20. KEKASIH GELAP

1299 Kata
Happy Reading ^_^ Note : kipasss mana kipasss 🔥 *** Ganendra mendorong tubuhnya ke arah Lentera dengan tidak sabaran. Akibatnya, pintu di belakang Lentera tertutup dengan bunyi berdebum yang agak keras. Di balik pintu, bibir keduanya langsung bertemu. Lentera pun melingkarkan kedua tangannya ke leher pria itu. Ciuman itu kuat dan liar. Setelah puas menghisap bibir Lentera, lidah Ganendra memaksa masuk untuk bertemu dengan lidah perempuan itu. Lidah keduanya pun saling membelit untuk waktu yang lumayan lama hingga dua insan itu kehabisan napas. Ganendra menarik wajahnya sedikit untuk memberikan ruang agar Lentera bisa bernapas. Air liur mereka bersatu, bahkan ada sedikit yang meleber ke sudut bibir wanita itu. Ganendra mengecup area itu tanpa ragu. Kemudian kecupannya turun ke leher, tulang selangka, lalu berakhir di atas gundukan yang yang masih tertutup oleh pakaian Lentera. Tangan pria itu pun tidak tinggal diam. Sejak tadi tangannya terus mengeksplor tubuh Lentera, mulai dari wajah, pinggang, punggung, sampai b****g. Dalam kurungan gairah itu, Lentera menggelinjang. Ia pasrah dengan apa yang hendak dilakukan Ganendra Tanaka pada tubuhnya. "Kamu yang menawarkan diri kamu. Jadi jangan menyesalinya." ujar Ganendra lambat-lambat. Bibirnya sesekali menggigiti kulit payudaranya yang terekspos sambil sesekali matanya melirik sang wanita. "Aku pikir kamulah yang akan menyesalinya karena mau terlibat dalam balas dendam aku yang bodoh." balas Lentera meremehkan. Kenikmatan yang dirasakan wanitanya tampak nyata, sehingga membuat pria itu besar kepala. Ingin meningkatkannya, Ganendra mengangkat Lentera. Kedua kaki Lentera membelit pinggang Ganendra hingga area dadanya sejajar dengan kepala Ganendra. Tanpa ragu Ganendra langsung menyibak kerah baju wanita itu hingga p******a kirinya menyembul. Ukurannya masih tidak maksimal karena tekanan baju yang dipakainya, tapi itu cukup untuk memuaskan wanita yang saat ini tengah menahan desahannya. "Ganendra, aku mohon..." Ganendra tidak tahu permohonan apa yang akan dibuat oleh wanitanya, tapi pria itu langsung berinisiatif menggigit putingnya. Erangan Lentera terdengar. "Arghh!" Ganendra membawa Lentera ke ranjang dengan terburu-buru. Ia meletakkannya dengan agak kasar ke ranjang. Wajah cantik Lentera yang diliputi nafsu membentang. Rambutnya tergerai berantakan, satu payudaranya tampak basah dengan jejak gigitan, dan dress simpelnya tersingkap. Seksi sekali. Ganendra pun melepas bajunya dengan terburu-buru. Setelah melepas bajunya, Ganendra menaiki ranjang. Pria itu mengambil posisi dari bawah, lalu terus naik ke atas. Tangan kirinya menopang tubuhnya, sementara tangan kanannya merambati kaki Lentera. Terus ke atas hingga berakhir di tengah-tengah paha wanitanya. Ganendra merasakan kelembaban di sana. Wanitanya sudah terangsang. "Kamu bereaksi terhadap sentuhan aku. Dan aku suka." Ganendra mengecupi wajah Lentera dengan tangan yang masih terus bekerja di bawah sana. Jarinya menyelinap ke celah hangat di antara paha Lentera dan membuat wanitanya menggelinjang seksi. "Ganendra... please..." "Please apa, sayang? Katakanlah..." Satu jari lagi bertambah. Tubuh Lentera semakin gemetar akibat dua jari Ganendra yang mengobrak-abrik area sensitifnya. Kaki wanita yang tengah dilanda kenikmatan itu mulai tidak bisa diam. Secara naluriah Ganendra mengubah posisinya. Ia duduk di antara paha Lentera dan menahan satu kaki perempuan itu ke bahunya. Gerakan jarinya semakin intens hingga erangannya memenuhi kamar. "Ganendra, lepaskan. Lepaskan jari kamu—arrghh!!" Bukannya melepaskan, Ganendra malah semakin intens memainkannya. Lentera tak tahan lagi. Kakinya yang ditahan Ganendra melejang-lejang ke udara dan dia mendapatkan klimaksnya yang luar biasa. Saking luar biasanya, punggung Lentera sampai terangkat sedikit pada momen tersebut. Momen luar biasa itu menyerang Lentera dengan begitu intens. Sulit untuk dijabarkan, tapi ada perasaan lega yang mendalam. Seperti ada kepuasan tersendiri. "Apakah rasanya jauh lebih baik dari yang diberikan suami kamu yang b******k itu, sayang?" Dendamnya kepada Argani Rahadyan membuat nafsu Lentera pada kenikmatan duniawi semacam ini menjadi berkurang. Bahkan saat waktu itu terpaksa melayani Arga pun yang Lentera rasakan hanya rasa sakit dan jijik. Tidak ada kenikmatan sedikit pun. Jadi bisa dibilang pelepasannya kali ini adalah pelepasan paling nikmat. Dan lucunya, itu Lentera dapatkan dari pria yang bukan suaminya. Ironis sekali bukan? Lentera tidak menjawab, tapi Ganendra bergegas menaiki tubuhnya lagi. Pria itu merapatkan tubuhnya hingga Lentera bisa merasakan ada sesuatu yang menonjol di tengah paha Ganendra. Milik pria itu pasti menuntut pelepasan seperti yang Lentera dapatkan. Tiba-tiba ada perasaan menohok yang menyerang Lentera. Rasanya seperti ia mengkhianati suaminya. Padahal semesta pun tahu kalau Arga-lah yang berkhianat lebih dulu. Tapi kenapa dia merasa buruk sekali? "Sepertinya kamu mulai menyesali tawaran kamu." Ucapan itu membuat Lentera membuka matanya kembali. Padahal ia sudah berusaha menyembunyikannya dari Ganendra, tapi pria itu tetap berhasil mengetahui pikirannya. Apakah ia memang semudah itu untuk dibaca? Saat Ganendra berusaha membenahi tampilan Lentera, ia menahan tangan pria itu. Lentera menggeleng sebagai bentuk penolakan. "Aku nggak menyesal. Kamu bisa melanjutkan." Ganendra tampak menjulang di atasnya. Tampan, gagah, dan perkasa. "Nggak. Ini nggak bisa dilanjutkan. Aku nggak mau kamu menyesali sesuatu lagi." Ganendra memegang kedua tangan Lentera lalu menariknya. Kini mereka berdua berhadapan di atas ranjang. Meski bibirnya masih bengkak, tapi baju Lentera sudah berada pada tempatnya. Sedangkan Ganendra masih dalam keadaan bertelanjang d**a. "Aku nggak apa-apa." "No, you're not." Lentera menangkup wajah Ganendra dengan kedua tangan. Namun, meskipun begitu ketidaknyamanannya tetap tidak bisa ditutupi. Ganendra ikut menangkup wajah wanitanya, membawanya agar kembali mendongak dan bertemu pandang dengannya. Keduanya bertatapan. "Kamu mungkin menyesalinya, tapi aku nggak menyesali apa yang sudah aku lakukan," ujar Ganendra dengan serius. "dan apa yang sudah aku janjikan pada kamu, aku akan tetap melakukannya. Kamu nggak usah khawatir." "Aku nggak menyesal. Aku hanya..." Lentera tercekat. "aku hanya merasa nggak nyaman dengan situasi ini. Aku merasa buruk melakukan ini dengan kamu padahal aku masih berstatus istri orang." "...." "Aku merasa bersalah. Aku merasa buruk sekali, Ganendra." Ganendra memeluk Lentera yang terdengar ragu-ragu dalam kalimatnya. Dia tidak mencari alasan, tapi memang itulah yang dirasakannya saat ini. Ganendra menepuk kepala wanitanya untuk menenangkan perasaannya yang campur aduk. "Jangan terlalu keras memikirkan apakah ini benar atau salah. Sejauh yang aku tahu, dalam hubungan kamu dan Arga memang semuanya salah. Jadi jangan terbebani karena kamu bukan satu-satunya yang salah di sini." Benarkah? Tapi kenapa Lentera masih merasa buruk karena hal ini? "Aku bersumpah, Lentera, bahwa aku akan mengurus masalah ini dengan serius. Aku akan segera membebaskan kamu dari perasaan nggak nyaman ini secepat mungkin. Jadi kamu nggak perlu merasa bersalah lagi." *** "Sayang, kamu kenapa sih dari tadi ngeliat handphone terus? Padahal aku di sebelah kamu lho." Rayuan itu datang dari perempuan yang baru saja ditidurinya. Virsha Agatha tampak menggoda dalam ketelanjangannya. Wanita itu memeluk Arga dari belakang hingga ia bisa merasakan putingnya menggesek punggung sang kekasih gelap. "Jangan bilang kamu menunggu balasan dari Lentera." tuding Virsha dengan mata memicing curiga. Bibirnya terus mengecupi bahu sang selingkuhan untuk mengalihkan fokusnya. "Kamu tuh bener-bener ya. Padahal ada aku di sini, tapi kamu masih memikirkan perempuan lain. Apa aku terasa nggak cukup?" "Menghubungi Lentera setiap harinya adalah tugas aku sebagai seorang suami. Ini juga agar dia nggak mencurigai aku berubah. Kamu kan tahu ini juga, sayang." Virsha tahu, tapi dia tetap cemburu. Setelah kesulitan untuk bertemu di kantor, saat di luar kantor pun sang kekasih masih memikirkan istri sahnya. Virsha merasa dinomorduakan. "Tapi kamu keliatan gelisah banget. Padahal ya sudah sih, dia mungkin juga udah tidur. Nggak usah berlebihan nunggu balesan dia banget." Mungkinkah Lentera sudah tidur? Tapi pesannya dari pukul tujuh malam juga belum mendapatkan balasan. Dan Arga gelisah karena itu. Haruskah ia menelpon laki-laki yang dia tugaskan untuk membantu Lentera selama di pulau? Siapa namanya? Akmal? "Arga!" Panggil Virsha dengan nada yang lebih menuntut. Sekarang pria itu melamuni Lentera secara terang-terangan. Dia makin cemburu. "Sekarang aku mau kamu cuma memikirkan aku." tuntut Virsha. "Besok Lentera udah pulang, kamu bisa bersama dia sepuasnya. Tapi dengan aku—waktu kita mungkin cuma ini. Jadi, please, tolong lihat aku saja, okay?" Sambil meminta, Virsha pun mengulurkan tangannya ke arah kejantanan Arga. Tanpa merasa malu atau pun canggung ia meraihnya. Kocokan pelan itu membuat Arga merem-melek. Fokusnya langsung beralih. Dan ya, Virsha Agatha tersenyum penuh kemenangan. Sekali lagi, dia berhasil mendapatkan Argani Rahadyan. TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN