Pertemuan Penuh Hasrat

1345 Kata
Sore menjelang malam, bias jingga di langit Jakarta perlahan tenggelam, digantikan oleh hamparan lampu kota yang mulai menyala satu per satu. Andam melangkah keluar dari gedung L’Aura Esthétique & Boutique dengan perasaan yang sepenuhnya baru. Wajah cantiknya tampak berseri-seri, memancarkan binar kegembiraan yang sudah lama tidak ia rasakan. Transformasi fisik yang diberikan Sonya seolah ikut membuka sumbat energi feminin di dalam dirinya yang selama ini terpasung. Di jok belakang sedannya, kini tergeletak sebuah tas besar berisi sepuluh setel pakaian kerja pilihan Sonya. Busana-busana itu bukan lagi pakaian kantoran biasa, melainkan koleksi mode berkelas yang dirancang khusus untuk menonjolkan otoritas sekaligus keanggunan seorang manajer papan atas. Ada Asymmetrical Peplum Blazer with Slim-Fit Trousers, yang mampu mempertegas garis pinggangnya yang ramping di atas pinggulnya yang sintal. Ada Double-Breasted Tuxedo Dress berwarna midnight blue, memberikan kesan formal namun tetap memikat dengan potongan leher yang presisi. Ada Silk Wrap Blouse dipadukan dengan High-Waisted Pencil Skirt berbahan wol premium, potongan yang dengan cerdas membingkai keindahan dadanya yang penuh tanpa memberi kesan berlebihan. Setiap helai pakaian itu adalah senjata baru bagi Andam untuk menaklukkan dunianya. Di tengah kemacetan jalanan Jakarta yang mulai merayap, keheningan di dalam kabin mobil kembali mengusik ruang batinnya. Tatapannya melirik ke arah cermin spion tengah, menatap bibir merah marunnya yang sensual dan sepasang mata kucingnya yang kini tampak begitu misterius. Hasrat yang bergolak sejak malam tadi, kemudian ditambah ‘siraman bensin’ cerita liar Sonya, mendadak menyala lagi. Andam meraih ponselnya, lalu menekan tombol panggilan cepat. Nama Bimo Fitness kembali berkedip di layar. Hanya dalam beberapa detik, suara bariton yang khas dan penuh percaya diri menyahut di ujung telepon. "Halo, Bu Andam? Wah, kejutan banget ditelepon ibu…" "Hai, Bimo," suara Andam terdengar lebih rendah dari biasanya, ada nada desah yang tertahan di sana. "Soal makan siang tadi, aku benar-benar minta maaf ya. Sebagai gantinya, bagaimana kalau malam ini kita makan malam bersama? Kebetulan aku sedang luang." Di seberang sana, Bimo terdengar menahan napas sesaat sebelum menjawab dengan nada antusias yang tertutupi keheranan. "Wow, tentu saja mau, Bu! Kebetulan jadwalku malam ini kosong. Ibu mau makan di mana?" Andam membelokkan setirnya perlahan. "Kamu saja yang tentukan, Bimo. Cari tempat yang paling dekat dengan tempat tinggalmu saja, biar kamu tidak perlu jauh-jauh berkendara." Bimo terdiam sejenak, terdengar agak ragu. "Hmm... kalau dekat tempat tinggalku, suasananya mungkin agak berbeda, Bu. Aku kan cuma tinggal di kos-kosan sekitaran tebet. Kafe terdekat dari sini sangat sederhana, bukan restoran mewah seperti tempat biasa Bu Andam makan. Namanya Kopi Sadis, tempatnya agak tersembunyi di dalam gang, tapi punya lantai dua yang cukup tenang dan nyaman..." Mendengar kata "kos-kosan ", sesuatu di dalam tubuh Andam mendadak berdesir hebat. Aura kesederhanaan dan privasi yang ditawarkan justru terasa sangat menggoda bagi jiwanya yang sedang haus akan petualangan terlarang. "Tidak apa-apa, Bimo. Aku setuju. Kirimkan saja lokasinya sekarang, aku akan langsung mengarah ke sana," jawab Andam mantap sebelum memutus panggilan. ** Sebelum ia benar-benar melangkah masuk ke dalam labirin hasrat bersama pria muda itu, Andam tahu ia harus menyelesaikan satu kewajiban formalnya terlebih dahulu. Ia segera beralih menghubungi nomor suaminya, Anto. Panggilan itu diangkat dengan cepat, terdengar suara Anto yang parau dan hangat, khas seorang akademisi yang sedang memeriksa jurnal di ruang kerjanya. "Ya, sayang? Kamu sudah dalam perjalanan pulang?" Andam mengatur ritme napasnya, mengembalikan intonasi suaranya menjadi sosok istri yang penuh dedikasi. "Belum, Mas. Aku menelepon untuk mengabarkan kalau… mmm… malam ini aku akan pulang agak malam. Ada beberapa dokumen investor yang mendadak harus diselesaikan bersama tim malam ini juga." Dari seberang, Anto mendesah pelan, penuh pengertian namun terselip rasa bersalah atas keterbatasan dirinya semalam. "Ah, begitu ya... Ya sudah, jangan terlalu lelah ya, Sayang. Makan malamnya jangan sampai terlambat. Aku tunggu di rumah." "Iya, Mas. Terima kasih, Mas…" ucap Andam lirih. Setelah menutup telepon, Andam menatap lurus ke depan. Rasa bersalah sempat melintas sekilas di matanya, namun bayangan kegagalan intim semalam dan gairah membara yang kini membungkus tubuh merah marunnya jauh lebih berkuasa. Andam menginjak pedal gas lebih dalam, mengarahkan sedannya menuju sebuah gang di Tebet, tempat di mana api hasratnya siap diletupkan. Sedan perlahan merayap memasuki kawasan Tebet, menyusuri jalanan yang kian menyempit hingga akhirnya berhenti di depan sebuah kedai kopi tersembunyi. Begitu pintu mobil terbuka, tumit tinggi Andam menapak di atas aspal kasar, memancarkan kontras yang luar biasa antara kemewahan dirinya dengan atmosfer sekitar. Andam melangkah masuk ke dalam kafe Kopi Sadis. Kafe itu memang tampak sederhana dengan dinding semen ekspos dan lampu-lampu pijar gantung berwarna kekuningan. Namun, kehadiran Andam malam itu seketika mengubah seluruh dinamika ruangan. Langkah kakinya yang anggun, aroma parfum mahal yang merebak, serta setelan blazer merah marun yang membungkus ketat tubuh montoknya langsung mencuri perhatian. Aura sensual yang memancar dari belahan V-neck rendah blazernya, yang memperlihatkan siluet payudaranya yang besar dan padat, membuat atmosfer kafe mendadak hening. Mata para lelaki yang sedang nongkrong di sana sontak takjub, terpaku tanpa berkedip. Mereka menatap liar sekaligus segan pada sosok wanita matang yang tampak begitu berkelas, berani, dan memikat bagai seorang ratu yang tersesat di kedai lokal. Di sudut lantai dua yang agak temaram, Bimo sudah menunggu. Saat melihat Andam berjalan menghampirinya, pemuda itu mendadak kaku. Ia berdiri dari kursinya dengan mulut yang sedikit terbuka karena terkejut. "Bu… Bu Andam?" bisik Bimo, nyaris tidak mengenali klien fitnesnya. Mata Bimo menyapu seluruh penampilan Andam, mulai dari potongan rambut pixie cut yang seksi, riasan smokey eyes yang tajam, hingga cara blazer merah itu memahat lekuk pinggul dan dadanya yang indah. Selama ini, di pusat kebugaran, Bimo menganggap Andam hanyalah wanita karier paruh baya biasa yang kebetulan bertubuh subur. Namun malam ini, di bawah temaram lampu kafe, Andam menjelma menjadi sosok yang luar biasa dahsyat. Di mata Bimo, Andam kini adalah puncak dari segala fantasi visual pria dewasa. "Hai, Bimo. Sudah lama menunggu?" sapa Andam dengan suara rendah yang sengaja diberi sedikit nada desah, sembari mengulas senyum merah marunnya yang misterius. "Ah, enggak kok, Bu. Baru saja," jawab Bimo gugup, buru-buru menarikkan kursi untuk Andam dengan sikap yang mendadak sangat manis. Mereka memesan kopi dan mulai mengobrol ringan. Namun sepanjang perbincangan, mata Bimo tidak bisa berbohong. Tatapannya terus-menerus turun, mengagumi keindahan kulit putih di area d**a Andam yang terekspos elegan setiap kali wanita itu condong ke depan untuk meminum kopinya. Riak kekaguman dan gairah yang membara di mata Bimo terbaca jelas oleh Andam. Andam merasakan kepuasan yang luar biasa di dalam batinnya. Ia gembira, karena pesonanya telah berhasil mengunci total hasrat pria muda di hadapannya. Malam semakin larut di lantai dua Kopi Sadis, namun udara di sekitar meja mereka justru terasa semakin pekat oleh ketegangan sensual yang tak lagi bisa dibendung. Bimo, yang biasanya mahir bersandiwara, malam ini benar-benar kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Pesona baru Andam yang begitu dahsyat telah meruntuhkan seluruh kalkulasi pragmatisnya, menyisakan gairah muda yang meledak-ledak. Bimo mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap lekat-lekat mata cokelat Andam yang misterius. "Bu Andam... jujur, aku sudah tidak bisa fokus lagi sejak tadi," ucap Bimo, suaranya terdengar serak dan bergetar oleh desakan rasa yang membubung. "Malam ini Ibu cantik sekali, luar biasa sampai membuatku sesak. Aku... aku baru pertama kali merasakan getaran sekuat ini. Aku rasa, aku jatuh cinta pada seorang wanita, dan wanita itu adalah Bu Andam." Andam tertegun sesaat, namun riasan smokey eyes-nya tetap tenang. Ia mengulas senyum tipis di bibir merah marunnya, lalu melepaskan tawa kecil yang terdengar sangat anggun. "Kamu ini bicara apa, Bimo? Jangan bercanda. Kamu itu pelatih fitnes yang punya banyak penggemar wanita muda di luar sana." "Aku bersumpah, Bu! Aku tidak sedang bercanda atau merayu. Aku tidak pernah tertarik pada wanita manapun…" potong Bimo cepat, matanya memancarkan kesungguhan yang menggebu-gebu. "Demi Tuhan, Bu Andam sudah benar-benar menjerat seluruh pikiranku." Andam menyandarkan punggungnya dengan tenang, mempertahankan keanggunannya sebagai seorang wanita matang kelas atas. "Dengar, Bimo. Aku ini sudah bersuami. Suamiku adalah seorang profesor yang sangat terhormat, dan aku sangat mencintai suamiku," ujar Andam dengan nada suara yang tertata, seolah sedang menegaskan kembali benteng pertahanannya di depan publik. Mendengar kalimat itu, Bimo seketika terdiam. Wajahnya menegang, dan ia mulai salah tingkah. Ia menunduk, mengusap tengkuknya dengan cemas, merasa penolakannya baru saja dijatuhkan dengan telak oleh sang wanita karier itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN