Rio terbangun pukul empat pagi, pertempuran dengan Ayu membuatnya kelelahan. Biasanya Lila akan membangunkannya tepat pukul dua. Lalu membuat bumbu bakso sementara Rio akan mempersiapkan semua kebutuhan untuk berjualan. Sementara bahan lainnya sudah ada yang menghandle di dapur warung. Ayu masih terlihat bergelung di bawah selimut usai menuntaskan hasrat bersamanya. Ratu keduanya itu terlihat sangat kelelahan setelah melayaninya beronde - ronde.
Tok....
Tok.....
Tok....
Suara ketukan di pintu memaksa Rio untuk bangkit. Setengah malas dia beranjak dari ranjang. Mau tak mau dia harus membuka pintu kamarnya.
Surti sang ibu terlihat di depan pintu kamar tamu dengan wajah kusut. Jelas sekali dia terpaksa membuka mata, bahkan kantuk masih kokoh bergelayut di matanya. Surti menguap berkali - kali sambil menunjuk pintu rumah di lantai bawah.
" Ada yang cari kamu dibawah." Ujarnya sambil berkali - kali menguap. Rio mengernyit. Sepagi ini siapa yang mencari. Iler dan jigongnya saja masih menempel di wajah, mencuci muka akan memperlama waktunya. Bergegas dia menuju ke depan setelah mengenakan kaos oblong kebanggaannya. Dengan terseok dia menggeser kakinya yang terasa berat dilangkahkan.
" Lhooo..Sar. Ngapain pagi - pagi kesini?." Rio terlihat bingung mendapati salah satu karyawannya berdiri di depan pintu dengan jaket tebal yang dia tangkupkan kedua sisinya di d**a. Karyawan bagian dapur yang bernama Sarito itu juga terlihat kebingungan. Dia terlihat berkali - kali mencari sesuatu di dalam rumah.
" Eh, ini pak. Bu Lilanya ada?. Yang cabang pertama kehabisan bumbu. Biasanya ibu atau bapak yang antar sekalian mengantar butiran bakso . Kami tidak bisa meneruskan membuat kuah bakso jika tidak ada bumbu." Kata Sarito menjelaskan.
" Lho kemarin bukannya Lila sudah buatkan ya?. Biasanya masih ada cadangan buat produksi pagi." Rio mengernyit karena setahunya Lila tidak pernah terlambat mengirim bumbu bakso ke setiap cabang. Dan selalu melebihkan satu paket untuk esok hari atau untuk berjaga - jaga jika pelanggan membludak dan mereka harus mengolah bakso lagi.
" Saya dapat info dari karyawan cabang. Ibu hanya mengirim untuk cabang yang lain pak. Hari ini sudah dikirimi semua. Cabang pertama yang belum dikirimi. Kata pengurus disana mulai hari ini sistemnya berubah. Bapak yang siapkan dan antar bumbu langsung ke cabang pertama. Dan semua urusan cabang kedua sampai kelima adalah urusan bu Lila. Bapak tidak boleh lagi ikut campur. Urusan bapak hanya cabang pertama." Rio mengacak kasar rambutnya. Sarito hanya menunduk melihat wajah frustasi majikannya. Namun dia bisa apa, Sarito hanya pegawai yang digaji.
Cabang pertama memang dia yang biasa menghandle semua. Sementara empat cabang lain Lila yang mengatur termasuk keluar masuknya uang. Dari cabang pertamalah Rio dapat memberikan uang bulanan pada Ayu dan Lila. Sementara dari cabang lainnya Rio akan menerima persenan yang setiap bulan dikirimkan Lila. Tapi biasanya Lila akan tetap membuatkan bumbu untuk dia kirim ke cabang pertama.
" Ya sudah, aku bilang Bu Lila dulu. Nanti aku secepatnya menyusul." Rio menutup pintu perlahan saat Sarito berlalu pergi. Ragu dia berdiri di depan pintu kamar Lila. Pintu itu terkunci, bukan kebiasaan Lila mengunci pintu kamar seperti ini. Tak terdengar adanya gerakan dari dalam kamar. Rio sudah lebih dari tiga kali mengetuk pintu. Padahal biasanya jam segini Lila sudah mengelilingi rumah melakukan aktivitas.
Berkali - kali Rio mengetuk pintu, sia - sia. Lila bahkan tak terdengar pergerakannya. Rio yakin istrinya itu sudah bangun. Lila terbiasa bangun pukul dua pagi dan mempersiapkan semua keperluan warung. Setelah semuanya selesai baru dia akan tidur kembali sebentar sebelum menyusul ke warung untuk menguji semua rasa kuah bakso.
Mata Rio tak sengaja menatap bagian bawah pintu. Terselip sebuah kertas. Ragu Rio meraih kertas itu dan membacanya. Terdapat tulisan Lila disana. Resep bumbu bakso andalan Lila.
Rupanya dia masih merajuk dan tak mau membuatkannya bumbu bakso. Rio berjalan ke kamar. Menggoyangkan perlahan badan Ayu. Istri mudanya itu menggeliat lalu menarik kembali selimut hingga menutupi badannya. Dia seolah tak peduli dengan bisikan Rio.
" Ada apa sih, mas. Ini bahkan belum subuh. Udah tidur lagi, ke warung kan masih nanti jam sembilan." Ujarnya sambil menggeliat. Rio tak menyerah, dia kembali menggoyang tubuh Ayu agar segera bangun dan membantunya memasak. karena yang harus dimasak tak hanya satu atau dua kilo bumbu saja. Setengah sadar Ayu duduk mengucek matanya yang masih lengket, wajahnya terlihat jengkel. Rio terlihat senang melihat Ayu sudah mau membuka mata.
" Lila tidak mau membuatkan bumbu untuk warung. Bantu aku meraciknya. Kita diburu waktu. Banyak yang harus dipersiapkan. Aku tidak mungkin mengolah sekian banyak sendirian. Biasanya aku dan Lila mengerjakannya bersama." Ayu justru kembali menarik selimut dan membenamkan badan ke dalamnya saat mendengar ucapan Rio. Dia tidak peduli.
" Duh, kamu tahu sendiri kan mas. Aku ga suka bau bawang. Mas, sendiri aja sana yang racik bumbunya. Kalau sudah selesai baru aku antar ke warung. Lagian aku masih capek lho. Semalaman mas kerjain. Ga cuma sekali tapi berkali - kali. Udah mas sendiri sana!." Rio berdecak kesal. Dengan terpaksa dia membuat sendiri bumbu bakso itu. Semua stok bumbu yang ada di dapur dia kupas dan dia giling bersamaan. Untunglah dia tahu beda dan nama semua bumbu dapur itu. Jika tidak bisa berabe. Mata Rio berurai air mata saat mengupas bawang. Ini tak hanya sebutir tiga butir tapi dua kilo bawang merah dan putih. Semua bahan dia masukkan ke dalam blender dan menggulungnya.
Sedikit mengernyit saat mencobanya. Rasanya ada yang berbeda dengan buatan Lila. Ada rasa aneh yang terasa di ujung lidahnya. Memandang jam di dinding yang semakin siang, dia memutuskan untuk langsung ke warung dengan bumbu seadanya yang bisa dia buat. Karena tak ada waktu lagi untuk mengkoreksi rasa.
Karyawannya saling pandang saat melihat wajah kuyu Rio. Belum ada yang bergerak membuat bakso. Hanya pangsit goreng dan aneka mie yang sudah mereka siapkan, namun belum dimasak. Sarito bergegas mendekat dan mengambil plastik berisi bumbu halus dari motor Rio.
Tanpa banyak bicara Sarito memberikan bumbu sesuai takarannya kepada karyawan produksi lainnya.
" Kang, ini rasanya beda." Bisik salah satu karyawan pada Sarito saat mencoba kuah bakso di hadapannya.
Rio bukannya tak mendengar, dia sudah cukup lelah berjibaku dengan duo bawang sedari tadi.
" Kamu tambahi apa gitu biar agak sama. Sepertinya ini bukan racikan ibu." bisik Sarito lagi sambil tangannya mencetak bakso. Satu bakso yang sudah matang dia cicipi.
" Iya ini juga beda. Seperti ada bumbu yang kurang." Kata Sarito pelan.
" Semoga pelanggan tidak ada yang komplain ya Kang." Kata pegawai lainnya yang hanya ditanggapi anggukan oleh Sarito.