21. GANENDRA TANAKA DARK SIDE

1235 Kata
Happy Reading ^_^ *** Lentera dan Ganendra masih bersama. Sepanjang malam. Dan sampai pagi ini. Memang tidak ada percintaan yang melibatkan bagian bawah tubuh mereka, tapi keduanya tidak segera memisahkan diri. Alih-alih pergi demi menenangkan diri masing-masing, keduanya memilih menenangkan diri bersama-sama dengan berpelukan. Memang tidak ada kalimat yang terucap, tapi rasa nyaman yang menyebar membuat keduanya puas dengan kondisi saat ini. “Selamat pagi, Teraku.” sapa Ganendra dengan klaim posesif atas kepemilikannya pada sosok Lentera. Bibirnya pun turut andil dengan terus menelusuri leher jenjang wanita yang saat ini masih berada di dalam pelukannya. Kebetulan sang wanita berbaring memunggunginya sehingga aksesnya ke leher sang wanita jauh lebih mudah. Ganendra larut dalam aksi nakalnya sebagai pembuka hari. “Jangan sampai meninggalkan bekas.” Lentera memperingatkan, tapi ia kembali merasa tersentil. Ia sedang bermain api dengan Ganendra Tanaka yang posesif. Apa yang harus dilakukannya agar bisa merasa lebih baik? “Aku tahu, baby. Kamu tenang saja.” Ganendra tidak tersinggung. Semalaman mereka bersama dan memang beginilah permintaan Lentera kepada pria itu. Demi terwujudnya sebuah rencana besar, maka mereka harus menahan diri. Ganendra setuju, asal Lentera tidak membuat jarak yang berlebihan. “Kamu akan pulang jam berapa?” tanya Lentera. Ia melirik ponsel untuk memastikan dan ternyata ada beberapa panggilan Arga yang tidak terangkat olehnya. Begitu juga dengan beberapa pesan masuk yang belum terbaca. Tanpa menggubris Ganendra, Lentera membalasi pesan Arga. Ia menuliskan permohonan maaf karena telat membalas. Alasannya sederhana, dia terlalu banyak minum hingga tidur lebih awal dan bangun kesiangan. Merasa diabaikan, Ganendra menarik tubuh Lentera agar terlentang. Kemudian ia menaiki tubuh mungil tersebut dan memberinya ciuman yang memabukkan. Sebuah pergulatan yang melibatkan bibir dan tubuh yang intens bersentuhan terjadi. Ponsel Lentera terlepas dari tangan. Kini ia sibuk mendorong d**a pria yang mencumbunya dengan begitu bernafsu. Ciuman ini terlalu panas untuk menjadi ciuman selamat pagi. Apalagi melibatkan lidah dan gesekan tubuh yang masih sensitif karena baru bangun. “Setidaknya biarkan aku membalas pesan Arga. Dia akan curiga kalau aku membalas setengah-setengah.” kata Lentera dengan terengah-engah. Pria itu masih belum mau melepaskan Lentera untuk berkabar pada suaminya. “Ganendra, please.” mohon Lentera. Tak ingin membuat Lentera tidak nyaman, Ganendra mengalah. Ia menarik diri dan memilih memejamkan matanya. Bukan untuk tidur, tapi karena ia tidak mau melihat Lentera berusaha membalas pesan Arga. Egonya melawan. “Aku bersumpah bahwa aku akan segera membalaskan dendam kamu. Setelah perceraian kalian dikabulkan, lalu kita akan menikah.” Bisakah secepat itu? Lentera masih tidak yakin bagaimana masalah ini akan selesai, tapi Ganendra berbicara seolah ini bukan masalah besar. Lentera masih menerka-nerka, sebenarnya Ganendra terhadap dirinya memang benar ada rasa atau hanya sekedar obsesi semata. “Kamu belum menjawab pertanyaan aku. Kamu pulang jam berapa?” Lentera mencoba mengalihkan pernyataan Ganendra. “Kamu pulang, aku pulang.” Ganendra membuka mata dan mendapati Lentera sudah dalam posisi duduk menghadap dirinya. Cantik dan sensual—itulah kata yang cocok untuk mendeskripsikan sosok Lentera pagi ini. Rambutnya yang sedikit berantakan bahkan tak mampu mengubah penilaian Ganendra. Arga sungguh b******n yang beruntung, pikirnya masam. “Kita jangan pulang bersama. Aku takut Arga menyuruh orang membuntuti aku.” Ganendra memiringkan tubuhnya yang bertelanjang d**a. Ia menopang kepalanya dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya merambat santai di atas paha Lentera yang tertutupi pakaian tidurnya. Tidak ada maksud lain, Ganendra hanya iseng karena wanita itu masih belum terlalu nyaman dengan kondisi mereka saat ini. “Kalau aku menolak, bagaimana?” “Ganendra, please…” pintanya. “Lagipula untuk apa bertindak sampai sejauh ini? Laki-laki b******k itu nggak akan melakukan hal seperti itu.” “Kenapa nggak mungkin?” Ganendra pegal. Ia mengubah posisinya menjadi terlentang lagi. Namun kali ini ia turut membawa Lentera. Ganendra memeluk perempuan itu seolah-olah ia ingin menyerap seluruh kehangatannya. Erat dan kuat. Lentera pasrah. “Arga mungkin lagi bermesraan dengan perempuan itu. Bagaimana pun ini adalah salah satu kesempatannya, jadi aku yakin dia nggak akan menyia-nyiakannya.” “Bagaimana kamu tahu?” Lenterang meletakkan kedua tangannya ke d**a bidang Ganendra. Matanya menyipit curiga. Ia yakin Ganendra tahu sesuatu dan pria itu berusaha untuk menyembunyikannya. “Emmmm… feeling?” “Jangan menyembunyikan apa pun dari aku, Ganendra. Aku nggak suka dibohongi.” Ganendra memeluknya lagi untuk menenangkannya. “Aku bukannya mau menyembunyikan, tapi ini masih kuselidiki. Aku nggak mau ngasih kamu berita yang belum pasti. Aku nggak mau kamu kepikiran.” Maksudnya baik, tapi Lentera jadi penasaran. Tapi pria itu terlihat tidak akan menjelaskan lebih lanjut, jadi Lentera hanya bisa menghela napas pelan. Ia harus sabar dan mencoba mempercayai pria itu. “Kalau sudah ada kejelasan, please, let me know. Bagaimana pun ini masalah aku dan Arga. Aku nggak mau hanya berpangku tangan dalam misi balas dendam ini.” Ganendra menciumi kening Lentera. “Tapi aku lebih suka kamu berpangku tangan saja. Aku suka diandalkan oleh kamu, sayang.” Bibir Ganendra terdengar luwes sekali saat melantunkan panggilan sayang. Berbeda dengan Lentera yang masih tidak tahan. Seperti ada yang menahan bibirnya agar tidak melantunkan kalimat keramat itu. “Aku akan bergantung pada kamu sepenuhnya, tapi nanti. Sekarang biarkan aku menyelesaikan urusan aku dulu.” Lentera mencoba menjelaskan. Ia tidak mau Ganendra berpikir kalau perasaannya diabaikan dan kebaikannya dimanfaatkan. Ini adalah resiko Lentera karena bersekutu dengan Ganendra Tanaka. Ia bukan pengecut yang akan ingkar karena diberi kelonggaran. Ini adalah harga yang harus ia bayar. “Permintaan aku cuma satu. Jangan bohong ke aku. Apa pun itu, ceritakan saja. Aku tidak selemah itu sampai perlu kamu lindungi dengan keras.” Jangan bohong ke aku—kalimat itu menarik Ganendra dari masa kini. Ia teringat masa lalu yang cukup berbahaya kalau sampai terbongkar. Salah satu kebodohannya yang tak tertolong. “Kamu suka pria itu?” “Excuse me?” Pria itu tidak mengulang pertanyaannya karena merasa tidak perlu melakukannya. Perempuan ini bukan tidak mendengar dengan jelas. Dia hanya ingin memastikan lalu bertindak sesuai keadaan. “Maksud Bapak apa ya? Saya nggak paham.” Flight attendant dari salah satu maskapai terkenal itu memandang si pria dengan sinis. Ia merasa privasinya sedang diulik oleh pria asing. “Namanya Argani Rahadyan. Dia bekerja sebagai direktur di salah satu perusahaan milik Keluarga Hadiyata.” pria itu menjelaskan seperti seorang rekan yang menceritakan sesuatu. Kemudian ia menambahkan dengan lambat-lambat. “Dan dia sudah menikah. Apa kamu tahu?” Dan diamnya perempuan itu cukup menjadi jawaban bagi si pria. Pria itu terkekeh mengejek. Sadar kalau mereka memang membahas orang yang sama, perempuan itu pun salah tingkah. Ia semakin tidak nyaman menunggu mobil jemputannya di area ini. Dia ingin pergi, tapi di sisi lain ada rasa penasaran juga. “Bersama dia, saya yakin kehidupan kamu akan nyaman. Apa kamu tertarik untuk bermain api?” Pria itu menatap wajah pramugari di sampingnya dengan sebuah seringaian. Kedua tangannya masih bertengger di saku celananya dengan angkuh. “Bagaimana, Virsha, apa kamu tertarik untuk bermain api? Saya bisa bantu kamu untuk mengobarkan apinya. Apa kamu tertarik?” Virsha gelagapan. Pria itu tahu namanya tanpa perkenalan. Sialan. Sama seperti pria yang Virsha coba goda dalam kabin pesawat tadi, Virsha pikir pria di depannya juga bukan orang sembarangan. Mereka mungkin setara, bahkan bisa jadi laki-laki di depannya lebih unggul. Auranya lebih mendominasi. “Ini kartu nama saya. Hubungi saya kalau kamu memang ingin menerima tawaran saya.” Sebuah kartu nama disodorkan dan Virsha menerimanya. Pria itu langsung masuk mobil jemputannya. Mewah dan berkelas. Tipikal orang kaya yang semena-mena. “Ganendra Tanaka…” gumamnya. Siapa pria ini sebenarnya? TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN