18. BAYAR AKU

1063 Kata
Happy Reading ^_^ *** Lentera pikir ia sudah tidak punya kelemahan. Hatinya sudah keras, jadi balas dendamnya bisa dilakukan tanpa akan terdistraksi. Tapi siapa sangka sosok ibu dan bayi masih menjadi trigger terkuat Lentera. Tadi itu benar-benar tangisannya yang paling menyesakkan. Lentera merasa berada di titik puncak emosinya. Rasa sakitnya hampir mengalahkan logika Lentera. Kalau bukan karena Ganendra datang dan menenangkannya, Lentera tidak tahu hal buruk apa yang terjadi padanya sebagai pelampiasan. "Kenapa kamu tidak bertanya?" Lentera membuka bibirnya setelah beberapa menit berkelut dengan pikirannya. Ia diam, begitu juga dengan Ganendra Tanaka. Dari ekor matanya, Lentera tahu kalau pria itu terus menatap ke arahnya tanpa terdistraksi oleh ponsel atau sekitarnya. Pria itu masih menungguinya tanpa mengulik apa pun. Dan ini membuat Lentera terkejut karena tidak menyangka pria yang suka ikut campur itu bisa sesopan ini. "Kalau aku bertanya, apakah kamu akan menjawabnya?" "Tidak." jawab Lentera tanpa pikir panjang. Ia mencoba mengukur reaksi Ganendra atas sikapnya yang tidak tahu terima kasih. Lentera masih bersandar di single sofa yang terletak di pinggir jendela. Tatapannya masih terus terarah ke luar jendela. Di bawah sana, ada kumpulan bunga yang tampak mekar. Tampak indah namun terasa seperti mengejek Lentera yang tampak layu dan kuyu. Sementara itu sosok Ganendra yang berada di sofa lain tampak memerhatikan Lentera. Tatapannya tidak berpaling meski keketusannya masih begitu konsisten setelah semua yang terjadi. "Aku nggak akan memaksa kamu. Aku akan menunggu sampai—" "Aku kehilangan anak aku," Lentera menggigit bibir bawahnya untuk serangan air mata yang mendesak lagi. Ia memutuskan menceritakannya setelah mempertimbangkan banyak hal. "Aku keguguran." ulangnya untuk memastikan setiap suku katanya didengar dengan baik oleh pria itu. "Karena kecelakaan itu?" Lentera mengangguk. Matanya masih tidak berpaling dari jendela. "Hari itu aku mengetahui kalau aku hamil, hari itu juga aku kehilangan janin itu." "Astaga." "Hari itu juga aku memergoki laki-laki itu berselingkuh. Hari itu juga aku hampir mati." Lentera terkekeh penuh ironi saat sadar betapa banyaknya hal yang terjadi hari itu. Dan semuanya hal yang buruk. Benar-benar hari terburuk yang pernah dialaminya. "Itulah alasan yang membuat aku harus melakukan pembalasan dendam ini. Aku berbaik hati memuliakan laki-laki itu, tapi dia menginjak-injak kepalaku. Pada akhirnya aku kehilangan pekerjaan aku, suami aku, dan anak aku. Bahkan aku hampir kehilangan nyawa aku juga dalam kecelakaan itu." Lentera mengusap air matanya dengan kasar. Meski waktu berlalu, tapi ternyata ia tetap tidak sekuat itu untuk membahasnya seolah-olah tidak terjadi apa pun. Ia tetap terluka dan air matanya tetap mengalir. Kenapa waktu tidak kunjung menyembuhkan sakit hatinya? "Aku tahu kamu mengalami kecelakaan yang mengerikan, tapi aku tidak tahu tentang kehamilan kamu. Tidak ada beritanya..." ucap Ganendra yang semakin lirih di akhir kalimatnya. Ia terkejut dan itu tidak bisa dipungkiri. Pantas saja keluarga Lentera bersikeras untuk menutupi insiden kecelakaannya. Ternyata ada cerita yang mengerikan di belakangnya. "Memang tidak ada karena semua orang bersikeras menutupinya. Apalagi saat itu aku langsung berpura-pura hilang ingatan. Mereka semua berdalih tidak mau kondisi aku makin buruk karena berita ini." Lentera menyeringai. "Kalau seandainya aku benar-benar hilang ingatan, kehamilan aku akan dianggap tidak ada. Betapa tenangnya Arga kalau itu sampai terjadi. Dia akan terlepas dari beban moral padahal dia adalah salah satu penyebab anak aku meninggal." mata Lentera berkilat penuh rasa tidak terima. "Kenapa kamu memendamnya sendiri, Tera? Kenapa kamu tidak menceritakannya kepada aku dari awal?" "Untuk apa?" Lentera berbalik. Dan ia terkejut dengan sosok Ganendra yang kini sudah berdiri menjulang di atasnya. Lentera memperhatikan tangan Ganendra yang mematung karena ketahuan ingin menyentuh kepalanya. "A-Aku tidak ada kewajiban untuk memberitahu kamu. Kamu bukan siapa-siapanya aku." jawabnya terbata. Lentera melihat Ganendra menarik tangannya kembali. Kemudian tangan itu terkepal seolah-olah menahan amarah. Tapi amarah untuk apa? Pria itu memalingkan wajahnya, lalu mengambil posisi duduk di pinggir sofa yang diduduki Lentera. Kedua tangannya menyugar rambutnya ke belakang dengan frustrasi. Lentera pun sama frustrasinya. Ia memasrahkan kepalanya ke sandaran sofa sehingga fokusnya sekarang adalah menatap langit-langit kamar hotelnya dengan nanar. Beragam memori terputar dan membuat Lentera memejamkan matanya untuk menyerap semua kenangan yang memenuhi otak kecilnya. "Maafkan aku, Lentera. Aku benar-benar nggak tahu..." "Memangnya kenapa kalau kamu tahu? Kamu tetap nggak akan bisa melakukan apa pun." Lentera menjawab dengan mata yang masih terpejam. "Aku benar-benar ingin menghancurkan Arga. Harus." imbuhnya lirih bagaikan gumaman untuk dirinya sendiri. "Aku akan membantu kamu, Tera." Lentera membuka mata dan menatap Ganendra dengan lelah. Bahasan ini lagi... "Apakah kamu mau membunuh dia atau memiskinkan dia, aku akan membantu kamu." tambah Ganendra, seolah ia tidak masalah terlibat kasus kriminal karena seorang Lentera Hadiyata. Tawaran Ganendra terdengar menggiurkan, tapi Lentera memilih untuk menentangnya—seperti biasa. "Jangan bercanda, Ganendra. Untuk apa kamu mengotori tangan kamu demi masalah orang lain?" Lentera menegakkan tubuhnya. Obrolan ini makin intens. "Jangan kasihani aku, okay? Itu membuat aku terasa menyedihkan." Terasa menyedihkan karena ia dulu menolak Ganendra demi Arga. Ia membuang berlian demi sampah. Tapi Lentera tidak akan berani melantangkan alasannya karena ia sendiri pun merasa malu untuk mengakuinya. "Mau sampai kapan kamu bersikeras tidak mau dibantu? Rencana kamu stuck kan? Dendam kamu yang membara butuh pembalasan dendam yang cepat. Tapi kalau begini terus maka akan butuh waktu bertahun-tahun untuk menuntaskannya. Kamu siap hidup bersama pria itu lebih lama lagi?" "Mana mungkin aku mau. Bertahan setiap harinya saja terasa mencekik," aku Lentera dengan cepat. Ini tentu perasaannya yang sesungguhnya. "tapi aku nggak bisa menerima bantuan kamu. Ini nggak masuk akal." "Bukan nggak masuk akal, tapi kamu memang nggak mau mempercayai aku." Kalimat Ganendra sangat tepat sasaran. "Bagaimana cara supaya kamu bisa mempercayai aku, Tera? Aku benar-benar ingin membantu kamu." "Kalau begitu jelaskan alasan kenapa kamu sampai harus membantu aku. Kita tidak punya hubungan apa pun." Lentera menyela dengan cepat dan tegas. "Bahkan aku dulu menolak perjodohan kita mentah-mentah. Aku yakin kamu pasti tersinggung. Jadi yang benar adalah kamu balas dendam ke aku, bukannya menolong aku." Aku punya alasannya, batin Ganendra berkumandang lirih. Lebih tepatnya, dulu ia memang tidak punya. Tapi sekarang dia punya. Ia memilikinya. Sebuah alasan yang mengharuskannya membantu Lentera. Ia menatap Lentera dengan sedih. Penyesalan dan rasa malu membaluri nuraninya. "Aku hanya ingin membebaskan kamu dari Arga sesegera mungkin." Ganendra memberitahu. "Kalau kamu memang tidak bisa menerima bantuan aku secara cuma-cuma, maka bayar aku." "...." "Bayar aku seperti kamu membayar detektif untuk memata-matai Arga. Bayar aku dengan harga yang layak sehingga kamu tidak merasa berhutang budi. Jadikan aku sekutu kamu, Lentera Hadiyata." Dan berapa harga yang layak untuk membayar seorang Ganendra Tanaka?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN