Happy Reading ^_^
***
Entah bagaimana mendeskripsikannya, tapi sepertinya Tuhan mendukung rencana Lentera untuk balas dendam pada Arga. Ya, CT-Scan kepala telah dilakukan dan kebohongan Lentera tetap tidak terbongkar. Semua ini terjadi bukan karena hasilnya yang buruk dan menunjang diagnosa amnesia tersebut. Justru sebaliknya—hasilnya sangat bagus. Tidak ada cacat sedikit pun. Tapi karena dia bersikeras tidak mengingat apa pun atau siapa pun, dokter pun menganggap ini sebagai efek traumatis yang dialami dirinya pasca kecelakaan. Yang artinya, ini bukan amnesia parah yang sifatnya permanen. Katanya, ini hanya amnesia sementara dan bisa sembuh seiring berjalannya waktu.
Dalam hatinya yang terdalam, Lentera pun sempat ragu karena takut hal-hal yang berhubungan dengan medis tidak akan bisa dimanipulasi. Tapi siapa sangka hasilnya masih sesuai dengan harapannya. Lentera tetap berhasil menipu mereka, bahkan dia pun mendapatkan cara kalau semisal dirinya terdesak dan harus menghancurkan rencana ini dalam sekejap. Lentera merasa semesta mendukung dirinya untuk membalaskan dendam pada Arga sialan itu.
"Selamat datang di rumah, Tera..."
Arga berujar dengan senyum lebar yang tak lagi terlihat menawan di mata Lentera. Semua gerak-geriknya yang dulu bagaikan candu sudah berubah jadi hal paling menjijikkan. Lentera benci melihatnya tertawa selebar itu di saat ada luka menganga yang mati-matian Lentera coba tutup. Itu seperti mengejek dirinya.
Mengabaikan Arga, Lentera memilih untuk mengamati rumah yang sudah menjadi tempat tinggal dia dan Arga setahun belakangan. Dulu rumah ini benar-benar terasa seperti rumah ternyaman yang pernah ditinggali olehnya. Tapi sekarang—benak Lentera menggeleng dengan penuh ironi. Kalau bukan karena rencananya, Lentera pasti sudah mengepak seluruh pakaiannya dan meninggalkan rumah ini tanpa berfikir dua kali. Tidak ada kehangatan lagi di sini dan semua ini karena perselingkuhan Arga—suaminya yang sialan itu.
"Kenapa kamu kelihatan sedih sekali, Tera? Coba katakan padaku. Jangan memendamnya sendiri, sayang." kata Arga seraya menatap sang istri yang saat ini tengah merenung sedih sambil memandangi keseluruhan tata letak rumah mereka. Sebelah tangannya pun masih setia menggenggam tangan Lentera dengan erat.
Lentera menatap suaminya, lalu menggeleng pelan. "Aku hanya sedih karena nggak mampu merasakan kehangatan rumah ini, Mas. Aku merasa kosong. Mungkinkah ini semua karena hilangnya ingatan aku, Mas?"
Seperti biasa Lentera memulai sandiwaranya. Pokoknya, tidak boleh ada celah di sini. Sesedih apa pun batinnya, dia tetap tidak boleh menyerah untuk melancarkan rencana ini, tekad Lentera.
"Dokter bilang ingatan aku akan lekas membaik, tapi aku takut kalau itu nggak akan terjadi dalam waktu dekat. Lalu apa aku harus hidup dalam kekosongan ini sampai waktu itu? Kenapa takdir Tuhan jahat banget sama aku, Mas?"
Lentera melihat Arga menekuk lututnya dan bersimpuh di depan sosoknya yang duduk di atas kursi roda. Secara sekilas Lentera seperti melihat momen di mana Arga melamarnya dahulu kala. Pria itu berlutut dengan cincin berlian di tangannya sambil memohon dengan sungguh-sungguh agar Lentera mau menikahi dirinya. Tapi itu dulu—dulu sekali. Sedangkan sekarang? Dia sedang melancarkan aksinya untuk membohongi Lentera demi menutupi kebusukannya.
"Aku akan berusaha menyembuhkan kamu, Tera. Apa pun dan berapa pun—aku bener-bener rela mempertaruhkan segalanya asal kamu bisa mendapatkan ingatan kamu lagi. Tapi kalau pun tidak—" ada jeda sejenak dari kalimat Arga. Lentera mendengarkan dengan seksama, "—kita akan tetap baik-baik saja, Tera. Kamu dan aku akan tetap hidup sebagai sepasang suami-istri yang saling mencintai. Dan masalah kehangatan yang tidak kamu rasakan—kamu tenang saja. Kita akan menciptakan kehangatan itu lagi mulai dari sekarang."
Lentera menggenggam tangan Arga untuk meyakinkannya. "Bantu aku mengenang semua momen yang hilang belakangan ini ya, Mas. Apa aja kesusahan yang udah kita lewati, hal-hal baik apa aja yang sudah terjadi, atau bahkan hal-hal konyol sekali pun—aku pengen tahu semuanya lagi. Kamu mau bantu aku kan, Mas?"
"Tentu saja, Tera. Aku akan bantu kamu sampai kamu sembuh total dan kita akan jadi keluarga yang bahagia untuk selama-lamanya."
Hati Lentera memanas. Dia sedih sekali mendengar kebohongan yang dilontarkan Arga seolah-olah tidak ada beban sama sekali. Semudah ini bagi Arga untuk berkata bohong, lantas apakah semua perkataannya selama ini memang tidak pernah jujur? Sebenarnya sudah berapa lama dia tertipu oleh pria yang saat ini masih berlutut di depannya tersebut?
"Lalu di mana anak kita, Mas?"
Lentera memberikan gebrakan baru. Raut polosnya semakin menunjang sandiwara ini.
"Hah?"
"Anak kita. Aku tanya di mana anak kita."
Lentera mengulang kalimatnya sekali lagi. Dia sengaja mengatakan ini agar Arga tidak lupa kalau mereka telah kehilangan sebuah janin karena kejadian ini. Anak mereka menjadi korban dalam insiden ini dan Arga harus mengingatnya baik-baik. Dia tidak rela kalau sosok anaknya terlupakan hanya karena saat ini dia hilang ingatan dan orang-orang tidak mau mengungkitnya.
"Ini tahun kedua pernikahan kita. Bukannya dalam waktu itu seharusnya aku udah hamil dan melahirkan ya? Terus di mana anak kita sekarang?"
Membahas sang anak, Lentera sengaja mengubah intonasinya agar menjadi lebih excited. Arga membeku selama beberapa detik sebelum berani menjawab.
"Apa dalam ingatan kamu—kamu merasa mempunyai seorang anak, Tera?" selidik Arga dengan hati-hati.
Lentera berpura-pura tertegun. "Memangnya tidak ya, Mas?"
Arga memasang ekspresi terluka. Dan lagi-lagi hati Tera-lah yang teriris.
"Tuhan belum mengizinkan kita untuk punya momongan, sayang. Saat kecelakaan itu Tuhan sudah berencana menitipkan seorang anak pada kita, tapi lagi-lagi Tuhan merenggutnya karena merasa kita belum pantas."
"Tunggu—maksud Mas Arga aku keguguran? Selain kehilangan memori aku, tapi aku juga kehilangan calon anak aku?"
Emosi Lentera tampak nyata. Sampai detik ini dia memang masih merasa seperti mimpi karena kehilangan sang calon anak dengan begitu cepat. Rasanya seperti mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Air matanya luruh dan bisa dipastikan ini adalah air mata murni seorang ibu yang kembali terguncang karena kehilangan calon anaknya.
Ya, sekuat apa pun dia mencoba untuk mengikhlaskan, tapi semuanya tetap tidak semudah itu. Anak yang begitu dinantikan olehnya sudah tiada dan semua itu karena kebodohannya karena memilih laki-laki seperti Arga sebagai calon bapaknya.
"Kenapa kamu baru bilang, Mas. KENAPA?!" Lentera histeris.
"Tera, aku mohon kamu tenang dulu, sayang—"
Lentera menggeleng. "Sebenarnya kenapa aku bisa kecelakaan, Mas? Karena kecelakaan itu aku kehilangan anak aku. Anak yang kita nanti-nantikan pergi karena kecelakaan nggak jelas itu. Aku nggak rela. Aku nggak rela!!"
"...."
"Pokoknya aku mau kamu mengusut hal ini sampai tuntas, Mas. Cari tahu penyebab aku kecelakaan agar kita bisa menghukum orang yang membuat aku kecelakaan. Nyawa harus dibayar dengan nyawa." kata Lentera dengan mata yang bersinar penuh dendam. Ditatapnya Arga agar pria itu tahu kalau dendamnya itu nyata dan menuntut sebuah pembalasan. Dan sebagai seorang suami yang baik, Arga harus menuruti permintaannya. Harus. Dan kita lihat siapa yang akan dikorbankan Arga untuk menutupi hal ini.
"P-Pasti, Tera. Pasti."
Melihat wajah tertekan Argani Rahadyan, Lentera tersenyum puas dalam batinnya. Pasti badan pria itu sedang panas dingin karena tuntutan ini.
"Kamu sendiri yang bilang kalo kamu bakal jadi memori buat aku. Kamu bakal bantu aku mengingat semuanya. Tapi kenapa kamu bohong sih? Bahkan... ini tentang anak kita!"
"Inilah alasan aku dan orangtua kamu enggan untuk membahas ini terlebih dahulu. Kamu masih terlalu sensitif, Tera. Kami takut kondisi kamu akan memburuk lagi."
"Kamu nggak boleh kayak gini lagi. Aku harus tahu semuanya. Aku nggak mau menjadi satu-satunya orang bodoh di sini."
"Nggak ada yang menganggap kamu bodoh, sayang. Aku cuma nggak mau kamu kepikiran dan memperburuk keadaan kamu."
Arga berusaha memeluk Lentera untuk menenangkannya. Lentera menerima pelukan itu dengan tubuh gemetar menahan amarah. Faktanya, dia tahu kalau Arga hanya mau menyelamatkan dirinya sendiri dan itu lumayan menguras emosi.
"Sekarang lebih baik aku mengantar kamu ke kamar saja. Kamu harus banyak-banyak beristirahat. Sedangkan masalah lain—serahkan saja padaku, sayang."
Arga menjauhkan tubuh mereka berdua. Tangan pria itu masih berada di bahu Lentera untuk memastikan sang istri mau mendengarkannya.
"Aku pegang kata-kata kamu, Mas."
Mata Lentera bersinar dengan penuh dendam. Arga menganggukinya--walau dengan berat hati.
"Keadilan untuk anak kita harus ditegakkan. Bahkan kalo aku harus mengorbankan nyawaku untuk tahu kebenarannya, aku pun akan melakukannya. Pokoknya aku mau semua masalah ini diusut sampai tuntas. Nyawa harus dibayar dengan nyawa." kata Lentera menutup obrolan dalam mereka yang menggebu-gebu.
TBC