Krek
Perlahan pintu kamar terbuka, penampakan kaki yang menjulur ke luar perlahan begitu menggemaskan. Ghea celingak celinguk ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada orang di sekitarnya, barulah ia memutuskan untuk ke luar.
" Mbak maaf!" Panggilnya pada seorang pelayan yang tampak lalu lalang membereskan ruangan
" Iya non?" Tanya pelayan itu mendekat
" Bisa bawakan saya makanan gak?" Tanya Ghea dengan suara pelan. Jam menunjukkan angka 21:35. Seharian perutnya belum terisi apapun, tentu saja ia sangat lapar
" Maaf nona, tuan melarang saya membawakan makanan pada siapapun." Tolak pelayan itu sungkan
" Kalau pelayan lain saja yang bawakan bagaimana?" Tanya Ghea dengan wajah memelas
" Semua pelayan di rumah ini dilarang membawakan makanan ke kamar anda nona." Jawab pelayan itu
Ghea manyun
" Itu orang kok hipokrit banget ya. Tega banget biarin istrinya kelaparan." Gerutunya dengan wajah kesal
" Yasudah mbak di mana ruang makannya?" Tanyanya berbisik
" Lurus saja ke sana nona, ruang makan ada di ujung sana!" Tunjuk pelayan itu ramah
" Baik, terima kasih." Ucap Ghea kemudian segera beranjak menuju lokasi yang ditunjuk. Pelayan itu tersenyum geli melihat tingkah Ghea.
Ghea berlari sambil melepas sandalnya menuju ruang makan, itu agar tidak ada siapapun yang mendengar langkahnya.
Sesampainya di sana...
Ghea begitu senang melihat banyak makanan yang masih berderet rapi di meja makan bernuansa eropa itu. Tanpa pikir panjang, gadis itu langsung mengambil piring dan meraih beberapa lauk juga nasi untuk disantap
" Akhirnyaa.. aku makan juga." Batinnya gembira kemudian duduk dan hendak melahap makanannya. Sebelum...
Deg
Belum sempat ia memakan sesuap nasi, seseorang tiba tiba memegang pundaknya. Ghea menoleh dengan wajah pasrah melihat Noah berdiri di belakangnya dengan tatapan mengintimidasi
" Kenapa sih, orang ini ada di mana mana?" Gumam Ghea melepaskan piring di tangannya, lalu berdiri. Wajahnya memerah menahan malu
" Lapar?" Tanya pemuda itu dengan senyum tipis
" Gak kok siapa bilang? Orang aku juga biasa puasa di rumah." Ghea memalingkan wajah
" Piring itu?" Noah menunjuk piring di belakang tubuh Ghea
" Eng-gak kok. Aku gak tahu itu piring siapa. Yasudah selamat malam!" Tekan Ghea kesal lalu berlari begitu saja meninggalkan Noah yang tersenyum menatap piring di depannya.
Ghea menutup wajahnya menahan malu. Bisa bisanya ia ketahuan saat mengambil makanan. Ghea mendudukkan bokongnya di sisi ranjang, ia benar benar kesal. Perutnya terasa begitu lapar, tapi untuk makan ia benar benar merasa malu
" Kenapa sih Noah harus ada di mana saja! Rumah ini kan besar. Bukankah seharusnya dia sudah tidur sekarang. Malu banget kan aku." Gerutunya
Pandangan Ghea terarah pada kamar mandi.
" Apa aku minum air kran saja ya yang banyak biar kembung? Hmm gak ada cara lain." Gheapun melangkah ke kamar mandi. Namun, belum sampai ia memegang knop pintu, tiba tiba...
Tok tok tok
Terdengar pintu kamarnya di ketuk
" Siapa?" Tanya Ghea melangkah mendekat
Tak ada jawaban
Gheapun membuka pintu. Dan...
Klek
Bola matanya membundar melihat aneka ragam makanan berada di depan pintu kamarnya. Tidak ada orang di sekitar. Entah siapa yang mengantar makanan itu
" Apa Noah yang mengantarnya?" Gumamnya penuh tanya.
" So sweet juga! Ah yang penting makan dulu." Ucap Ghea membawa makanan itu ke dalam lalu menutup pintu.
Benarkah Noah yang mengantarnya?
Di balik tembok sana, Bian mengulas senyum melihat makanan yang ia bawa diterima oleh Ghea. Ya, Bianlah yang membawa makanan itu karna tahu adegan Ghea yang mengendap endap dan ketahuan oleh Noah tadi. Pemuda itu menarik napas lega kemudian beranjak menuju kamarnya.
Baru saja ia membuka pintu...
" Kenapa kamu membawakan makanan ke kamar istri saya?" Tanya seseorang yang tampak duduk di sisi ranjang Bian tegas
" Kak." Bian mengulas senyum tipis melihat Noah yang tampak menatapnya dingin
" Kenapa mengantarkan makanan ke kamar Ghea?" Noah mengulang pertanyaannya sembari memainkan pistol di tangannya. Sorot matanya benar benar dipenuhi kemarahan
" Aku hanya merasa kasihan kak. Sejak tadi pagi dia belum makan. Jadi aku bawakan makanan ke kamarnya tadi. Bukankah semua pelayan tidak berani membawakannya makanan." Senyum Bian tak ada rasa takut sedikitpun di wajah tampannya. Mendengar itu, Noah berdiri menjajari Bian
" Jangan main main dengan saya, Bian. Kalau saya ingin dia kelaparan, maka itu keinginan mutlak yang juga harus kamu patuhi di rumah ini." Tekannya membuat Bian menarik napas panjang
" Santai saja kak. Itu cuma makanan." Senyumnya lebar. Noah mengarahkan pistol itu ke d**a kiri adiknya
" Tidak ada seorangpun yang boleh melawan saya di rumah ini. Selama ini saya membiarkan kamu karna kamu satu satunya keluarga yang saya punya. Tapi kalau kamu berusaha melawan, saya tahu betul bagaimana caranya menghentikan jantung berdetak." Ancam Noah dengan aura yang mengerikan.
Bian mengulas senyum, tatapannya tidak sedikitpun memiliki rasa takut. Pemuda 24 tahun itu justru memegang pistol yang mengarah ke dadanya.
" Lakukanlah apa yang ingin kakak lakukan. Dan aku juga melakukan apa yang menurutku benar. Bukankah itu perjanjian kita sejak kecil?" Ujarnya santai. Sorot mata Noah menajam
" Jangan sampai saya membenci kamu seperti saya membenci ibu kamu!" Tunjuk Noah. Bian hanya tersenyum menanggapi
" Apa kau lapar kak?" Tanyanya membuat Noah membuang muka
" Aku punya sesuatu untukmu. Tunggu sebentar!" Bian melangkah menuju laci di samping tempat tidurnya, meraih sebuah kotak kecil di sana.
" Aku menemukan ini di gudang kemarin. Aku pikir ini punyamu." Celetuk Bian menoleh. Tapi, Noah sudah melenggang pergi. Pemuda itupun mengambil napas panjang kemudian menggelengkan kepalanya
" Ck kebiasaan kakak tidak pernah berubah. Ia tidak pernah mau mendengarkan siapapun." Gumamnya kemudian kembali meletakkan kotak itu di laci.
Ya, ia sangat kaku dan dingin
Aku tahu apa yang ia lakukan tidak pernah benar
Aku tahu ia sangat mudah marah
Menghancurkan segalanya dan tak pernah meminta maaf
Tapi, aku yakin ada kasih sayang di hatinya
Jika tidak, ia pasti akan melenyapkanku setelah ayah dan ibu meninggal
Tapi ia tidak pernah melakukannya
Bahkan sampai saat ini
Itu kenapa... Akupun menyayanginya
Karna Noah, juga satu satunya keluarga yang aku punya
***
Pagi menjelang,
Noah tampak sudah rapi dengan setelan jas berwarna silver dan kemeja biru mudanya. Sambil mengenakan arloji, ia melangkah menuruni tangga. Sementara Juan sudah menunggu di anak tangga
" Apa mobil sudah siap?" Tanyanya tanpa ekspresi
" Ia tuan, apakah anda ingin sarapan terlebih dulu?" Tanya Juan
" Tidak, aku buru buru. Lokasi rumah ini paling jauh dari kantor. Aku harus bergegas." Tolaknya beranjak ke arah pintu.
Sebuah mobil mewah berwarna putih sudah tampak siap di halaman. Berikut pelayan yang hendak membukakan pintu. Sebelum...
" Tungguuu!!" Teriak Ghea yang tampak berlari menyusul. Noah menatap gadis itu dengan kening bertaut. Walaupun jujur sebenarnya Ghea terlihat sangat imut dengan blouse dan rok mini yang ia belikan, Noah tetap membuang muka. Pemuda itu justru melanjutkan memasuki mobil tanpa memperdulikan Ghea yang menggedor pintu kacanya
" Aku ikut ya? Aku tidak tahu arah menuju kantor. Kalau tidak, aku bisa terlambat." Pintanya dengan wajah memelas.
" Saya boss dan kamu hanya karyawan. Pesan saja taxi atau ojek online. Saya tidak mungkin membawamu bersama saya di mobil ini." Celetuk Noah santai. Wajah Ghea berubah kesal
" Kalau aku terlambat bagaimana?" Tanyanya
Noah mengenakan kaca mata hitamnya
" Jalan!" Perintahnya pada supir
" Heiii!!" Teriak Ghea menggedor semakin kencang saat mobil itu mulai melaju.
Noah sama sekali tidak perduli. Mobil itu meninggalkan Ghea yang menghentakkan kakinya kesal
" Suami macam apa yang bersifat seperti itu hah! Bass boss bass boss! Memangnya cuma Noah Alexsander yang boss besar di dunia ini! Menyebalkan sekali!" Teriak Ghea emosi.
" Aku harus bagaimana ini? Pesan taxipun gak akan sampai tepat waktu." Ghea menggaruk kepalanya bingung
" Naik!" Ucap seseorang yang tiba tiba menghentikan laju mobil tak jauh dari tempatnya berdiri.
" Bian?" Senyum Ghea senang.
Pemuda berkemeja putih itupun menurunkan kaca jendela mobil hitamnya
" Ayo! Aku akan mengantarmu. Kebetulan aku ada urusan di sekitar sana." Senyumnya yang begitu manis. Gheapun segera berlari menuju mobil itu dan duduk di sisi Bian. Mobil itu kemudian melaju tenang, setenang hati Ghea
" Fiuh akhirnya! Aku tidak tahu bagaimana nasibku tanpa kamu hari ini Bian, kau selalu menolongku di waktu yang tepat." Ujar Ghea merapikan rambutnya
" Kau terlihat sangat cantik pagi ini." Ucap Bian. Gurat merah langsung memancar dari pipi gadis itu.
" Aku sangat heran, kenapa sifatmu sangat berbeda dengan si tuan besar itu. Kau seperti malaikat, sedangkan dia.." Ghea tak melanjutkan kata katanya. Membayangkan wajah Noah saja membuatnya ilfeel
" Seperti iblis ya? Hahaha." Tawa Bian. Bahkan saat tertawa ia terlihat begitu elegan
" Aku tidak mengatakannya ya." Ghea mengulas senyum
" Aku dan Noah berasal dari ibu yang berbeda. Mungkin didikan ayah waktu kecil yang membuatnya agak keras. Tapi dia sebenarnya sangat baik. Kau hanya perlu lebih mengenalnya saja." Ujar Bian
" Cih mana ada orang baik yang tega membunuh seseorang." Celetuk Ghea
" Membunuh?" Bian mengernyit
Busyet keceplosan lagi - Batin Ghea
Ghea menepuk jidatnya sendiri
" Apa maksudmu dengan membunuh?" Tanya Bian penasaran
" Gak maksudku, dia itu sosok yang sangat mudah membunuh karakter seseorang. Gak ada simpati, gak ada sopan santun, bermuka dua, gak ada akhlaq." Dalih Ghea yang seketika membuat Bian tersenyum.
" Kau harus terbiasa. Dia suamimu." Ujarnya
30 menit kemudian, mobil itu menghentikan lajunya di halaman kantor besar Andreas
" Apa nanti aku harus menjemputmu?" Tanya Bian saat Ghea turun dari mobil
" Tidak perlu, aku bisa pulang dengan taxi." Senyum Ghea
" Kalau begitu aku pergi dulu. Take care ya." Bian hendak menutup jendela mobil. Sebelum...
" Eh Bian!"
" Ya?"
" Terima kasih." Ucap Ghea tersipu. Wajah malunya benar benar menggemaskan
" Sama sama." Senyum Bian bikin melting
Gheapun melangkah masuk ke dalam kantor. Tapi baru saja ia melangkah, sambutan tak enak sudah ia dapat
" Diantar siapa? Sepertinya orang kaya?" Tanya Maya mengintimidasi.
" Maaf aku sibuk mbak." Ghea berusaha menghindar.
" Mau jual diri ya?" Celetuk Maya membuat langkah Ghea terhenti.
Sabar Ghea! Sabar! Anggap saja angin lalu! - Batin Ghea yang mulai meradang.
Ghea berusaha acuh dan melanjutkan langkahnya. Namun...
" Baru jadi pegawai sudah belagu. Gimana kalau sudah lama kerja? Kalau orang ngomong itu dijawab. Punya sopan santun gak sih? Apa sopan santunnya juga dijual. Ops!" Ujar Maya dengan nyaring. Bahkan orang orang di sekitar mereka mulai memperhatikan
Ghea tidah tahan, ia hendak menoleh. Sebelum...
" Maya apa kamu tidak punya kerjaan lain selain membuat keributan?" Tanya seseorang yang seketika membuat wanita itu bungkam.
Ghea menarik napas melihat Noah tiba tiba berdiri di sana. Apakah Noah membelanya? Itu membuat hati Ghea tersenyum girang.
" Maaf tuan." Ucap Maya menundukkan wajah
" Kalian semua kembali bekerja! Saya tidak mau ada yang memulai keributan di sini. Dan Maya, ini peringatan pertama untuk kamu. Jangan mengganggu sekertaris saya." Celetuk Noah kemudian beranjak pergi. Ghea tersenyum menggigit bibirnya. Entah kenapa, ia rasanya begitu senang. Sebaliknya, Maya menatapnya tajam
" Aku pasti akan membalasmu, perempuan murahan." Gumamnya penuh dendam
***
" Aku tadi melihatmu membelanya, kenapa?" Pertanyaan Clara langsung menyambut ketika Noah memasuki ruangannya.
" Tidak apa apa, aku hanya menunjukkan sikap seorang pemimpin saja." Jawab Noah santai kemudian meletakkan tas kerja di meja
" Ini apa hmm? Kau bisa menjelaskannya?" Tanya Clara menunjukkan sesuatu di ponselnya. Sesuatu yang hanya ditanggapi Noah dengan tenang
" Siapa yang mengirimi ini?" Tanyanya menatap paras cantik Clara yang memerah marah
" Katakan saja, apakah foto foto itu benar? Kau bilang kau akan membalas dendam tapi kenapa justru menikahinya diam diam?" Tanya Clara menyeka air matanya
Benar, itu adalah foto foto pernikahan Noah dengan Ghea kemarin. Entah siapa yang mengirimi foto itu pada Clara, yang jelas, gadis itu terlihat benar benar marah
" Aku bisa menjelaskan ini. Tapi aku pikir kau tidak akan mendengarkanku. Pernikahan ini adalah jalan terbaik untuk membalaskan dendamku." Jawab Noah
Clara membuang muka kesal
" Jadi sekarang gadis itu adalah istrimu hah? Aku harus memanggilnya nyonya?"
" Clara.." Noah berusaha memegang pundak gadis idamannya itu, tapi Clara menghindar
" Aku butuh waktu untuk mempercayaimu dan menenangkan diri." Ujarnya kemudian meraih ponselnya dan beranjak pergi. Tapi baru saja membuka pintu, Clara langsung berhadapan dengan Ghea yang tersenyum manis di depannya
" Apa tuan Noah ada di dalam?" Tanyanya bersama seorang polisi yang tampak berdiri menunggu.
" Lihat saja sendiri!" Tekan Clara kemudian menabrak pundak Ghea dan beranjak pergi. Ghea mengernyit heran mendapati sikap Clara yang biasanya manis tiba tiba seperti itu. Apakah ia baru saja melakukan kesalahan?
" Pak tunggu sebentar ya, biar saya menemui tuan Noah dan mengabari kedatangan anda." Tutur Ghea pada polisi yang mengangguk mengiyakan itu. Gheapun mengetuk pintu kemudian melangkah masuk. Melihat suaminya tampak memijit pelipisnya dengan raut bingung.
" Ada apa?" Tanya Noah tanpa menatap Ghea
" Hmm a-aku ingin mengucapkan terima kasih atas pembelaanmu tadi." Senyum Ghea tersipu sipu.
" Jangan GR, saya hanya melindungi karyawan saya yang saya pikir benar saja." Celetuk Noah
" Bukan karna kau mulai mencintaiku?" Tanya Ghea mengangkat alisnya dengan senyum yang dibuat seimut mungkin. Noah langsung menatap Ghea mendengar pertanyaan itu
" Ah maaf tuan, saya lupa tidak boleh membahas urusan pribadi di sini." Celetuk Ghea memainkan mata
" Sebenarnya apa maumu datang ke sini? Jangan membuang buang waktuku."
" Di depan ada polisi. Katanya mau bertanya tentang Dewi. Haruskah saya membiarkannya masuk?" Tanya Ghea membuat kening Noah bertaut
" Persilahkan saja masuk!" Ujarnya kemudian
" Anda tidak takut?" Tanya Ghea yang seketika membuat Noah berdiri dengan wajah marah
" Ups baiklah, saya akan ke luar dan mempersilahkan polisi itu masuk." Gadis itu langsung ngacir ke luar.
" Silahkan masuk pak polisi." Ujarnya pada polisi yang menunggu di luar
Dan inilah penampakan beberapa waktu kemudian...
" Apa tujuan anda datang ke tempat ini?" Tanya Noah dengan senyum yang terlihat seperti malaikat
" Ini! Pada baju korban kami menemukan sidik jadi yang autentik dengan sidik jari anda. Sidik jari yang sangat mirip dengan yang kami temukan di mayat nona Helena sebelumnya. Apakah anda punya penjelasan untuk ini tuan Noah Alexsander? Atau anda akan mengakui keterlibatan anda dalam pembunuhan dua karyawan di kantor anda?" Tanya polisi itu yang membuat Noah menatapnya tajam
" Anda menuduh saya?" Tanyanya dengan wajah datar
" Bukti bukti ini belum saya berikan pada kantor kepolisian. Itu karna saya menghormati anda tuan. Ini pilihan anda. Anda akan datang ke kantor polisi dengan suka rela atau saya akan memproses surat panggilan untuk anda?" Cerca polisi itu lagi.
Kali ini, Noah menarik napas panjang kemudian mengulas senyum licik.
" Sidik jari itu bisa saja milik orang lain pak polisi. Apakah anda yakin itu sidik jari saya?" Tanyanya santai. Terlihat terlalu santai yang membuat polisi yakin sosok di depannya memiliki gangguan kejiwaan.
" Tentu saja itu milik anda! Saya yakin." Tekan polisi itu meradang
" Sebaiknya anda minum dan tenangkan diri terlebih dulu. Setelah itu, saya akan pergi ke kantor polisi bersama anda dan memberikan pernyataan dengan suka rela." Noah menyodorkan secangkir kopi miliknya ke hadapan polisi tersebut.
Awalnya, polisi itu sedikit ragu. Tapi, melihat sorot mata Noah yang begitu mengintimidasi, akhirnya ia memutuskan untuk mencicipi kopi itu. Setidaknya, Noah bersedia pergi bersamanya. Karna jika ia menolak, orang dengan gangguan jiwa seperti Noah Alexsander bisa saja membunuhnya saat itu juga.
" Bagaimana? Apakah rasanya enak? Itu kopi favorite saya."
" Ya, baiklah. Mari kita berangkat! Saya tidak akan memborgol anda untuk menghargai posisi anda di sini." Polisi itu segera berdiri. Berada di sisi Noah terlalu lama entah kenapa membuat perasaannya tak nyaman.
" Silahkan pak polisi." Senyum Noah berdiri. Tapi...
Pusing
Tubuh polisi itu terhuyung. Ia menyandarkan tangannya ke meja Noah
" Apa yang anda berikan?" Tanyanya pucat. Darah segar mengalir dari hidungnya
" Kopi. Ah saya lupa, saya menambahkan beberapa racun di sana. Racun yang sangat mematikan, tidak memiliki rasa, warna bahkan tidak terdeteksi." Jawab Noah dengan wajah tanpa dosa
" Si-sial. A-anda benar benar monster. Anda pem-bunuh!" Tunjuk polisi itu gemetar. Ia bahkan sudah mulai rabun dan tidak merasakan tubuhnya lagi. Hingga...
Kletak
Tubuhnya tergeletak di lantai, kejang, kemudian terdiam selamanya dengan mata terbuka.
Apiknya, dengan santai, Noah mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang yang sudah siap sedia di luar sana
" Juan, aku punya satu tugas penting untukmu." Seringainya dengan tatapan setajam elang
Ya, aku Noah Alexsander. Seharusnya kalian takut padaku