga menarik diri secara perlahan. Pria itu langsung berbaring dengan helaan napasnya yang terdengar berat. Kalau dulu Lentera akan merasa kasihan pada sang suami, namun sekarang dia cenderung muak. "Inilah alasan kenapa aku nggak suka kamu yang kembali bekerja. Kamu sangat sibuk sampai melupakan aku." keluh Arga secara terang-terangan. "Kamu tahu kan kalau itu nggak benar? Aku mana mungkin melupakan kamu." Lentera membela diri. "Satu-satunya hal yang ingin aku lupakan dengan menyibukkan diri aku seperti ini adalah keguguran aku. Aku masih belum bisa menerimanya." "..." "Kecelakaan aku... keguguran aku..." Lentera berpura-pura tertekan dengan topik bahasan ini. Meski Lentera merasa menyedihkan karena membawa sang anak dalam topik ini, tapi ia yakin sang anak akan memakluminya. Demi membongkar watak busuk calon ayahnya, sang anak yang sudah berada di surga akan memahaminya. Arga menyentuh tangan Lentera. Punggung tangannya diusap dengan sayang untuk menenangkannya. Merasa sudah mendapatkan simpati Arga, Lentera pun melanjutkan perkataannya. "Aku nggak ada maksud mengatakan ini, tapi sejujurnya aku masih belum bisa menikmati percintaan kita. Tapi karena aku tahu kalo itu kebutuhan kamu, makanya aku mencoba. Tapi tetap aja..." Lentera melirik Arga dengan kesedihan palsu yang terpasang di wajahnya. "Rasanya tuh kayak kosong. Aku... aku masih butuh waktu untuk berdamai dengan keadaan ini. Maafin aku ya, Mas?" lanjutnya untuk mencoba peruntungannya. Siapa tahu Arga akan memakai kembali topengnya sebagai suami yang begitu menyayangi sang istri dan sadar diri untuk berhenti menyentuhnya. "Kalo ada yang harus minta maaf, maka akulah orangnya, sayang. Kamu mengalami kemalangan yang mengerikan, jadi seharusnya aku lebih sabar pada kamu. Bukannya terus menuntut kamu memenuhi nafsu aku." Lentera menatap mata sang suami lumayan lama. Di mata Arga, Lentera tampak seperti terharu akan kalimatnya yang begitu perhatian, tapi faktanya hati Lentera penuh kutukan. Ya, dia mengutuk sosok Arga yang terlihat begitu tulus. Tidak ada celah sedikit pun. Lentera hanya akan dicap pembohong kalau mendengungkan sosok Arga sebagai peselingkuh yang andal. Tidak akan ada yang mempercayainya. Ini adalah citra yang ingin Lentera bongkar pada dunia. Dia ingin melihat bagaimana dunia menghujani Arga dengan kutukan karena berselingkuh dari dirinya. Tapi kalau sikapnya masih setenang ini maka rencananya tidak akan berhasil. Kira-kira apa yang harus dia lakukan agar Arga menunjukkan topengnya yang sebenarnya? Bagaimana cara menangkap basah pria itu? "Maaf ya karena aku belum bisa memenuhi nafsu kamu dengan baik. Kamu nggak marah kan sama aku?" Lentera memasang mimik sedih. "Nggak apa-apa, sayang. Take your time, sampe kamu bener-bener ngerasa sudah lebih baik. Aku siap menunggu sampai kapan pun." Dasar munafik. *** Survey lapangan itu ditutup dengan berjabat tangan. Lentera menyalami semuanya, kecuali Ganendra. Tangan Lentera yang langsung disimpan di belakang tubuhnya cukup membuat pria itu paham maksud kekanakannya. Pria itu menyeringai tipis. "Bagaimana suami kamu? Apa kalian sudah berhubungan badan?" Lentera mengerutkan keningnya atas pertanyaan tidak sopan Ganendra. Pria itu secara terang-terangan membahas hal intim semacam ini di area luar. Bahkan sekretarisnya pun masih berada di sekitar mereka. Untung saja asisten yang Lentera bawa sedang mengantar investor lain ke hotel tempat mereka menginap. "Thank you for asking, but why? It's not your bussiness, sir." Lentera melirik sinis. "Bahkan, hati-hati sama ucapan kamu. Kamu bisa membahayakan aku dan rencana aku, Ganendra." "Aku nggak mungkin melakukan sesuatu yang membahayakan kamu, Tera," Ganendra memberitahu. "aku berani bertanya begitu karena kita ada di luar. Nggak ada ruang untuk menguping." "Memang nggak ada ruang, tapi ada orang. Kamu pikir dia nggak punya telinga?" Lentera mengendikkan dagunya ke arah sekretaris Ganendra yang berdiri dua langkah di belakang pria itu. Apa dia tidak menganggap sekretarisnya sebagai seseorang yang bisa menguping? "Abaikan sekretaris aku. Kesetiannya jauh lebih besar dari kesetiaan suami kamu." Itu fakta, tapi Lentera tetap tersentil. Menyebalkan. Dengan gestur halus dari Ganendra, sekretaris pria itu meninggalkan mereka berdua. Barulah Lentera bisa merasa lega. Mungkin terdengar picik, tapi semenjak merencanakan balas dendam, Lentera jadi mencurigai semua orang. Bahkan Ganendra pun tak terhindarkan pada awalnya. "So, gimana?" "Gimana apanya?" Lentera kesal. Dia berjalan mendahului Ganendra, tapi pria itu berhasil menyamai langkahnya dengan cepat. "Ya tentang suamimu. Have you two slept together?" Astaga... "Memangnya kenapa kalau iya? Dan kenapa juga kalo nggak?" Lentera mempertanyakan dengan sinis. "Padahal itu bukan urusan kamu sama sekali." "Memang bukan urusan aku, tapi aku cemburu. Ada masalah?" Langkah Lentera terhenti. Dia menengok ke arah Ganendra dengan tercengang. Pria itu bertanya apa ada masalah? "Aku sih nggak ada masalah, tapi kamulah yang sepertinya bermasalah," Lentera berkacak pinggang. "Bisa-bisanya kamu berkata cemburu pada aktivitas ranjang pasangan suami-istri? Kamu mau jadi penggoda di rumah tangga orang lain?" tambahnya. Perkataan Lentera berangsur memelan karena dia sadar di mana mereka berada sekarang. "Aku berkata seperti ini karena aku tahu kondisi kalian. Dan aku pun tahu yang sebenarnya, jadi aku nggak merasa bersalah. Dan aku benar-benar cemburu." "Ganendra, kamu tidak punya hak untuk cemburu. Pada dasarnya dia suami aku dan aku harus memenuhi nafsunya." "Bahkan kamu pun masih sudi melayani nafsunya? Setelah dia having s*x dengan selingkuhannya?" Lentera tampak kehabisan kata-kata. Dia masih tidak suka dengan Ganendra yang mengganggunya sampai seperti ini. Dan apa tadi? Cemburu? Hubungan mereka tidak sedekat itu sampai pria itu berhak cemburu. "Kamu bilang kalau kamu mau balas dendam, tapi mana? Gelagat kamu seperti istri yang mencoba menerima kelakuan buruk suami kamu. Kamu tutup mata dengan perselingkuhannya dan tetap melayani nafsunya. Mana usaha yang katanya kamu mau balas dendam?" "...." "Nggak ada. Kamu kayak jalan di tempat. Dan seseorang yang hanya jalan di tempat nggak akan berhasil. Kamu hanya akan tertangkap dan takluk karena keadaan." Lentera menghentakkan kakinya dengan kasar lalu pergi. Sekali lagi, dia seperti ditampar oleh fakta yang Ganendra Tanaka paparkan. Semuanya memang benar. Rencana Lentera berjalan sangat lambat, entah karena Arga yang sangat berhati-hati atau karena pria itu memang sudah jago dengan perselingkuhannya. Tapi Lentera memang belum berhasil mendapatkan banyak bukti. Pasangan itu memang beberapa kali tertangkap kamera detektif pengawas yang Lentera bayar, tapi interaksi mereka tergolong sangat normal. Lentera sampai muak sendiri dan akhirnya menghentikan pekerjaan mereka. Sebelum kecelakaan, Lentera pernah memergoki mereka b******u di kantor. Setelah bekerja lagi pun ia pernah memergoki mereka secara diam-diam di ruangan itu. Jadi Lentera menyimpulkan kalau mereka akan mesra di tempat yang hanya ada mereka berdua di dalamnya, tapi menjadi asing saat di luar. Ini sulit. Pikiran untuk memasang kamera CCTV di ruang kerja Arga memang sempat terlintas. Tapi dia urungkan karena itu terlalu mencolok. Atau bisa juga kamera tersembunyi? Ukurannya lebih kecil jadi seharusnya tidak akan mudah untuk ketahuan. Tapi bagaimana kalau ketahuan? Bagaimana kalau— Pikiran Lentera yang berisik tiba-tiba terdiam. Kenapa ia jadi sepengecut ini? Ia tidak siap dengan segala resiko, lalu bagaimana mau membalaskan dendamnya? Bagaimana kalau akhirnya ia akan takluk karena keadaan persis seperti kata Ganendra? "Lentera!" Tangannya ditarik hingga Lentera mau tidak mau menatap pria yang melakukannya. Pria itu memasang raut wajah marah. "Bisa nggak sih kamu jangan terlalu impulsif? Kamu marah dan berjalan tanpa melihat sekitar. Kamu nggak liat kalo ini udah jalanan umum? Kalau ada mobil atau motor yang melintas bagaimana? Kamu udah nggak sayang sama nyawa kamu, hah?" Salah satu fakta lain tentang dirinya keluar lagi dari bibir Ganendra. Apakah dirinya memang semudah itu untuk dibaca oleh orang lain? "Masuk mobil sekarang juga." Lentera masih tidak terima, tapi Ganendra kembali bersuara. "Tempat ini masih dalam pengembangan, jadi memang belum banyak transportasi. Kalau kamu nggak mau naik mobil aku, maka kamu bakal nunggu sampe entah kapan. Kamu yakin? Nggak takut kalau tiba-tiba ada orang jahat yang mau memperkosa kamu?" Pria ini benar-benar... "Kamu bisa nggak sih nggak usah ngomong hal-hal kayak gitu? Nyebelin tahu nggak?!" Lentera masuk ke mobil Ganendra dengan sebal. Karena kekesalannya, sepanjang perjalanan kembali ke hotel Lentera memasang wajah sengit. Masa bodoh dengan fakta kalau ia diberi tumpangan oleh pria yang kini duduk di sebelahnya. Sesampainya di hotel pun tidak ada ucapan terima kasih. Lentera langsung turun begitu saja dan bergegas kembali ke kamarnya. Dia muak sekali dengan pria yang terlalu mengusik rencana dan privasinya. Tapi langkah kaki Lentera terhenti di lobby hotel yang ditempatinya selama di pulau ini. Ada pemandangan yang menggetarkan jiwanya. Seorang ibu dengan bayi dalam stroller-nya menarik perhatian Lentera. Si ibu tampak bercanda pada sang anak. Senyumnya merekah sempurna, apalagi saat tangan mungil si anak muncul dan berusaha meraih wajah sang ibu. Manis sekali. Lentera iri—tu faktanya. Seandainya anak dalam kandungannya masih bertahan, beberapa bulan lagi dia pasti bisa merasakan momen itu. Tapi karena sang anak sudah tidak ada dan pernikahannya berantakan, ia tidak akan bisa merasakan sensasi itu, bahkan untuk beberapa tahun ke depan. Bahkan, bisakah dia merasakannya? Pasalnya, kepercayaan diri Lentera pada sebuah pernikahan sudah tidak ada. Menikah lagi dan berbahagia jelas menjadi hal yang terasa tidak mungkin bagi Lentera. Lonjakan emosi dalam dirinya meningkat dan membuat Lentera tak bisa menahan air matanya. Kedua tangannya terkepal kuat di samping tubuhnya. Karena sisi emosionalnya bangkit di waktu yang tidak tepat, Lentera pun bergegas meninggalkan lobby tersebut. Ia tidak mau mempermalukan dirinya sendirinya dan membuat orang lain bingung. Ketika ia sudah berada di kamarnya, barulah Lentera menangis histeris. Tangannya mencari pegangan dan menemukan lemari yang berada di dekat pintu. Satu tangan bertumpu pada lemari dan satunya lagi untuk menutup matanya. Dia berharap air matanya akan berhenti, tapi gagal. Tangisannya semakin menjadi-jadi, bahkan isakannya sampai terdengar memilukan. Tangisannya yang hebat membuat tubuh Lentera gemetar. Kakinya lemas dan perlahan-lahan tubuhnya merosot ke lantai. Lentera memegangi dadanya yang terasa sesak sampai rasanya mau pecah. Kepala Lentera penuh dengan dorongan impulsif yang meminta untuk direalisasikan. Dia mencengkeram rambutnya untuk menghalau segala pikiran buruk yang menyerang. Di momen seperti ini Lentera butuh Mama dan Papanya. Ia butuh seseorang untuk menarik keluar dirinya dari lubang keputusasaan. Tapi tidak ada siapa pun, alhasil ia hanya mampu menyakiti dirinya sendiri untuk bertahan di momen krusial ini. Lentera bisa... setidaknya ia harus bisa. Ia tidak butuh siapa pun. Sekali lagi—ia tidak butuh... Pintu terbuka. Dan sosok Ganendra Tanaka datang dengan pelukan hangatnya yang menenangkan, dan menarik Lentera dari kubangan keputusasaan. TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN