" Bawa dia!"
Bagai pohon yang tumbuh di tanah tandus
Belajar bernapas dari udara yang panas
Makan dari keringat tanah yang sesak
Dan gugur perlahan karna penat
Rantingku tak berdaun
Akarku tak bertunas
Aku tak layak hidup sejak tercipta
Apalagi jatuh untuk mencinta
Inilah aku dengan segala anganku
Ghea merasakan kepalanya begitu pusing, hidungnya bahkan masih sedikit sulit menghela napas. Entah berapa lama ia tertidur, semua yang ia lihat bagaikan mimpi buruk yang sulit untuk dipercaya.
Bagaimana mungkin sosok sebaik Noah bisa menghabisi seseorang dengan mudah?
Ghea mulai membuka mata walau pandangannya masih sangat samar.
Ini pasti hanya mimpi buruk - Batinnya
Namun, saat Ghea berusaha duduk, ia mencium bau anyir yang begitu kuat, seperti amis darah yang pernah ia cium saat ayahnya kecelakaan dulu. Gadis itupun melirik sekitarnya
" Apa ini?" Gumamnya setengah sadar meraba sesuatu yang terasa basah tak jauh dari tempatnya duduk. Ghea melihat sekelilingnya, ia berada dalam sebuah ruangan. Dan di sisinya...
" Aarkh." Jeritnya tertahan
Bola matanya membundar melihat jasad Dewi yang tergeletak tak jauh dari tempatnya terbaring tadi. Kondisinya cukup mengenaskan dengan luka menganga di bagian kepala dan mata yang masih terbuka. Ternyata semua yang ia lihat bukanlah mimpi.
Belum habis rasa kagetnya, tiba tiba...
" Kamu menyukainya?"
Deg
Ghea terperanjat melihat siapa yang tersenyum menatapnya dari arah pintu. Sosok yang selama ini dipuja bagaikan malaikat tapi ternyata berhati iblis.
" Tuan Noah? Lepaskan saya!" Teriak Ghea mencoba berdiri
" Kamu bisa kabur. Saya tidak mengikatmu." Senyum Noah manis
Gheapun segera berlari menuju pintu, sebelum...
" Gheaaa!!!" Teriak sebuah suara yang sangat Ghea kenal. Langkahnya langsung terhenti tepat di sisi Noah yang menunjuk pada layar di belakang sana.
" Sebelum pergi mungkin kamu mau melihat kado dari saya?" Tanya Noah
" Ghea tolong mama nak!" Teriak suara itu lagi bersama isak tangis ketakutan. Ghea langsung menoleh. Itu Nina, ibu tirinya. Nina tampak sangat tersiksa. Tubuhnya terikat pada sebuah kursi dan penampilannya begitu berantakan. Ada sebuah pistol yang seseorang arahkan ke pelipisnya, seseorang yang entah siapa itu. Hanya tangannya saja yang bisa Ghea lihat
" Tuan lepaskan ibuku! Dia sama sekali tidak bersalah." Pinta Ghea menatap Noah yang hanya tersenyum sembari melipat tangannya di depan dada
" Kalau kamu mau ibumu kembali, ada harga yang harus kamu bayar." Noah mendekati Ghea
" Saya tidak akan membocorkan masalah tadi tuan, saya juga akan menghilang dari Alexsander Company. Saya akan resign besok. Tapi tolong jangan sakiti mama Nina. Kalau perlu kami akan pergi dari kota ini." Ghea melipat tangannya di depan d**a ( memohon )
" Bukan itu yang saya mau Ghea. Saya mau.." Noah mendekat ke telinga Ghea lalu membisikkan sesuatu yang membuat mata cantik Ghea membundar kaget
" Apa anda sudah gila!" Ucapnya dengan wajah tegang
" Hanya dengan satu perintah, nyawa ibumu akan melayang. Kamu hanya bisa menjawab iya atau tidak?" Noah mengangkat sebelah alisnya
Ghea terdiam, air mata tanpa sadar meleleh ke pipinya. Apa yang diinginkan Noah sebenarnya?
" Satu... Dua... Ti..."
" Baiklah!" Ghea mengucap dengan mata terpejam
" Baiklah?" Noah mengernyit meminta kepastian
Dengan berat hati dan jari yang mengepal, Ghea menatap paras malaikat di depannya
" Baiklah, saya setuju." Ucapnya berat
" Nice girl." Senyum Noah senang
Apa rencananya?
***
Hari itu hari rabu, tepat jam 10 pagi. Hari di mana seluruh kehidupan Ghea mungkin akan berubah menjadi neraka. Keputusan yang Ghea buat mungkin salah, tapi ini ia lakukan demi keselamatan Nina, ibu tirinya yang berada di tangan Noah, calon suaminya.
" Apa yang harus aku lakukan? Bagi semua gadis menikah dengan tuan Noah mungkin adalah impian besar, begitupun denganku beberapa hari sebelum ini. Semoga aku bisa hidup setelah ini. Entah apa tujuan tuan Noah sebenarnya." Ghea menyeka air mata menatap paras cantiknya di depan cermin
Ya, hari itu adalah hari pernikahannya dengan sang bisnisman ternama, Noah Alexsander. Pernikahan mereka dilakukan dengan rahasia. Hanya anggota keluarga inti yang hadir. Ini dilakukan agar pamor Noah Alexsander tetap berada di puncaknya.
Ghea mengenakan gaun pernikahan yang mewah tapi seakan mencekik d**a. Taburan berlian di gaun dan hiasan rambutnya seakan duri tajam yang bersembunyi dalam keindahan.
" Ayah apakah aku akan sanggup?" Gumamnya sedih
" Tentu saja, kalau kau tidak sanggup kau tidak akan ada di posisi ini." Sambung sebuah suara yang entah sejak kapan bersandar di bingkai pintu.
Ghea segera menyeka air mata melihat siapa yang tampak tersenyum memperhatikannya dari sana. Itu adalah pemuda yang pernah ia panggil sebagai tukang ojek, Bian.
" Kau, adik tuan Noah kan?" Tanya Ghea. Bian melangkah mendekatinya
" Ayo! Waktunya ke altar!" Ajak Bian tak menjawab pertanyaan Ghea. Gadis itu menunduk sedih
" Apa sebenarnya rencana kakakmu itu?" Tanya Ghea gusar
Bian mengulas senyum mendengar pertanyaan gadis itu
" Untuk tahu sebaiknya kau mengikuti kemauannya. Aku juga tidak pernah tahu apa yang ada di dalam pikiran Noah." Jawabnya
" Ayo!" Ajaknya sekali lagi seraya mengulurkan tangan.
Ghea POV
Hari ini adalah hari yang seharusnya paling membahagiakan bagi setiap gadis. Dan aku bingung, aku harus bahagia atau tidak.
Seandainya malam itu tidak pernah terjadi, aku mungkin begitu bahagia. Sangat sulit untuk melupakan bahwa pernikahan ini adalah sebuah keterpaksaan. Suamiku seorang pembunuh. Melihat dari caranya yang begitu tenang menghabisi Dewi, itu tentu bukan pembunuhan pertamanya, ada yang salah dengan dirinya.
Dan entah kenapa, aku ingin membantunya. Membantunya menjadi Noah yang sebenarnya. Noah yang baik seperti malaikat. Apakah ini jalan takdir yang tuhan pilihkan untukku?
Haruskah aku menerima semua ini?
Pov End
" Ghea Anastasha, maukah anda menerima Noah Alexsander sebagai suami anda?"
Ya, hari itu Ghea resmi menjadi istri dari bossnya, Noah Alexsander. Entah apa tujuan Noah menikahinya, padahal Noah bisa saja menghabisinya malam itu juga. Apakah Noah punya maksud tersendiri?
Air mata Ghea menetes saat Noah menyematkan cincin di jari manisnya. Ia terlihat begitu tampan dan manis, seperti sosok pemuda yang terlihat begitu sempurna. Sejenak, Ghea teringat akan sahabat masa kecilnya dulu.
" Kalau sudah besar kelak, aku akan menikah denganmu. Kita akan hidup bahagia selamanya." Ujar teman kecilnya dulu, ia menyematkan gelang itu ke lengan Ghea.
" Benarkah? Apa kau berjanji Alex?" Tanya Ghea polos
" Ya, tentu. Aku tidak akan mau menikah dengan siapapun selain dirimu."
Kenangan yang begitu indah, cukup membuat air mata Ghea meluncur turun. Entah kenapa? Ghea mengingat kenangan itu saat menatap wajah Noah
" Sekarang, anda boleh mencium pasangan anda!" Perintah pendeta
Deg
Jantung Ghea kembali marathon. Ia menatap bibir Noah yang terlihat menggoda. Gadis itu gugup, bahkan sebelum Noah mendekatinya. Namun...
" Apakah kami sudah sah sebagai suami istri?" Tanya Noah tegas
" Tentu."
" Lalu kenapa saya harus menciumnya di depan semua orang?" Tanya Noah penuh penekanan. Ghea mengernyit
Apa lagi tingkahnya ini?- Batin Ghea kesal
" Untuk yang hadir di sini, silahkan nikmati hidangan kalian! Dan kamu! ( Noah menunjuk Ghea bagai tuan menunjuk kacungnya ) ikut saya!" Tunjuknya penuh penekanan
" Aku?" Tanya Ghea
Busyet! Pernikahan macam apa ini? - Gerutu Ghea dalam hati
Semua yang datangpun langsung mengikuti instruksi Noah, bagai sapi yang dicucuk hidungnya. Mereka tak ada yang perduli, atau mungkin pura pura tak perduli saat Noah menyeret lengan Ghea mengikutinya.
" Sakit! Pelan pelan dong ah!" Teriak Ghea saat Noah menyeretnya. Ya menyeret, bukan menarik tangannya. Karna sikap Noah sangat kasar. Dan ia sama sekali tidak mendengarkan keluhan Ghea, hingga...
Brak
Tubuh Ghea terhempas pada sebuah ranjang berukuran besar
" K-kau mau apa?" Tanyanya menyilangkan tangan di depan d**a saat Noah menutup pintu rapat
" Kamu? Berani sekali kamu bicara pada saya dengan nada informal. Ingat! Saya ini bossmu. Panggil saya tuan atau kamu akan merasakan akibatnya!" Ancam Noah berkacak pinggang
" Di mana ibuku? Apa kau sudah melepaskannya?" Tanya Ghea tak perduli dengan ancaman Noah. Pemuda itu merogoh saku jasnya, mengambil sebuah ponsel lalu menghubungi seseorang
" Ini!" Noah menyerahkan ponsel itu ke tangan Ghea
" Halo?" Ghea menerima panggilan
" Ghe? Ini mama sayang. Apa kabar?" Tanya suara Nina di seberang yang membuat Ghea menarik napas lega
" Mama baik baik saja?" Tanyanya gemetar
" Tentu, kau menikah dengan seorang milyarder, bagaimana bisa aku tidak baik baik saja? Ghe terimakasih ya, berkatmu mama bisa merasakan kehidupan mewah impian. Mama sedang liburan di sebuah hotel mewah, mama juga mendapat sertifikat rumah baru, mobil baru, uang yang banyak, ke salon dan pamer barang barang berkelas sama teman teman mama. Makasih sayang!" Tutur suara di seberang yang seketika membuat Ghea terdiam mematung
" Halo? Gheaaa? Kamu masih di sana sayang? Ingat ya... Bersikap baiklah pada tuan Noah, sekarang dia adalah menantu kesayangan mama. Jadi..."
" Mama bersandiwara?" Potong Ghea dengan suara gemetar. Matanya mulai berkaca kaca
" Bukan begitu sayang, mama hanya melakukan yang terbaik untuk masa depanmu." Elak Nina
" Mama menjualku? Mama tahu gak hidupku tuh jadi berantakan! Mama kok tega sih?" Teriak Ghea kesal
" Hei! Jangan berani membentak mama ya. Jangan bohong deh kamu, jangan munafiq. Mama tahu kok kamu suka sama tuan Noah kan? Banyak posternya yang kamu pasang di dinding kamarmu."
" Ya tapi kan ma.."
" Sudahlah! Mama mau senang senang dulu. Byee!"
Tut tut tut
Telfon dimatikan. Air mata Ghea menetes tanpa sadar
" Sini!" Noah merampas ponsel itu dari tangan Ghea yang mematung seakan tanpa nyawa
" Ingat baik baik, kamu sudah menangani kontrak. Di sana tertulis kamu akan bersikap sewajarnya di dalam kantor, bekerja tanpa memberi tahu siapapun soal pernikahan ini. Kamu juga dilarang melakukan apapun tanpa seizin saya. Pulang dari kantor, kamu harus langsung ke rumah ini. Tidak ada siapapun yang boleh tahu alamat, nomer telfon dan tentang rumah ini. Kamar tidurmu di sini. Jangan coba keliaran di malam hari!" Tutur Noah penuh penekanan
" Apa tujuanmu sebenarnya?" Tanya Ghea terisak
" Dan satu lagi. Bicaralah formal dengan saya. Saya tetap bossmu. Baik di kantor ataupun di sini." Noah tak menjawab pertanyaan Ghea
" Aku tanya apa tujuanmu!" Tekan Ghea berdiri dari duduknya menatap Noah nyalang
" Berani sekali kamu bernada tinggi di depan saya." Noah mengernyit
" Apa kau jatuh cinta padaku? Atau kau memang suka bermain main dengan wanita sebelum kau lenyapkan? Aku tidak akan membiarkanmu melakukan ini padaku." Ghea mendekati Noah dengan wajah marah. Pemuda itu mengulas senyum
" Apa yang bisa kamu lakukan?" Tanyanya menantang
" Kau akan jatuh cinta padaku. Pernikahan ini akan merubahmu menjadi orang lain." Tunjuk Ghea meradang
" Tak ada siapapun yang bisa mempermainkan hidupku. Tidak kau ataupun mama." Imbuhnya
" Hahaha." Noah justru tertawa. Menganggap ucapan Ghea adalah gurauan semata
" Apa yang lucu TUAN NOAH ALEXSANDER?" Ghea berkacak pinggang
" Kamu! Tentu saja ini sangat lucu. Benar, saya hanya menganggap pernikahan ini main main saja. Mungkin suatu saat saya akan melenyapkan mu seperti yang lainnya. Tapi cinta? Hahaha lelucon apa itu? Kamu pikir saya bisa cinta pada jelmaan monyet seperti kamu?" Ejek Noah menyelipkan tangannya di dalam saku jaket
" Jelmaan apa?" Ghea benar benar naik pitam
" Mo- nyet." Jawab Noah. Dan...
Bruk
Ghea mendorong Noah bersandar di pintu
" Aku pastikan kau yang akan menyesali kata katamu itu. Sekarang pergi dari kamarku!" Tekannya
" Apa? Berani sekali kamu..."
" Bukankah kau bilang ini kamarku? Ayo ke luar!" Celetuk Ghea membalas
" Awas kamu!"
" Nanti saja mengancamnya. Kau tidak akan berani menyakitiku kalau nanti sudah jatuh cinta. Ke luar sana!" Senyum Ghea menantang
" Kalau saya tidak mau?" Alis Noah bertaut
" Baiklah! Tolong bukakan resleting gaunku!" Ghea berbalik menunjuk resletingnya
" Apa?"
" Kenapa? Bukankah aku istrimu sekarang? Ayo bukakan!" Senyum Ghea menyindir. Dan...
Brak
Noah ke luar dari kamar lalu membanting pintu kamar itu kesal.
" Dasar sinting! Kenapa aku mengira dia masih selembut dulu." Gerutu Noah kesal lalu beranjak menjauh
" Tuan ada telfon!" Kejar Juan melihat Noah berjalan cepat menuju tangga.
" Siapa? Bukankah aku bilang, aku tidak mau menerima telfon dari siapapun hari ini!" Tolaknya dengan raut marah
" Ini dari kepolisian tuan, mereka menanyakan tentang hilangnya Dewi." Tutur Juan. Noah mengernyit
" Aku tidak mau menerimanya. Kau urus saja! Suasana hatiku sedang kurang baik. Bukankah aku memintamu mengurus Dewi agar tak ada siapapun yang curiga?" Tekan Noah
" Maafkan saya tuan, ini karna sebelumnya mereka menemukan mayat Helena. Helena dan Dewi bekerja di perusahaan kita. Bukankah saya bilang agar anda tidak main main du.."
Belum habis Juan melanjutkan kata katanya, Noah sudah beranjak pergi tidak perduli. Pelayan itupun menarik napas panjang
" Pekerjaanku bertambah, huft." Gumamnya kemudian menerima panggilan dari kepolisian.
Sementara itu, di dalam kamar...
Maskara Ghea sudah beleber ke sana ke mari gara gara menangis sejadi jadinya. Ia mengutuk dirinya sendiri yang pernah mengidolakan Noah Alexsander. Bagaimanapun ia mencoba berpikir, ia tak bisa menemukan jawaban kenapa Noah tidak melenyapkannya, malah justru menikahi dan mengurungnya di rumah besar itu. Apa tujuan Noah sebenarnya? Menyadari dirinya juga dijual oleh ibu tirinya sendiri membuat hidupnya mirip seperti Cinderella dalam dunia dongeng. Namun, bukannya malaikat tampan yang datang untuk melamar dan menikahinya, justru iblis berwajah dewa yang membawanya pergi. Entah hidupnya begitu malang atau justru ini jalan takdir yang memang dibawa tuhan dalam kehidupannya.
Ghea menatap potret Noah di dinding sana. Ia menyeka air mata lalu berdiri dengan gaun yang sudah gak jelas bentukannya
" Semangat Ghea, kamu pasti bisa! Gila ya! Senyumnya manis banget. Bisa bisanya aku masih terpesona padahal tahu semua kebaikannya palsu. Tuhaaan! Kenapa kau menciptakan iblis dengan wajah menawan? Kalau begini kan aku jadi bingung harus benci, takut atau justru jatuh cinta, hiks." Gumamnya
Tanpa Ghea sadari, seseorang tersenyum memperhatikannya dari balik celah pintu yang tak terkunci. Mendengarkan semua u*****n Ghea yang terdengar menggelitik.
" Gadis yang unik." Gumamnya yang tak lain adalah...
" Tuan Bian? Kenapa anda di sini?" Tanya Juan memegang pundaknya.
Dengan tenang, Bian menoleh
" Harusnya aku yang bertanya kenapa kau di sini Juan? Bukankah seharusnya kau berada di mana Noah berada?" Bian mencibir
" Saya..."
" Sudah sudah jangan dijelaskan. Aku juga tidak ingin mendengarkan alasanmu." Potong Bian
" Baik tuan." Juan menunduk hormat
" Di mana kakakku itu?" Tanya Bian santai
" Tadi saya melihatnya menuruni tangga." Jawab Juan
" Oh oke." Bian menepuk pundak Juan kemudian beranjak pergi.
Seperginya Bian, Juan mengetuk pintu kamar Ghea pelan
" Nona apakah anda ingin makan siang?" Tanyanya dengan lantang
Namun...
Brak
Sesuatu dilempar ke pintu
" Pergi sanaaa!!!" Teriak Ghea
" Tapi nona, anda perlu makan, tuan Noah tidak akan suka jika anda tidak makan siang ini." Celetuk Juan. Dan...
Brak
Ghea membuka pintu kasar, menatap Juan bagai kuntilanak yang baru bangkit dari kubur. Gaun pengantin yang berantakan, rambut panjang yang kusut dan maskara yang belepotan.
" Apa semua perintah Noah harus kamu turuti, Juan? Kalau dia memerintahmu untuk memakan kotoran apa kau akan melakukannya hah? Pergi sebelum kau tahu rasanya amukan wanita yang sedang PMS." Ancam Ghea terdengar mengerikan. Tapi ekspresi Juan tetap datar dan sama saja
" Tuan Noah memerintahkan anda untuk makan." Ucapnya lagi bagai diprogram
" Gak mau!" Tolak Ghea melotot
" Tuan Noah bisa marah."
" Bodoh amat!"
Dan...
Brak
Juan memejamkan mata setelah pintu itu ditutup tepat di depan wajahnya.
" Bilang pada tuanmu itu! Aku tidak akan makan atau minum kalau dia tidak tidak datang dan menjelaskan apa maunya!" Teriak Ghea dari dalam
" Tapi nona?" Juan menghembuskan napasnya berat, beban hidupnya terasa semakin banyak saja. Mengurus kecurigaan polisi, memiliki tuan yang tidak mau tahu, sekarang Ghea yang keras kepala, dan harus ia urus juga.
" Pergi!! Aku tidak akan makan apapun!" Teriak Ghea kesal
" Nona tolonglah, saya bisa dimarahi." Mohon Juan. Dan...
Prank
Sebuah benda lagi melayang ke arah pintu
" Pergiii!!" Teriaknya
" No..."
" Ssshhh." Seseorang memegang pundak Juan dari belakang.
" Tuan?" Juan menundukkan wajah saat tahu Noah berada di belakangnya
" Aku tidak akan makan ataupun minum bahkan walaupun harus mati! Katakan itu pada tuanmu! Pergi sana!!!" Terdengar teriakan Ghea lagi
" Biarkan saja dia." Gumam Noah pelan
" Baiklah nona." Jawab Juan akhirnya
" Hah? Apa? Bagaimana kalau aku benar benar tidak makan?" Tanya Ghea dari dalam
" Itu hak anda nona." Jawab Juan yang membuat Noah mengulas senyum.
Ghea di dalam sana mengernyit. Kenapa Juan terdengar pasrah? Apa ia tidak takut kena marah Noah?
" Kau benar benar tidak ingin memaksaku lagi?" Tanya Ghea mendekati pintu. Tak ada jawaban
" Juan?" Ghea membuka pintu itu. Dan..
Tetteretteteet
Bola matanya langsung membundar melihat Noah berdiri di depan pintu dengan tangan di dalam saku dan tersenyum sinis
" Kalau kamu mau mati silahkan. Makanan ada di ruang makan. Kamu mau makan atau tidak, itu terserah padamu. Halaman belakang cukup luas untuk mengubur jasadmu." Tutur Noah dingin kemudian beranjak pergi begitu saja, meninggalkan Ghea yang seakan berasap dari hidung dan ubun ubunnya karna emosi
" Lihat saja ya tuan Noah yang terhormat! Kau akan jatuh cinta padaku. Dan aku tidak akan makan apapun sebelum kau datang kesini dan memintaku sendiri untuk makan!" Gumam Ghea kesal
Benarkah?
Kita lihat di next part
Bersambung