Hasrat Yang Terpenjara
Malam di sudut Jakarta selalu menyisakan riuh yang perlahan meredup, menyisakan sunyi yang justru bising di dalam kepala Andam.
Di dalam kamar utama yang sejuk oleh desis penyejuk udara, cahaya temaram dari lampu tidur menyepuh kulit putih Andam dengan rona keemasan yang hangat.
Wanita berusia 35 tahun itu berbaring, menatap langit-langit kamar dengan helaan napas yang berat dan tertahan.
Di sampingnya, Anto, suaminya, yang merupakan seorang profesor dan guru besar di sebuah perguruan tinggi terkemuka, telah terlelap, mendengkur halus dalam kepuasan yang instan.
Beberapa menit yang lalu, sebuah ritual intim baru saja usai. Ritual yang bagi Anto adalah puncak asmara, namun bagi Andam, hanyalah sebuah intermeso yang menggantungkan dahaga.
Andam menoleh, menatap wajah suaminya yang sudah berusia 50 tahun itu. Tubuh Anto yang tambun dan rambut hitamnya yang mulai botak di bagian tengah tampak tenang dalam tidurnya.
Anto adalah pria yang sangat penyayang, sosok suami yang santun dan dihormati. Namun di atas ranjang ini, Anto kerap kali menyerah pada waktu sebelum pertempuran benar-benar dimulai.
Ejakulasi dini yang berulang kali dialami Anto malam ini kembali meninggalkan Andam dalam riak hasrat yang membara, tak tuntas, dan bergejolak di dalam dadanya yang montok. Setiap sentuhan yang baru saja dimulai harus terhenti sebelum Andam sempat mereguk madu kepuasan.
Andam bangkit perlahan, merapatkan gaun malam satinnya yang membungkus lekuk tubuhnya dengan ketat.
Ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap kelap-kelip lampu megapolitan.
Di luar sana, ia dikenal sebagai Investment Relations Manager di PT. Global Taruna Perkasa. Sebuah posisi prestisius yang menuntutnya untuk menjaring para investor kelas kakap, termasuk para ekspatriat dan investor asing.
Di dunia profesional, ia adalah wanita karier yang anggun, cerdas, dan lambang dari seorang istri yang setia serta terhormat. Namun, di balik topeng kesempurnaan itu, ada rahasia yang ia sembunyikan rapat-rapat: tubuhnya adalah sebuah tungku perapian yang haus akan sentuhan sensual yang membakar.
"Aku sangat mencintai Mas Anto," bisik hatinya, mencoba mencari pembenaran atas rasa bersalah yang tiba-tiba menyergap.
Namun, desakan biologis dalam dirinya menolak untuk berkompromi.
Pikiran Andam mulai mengembara ke tempat kerjanya. Sungguh ironis, di kantor sebesar PT. Global Taruna Perkasa, di mana ia sehari-hari berinteraksi dengan banyak pria, rasanya tidak ada satu pun yang berani atau tertarik untuk mendekatinya secara personal. Mungkin karena pembawaannya yang terlalu menjaga jarak demi citra istri setia, atau mungkin karena mereka segan pada posisinya.
Hingga kemudian, bayangan itu melintas. Sebuah kilasan wajah yang membuat detak jantungnya mendadak berpacu lebih cepat.
Bimo.
Bimo adalah pelatih kebugaran pribadinya di sebuah pusat kebugaran eksklusif di Jakarta Selatan. Pemuda berusia 25 tahun itu memiliki ketampanan yang maskulin, tubuh atletis dengan otot-otot yang terpahat sempurna, dan rambut hitam pendek yang selalu tampak basah oleh peluh.
Andam memejamkan mata, mengingat kembali sesi latihan mereka beberapa hari lalu. Saat Bimo membenarkan posisi tubuhnya ketika melakukan squat, jemari kekar pemuda itu sengaja berlama-lama menyentuh pinggangnya yang sintal.
Andam ingat bagaimana ia membalas sentuhan itu dengan kerlingan mata cokelatnya yang ekspresif, sengaja membusungkan dadanya yang indah di hadapan Bimo, membiarkan aroma parfumnya mengusik pertahanan sang pelatih muda.
Saat itu, Andam bisa melihat dengan jelas bagaimana nafas Bimo naik turun, matanya meredup penuh gairah yang siap menerkam.
Namun, tepat ketika Bimo mulai melangkah lebih jauh dan memberikan sinyal undangan yang terang-terangan, Andam menarik diri.
Ia mundur dengan senyum sopan yang dingin, menyelimuti kembali dirinya dengan jubah seorang istri bersuami yang mencintai suaminya.
Ketakutan akan kehancuran rumah tangganya dan keraguan yang besar selalu berhasil menjadi rem darurat bagi hasratnya.
Namun malam ini, di tengah dinginnya kamar dan hangatnya sisa gairah yang tak tersalurkan, benteng pertahanan di dalam diri Andam mulai retak. Hasrat yang membara itu kini menuntut untuk dipadamkan, tak peduli seberapa tinggi dinding kesetiaan yang telah ia bangun selama ini.
**
Pagi hari di kawasan Sudirman, Jakarta, selalu disambut oleh deretan gedung pencakar langit yang memantulkan sinar matahari pagi.
Di sinilah, di dalam kemegahan kantor pusat PT. Global Taruna Perkasa, Andam melangkah dengan penuh percaya diri.
Jubah profesionalitas telah melekat sempurna pada tubuhnya. Hari ini ia mengenakan blazer abu-abu gelap yang pas di badan, dipadukan dengan rok pensil senada yang mempertegas lekuk pinggulnya yang sintal. Setiap langkah dari sepatu hak tingginya menghasilkan ketukan ritmis yang berwibawa di atas lantai marmer lobi utama.
Sebagai Investment Relations Manager, Andam adalah wajah bagi para investor asing yang ingin menanamkan modal di perusahaan ini. Begitu ia melewati pintu kaca otomatis, atmosfer penghormatan langsung menyambutnya.
"Selamat pagi, Bu Andam," sapa resepsionis dengan senyum ramah yang tulus.
"Pagi, Mbak Siska," balas Andam sembari mengulas senyum tipis yang anggun. Mata cokelatnya yang ekspresif memancarkan aura wanita matang yang cerdas dan tak tersentuh.
Di sepanjang koridor menuju lift eksekutif, beberapa staf dari divisi lain yang berpapasan dengannya langsung menghentikan langkah. Mereka mengangguk santun, memberikan jalan dengan rasa hormat yang mendalam.
Di mata semua orang di kantor ini, Andam adalah personifikasi dari wanita sempurna: karier yang cemerlang, paras cantik alami dengan kulit putih yang bersih, serta kesetiaan yang tak tergoyahkan kepada suaminya, sang profesor.
Saat Andam berdiri di depan pintu lift khusus jajaran manajemen, denting halus terdengar dan pintu baja antikarat itu terbuka. Di dalam lift, ternyata hanya ada satu orang.
Roy.
Pria berusia sebayanya itu berdiri tegak di tengah lift dengan setelan jas mahal yang membungkus tubuh atletisnya yang tinggi.
Sebagai CEO PT. Global Taruna Perkasa, Roy memiliki segalanya untuk membuat wanita berlutut: wajah tampan dengan rahang tegas, tatapan mata yang tajam, dan kekuasaan mutlak. Namun, Roy juga terkenal dengan reputasinya yang sedingin es. Ia hampir tidak pernah terlihat tersenyum atau berbasa-basi dengan karyawan wanita mana pun di kantor.
Andam melangkah masuk, seketika mencium aroma parfum maskulin yang elegan namun pekat, memenuhi ruang sempit lift tersebut. Saraf-saraf kewanitaan Andam mendadak menegang.
"Selamat pagi, Pak Roy," sapa Andam, tetap mempertahankan suaranya agar terdengar profesional dan tenang.
Roy menoleh sedikit, matanya yang tajam menatap Andam sesaat, menyapu penampilannya dari atas hingga bawah dengan tatapan yang sulit diartikan, sebelum akhirnya kembali menatap lurus ke depan. "Pagi, Andam," jawabnya singkat, berat, tanpa ekspresi.
Keheningan yang mencekam namun sarat akan ketegangan yang ganjil menyelimuti mereka berdua selama lift bergerak naik.
Andam bisa merasakan desaran aneh di dalam dadanya saat berdiri begitu dekat dengan tubuh sang CEO. Ada daya tarik magnetis yang berbahaya dari pria dingin ini.
Saat lampu indikator digital di atas pintu lift menunjukkan angka 9, denting lift kembali berbunyi. Lantai ini adalah area divisi Investment Relations yang dipimpinnya.
Andam berbalik perlahan, memberikan anggukan hormat. "Saya duluan, Pak Roy," pamit Andam dengan suara lembut yang sedikit serak.
Roy tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya memberikan anggukan kepala yang samar, dengan tatapan mata yang tetap dingin, membiarkan pintu lift tertutup kembali dan membawanya menuju lantai teratas. Andam menghela napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang mendadak tidak beraturan.
Baru beberapa langkah Andam berjalan menyusuri koridor lantai 9, sebuah suara yang familier menyapanya.
"Selamat pagi, bu Andam," sapa Hendar.
Hendar, staf muda berusia 27 tahun yang berada di bawah pengawasannya, langsung membungkuk hormat dengan sikap yang amat santun. Pemuda bujangan itu memiliki wajah yang lumayan tampan, dengan pembawaan yang selalu rapi dan penurut. Selain sebagai bawahan setianya di kantor, Hendar juga merupakan tetangga dekat rumah Andam di kompleks perumahan mereka.
"Pagi, Pak Hendar. Bagaimana dengan laporan dokumen untuk investor dari Amerika? Sudah siap?" tanya Andam, mengubah gesturnya kembali menjadi seorang atasan yang tegas.
"Sudah saya siapkan di atas meja Ibu, lengkap dengan analisis pasarnya," jawab Hendar dengan mata yang berbinar, tampak sangat berdedikasi untuk menyenangkan hati atasannya. Namun, saat Andam melangkah mendahuluinya, mata Hendar sempat turun sejenak, menatap lekat-lekat lekuk tubuh matang Andam yang bergoyang anggun dari belakang, sebelum dengan cepat mengalihkan pandangannya demi menjaga kesopanan.
Andam masuk ke dalam ruang kerjanya yang luas, menutup pintu, dan bersandar di sana. Di tempat kerja ini, semua karyawan menghormatinya.
Di balik meja kerjanya yang terbuat dari kayu mahoni kokoh, Andam segera tenggelam dalam pusaran profesionalitas.
Jam-jam berikutnya dihabiskan dengan menatap layar monitor, memeriksa grafik portofolio, dan melakukan panggilan konferensi dengan beberapa perwakilan konsorsium asing dari Tokyo dan London. Di dunia ini, Andam adalah maestro. Ia berbicara dengan artikulasi yang sempurna, meyakinkan para pemilik modal dengan argumen yang tajam dan tak terbantahkan.
Namun, kesibukan yang padat itu tak sepenuhnya mampu mengusir rasa sunyi yang mengendap di ruang bawah sadarnya. Setiap kali ia bersandar di kursi kerjanya untuk melepas lelah, bayangan malam yang dingin dan tidak tuntas bersama Anto kembali membayangi.
Matahari Jakarta tepat berada di puncaknya ketika jam digital di sudut laptop menunjukkan pukul 11.45 WIB.
Di saat Andam baru saja menutup berkas laporan terakhir, ponsel pribadinya yang tergeletak di atas meja bergetar halus. Sebuah notifikasi pesan w******p muncul di layar.
Nama pengirimnya membuat detak jantung Andam melompat satu ketukan: Bimo Fitness.
Bimo: [Siang, Bu Andam yang cantik. Sibuk nggak hari ini? Kebetulan aku lagi di daerah Sudirman setelah kelar sesi pagi. Kalau Mbak ada waktu, yuk makan siang bareng? Aku pengen ngobrol santai di luar jam latihan]
Andam terpaku menatap layar ponselnya. Jemari lentiknya melayang di atas papan ketik virtual, ragu-ragu.
Pikiran rasionalnya langsung berbisik untuk menolak dengan alasan sibuk. Menemui seorang pelatih kebugaran seperti Bimo di jam kerja bisa menjadi awal dari sesuatu yang berbahaya.
Namun, sisi lain dari tubuh Andam meronta egois. Kulitnya seolah kembali mengingat bagaimana hangatnya telapak tangan kekar Bimo saat menyentuh pinggangnya di pusat kebugaran. Ada getaran terlarang yang mendadak menggelitik perut bagian bawahnya.
Setelah menimbang selama beberapa saat dengan napas yang agak memburu, Andam akhirnya menyerah pada sisi liarnya. Ia memutuskan untuk mengiyakan, namun tetap memilih tempat yang aman dari jangkauan rekan kantor atau kenalan suaminya. Sebuah tempat yang elegan, remang, namun intim.
Ia mengetik balasan.
Andam: [Hai Bimo. Kebetulan aku ada waktu luang sedikit. Kita ketemu di Henshin, di The Westin Jakarta ya. Lantainya cukup tinggi dan suasananya agak tenang untuk makan siang. Aku jalan ke sana sekarang]
Andam segera bangkit dari kursinya, merapikan rambut pendeknya di depan cermin kecil, dan memulas kembali lipstik merah tipis di bibirnya yang penuh.
Dengan langkah yang sedikit terburu namun tetap dijaga agar terlihat anggun, ia keluar dari ruangannya, siap menjemput percikan api yang mungkin akan membakar habis kesetiaannya siang ini.