19. SEBUAH HARGA YANG LAYAK

1156 Kata
Happy Reading ^_^ *** Dan berapa harga yang layak untuk membayar seorang Ganendra Tanaka? Pertanyaan itu masih terus berputar-putar di kepala kecil Lentera. Tawaran Ganendra untuk membantunya terdengar menggiurkan. Dia akan membantu menemukan celah keburukan Arga hingga Lentera bisa membalaskan dendamnya dengan cepat. Dengan begitu juga perceraian Lentera dan Arga akan terlaksana tanpa perlu menunggu lama. Lentera tergiur. Tapi karena yang membantunya adalah seorang Ganendra Tanaka maka Lentera tahu kalau harganya pasti tidaklah murah. Bayarannya pasti sangat mahal. Kalau seandainya Ganendra membuka harga, Lentera akan menerimanya dengan senang hati. Dibantu Ganendra Tanaka dengan segala kemampuannya—Lentera akan merasa beruntung. Ini seperti mendapat jackpot karena persentase kegagalannya pasti kecil. Tapi masalahnya tidak ada nominal yang disebutkan. Dan sesuatu tanpa nominal yang jelas cukup berbahaya. Bagaiman kalau Ganendra sampai memiskinkannya? Kalau hanya ia yang dimiskinkan sih tidak masalah, tapi bagaimana kalau keluarganya ikut terseret? Lentera tidak mau kedua orangtuanya ikut terdampak atas aksi balas dendamnya. Tapi mungkinkah seorang Ganendra Tanaka yang hartanya berserakan di mana-mana masih memerlukan harta orang lain? Di balik gelas bertangkai yang dipegangnya, Lentera Hadiyata mengawasi sosok Ganendra. Pria dengan kharisma yang luar biasa itu benar-benar menjadi bintang utama di acara makan-makan malam ini. Sebagai salah satu investor utama di resort yang akan dikembangkan oleh perusahaan keluarga Lentera, pria itu memainkan perannya dengan baik. Dia menjelaskan dengan seksama segala prospek masa depan hingga membuat calon-calon investor lain tampak puas dengan kepala terangguk. Kalau begini bisa dipastikan mereka akan pulang dengan mengantongi banyak investor baru. Kelancaran bisnisnya bergantung momen ini dan Ganendra melakukannya dengan baik. Merasa diperhatikan, Ganendra Tanaka melihat ke arah Lentera. Pandangan mereka bertemu dan wanita itu mengalihkan pandangannya dengan cepat. Perempuan itu banyak mengonsumsi wine malam ini. Bahkan sekarang pipinya sudah merona alami berkat kadar alkohol dalam wine. "Senang sekali karena saya akan berbisnis dengan kamu, Ganendra. Pandangan kamu tentang bisnis selalu luar biasa. Saya percaya pada pilihan kamu." Satu calon investor sudah masuk ke dalam kantong. Belum lagi dengan mereka yang menimpali kalimat tersebut dengan kata 'ya' dan 'benar' secara bersamaan. Suasana menjadi ramai dan asyik. "Terima kasih atas pujiannya. Tapi sebenarnya saya sendiri yakin karena track record perusahaan Keluarga Hadiyata. Bisnis perhotelan mereka selalu totalitas. Makanya di kesempatan ini saya bersedia bergabung tanpa perlu pikir panjang." Ganendra melemparkan tatapan memuji ke arah Lentera. Kemudian ia melanjutkan, "apalagi dengan adanya Ibu Lentera Hadiyata. The Emperial Bali adalah bukti nyatanya." The Emperial Bali adalah salah satu proyek Lentera yang sukses. Tangga kesuksesan Lentera langsung terbentang berkat kontribusinya di sana. Bahkan gelar nepotism baby yang dimilikinya sejak masuk perusahaan pun mulai tak terdengar lagi. Semua orang mengakui kemampuannya berkat proyek ini. "Saya akan bekerja keras untuk menyukseskan proyek kali ini. Saya nggak akan membuat Bapak dan Ibu sekalian yang sudah memutuskan bergabung kecewa." Lentera menangkap umpan Ganendra dengan baik. Citra dirinya naik satu tingkat berkat Ganendra. Ingatkan dia untuk mengucapkan terima kasih pada pria itu. *** "Pastikan akomodasi untuk para calon investor aman. Agenda besok mana? Saya mau lihat." Asisten yang Lentera bawa mengeluarkan tabletnya. Lentera membaca satu persatu. Sesekali keningnya berkerut, tapi setelah mendengar penjelasan asistennya ia pun mengangguk. "Usahakan untuk agendanya itu sefleksibel mungkin. Gimana pun para calon investor ke sana buat refreshing, jadi mereka harus pulang ya dengan kondisi fresh. Bukan sebaliknya." "Baik, Bu." "Ya sudah kalo gitu kamu istirahat. Besok pagi jangan sampe telat ya." "Siap, Bu." Lentera merasa kalau obrolannya sudah selesai, tapi si asisten yang tak kunjung pergi membuat Lentera gemas. "Apalagi? Kalau mau nanya tuh nanya aja. Buruan. Saya udah ngantuk soalnya." Sebenarnya bukan mengantuk, tapi pusing. Lentera minum wine lumayan banyak dan efek sampingnya mulai terasa. "Ibu beneran besok nggak ikut? Berarti pulang sendiri dari sini? Benera nggak apa-apa?" "Ya nggak apa-apalah. Memangnya kenapa?" Lentera balik bertanya karena merasa diperlakukan seperti tidak bisa melakukan tanpa si asisten. "Saya takut Ibu kerepotan sama barang bawaan Ibu. Nanti kalo saya udah pergi, siapa yang bakal bantuin?" Lenter memutar bola matanya. Benar kan? Bahkan hal sesederhana ini saja terlalu dia urusi. "Barang bawaan saya nggak banyak. Tenang saja." "Ya sudah kalo gitu," si asisten tampak masih ragu. "tapi kalo ada apa-apa ibu hubungi saya ya. Soalnya nanti saya yang disalahin sama Pak Arga karena dikiranya ninggalin Ibu." Lentera memutar bola matanya. "Kalo ada apa-apa ya saya langsung hubungi suami saya-lah. Ngapain saya masih nelponin kamu?" Kali ini suara Lentera lebih ketus dari sebelumnya. Ia risih karena pria di depannya membawa-bawa Arga ke dalam obrolan mereka. Padahal sebelumnya suasana hatinya sudah sangat bagus, tapi nama itu malah disebut dan membuat mood Lentera memburuk dengan cepat. "Nggak usah pikirin saya. Saya aman kok." Tanpa sadar Lentera melirik sosok Ganendra yang masih menyesap wine-nya. Dan jujur, keberadaan pria itu adalah salah satu penyebab dari perasaan aman yang dirasakannya. Entah karena apa. "Saya pergi dulu ya, Bu. Sampai ketemu di kantor hari senin nanti." "Ya. Terima kasih juga atas bantuannya selama di sini." "Sama-sama, Bu." Melihat kepatuhannya, Lentera jadi terpikirkan untuk menjadikan si asisten dadakan agar menjadi tangan kanannya. Kinerjanya pun bagus . Yah, meskipun dia masih kaku karena terus membawa nama Arga, tapi itu bisa diurus dengan mudah. Tapi, bisakah dia mempercayai pria itu? *** Lentera pikir Ganendra memang belum puas minum makanya dia minum-minum sendiri setelah semua calon investor kembali ke kamar hotelnya. Tapi siapa sangka ketika dia beranjak, pria itu pun turut beranjak pergi. Pria itu menungguinya. Tanpa kata-kata dan tanpa basa-basi. Ganendra Tanaka hanya bertindak tanpa suara dan mengawal Lentera untuk kembali ke kamar hotelnya. Lentera merasa canggung, tapi juga tidak menolaknya. Lentera menghentikan langkahnya. Pria yang berjalan satu langkah di belakangnya pun ikut berhenti. Keheningan melingkupi keduanya. Merasa harus mengikuti kata hatinya, Lentera pun membalikkan badan. Matanya bertemu dengan mata tajam pria yang berada di depannya. "Aku mau menjadi sekutu kamu. Dengan catatan ada harga yang jelas," Lentera menatap Ganendra lekat-lekat. Dia mencoba menilai responnya. "jadi berapa harga yang kamu inginkan untuk membantu aku?" imbuh Lentera dengan tegas. "Aku tidak punya harga." Sangat cepat dan to the point. Tapi bagi Lentera ini adalah sikap yang ambigu. Dia sendiri yang menyuruh Lentera membayar agar tidak merasa terbebani. Tapi saat ditanya harga, pria itu malah bersikap tidak jelas. Apa yang sebenarnya dia inginkan? Lentera mendekat. Dia mengikis jarak satu langkah yang tercipta antara tubuh Lentera dengan Ganendra. "Lalu, apa yang kamu inginkan, Ganendra Tanaka?" Pertanyaan yang tadi hanya Lentera tanyakan ke hatinya kini ia tanyakan langsung pada yang bersangkutan. Kebetulan Lentera tidak memakai high heels di acara makan-makan tadi sehingga perbedaan tingginya dengan pria itu lumayan mencolok. Keduanya saling memandang. Tidak ada senyum. Hanya sorot mata yang berbicara dalam situasi yang sendu ini. "Apa yang kamu inginkan sebagai imbalannya?" ulang Lentera dengan penuh penegasan. Ini akan menjadi sebuah transaksi, jadi semuanya haruslah jelas. Tangan Lentera terulur. Ia mengusap pipi pria itu dengan gerakan lembut. Tubuh pria itu memanas, mungkinkah karena wine yang tadi diminumnya? "Karena kamu tidak menyebutkan harga, bagaimana kalau aku menawarkan diri aku? Apakah kamu bersedia menerimanya, Ganendra Tanaka? TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN