Dua puluh enam jam kemudian William berdiri di atas hamparan rumput cepak yang basah. Tanah di kakinya dingin, begitu pun dengan udara di sekitar meski musim gugur belum tiba. Cahaya di sini redup atau William yang telah kehilangan cahayanya. Ini sama seperti sebelumnya. Ia hanya diam mematung dan memandang batu nisan yang terpampang diukir dengan huruf kesedihan; Rahee Anderson. William telah mengejanya puluhan kali dan ukiran nama itu benar adanya. William tak bisa tenang meski ia telah berjanji pada Rahee untuk membiarkannya beristirahat dengan tenang. Bagaimana kau bisa tenang ketika separuh dari hidupmu direnggut begitu saja? William tak memiliki waktu lebih banyak untuk membahagiakan Rahee padahal ia ingat pernah berjanji pada dirinya sendiri untuk membahagiakannya. William berh

