Part 4

1050 Kata
Rio memijit pelipisnya, memandang saldo di rekeningnya yang kian menipis. Sudah hampir sepuluh bulan Lila tidak memberikan persenan dari keempat warung lainnya. Terhenyak dia tersadar. Itu adalah saat dia mulai menjalin kasih dengan Ayu. Apa Lila sudah mengendus hubungan mereka dari awal. Itukah sebabnya dia memilih diam daripada mengamuk padanya. Untunglah seluruh berkas penting sudah dia amankan. Jadi Lila tidak bisa mengajukan gugatan perceraian. Dia tidak akan pernah menceraikan Lila. Ayu hanya semacam selingan untuknya dan media agar dia mendapatkan keturunan. Selain itu tak ada kelebihan Ayu dibandingkan Lila. " Pak, ada yang mencari." Rio memandang ke arah pintu. Terlihat seorang lelaki berbadan tegap tengah berdiri di belakang Tarno. Dia mengangguk, Tarno mempersilahkan tamu tersebut untuk menemui Rio. lelaki dibelakang Tarno itu mendekat ke arah Rio dan menarik sebuah kursi tepat di sebelah sang kawan. " Mentang - mentang sudah married lagi. Lupa sama kawan lama." Rio membatu mendengar penuturan Arfan. Darimana dia tahu dirinya sudah menikah lagi. Rio menatap tajam ke arah Arfan. " Darimana kamu tahu aku menikah lagi?." Tanyanya getir. Arfan terkekeh mendengar pertanyaan Rio yang terlihat kebingungan. Arfan berdiri mengambil tisu yang ada di meja sebelah. " Jadi kamu tidak tahu tentang video viral kalian?. Percintaan antara karyawan ganjen dan bos bakso?. Ada video ijab kabul kalian juga." Arfan menjatuhkan bobot tubuhnya kembali tepat di hadapan Rio. Rio menggeram, mendengar judul videonya saja sudah tertebak ini pasti ulah Lila. " Aku belum lihat. Mana?." Arfan mengutak atik gawainya mengirimkan sebuah video pada Rio. Terlihat Rio dan Ayu sedang bermesraan di belakang meja kasir. Tangan ke duanya saling bertaut. Sesekali Ayu terlihat mencium pipi Rio. Rio pun membalas hal yang sama. Video satunya lagi berisi acara ijab kabul, pernikahan siri dirinya dan Ayu. Keringat dingin mulai menjalar. Jika berita ini viral bisa dipastikan keluarga Lila akan segera tahu. Ini sudah sebulan lebih sejak Ayu tinggal bersama Lila. Tidak ada perdebatan berarti karena memang Lila sama sekali tidak bersuara. Istrinya itu mendadak bisu. Dia memilih melakukan segala sesuatu untuk dirinya sendiri karena Rio melarangnya untuk keluar. Bahkan gawainya saja masih dia sita. Jadi Rio tak tahu bagaimana isi hati Lila yang sebenarnya. " Aku butuh keturunan Fan, dan Lila belum hamil sampai sekarang. Ini bukan hanya setahun dua tahun penantian." Jawab Rio perlahan. " Kamu itu bodoh atau t***l?. Punya istri cantik yang mau menemani berjuang dari nol malah disia - siakan. Malah diselingkuhi. Kalau hanya masalah anak, kenapa ga coba bayi tabung. Toh kalian mampu untuk itu. Dan ingat, kemandulan bukan hanya dari pihak perempuan saja. Kita kaum lelaki juga bisa menderita kemandulan." Ujar Arfan saat Rio mengatakan alasan kenapa dia menikah lagi. " Udahlah, Fan. Kamu ngga tahu masalahnya. Jangan ikut campur. Aku sudah sangat ingin memiliki keturunan." Ujar Rio semakin kesal. " Iya, aku memang ngga tahu. Yang aku tahu, daripada kamu menyia - nyiakannya lepaskan saja Lila. Biar aku yang menjaganya." Arfan bergegas pergi sambil meringis sementara Rio mengepalkan tangan menahan marah. Sahabatnya itu terang - terangan mengaku tertarik pada istrinya. ** " Liat ngga yang barusan viral?." " Lihat dan ngga banget. Dipikiranku itu perempuan cantik seperti apa gitu!. Ternyata..." " Padahal cantikan istri sah kemana - mana." " Pelakor sekarang mah, yang penting jago goyang. Muka pas - pasan juga bodo amat. Apa jangan - jangan pakai ajian jaran goyang?." Terdengar gelak tawa dari meja nomor sebelas. Terlihat beberapa wanita menikmati hidangan disana. Suaranya terdengar sampai ke bagian kasir. Ayu yang sedang berada di kasir menggeretuk geram. Sedikit sensitif saat membahas tentang pelakor. Dia mendekati pelanggan yang sedang bergosip itu. Sementara karyawan lain hanya melirik penasaran. Diketukkannya jemari di atas meja. Para pelanggannya itu mengangkat wajahnya dan memandang Ayu. Sekejap kemudian mereka berlomba saling tatap. " Maaf, dilarang bergosip disini." Wanita - wanita itu justru tertawa. Mereka saling berbisik, seolah ucapan Ayu tak berarti. Bahkan salah satunya terlihat menyeringai mengejek pada Ayu. Kedua tangannya dilipat ke atas meja lalu menatap Ayu semakin tajam. " Ihh, kok mbak sewot. Eh, ngomong - ngomong mbak kok mirip sama pelakor yang lagi viral itu?." Celetuk salah satu wanita berambut panjang sambil memandang Ayu sinis. " Ini bukan mirip, say. Memang dia. Lihat saja belakang kasir. Mirip sama TKP video yang lagi viral. Ada daftar menu nya juga." Wajah Ayu menjadi merah menahan amarah. Dia masih berusaha menahan emosinya, takut menjadi bumerang baginya. " Jangan asal bicara kalian. Kalau sudah selesai silahkan keluar. Suara kalian mengganggu para pelanggan lainnya!." Bentak Ayu. " Wuah..bisa tersinggung juga ya pelakor tu. Padahal dia yang paling banyak nyakitin istri sah. Tapi berlagak seperti korban. Eh mukamu itu yang mengganggu para pelanggan di sini." Ayu yang mendengar itu menjadi semakin marah dan berubah kalap. Bakso yang ada di depannya disiramkan ke pada tamu itu. Suara jeritan terdengar dari pelanggan itu. Tangan Ayu menjambak rambut wanita di hadapannya. Teman - teman perempuan itu hanya diam dan mengambil video perkelahian itu. Mereka sedikit menyingkir " Ayu, sudah. Apa yang kamu lakukan. Jangan membuat pelanggan kita kabur." Teriak Rio sambil menarik tangan Ayu agar melepaskan jambakannya dari kepala pelanggan. Setelah berhasil melepaskan jambakan Ayu, Rio segera menarik mundur sang istri. Perempuan yang berkelahi dengan Ayu tadi menyeringai sambil membenahi pakaiannya. " Mereka bergosip tentang aku. Lihat ini dia lebih dulu mencakarku." Adu Ayu pada Rio sambil menunjukkan luka bekas cakaran di lengan. " Semua orang tahu, anda duluan yang menyerang kami. Anda yang lebih dulu menyiram kami dengan kuah bakso dan menjambak rambut teman saya. Saya punya banyak saksi dan bukti, sedangkan anda tidak akan ada yang membela." Jawab salah seorang teman wanita itu sambil menunjuk ke arah gawainya. " Sekali lagi saya minta maaf atas nama warung dan istri saya." pelanggan - pelanggan itu hanya mendengkus kesal. " Kalian akan menyesal setelah ini." Kata perempuan itu. Dia memberikan isyarat pada teman - temannya agar segera pergi. " Kenapa kalian diam saja. Cepat bersihkan. Lain kali kalau ada seperti ini bantu Ayu." Teriak Rio pada anak buahnya saat para wanita itu tak nampak lagi dihadapan mereka. Rio juga meminta maaf kepada para pengunjung atas ketidak nyamanannya. Para pegawainya membereskan kekacauan sambil berbisik sesekali melirik kesal ke arah Ayu. " Kenapa harus dibantu?. Kalau bisa malah tadi kita bantu jambak ni perempuan." Lirih tapi Rio dan Ayu masih mendengar gerutuan para karyawannya yang kebanyakan wanita. Rio hanya menghela nafas panjang sambil menyenderkan punggungnya ke meja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN