Dan mimpi. Semuanya adalah mimpi meski seolah nyata. Tiga bulan berlalu dan mimpi-mimpi itu terus menyambangi tidurnya. Membuat Rahee harus terlonjak bangun di tengah malam dan mendengus kesal. Inginnya tidak berbuat demikian, tapi kesal dengan tingkah William yang berlebihan. Bahkan, terapis yang menangani William sudah berganti delapan orang selama kurun tiga bulan terakhir. Itu menggelikan dan menyebalkan. “Datang lagi?” Hanya itu yang bisa Rahee ajukan sebagai tanya. Sembari menyodorkan gelas berisi air dan menumpukan bantal untuk William bersandar. “Aku tidak tahu jika sedalam itu.” William setuju. Lewat anggukan dan tubuhnya yang di bawa menyamping. Netra cokelat yang di timpa cahaya remang lampu kamar menghujam tepat di manik hitam Rahee. “Janji padaku?” “Aku sudah berjanji.”

