Hari menyedihkan dan paling membahagiakan.
Seperti biasa hari ini di sekolah sangat membosankan. Ada satu hal yang membuat hariku bahagia hari ini yaitu pelajaran olah raga. Ya, karena aku bisa melihat "dia" bermain basket dengan wajahnya yang tampan. Tidak ada murid perempuan yang tidak suka padanya, ya.. namanya Vito. Selain wajahnya yang tampan dia juga murid yang cukup pintar di sekolah dan sering memenangkan olimpiade olahraga dan matematika. Benar-benar idaman !
Oh iya, kenalin namaku Mia, aku hanya murid perempuan biasa. Tidak populer, tidak cantik dan tidak banyak mempunyai keahlian. Apalagi sejak masa puber pertama membuat badan ku semakin gendut dan muka ku seperti tidak terurus. Baik, lupakan!
Siang itu rasanya adalah siang terbaik disekolah karena aku bisa melihat Vito bermain basket dari jarak yang cukup dekat aku merasa sangat bahagia, meskipun dia tidak melihatku. Ingin rasanya aku memberikan sebotol air minum yang ku pegang untuknya "ahh.. stop halu! " gumamku dalam hati. Mana mungkin Vito mau menerima sebotol minuman dari perempuan jelek seperti diriku.
Dari kejauhan aku mendengar suara perempuan memanggil "Vito...! Haii..". Ternyata Grace, murid perempuan cantik berambut panjang dan populer membawakan handuk dan sebotol air minum untuk Vito. Seketika kakiku terasa lemas jantungku melemah rasanya ingin pingsan saat itu juga. Melihat mereka berdua sangat cocok dan serasi, aku merasa salah untuk jatuh cinta."Mana mungkin seorang Vito mau melirik dan suka sama aku" kalimat itu terlintas di benakku, Saat itu juga aku langsung berlari kembali ke kelas.
"Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing....!!!!!!" Bel sekolah berbunyi menandakan waktu pulang. Aku bergegas membereskan semua barang-barang dan buku ke dalam tas. Sejak melihat Vito dan Grace tadi rasanya aku ingin cepat-cepat pulang dan menangis dikasur, Hari ini tidak ada jam tambahan aku bisa cepat-cepat pulang. Saat di lorong kelas aku berjalan menunduk dengan langkah malas, tiba-tiba, "bruuukkk !" Ada yang berlari menabrakku dan semua buku yang aku pegang berhamburan. Ingin marah dan kesal rasanya tapi saat mendengar suaranya, "maaf ya, lagi buru-buru". Aku tahu itu suara Vito, belum sempat aku menjawabnya dia sudah lari ke arah lapangan sekolah. Setidaknya hari ini aku mendengar suaranya dari dekat pertama kalinya. Aku pulang awalnya dengan hati sedih tapi berakhir bahagia.
Sesampainya di rumah aku langsung masuk kamar dan merebahkan badan dikasur sambil berkhayal dan bergumam di hati, "coba aja tadi Vito ga buru-buru mungkin bisa aja dia ajak aku pulang bareng" . Hal yang tidak akan mungkin terjadi.
Lalu aku coba untuk berdiri dan melihat ke kaca, dan bertanya pada diriku sendiri apa yang bisa aku banggakan dari diriku ini, sampai beraninya aku menyukai laki-laki yang banyak disukai perempuan disekolah. Jika dibandingkan dengan Grace , Aku sangat jauh. Apa mungkin aku bisa sepopuler dan secantik dia ?. Sampai akhirnya aku merasa insecure dan sedih melihat diriku sendiri akhirnya aku tertidur.
Tiba-tiba aku terbangun saat sedang bermimpi Vito ingin menciumku. Syukurlah.. cuma mimpi, kalo itu kenyataan mungkin aku sudah pingsan duluan.
Ngomong-ngomong, Mami dan papi ku adalah strict parent. Yup! Dimana ada 1001 aturan yang harus dipatuhi salah satunya Dilarang Pacaran. Kalau mami tahu aku cinta cintaan sama seseorang habis pasti hidupku.
Mami manggil, "Mia... makan! Dari pulang sekolah diam aja dikamar!". "Iya mi.." jawabku dengan malas. Tapi setelah melihat diriku di kaca nafsu makanku langsung hilang, padahal masakan mami malam itu adalah makanan kesukaanku. Kalau engga makan perutku lapar, jadilah aku makan dengan sedikit nasi dan lauk. Tiba-tiba mami nanya, "kenapa dikit makannya ? Apa yang dipikirin ? Pacar ?." Belum punya pacar pun udah di tuduh dan mulai aneh aneh pertanyan mami terhadapku. Aku hanya menggeleng daripada aku jawab pasti akan berbuntut panjang, aku cepat-cepat habisin makanannya terus cuci piring bekas makanku dan langsung ke kamar.