22. PERMINTAAN MAAF YANG TAK TERSAMPAIKAN

1297 Kata
Happy Reading ^_^ *** “Sudah sampai, sayang?” Lentera Hadiyata tidak menyangka kalau kepulangannya akan disambut oleh Argani Rahadyan. Pria itu langsung menghampirinya dengan kedua tangan terentang. Dia ingin memeluk Lentera. Tak ada alasan menolak, Lentera pun menerima pelukannya. Dua kecupan ringan pun mendarat di pipi kanan dan kirinya secara bergantian. Manis memang, tapi Lentera merasakan kejanggalan. “Kalau kamu nggak melarang, aku pasti sudah menjemput kamu di pelabuhan.” katanya sambil menggandeng Lentera untuk masuk ke dalam rumah. “Jam segini itu lagi macet-macetnya orang pulang kerja. Aku nggak mau kamu kelamaan di jalan.” Lentera memberitahu agar ego Arga tidak tersinggung atas penolakannya. Sebenarnya sih memang ia saja yang tidak mau. “Supir kita nggak telat kan?” Lentera menggeleng. “Aman kok.” “Kamu mau makan apa untuk malam ini?” “Apa saja. Aku makan semua yang dimasakin ART kita.” “Makan steak mau? Kita buat ala-ala dinner di luar gitu.” tawar Arga setelah berfikir keras. Ia punya ide lain. “Atau kita makan di luar aja? Masih sempat kok ini.” ujar Arga sambil melirik jam yang terpasang di tangannya. Pukul setengah enam sore. Kalau Lentera bisa bersiap-siap dengan cepat, maka mereka masih bisa makan berdua di jam tujuh malam. “Kita makan di rumah aja. Aku lagi males makan di luar.” Bukan malas makan di luar, tapi ia malas dengan siapa dia pergi untuk makan di luar. Rasa muak Lentera sudah terlampau mengakar sampai ia malas menciptakan momen yang mungkin akan memperbaiki rumah tangga mereka. Lagipula untuk apa diperbaiki? Gelas yang pecah pun langsung dibuang. Tidak perlu direstorasi dengan cara apa pun. “Ya sudah di rumah saja. Nanti aku buat seestetik mungkin supaya kayak kita lagi dinner di luar. Kamu dandan yang cantik aja pokoknya.” Keduanya melangkah beriringan menaiki anak tangga menuju kamar mereka. Tangan Arga terus bertengger di pinggang Lentera sambil sesekali mengusapnya untuk menyebarkan rasa antusiasnya. Pria itu benar-benar terlihat seperti suami yang begitu mendambakan istrinya. Kepulangannya seperti membawa angin segar. Berbeda sekali dengan Lentera yang berharap bisa selamanya di pulau dan tidak bertemu Arga lagi. Tapi inilah kenyataannya, jadi Lentera harus menerimanya. Namun, di balik sikap Arga yang seperti ini, Lentera malah mengendus sesuatu yang mencurigakan. Apa yang membuat dia seantusias ini? Seingatnya, sang suami lumayan murung saat ditinggalkan olehnya. Tidak dipenuhi nafsunya dan tidak terlalu Lentera perhatikan saat ia berada di pulau, lantas apa yang berhasil membuat dia sebahagia ini? Apakah dugaan Ganendra benar? Bahwa kepergiannya selama dua hari satu malam dimanfaatkan pasangan yang berselingkuh itu untuk bersama? Kalau ya, sialan sekali karena Lentera tidak menaruh mata-mata. Dia tidak terpikirkan sampai sana. Padahal dia bisa mendapat sedikit bukti untuk dijadikan bahan gugatan di masa depan. Tapi Ganendra tahu. Apa artinya Ganendra memiliki bukti? “Kamu mandi ya. Aku mau turun ke bawah untuk instruksiin pelayan kita buat siapin makan malam.” Lentera mengangguki perintah Arga. Ia mengantar kepergian sang suami dengan senyum menawan yang menipu. Setelah memastikan pria itu pergi, barulah Lentera mengeluarkan ponselnya untuk bertanya pada Ganendra. Lentera Hadiyata Ganendra… Ganendra Tanaka Iya, sayang. Lentera Hadiyata Do you know something about Arga and Virsha meeting last night? Ganendra Tanaka I do, sayang. Kamu sudah sampai? Lentera merengut. Padahal tadi pagi ia sudah bilang pada pria itu kalau ia tidak suka jika ada seseorang yang menyembunyikan sesuatu darinya. Alih-alih membalas pertanyaan baris kedua, Lentera memilih fokus pada pesan yang ada di baris pertama. Lentera Hadiyata Kenapa nggak ngasih tahu aku? Kan aku udah bilang, let me know if you know something. Kamu ingkar. Ganendra Tanaka Aku nggak ingkar. Aku hanya berhati-hati. Aku nggak mau kamu kepikiran untuk sesuatu yang aku belum yakin. Ganendra membalas dengan cepat. Merasa diabaikan, dia kembali menuliskan sebuah balasan. Ganendra Tanaka Aku hanya nggak mau kasih kamu berita setengah-setengah. Maafkan aku, Tera… Lentera Hadiyata Aku tunggu cerita selengkapnya. Jangan ingkar lagi. Ganendra mengusap wajahnya dengan kasar membaca balasan Lentera. Wanitanya terus menegaskan agar ia tidak ingkar. Bagaimana ini? Ada sesuatu yang lebih complicated dari sekedar membongkar kebusukan Arga. Sungguh tak terbayang akan sekacau apa keadaan mereka kalau semuanya terbongkar. Padahal hubungan mereka baru membaik. Ibarat menuju kesuksesan, ia dan Lentera baru menaiki tangga pertama yang tersedia. Tapi kenapa tangganya begitu rapuh? Apa Tuhan memang setidakingin itu mempersatukan ia dengan perempuan yang sudah mencuri minatnya sejak awal? “Saya mau penyelidikan tentang Argani Rahadyan dan Virsha Agatha lebih diintenskan. Kurang dari seminggu saya udah harus tahu informasi detail bagaimana mereka berselingkuh selama ini.” “Baik, Pak.” Target Ganendra adalah membongkar kebusukan Arga dalam waktu sebulan. Malah, kalau bisa kurang dari sebulan. Setelah semua itu beres, barulah ia akan membongkar ketololannya di masa lalu. Atau haruskah dia menutupinya? Ganendra tidak mau menghancurkan hubungannya dengan Lentera yang baru terjalin. “Kamu inget kepala HRD yang saya suap untuk menerima Virsha? Bagaimana kabarnya sekarang?” ujar Ganendra sambil mengalihkan pandangannya dari jalanan. Mobil yang dikendarainya melaju dengan pelan, tapi anehnya ia merasa tidak nyaman sekali. Ada kekhawatiran berlebih, tapi sepertinya itu bukan karena kondisi jalanan sore ini. “Saya tidak menyelidiki lebih lanjut tentang orang itu. Tapi kalau diperlukan, saya akan mencari tahu kabarnya. Bapak punya instruksi apa untuk orang itu?” sekretarisnya bertanya sopan. Kegelisahan tampak jelas di wajah tampan Ganendra Tanaka. Baru kali ini ia stres dengan segala ulah bodohnya di masa lalu. Padahal dulu ia selalu masa bodoh. Yang berlalu ya sudah berlalu. Tidak perlu diungkit-ungkit lagi. Tapi kasus Lentera berbeda. Dan itu merembet sampai saat ini dan meninggalkan trauma yang mendalam untuk perempuan itu. “Mau pakai cara yang biasanya, Pak Ganendra?” tawar sang sekretaris kalem. Cara biasanya meliputi pengancaman dan perampasan. Asal punya uang, semua itu mudah. Tapi Ganendra menggeleng sebagai penolakan. “Jangan sampai membuat dia tertekan dan merasa terancam. Saya nggak mau dia gelisah dan nyari perlindungan ke orang yang salah.” Ganendra berfikir keras. Ia agak tidak terbiasa dengan cara seperti ini. “Ingatkan saja baik-baik, agar dia menjaga lidahnya. Selama dia tutup mulut, saya nggak akan mengganggu.” Jeda sejenak. Tapi sang sekretaris tahu kalau kalimat atasannya belum sepenuhnya. “Kita juga bisa tawarkan bantuan kalau dia memang membutuhkannya. Intinya dia harus menjadi orang kita dan bungkam pada orang lain terkait masalah ini.” Sekretaris Ganendra takjub dengan sikap hati-hati sang atasan. Baru kali ini dia menyikapi hal buruk sebaik ini. Biasanya, semakin rumit masalah maka semakin simpel penyelesaiannya. Uang dan kekuasaan—ya, hanya dua itu. Tapi kali ini berbeda. Pertimbangannya mendalam sekali. Seolah-olah dia meletakkan Lentera Hadiyata di atasnya dan kenyamanannya menjadi tolak ukur mutlak. “Oh ya, ada berita terpisah tidak ya tentang Virsha? Saya penasaran sebenarnya tentang dia. Saya membantu dia secara impulsif tanpa mengetahui latar belakangnya.” “Untuk Virsha Agatha sendiri kalau dari segi latar belakang tidak ada yang aneh. Dia dikenal rekan-rekannya sebagai orang yang baik.” Helaan napas pelan terdengar. “Hanya saja,” Kalimat tambahan itu menarik perhatian Ganendra. Ia berharap kalau Virsha tidak sebaik itu hingga rasa bersalahnya bisa berkurang. b******k, bukan? Memang. Ganendra mengakuinya. “Paras Virsha yang ayu dan mudah bergaul membuat dia akrab dengan banyak laki-laki. Penumpangnya pun tak sedikit yang menaruh perhatian. Seperti Pak Arga yang dulu tertangkap basah oleh kita. Tapi apakah sampai tahap berkencan seperti dengan Pak Arga, itu yang saya tidak tahu.” Ternyata hanya sedikit baik, batin Arga. “Saya akan menyelidiki ini secara terpisah agar tidak mengganggu penyelidikan perselingkuhan mereka.” “Terima kasih ya.” Sang sekretaris mengangguk. “Tapi kalau saran saya, Bapak tetap pertimbangkan untuk memberitahu Ibu Lentera. Sudut pandang kita dan Ibu Lentera berbeda. Begitu juga dengan orang lain. Kalau berita ini sampai keluar dari mulut orang lain, maka akan terjadi kesalahpahaman besar.” Perkataan sekretarisnya semakin menambah beban pikiran Ganendra. Ia tahu. Tapi bagaimana cara memberitahunya—itulah yang Ganendra tidak tahu. TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN