1. PEMBALASAN DENDAM DIMULAI

1341 Kata
Happy Reading ^_^ *** Kalimat 'aku kenapa' adalah penanda kalau Lentera dan pembalasan dendamnya telah dimulai. Sorot bingung Lentera pun semakin menambah kebingungan semua orang. Mereka memandang Lentera dengan beragam. Mama dan Papanya sangat panik, sedangkan suaminya--entahlah. Lentera pikir itu perpaduan rasa bingung sekaligus syukur. Bagaimana pun juga Lentera memegang kartu AS Arga dan sudah sewajarnya dia bersyukur karena kartu AS itu tidak akan mengganggunya. Di saat kedua orangtuanya panik, Arga masih terus berperan sebagai suami teladan yang selalu siap siaga menjaga istrinya. Lihat tangan pria itu yang terus-terusan mengelus tangan Lentera untuk menenangkannya. Dasar munafik! Kalau bukan karena aktingnya, ingin sekali Lentera menepis tangan itu. Bahkan kalau perlu dia ingin menamparnya juga. Tapi sayang, dia harus menahannya. Demi pembalasan dendam yang epik, dia tidak boleh tergesa-gesa. Sikap impulsifnya saat memergoki Arga berselingkuh membuat Lentera mengalami semua kemalangan ini. Jadi, ya, dia tidak akan mengulangi kebodohannya lagi. "Bagaimana mungkin, dok? Putri kami terlihat baik-baik saja." Tatapan Lentera berpindah-pindah. Dari orang tuanya, lalu ke dokter. Sebenarnya Lentera kasihan dengan kedua orangtuanya yang tampak sangat terluka saat menuntut penjelasan. Dia tahu kalau mereka tulus. Tapi demi rencana ini –atau lebih tepatnya keadilan untuk dirinya dan anaknya yang sudah tiada- maka Lentera rela bersandiwara di depan semua orang termasuk kedua orangtuanya sendiri. Tidak boleh ada celah sedikit pun yang bisa membuat orang-orang tahu rencana ini dan akhirnya menggagalkannya. Cukup sekali saja Lentera gagal, tidak boleh ada yang kedua atau bahkan ketiga kalinya. "Nyonya Lentera kehilangan sebagian ingatannya. Dengan ringseknya mobil yang dikendarai Nyonya Lentera, hal seperti ini memang mungkin saja terjadi. Kita tidak tahu selama kecelakaan sefatal apa benturan yang dialaminya hingga ingatannya jadi bermasalah. Bahkan masih jadi misteri juga kenapa hanya ingatan setelah pernikahannya dengan Tuan Arga saja yang diingatnya." Dokter itu menjeda dan Lentera lumayan was-was dengan kalimat selanjutnya. Dia mencoba mengelabui medis, yang mana semua kata-katanya sudah teruji keilmuannya. Apakah akan berhasil? batinnya ketar-ketir. Dengan sopan Lentera melakukan eye contact pada semua orang untuk menunjukkan keseriusannya. Bahwa dia memang tidak mengingat apa pun dan dokter itu salah. Kebohongan tentang ingatannya tidak boleh terbongkar secepat ini. "Mama, Papa..." Lentera bersuara dengan gelisah. Tangannya terulur untuk membuat kedua orang tuanya mendekat agar mereka bisa merasakan frustrasinya. "Sejauh ini kita akan melakukan observasi dulu karena takut ini hanyalah efek traumatis sementara pasca kecelakaan dan bukannya efek berkalanjutan seperti yang kita khawatirkan. Beberapa terapi dan obat pun akan saya berikan sebagai penunjang. Tapi itu bisa dilakukan nanti saat kondisi Nyonya Lentera sedikit membaik." Kalimat dokter membuat Lentera puas. Tepat seperti rencananya. "Mungkin selama beberapa hari ini kalian sekeluarga juga bisa mencoba mengingatkannya dengan beragam kejadian selama dua tahun belakangan yang berkesan. Siapa tahu hilangnya ingatan Nyonya Lentera bukan sejenis hilang ingatan permanen, namun efek benturan semata yang bisa pulih dengan bantuan keluarga yang aktif bercerita." Sebenarnya Lentera tidak mempersiapkan bagaimana detail-nya. Intinya dia hanya terbangun dan berpura-pura hilang ingatan. Masalah range waktu yang dia pilih –yakni momen setelah pernikahannya dengan Arga dua tahun lalu- semua itu benar-benar hanya momen yang dia pilih secara acak. Lentera pikir karena itu adalah momennya dengan Arga yang paling berkesan, jadi akan sangat wajar kalau momen itu menjadi menjadi momen yang paling diingatnya. Lalu selebihnya Lentera akan membiarkan dokter yang mengaitkannya dengan berbagai kemungkinan. "Mama, sebenarnya aku ini kenapa, Ma? Apa aku habis kecelakaan? Seingatku, kami berdua baru saja menikah dan pulang honeymoon." Bumbu-bumbu penyedap ditambahkan agar semakin menarik. Lentera memasang raut wajah panik yang membuat semua orang gelisah. "Tera sayang, itu semua sudah terjadi dua tahun lalu. Sekarang kamu dan Arga sudah memasuki tahun kedua pernikahan kalian." Sang Mama memberitahu dengan isak tangis yang tak kunjung berhenti. Mati-matian Lentera menahan diri karena ingin mengusap air mata sang mama, memeluknya, lalu memberitahukan kalau semua ini hanya akting saja. Tapi sisi kelam dalam dirinya yang dipenuhi oleh dendam melarangnya. Lentera harus tahan dengan segala hal yang berbau nurani untuk melancarkan semua rencana balas dendam ini. Dia menjadi seperti ini karena nuraninya yang lembek. "Tapi bagaimana mungkin, Ma? Kenapa aku bisa kecelakaan?" "Dari polisi yang memeriksa, mobil kamu menabrak pembatas jalan, Tera. Mama nggak tahu kronologi pastinya karena Mama nggak ada di tempat. Tapi dari saksi mata, kamu memang menabrak pembatas jalan." Lentera mengerutkan kening. "Dan bagaimana mungkin aku bisa menabrak pembatas jalan, Ma? Apa aku mengantuk? Atau ada sesuatu yang menggangguku sampai aku hilang kendali, Ma?" pancing Lentera untuk memberikan sedikit serangan kejutan pada Arga yang berada di sebelahnya. Dan sebagai tersangka utama, Lentera puas saat merasakan gestur sang suami yang jahat menjadi sedikit menarik diri. Dia gelisah--Lentera bisa merasakannya. Tentu saja Arga harus diingatkan berkali-kali mengenai hal ini. Karena dialah hidup Lentera yang sempurna menjadi hancur. "Tera..." Arga menyela dengan kedua tangan menggenggam tangan Lentera yang tidak terpasang infus. Lentera berusaha meredam semua amarah dalam dirinya. Dengan tatapan memuja yang selalu dia tampilkan kala menghadapi sang suami, Lentera berujar dengan suara lembut yang sudah menjadi gayanya. "Mas Arga, aku kecelakaan. Aku hilang ingatan. Ini tahun kedua pernikahan kita dan aku nggak inget semua momen manis yang udah kita lewatin bersama-sama..." ujarnya dengan gelisah. "Tera, hey, kamu tenang saja. Selama kamu baik-baik aja, semua momen manis yang hilang bukanlah masalah besar. Memori-memori itu masih bisa kita pulihkan, tapi kalo kamu yang kenapa-napa, aku nggak akan bisa melakukan apa pun lagi. Intinya, seburuk apa pun itu, semua ini masih harus disyukuri." Disyukuri karena kamu nggak jadi ketahuan kan, Mas? Batin Lentera dengan kasar. Dasar pria licik. Tega-teganya kamu melakukan ini pada aku, Mas. Baiklah, syukuri saja semua ini. Namun ketika nanti pembalasanku hadir, aku harap kamu pun bisa mensyukurinya sebagai balasan atas kejahatan kamu, batin Lenterah menambahkan dengan cemoohan. "Aku mau sembuh, Mas." lirih Lentera dengan sorot sungguh-sungguh. Arga mengangguk mantap sambil mengelus-elus punggung tangan sang istri. "Tentu saja kamu pasti sembuh, sayang. Sekarang yang penting kamu istirahat total dan nggak usah memikirkan semuanya. Mulai dari kenapa kamu kecelakaan, sampai kenapa ingatan kamu hilang semua—nggak usah dipikirin. Aku bersedia menjadi ingatan kamu. Kapan pun kamu mau tahu sesuatu, aku akan menceritakannya dengan detail." "Janji jangan tinggalin aku ya, Mas?" Arga mengangguk seolah-olah dia memang serius dengan perkataannya. Tapi Tuhan pun tahu kalau faktanya tidaklah seperti itu. Dia sudah menyelingkuhi Lentera hingga menjadi tersangka utama dari kecelakaan yang menimpa Lentera. Tapi kemudian Lentera sadar mengenai betapa luwesnya Arga pada momen ini. Apa jangan-jangan perselingkuhannya dengan perempuan itu memang sudah terjalin lama sampai-sampai dia bisa seluwes ini berbohong di depan wajahnya? Dasar jahat. "Dokter, saya ingin yang terbaik untuk istri saya. Lakukan semuanya agar ingatan istri saya lekas pulih. Masalah biaya, saya pastikan nggak akan kekurangan sedikit pun. Semuanya akan saya lakukan demi istri saya, dok." Arga melirik Lentera dengan penuh tanggung jawab. Dulu Lentera akan merasa sangat bangga saat sang suami berkata seperti itu. Dia merasa diratukan oleh suaminya. Tapi setelah semua ini terjadi, Lentera justru benci setengah mati. Dia tahu semua ini hanya kepura-puraan agar dia tidak dicap buruk. Dan jauh di dalam lubuk hati Lentera yang terdalam, dia tertawa mengejek atas kalimat Arga yang terlalu membual. "Selama beberapa hari ke depan, kita biarkan Nyonya Lentera bed rest di sini. Di samping itu saya juga akan memanggil seseorang yang ahli dalam masalah hilangnya memori semacam ini. Tapi sebelum itu kita akan melakukan CT- Scan kepala dulu, jadi kita bisa tahu dari mana permasalahan memori Nyonya Lentera yang hilang." "...." "Sekian kunjungan sore ini, saya pamit dulu. Kalau ada masalah, jangan pernah sungkan untuk memberitahukannya pada perawat yang berjaga." "Terima kasih, dokter." Sontak saja Lentera langsung memandangi punggung dokter yang baru saja memeriksanya dengan tatapan tajam. Bodohnya dia karena tidak terpikirkan masalah CT-Scan kepala. Sejauh ini dia merasa kalau kepalanya baik-baik saja, lalu bagaimana caranya untuk memanipulasi agar hasil medis berubah tidak baik-baik saja? Terdengar t***l, tapi Lentera benar-benar membutuhkannya untuk menunjang diagnosisnya. Dan dengan hasil yang baik-baik saja sudah jelas hilangnya memori yang dialaminya akan dipertanyakan. Bahkan bukan tidak mungkin bagi Arga untuk mencurigainya dan jadi waspada. Tidak—ini tidak boleh terjadi. Demi Tuhan, semua ini baru dimulai jadi Lentera tidak akan membiarkan semuanya berantakan dalam sekejap. Tapi bagaimana caranya? TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN