Happy Reading ^_^
***
Tepuk tangan itu menggema memenuhi ruang meeting utama perusahaan Keluarga Hadiyata. Semua orang sumringah dalam rangka mengapresiasi salah satu kesuksesan Lentera Hadiyata. Berkat persentasinya di pulau, ia berhasil menggaet lima orang investor tambahan dengan nilai investasi yang fantastis. Proyek belum dimulai tapi sudah dipastikan kalau masa depan proyek tersebut akan secerah The Imperial Bali.
Lentera tersenyum sopan pada setiap pujian yang dilontarkan untuknya. Tapi dari ekor matanya, ia melihat ketidakpuasan dalam diri Arga. Lentera yakin pria itu sedang mengutuk partisipasinya dalam rapat waktu itu. Kalau bukan karena meeting dadakan di luar dan Lentera tidak menggantikannya, proyek besar itu akan jatuh ke tangan Arga. Faktanya, memang ialah kandidat paling pas selain sosok Lentera.
“Karena dulu meng-handle The Imperial Bali, jadi saya pun akan menjadikan The Imperial Bali sebagai standar minimal yang harus saya capai. Saya percaya diri untuk ini. Terima kasih untuk semua apresiasinya, saya pasti akan bekerja keras untuk proyek ini.”
“Bagus, Lentera. Jangan terlena dengan kesuksesan di masa lalu. Yang sekarang kalau perlu harus lebih baik lagi.”
Lentera tersenyum ke arah sang Papa. Dia menjawab dengan formal, “siap, Pak.”
“Kepada Bapak Ganendra Tanaka, terima kasih atas bantuannya juga. Berkat anda, kami mendapatkan investasi yang cukup besar.”
Lentera tersenyum. Lingkungan profesional semacam ini memang favorit Lentera. Di dalam ruangan ini, semua orang bisa berbicara. Tidak ada kata terlalu muda atau terlalu tua. Mereka semua tahu sopan santun. Seperti sang papa dan Ganendra. Di dalam ruangan ini mereka saling memanggil dengan kata sapaan yang kaku. Tapi lain cerita kalau mereka di luar kantor. Yah, meski terkadang tetap ada penipu yang menyelinap, tapi setidaknya mereka tetap tahu posisinya.
“Saya nggak membantu banyak. Mereka tahu track record Lentera Hadiyata yang luar biasa dan memutuskan untuk bergabung.” puji Ganendra Tanaka dengan nada bangga yang kentara. Senyum sopannya menambah kadar keramahannya yang jarang dia tampilkan di publik. “Bersama dengan Ibu Lentera, saya percaya proyek ini akan sukses.” imbuhnya.
“Saya nggak akan mengecewakan Bapak Ganendra beserta investasinya yang luar biasa. Terima kasih.”
Di antara semua orang yang mengangguk sebagai bentuk kepuasan, ada dua pasang mata yang tampak tidak setuju. Sebenarnya bukan tidak setuju, tapi lebih ke tidak suka. Tentu saja itu adalah sorot mata Argani Rahadyan. Sedangkan satu lagi adalah sorot mata selingkuhannya, Virsha Agatha.
Di mata Arga, dia tidak menyangka kalau Lentera bisa secepat ini melampaui dirinya. Sedangkan di mata Virsha, dia tidak percaya bahwa nasib perempuan itu selalu seberuntung ini. Mereka berdua memandang Lentera Hadiyata dengan rasa iri yang sudah mendarahdaging.
***
“Aku mandi dulu atau kamu?”
“Bagaimana kalau kita mandi bersama saja?”
Tawaran itu dibalas Lentera dengan memutar bola matanya. Lentera muak—dia serius. Tapi di mata Arga responnya ini tidak lebih dari penolakan kecil yang menggemaskan. Pria itu sampai tertawa geli karena istrinya masih ingin menjaga jarak tapi Arga begitu agresif seperti dulu.
“Aku hanya bercanda, sayang,” katanya setelah puas tertawa. “kamu mandi dulu aja. Aku bisa setelah kamu, atau nanti mandi di kamar mandi luar. Gampanglah intinya.”
Lentera mengangguk dan segera meninggalkan Arga. Dan tepat ketika pintu kamar mandi ditutup, senyum main-main Arga yang tadi menghiasi wajahnya seketika lenyap. Kini wajahnya tampak serius dan menaruh kecurigaan pada sesuatu.
Lentera Hadiyata. Lenteranya. Istrinya.
Arga tidak yakin apakah masih bisa mengklaim perempuan tersebut seperti itu. Rasanya sudah berbeda. Sikapnya, perhatiannya—semuanya mulai terasa asing. Bahkan perempuan itu terang-terangan mengunci pintu kamar mandi yang mana hal itu tidak akan terjadi kalau dia masih Lenteranya yang dulu.
Mungkinkah dia tahu sesuatu?
Tapi yang paling mencolok adalah ambisinya yang kembali membara. Meski dengan dalih menambah kesibukan untuk melupakan tragedinya, tapi Arga merasakan keinginannya yang kuat untuk mendapatkan pijakan yang sudah dia relakan untuk Arga. Lentera seperti ingin mengambil semuanya lagi dan tak menyisakan apa pun untuk Arga.
Didukung oleh rasa curiga itu, Arga mengambil ponsel Lentera yang kebetulan tergeletak di atas ranjang. Ia tergoda untuk memeriksanya. Dulu ia tidak pernah peduli dengan hal-hal remeh ini. Tapi sekarang ia perlu melakukannya.
Arga memeriksa ponsel sang istri dengan teliti. Pertama-tama ia buka hampir semua aplikasi yang terinstall. Tidak ada yang aneh. Bahkan tidak ada aplikasi yang memerlukan kata sandi untuk membukanya. Penelusurannya beralih ke aplikasi untuk mengirim pesan. Juga tidak ada keanehan di sana. Nomor Arga masih menjadi yang teratas dengan riwayat chat yang berisikan perhatiannya. Beralih ke riwayat panggilan juga tidak ada yang aneh.
Secara naluriah Arga mengetikkan nama Ganendra Tanaka. Chat terakhir adalah saat di pulau dan berisikan pertanyaan sederhana tentang salah satu investor yang tampak sulit untuk ditaklukkan. Tidak ada basa-basi yang aneh.
Hal ini seharusnya memuaskan rasa penasaran Arga, bahwa istrinya tidak berselingkuh dengan pria yang pernah dijodohkan padanya. Tapi anehnya ia tidak merasa puas. Ia yakin ada yang salah dengan sikap istrinya.
Apakah pesan-pesan itu dihapus? Ini persis seperti yang dilakukannya Arga pada seluruh pesan Virsha. Dia hanya menyisakan sedikit chat normal agar hubungan kerja mereka tidak dicurigai. Bagaimana pun mereka pernah jadi atasan dan bawahan, sungguh aneh kalau tidak ada interaksi apa pun terkait pekerjaan.
Larut dalam penelusurannya, Arga tidak sadar kalau sosok Lentera sudah keluar dari kamar mandinya. Sial, ia tidak menyangka kalau Lentera akan keluar dengan cepat dan shower yang masih menyala. Istrinya tersebut berhasil mengelabui dirinya. Terlambat untuk bereaksi tidak melakukan apa-apa, Arga pun melanjutkan tindakannya seolah itu bukan apa-apa. Ia tersenyum tanpa merasa sudah melakukan hal yang salah.
“Aku penasaran kenapa kamu nggak kirim foto-foto selama di pulau. Ternyata memang nggak ada foto ya, sayang?” Arga menunjukkan layar ponsel Lentera yang menampilkan galeri fotonya. Lalu dia terkekeh geli. “Padahal foto yang dishare Akmal tuh kamu cantik-cantik banget lho.”
“Foto apa?”
Lentera bertanya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Perempuan yang baru saja menyegarkan dirinya tersebut mengambil posisi duduk di depan cermin riasnya. Ia menatap suaminya dari pantulan cermin.
“Ini lho,” Arga bangun dari ranjang mereka dan mendekati sang istri untuk menunjukkan foto yang ia maksud. “kamu sibuk banget, jadi aku iseng nyuruh Akmal buat fotoin kamu. Kamu cantik banget di sini, tapi sayang nggak ada foto yang dikirim ke aku.”
Lentera mengamati foto tersebut. Itu memang dirinya.
“Aku emang sibuk banget. Nggak sempet foto-foto.” jawab Lentera santai. Ia berusaha sebaik mungkin untuk mengimbangi Arga dalam sandiwaranya. Yang ditunjukkan sang suami memang foto dirinya, tapi bukan berarti itulah yang dia cari.
Sepertinya sang suami mulai mengendus keanehan, batin Lentera. Atau gelagatnya memang terlalu mencolok belakangan ini?
Adanya sosok Ganendra Tanaka di belakangnya membuat Lentera tidak terlalu takut untuk bertindak. Ia percaya bahwa Ganendra akan selalu menangkapnya saat ia akan terjatuh. Ia merasa aman dengan kehadiran pria itu.
“Sibuk boleh, tapi jangan lupa untuk seneng-seneng, Tera. Aku nggak mau kamu terlalu tertekan dengan beban pekerjaan ini.”
“I’m okay, Mas.”
“Ya sudah aku mandi dulu ya.”
Arga menutup percakapan itu dengan kecupan ringan di pipi sang istri. Kemudian dia melenggang pergi menuju kamar mandi.
Sementara itu, sepeninggal Arga sendirian, Lentera mengamati ponselnya yang tergeletak di atas ranjang. Tatapannya menajam ke arah ponsel yang tadi diotak-atik oleh Arga. Kalau Arga mulai menaruh curiga, maka ia harus semakin waspada. Syukurnya Lentera mulai membiasakan dirinya untuk menghapus chat Ganendra yang dirasanya terlalu berlebihan. Bukan hanya riwayat chat saja, tapi riwayat panggilan dan juga riwayat digital lainnya. Kalau tidak begitu, sekarang ia pasti sudah tertangkap basah.
Baiklah, sekarang ia merasa sebagai peselingkuh yang andal. Tapi Lentera terus meyakinkan dirinya bahwa ia bukan satu-satunya orang yang buruk di sini. Arga juga sama buruknya. Malah, dialah yang menyulut api. Lentera hanya bergabung untuk semakin memperbesar api tersebut hingga pria itu terbakar habis dan mendapatkan karmanya.
TBC