Second Love

2781 Kata
Bagai awan yang menunggu hujan lalu binasa Bagai embun yang menunggu siang lalu sirna Mencintainya bukanlah hal sederhana Tapi bersamanya, segala hal menjadi luar biasa Ghea mengulas senyum senang sepanjang jalan berada di sisi Noah. Hari itu adalah hari pertama ia bersama Noah seharian bahkan semalaman. Dan kembali di pagi buta ke kediaman Alexsander. Tapi, baru saja Noah tiba di halaman, senyum Ghea langsung surut bagai cerita film yang tamat tanpa ending yang baik saat melihat Clara berdiri di belakang mobilnya sambil melipat tangan di depan d**a. Di sisinya, ada Juan yang juga tengah menunggu kedatangan Noah. " Aku menunggumu di sini semalaman. Kau ke mana saja?" Tanya Clara langsung berlari memeluk Noah saat pemuda itu baru turun dari mobil. Ghea memalingkan wajah, rasanya ingin muntah. " Aku ke dalam duluan." Celetuknya langsung beranjak masuk ke dalam rumah meninggalkan Noah yang masih menatapnya. " Hei, kau tidak merindukanku?" Tanya Clara membelai jambang Noah lembut. Tidak dapat dipungkiri, Clara memang memiliki kecantikan yang jauh diatas sempurna. Tapi entah kenapa, itu tidak cukup membuat Noah menatapnya. Pikiran pemuda itu entah ke mana. " Clara, aku sangat lelah. Sebaiknya aku beristirahat dulu. Kau pergilah ke kantor dan uruslah pekerjaan di sana bersama Juan. Sepertinya hari ini aku tidak akan ke kantor." Ujar Noah berusaha lembut " Kamu kenapa sih? Semalaman bersama cewek miskin itu sekarang kamu bosan sama aku iya?" Tanya Clara membentak. Noah menatapnya dingin " Aku bilang aku sedang lelah. Jangan sampai aku hilang kesabaran. Aku tidak ingin kasar padamu." Celetuk Noah menakutkan. Belum pernah ia menatap Clara dengan tatapan setajam itu. " Terserah!" Clara berbalik dan melangkah marah menuju mobilnya lalu melaju pergi dengan perasaan kesal " Tuan, apa ada yang harus saya lakukan?" Tanya Juan mendekat " Tidak Juan. Kau boleh pergi!" Noah melangkah tegap masuk ke dalam rumah. Tapi baru saja hendak menuju tangga " Ekhm! Tumben cabe cabean itu gak ikut masuk?" Sindir Ghea dengan segelas air minum di tangannya. Noah memutar bola matanya jengkel dan terus melangkah menaiki tangga menuju kamarnya. Melihat tingkah Noah, Ghea mengulas senyum " Perlahan, kau akan mulai mencintaiku suamiku cayang." Gumamnya gemas Benar saja, di dalam kamar, Noah menatap foto ibunya. Ia merasa aneh dengan dirinya sendiri. Kenapa ia justru menyelamatkan Ghea berkali kali? Bukankah ia ingin Ghea menderita? " Maafkan aku ibu, aku belum bisa menjadi Noah yang membanggakan. Yang bisa membalaskan dendam ibu pada orang yang telah memisahkan kita. Tapi aku berjanji, aku akan berusaha membuatnya tersiksa. Bahkan dia akan berharap lebih baik mati dari pada berada di sisiku." Gumamnya seolah bicara pada foto itu. Tanpa Noah sadari, seseorang memperhatikannya dari balik pintu yang dibiarkan sedikit terbuka " Aku tidak akan membiarkanmu melakukan itu kak." Gumamnya yang tak lain adalah Bian. *** Hari demi hari berlalu. Tidak terasa sudah hampir 2 bulan Ghea menjadi istri Noah. Tapi semenjak malam itu, ia sangat jarang berjumpa dengan suaminya kecuali di kantor urusan pekerjaan. Noah lebih sering membawa Clara dan memperlakukan Ghea seperti pelayan. Tapi seperti hari hari sebelumnya, selalu ada Bian yang senantiasa membantu Ghea. Begitu pula sore itu... Bian sengaja menunggu Ghea di luar kantor untuk pulang bersama. Ia tidak pernah membiarkan Ghea pulang sendirian setelah kejadian tempo hari. Gheapun berlari senang ke luar dari kantor usai tugas tugasnya rampung. Ia menjadi lebih akrab dan dekat dengan Bian. " Sudah lama?" Tanya Ghea meraih helm dari tangan adik iparnya itu. " Lumayan, tadi sempat mutar mutar sebentar. Ayo pulang!" Ajak Bian hendak menyalakan mesin motornya. Mereka tidak tahu, Noah memperhatikan kedekatan mereka dari balik tirai ruangannya. Jari jarinya mengepal dan rahangnya mengeras. Merekapun melaju bersama menyusuri jalan pulang. Sementara Noah, ia berteriak memanggil nama Juan. " Ada apa tuan?" " Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku." Tekan Noah, terlihat jelas ia menahan emosi. " Apa itu tuan?" Tanya Juan patuh " Aku ingin motor yang dikendarai adikku mengalami kecelakaan. Buat dia bahkan tidak bisa menyetir selama beberapa hari!" Perintah Noah dengan tatapan tajam. Juan terperanjat mendengar perintah itu. " Kenapa? Kau mau menolak perintahku?" Tanya Noah menuding " Tidak tuan. Saya akan menjalankan sesuai perintah." Jawab Juan kemudian menunduk memberikan hormat dan bergegas beranjak ke luar. Pemuda itu menghela napas panjang, entah apa yang dipikirkan Noah, kenapa ia memberi perintah seperti itu. Beralih pada Bian dan Ghea " Mau mampir makan nasi goreng tidak?" Tanya Bian setengah berteriak. Karna angin saat mengendarai sepeda motor lumayan kencang dan mereka juga mengenakan helm " Boleh! Bagaimana kau bisa tahu aku menyukai nasi goreng?" Tanya Ghea senang " Aku hanya menebak." Senyum Bian kemudian meminggirkan motornya saat melihat lapak penjual nasi goreng. Mereka duduk di sana sembari memesan 2 porsi nasi goreng spesial. " Bian terima kasih ya. Kamu sudah sangat baik padaku." Ghea membuka suara. Agak risih sebenarnya karna beberapa gadis di sana tampak memperhatikan pemuda yang saat ini tengah duduk di hadapannya. Bagaimana tidak? Bian memiliki paras yang tak kalah menawan dengan kakaknya. " Apa kau menganggapku temanmu?" Tanya Bian membuat Ghea mengernyit " Tentu." " Lalu kenapa masih berterima kasih? Umurku mungkin tidak lama lagi. Apa salah jika aku ingin menjaga dan membahagiakan orang yang aku suka?" Senyumnya manis " Apa?" Ghea mengernyit " Ah tidak lupakan saja! Itu nasi goreng kita sudah datang. Aah aku sangat lapar." Celetuk Bian menyambut dua porsi nasi goreng yang dibawakan ke mejanya. Ghea tersenyum getir, ia mendengar dengan jelas kata kata Bian tadi. Hanya saja, Ghea tidak mau persahabatannya rusak hanya gara gara perasaan. Merekapun menyantap nasi goreng bersama. " Kau tunggulah di motor, biar aku membayar nasi goreng ini dulu!" Pinta Bian usai menghabiskan sepiring nasi goreng. Ghea menurut dan pergi ke tempat motor Bian diparkirkan tadi. Tapi... " Bian! Mana motormu?" Tanya Ghea melihat sekitar. Bian segera menghampiri, dan benar saja, motor kesayangannya sudah raib entah ke mana. Ia mencoba bertanya pada orang orang di sekitar, tapi tidak ada yang melihat. " Kau tunggu di sini! Aku akan mencari di sekitar. Siapa tahu ada yang melihat!" Pinta Bian mendudukkan Ghea di kursi. Pemuda itu kemudian beranjak, berjalan menyusuri lorong yang sudah gelap. Mencari jejak motor kesayangannya. Sebelum... Brug Sebuah hantaman tiba tiba mengenai leher belakangnya yang seketika membuat pemuda itu jatuh tersungkur. Ia menoleh menahan sakit dan mendapati dua orang bertopeng tampak bersiap memukul. Tapi... " Hentikan atau aku telfon polisi!!!" Teriak Ghea yang ternyata menyusul Bian. " Ghea pergi!!!" Teriak Bian mencoba kuat " Oh ada wonder woman di sini. Apa kau mau menggantikannya bersenang senang dengan kami?" Tanya para pria itu mencoba mendekati Ghea. " Menjauh atau aku telfon polisi!" Ancam Ghea merogoh ponselnya. " Coba saja kalau berani." Salah satu diantara mereka memegang lengan Ghea erat. " Lepaskan!" " Kalau kami tidak mau?" " Aku bilang lepaskan!" " Aarkkhh!!!" Ghea menginjak kaki pria itu dan segera menghampiri Bian. " Ayo Bian, kita lari!" Ajak Ghea. Mereka mengambil ancang ancang untuk kabur. Sebelum... " Ghea awas!" Bian tiba tiba memeluk Ghea dan... Dor Dor " Bian!!!" Teriak Ghea histeris " Kita kabur, sebelum bos besar tahu kalau kita membunuhnya. Ayo!" Ajak salah satu pria itu pada pria lainnya. Merekapun lari dan menghilang bersama gelap malam. Tapi, saat mereka merasa sudah lolos. Seseorang menghadang mereka dari balik gelap. " Ma-af kan kami, kami tidak bermaksud menembaknya." Celetuk mereka ketakutan " Siapa yang menyuruh kalian menembak? Aku hanya memerintahkan kalian untuk menghajarnya saja." Tekan sosok yang tak lain adalah Juan itu. " Ma-afkan kami tuan, kami tidak sengaja." " Berani sekali kalian menyentuh nona Ghea. Potong tangannya!" Perintah Juan pada seseorang di sisinya. " Apa?" Orang di sisinyapun ikut tercekat mendengar perintah mengerikan itu " AKU BILANG POTONG TANGANNYA ATAU AKU AKAN MEMOTONG TELINGAMU YANG TIDAK BERGUNA ITU!" Tekan Juan emosi. Orang di sampingnyapun langsung mematuhi perintah mengerikan itu. " Tidak boleh ada yang menyakiti nona Ghea." Gumam Juan dengan ekspresi datar. Sementara itu, " Bian!!! Bangun!!!" Teriak Ghea memeluk Bian di pangkuannya. Pemuda itu sama sekali bergeming. Sementara darah terus membanjir dari punggungnya. Tak ada siapapun di sekitar sana. Tempat itu benar benar sepi, entah bagaimana caranya Ghea menolong Bian. Jauh dalam tangisnya... " Nona, mari bawa tuan Bian ke mobil!" Seseorang tiba tiba memegang pundaknya hangat " Juan?" Ghea mengernyit setengah kaget. Bagaimana bisa, bodyguard pribadi Noah itu berada di sana. Tapi bukan itu yang terpenting sekarang, keselamatan Bian adalah yang utama. Merekapun segera membopong Bian menuju mobil Ferrari hitam yang terparkir tak jauh dari sana. Jam 22:31 mobil itu tiba di halaman sebuah rumah sakit ternama. Beberapa suster langsung membawa Bian ke UGD. Sementara Ghea masih gemetar duduk di ruang tunggu " Dia begini karna menyelamatkanku." Tangisnya sedih. " Itu bukan salah anda nona." Juan berusaha menghibur Mendengar itu, Ghea mengangkat wajah menatap Juan dengan tatapan tajam. " Kenapa kau bisa ada di sana?" Tanyanya membuat pemuda itu bungkam. " Darah siapa yang ada di kemejamu itu?" Tekan Ghea meruncing " Nona, saya hanya lewat di sana." " Jangan ajari aku siapa yang harus disalahkan atas kondisi Bian. Kalau terjadi hal apapun yang buruk padanya, aku tahu siapa yang harus membayar semua ini!" Ghea menatap Juan tajam kemudian memalingkan wajah. " Nona, saya hanya..." " Cukup! Tinggalkan aku sendiri!" Perintah Ghea dengan wajah memerah " Tapi nona, saya.." " Aku bilang cukup! Jangan bicara lagi! Pergi dari hadapanku sekarang juga!" Ghea tampak sangat emosi. Melihat itu, Juan mengalah. Ia menundukkan kepalanya penuh hormat kemudian beranjak Ghea menangis usai kepergian Juan. Bayangan ketulusan Bian terngiang ngiang di dalam ingatannya. Kalau sesuatu terjadi pada pemuda itu, rasanya Ghea tidak akan dapat memaafkan dirinya sendiri. " Kenapa kamu begitu tega Noah, aku seakan tidak mengenalmu lagi." Gumamnya *** Kejadian malam itu bagai pukulan bagi Ghea, berhari hari ia tidak masuk kerja demi merawat dan menunggui Bian di Rumah Sakit. Sayangnya, kondisi Bian semakin kritis. Itu karna penyakit yang juga ia derita selama 1 tahun terakhir. Satu minggu berlalu, dokter memutuskan Bian dipindahkan ke ruang medice pribadi keluarga Alexsander. Noah yang melihat perhatian Ghea untuk Bian justru semakin emosi. " Tunggu!" Noah mencekal lengan atas Ghea kasar saat gadis itu membawa kompres menuju ruang tempat Bian dirawat. Ghea hanya diam, bahkan enggan menatap Noah " Apa kamu pikir perusahaan saya adalah milikmu hanya karna kamu adalah istri saya? Seenaknya kamu tidak masuk ke kantor selama berhari hari dan tidak memberi surat izin pada saya?" Tekan pemuda itu habis kesabaran " Istri? Apa kau pernah menganggapku istrimu? Kalau tidak suka pecat saja aku!" Jawaban Ghea justru membuat jari jari Noah mengepal hingga buku bukunya memutih " Beraninya kamu!" " Kenapa tidak? Sudahlah, saya mau merawat Bian dulu." Ghea hendak beranjak. Tapi Noah lagi lagi menarik lengannya kuat " Siapa Bian hah? Kenapa kamu begitu perduli padanya? Saya ini suami kamu! Harusnya kamu lebih memperdulikan..." Noah tidak melanjutkan kata katanya " Memperdulikan siapa? Saat aku kesulitan, yang ada di sisiku Bian, dua kali aku hampir mati dan Bian selalu menolongku. Yang perlu kau ingat adalah... Bian itu adik kandungmu! Dan karna siapa dia jadi begini hah?" Ghea meradang " Apa maksud kamu?" Noah mengernyit " Sudahlah jangan pura pura tidak tahu. Kaulah yang menyebabkan Bian seperti ini. Juan ada di sana, dan aku yakin semuanya terjadi karna perintahmu. Heran deh, salah apa sih Bian sama kamu?" Ghea menghempas pegangan Noah kemudian beranjak pergi dengan langkah kesal. Meninggalkan Noah yang terdiam, urat lehernya menegang emosi. " Hei saya tidak pernah memerintahkan Juan untuk menembak Bian!!!" Teriak Noah. Ghea tidak perduli, ia menghilang di tikungan jalan. Gadis itu hendak melangkah menuju ruangan Bian, tapi setibanya di sana, ia melihat Juan menunggu di depan pintu. " Dia lagi." Celetuk Ghea memutar bola matanya kesal " Nona, saya ingin bicara." Ucap Juan hormat " Sebenarnya, saya tidak memerintahkan siapapun untuk menembak tuan Bian. Memang benar, tuan Noah memerintahkan saya untuk mengerjai tuan Bian, tapi dia tidak mungkin menyakiti tuan Bian." Tutur Juan dengan tatapan sendu " Minggir!" Ghea tidak perduli. Gadis itu sudah tidak percaya lagi pada Noah ataupun Juan. Ia melewati Juan dan melangkah masuk menemui Bian yang masih terpejam. " Aku tidak mengerti kenapa kakakmu begitu tega. Pertama, ia tidak mau menolongmu dengan mendonorkan sumsumnya. Lalu sekarang ia menyakitimu seperti ini. Cepat sembuh Bian, aku akan sangat merasa bersalah jika terjadi sesuatu padamu." Ghea mengompres Bian dengan telaten. Wajah Bian terlihat begitu tenang dan damai. " Aku berjanji, aku akan merawatmu sampai kau sadar dan kembali sehat." Janji Ghea memegang erat tangan Bian. Beberapa waktu, Ghea menunggui Bian di ruangan itu. Hingga... Klek Pintu dibuka, untuk pertama kalinya, Ghea melihat Noah menjenguk adiknya. " Saya ingin bicara dengannya!" Celetuk Noah dengan wajah datar " Aku tidak akan pergi. Kau bisa saja melenyapkannya." Tolak Ghea enggan " Ke luar atau saya benar benar akan menyakiti Nina, ibu tirimu itu!" Ancam Noah, wajahnya terlihat sangat serius " Kalau kau menyakiti Bian, aku akan pergi ke kantor polisi dan menjadi saksi tentang perbuatanmu pada Dewi!" Ghea berdiri balik mengancam " Kamu pikir saya takut? Ke luar!" Gheapun mengusap tangan Bian kemudian melangkah ke luar dengan perasaan was was. Bagaimanapun Noah adalah orang yang sangat berbahaya. Seperginya Ghea, Noah mendekati adiknya. " Bangun!" Perintah Noah pada Bian yang bergeming " Saya bilang bangun!" Tekan Noah sekali lagi. Bian tetap bergeming " Saya tahu kamu bisa mendengar saya! Berhenti berpura pura dan bukalah matamu! Kenapa kamu melakukan ini semua? Kamu sengaja kan? Kamu selalu ingin memiliki apa yang saya miliki termasuk istri saya. Ingat Bian, hidupmu adalah belas kasih dari saya. Jadi jangan bermain main!" Noah menatap Bian garang kemudian membalikkan badan dan beranjak pergi Saat ibu meninggal, Ayah membawa perempuan itu bersama anak hasil hubungan terlarang mereka Elbian Alexsander Bian selalu meminta apa yang ayah berikan padaku Semuanya Dia memiliki sifat yang menipu Terlihat ramah, sederhana dan mudah berteman Tapi... Ada satu sisinya yang tidak orang tahu Tidak ayah, ibunya atau siapapun Tapi aku tahu Aku sangat mengenalnya Dan setelah Noah ke luar dari ruangan, benar saja, kelopak mata Bian bergerak. Perlahan, mata ambernya mulai terbuka. Bibir pucatnya mengulas senyum tipis. Ia kemudian memejamkan mata lagi. " Ada hal yang ingin aku miliki darimu kak, Ghea Anastasha." Gumam hatinya Di luar, Noah berpapasan dengan Ghea yang masih menatapnya tajam " Kau tidak menyakitinya kan?" Tanya Ghea dengan sorot meruncing. Noah hanya menatap Ghea sekilas kemudian memalingkan wajah " Juan, minta Clara ke mari! Aku ingin membahas tentang pencarian sekertaris baru!" Celetuknya membuat bola mata Ghea membundar. " Hei apa maksudmu? Kau memecatku?" Tanya Ghea " Bukankah kamu sibuk mengurusi Bian, saya pikir kamu lebih mementingkan kesembuhan Bian dari pada urusan kantor bukan? Nikmati saja apa yang kamu inginkan." Tunjuk Noah kemudian beranjak pergi. Ghea menghentakkan kakinya kesal, ia mengikuti Noah hingga ke kamarnya " Kau memecatku?" Tanyanya " Ke luar dari kamar saya!" Pinta Noah menunjuk ke arah pintu " Tidak, jawab dulu! Aku dipecat?" Tanya Ghea dengan mata memerah " Kenapa? Apa pekerjaan itu penting untuk kamu?" Noah tersenyum sinis " Aku berusaha keras agar bisa masuk ke dalam perusahaanmu, aku berusaha mati matian untuk mendapatkan nilai bagus. Karna masalah sepele kau mau memecatku. Bukankah kau sendiri yang meminta orangmu untuk menembak Bian? Kenapa aku yang dipecat?" Teriak Ghea berkaca kaca " Kalau kamu tidak bisa percaya pada saya, kenapa kamu mengikuti saya sampai ke sini?" Ghea terdiam " Saya tidak menembak Bian, atau memerintahkan orang menembaknya. Apa kamu pikir saya segila itu hah?" Noah menautkan alis " Bukankah tadi kamu sendiri yang meminta untuk dipecat?" Imbuhnya " Ya kan aku cuma bercanda. Kalau bukan kau yang menembak Bian, lalu siapa lagi?" Ghea berkacak pinggang Noah mengulas senyum tipis " Tidak ada gunanya menjelaskan padamu. Sekarang ke luar dari kamar saya! Karna saya mau istirahat." Tunjuk Noah " Gak jawab dulu! Kau memecatku atau tidak?" Ghea justru semakin mendekat " Apa masalahnya?" " Ya, harga dirilah. Bagaimana bisa aku dipecat begitu saja." Ghea berkacak pinggang " Lalu kalau kamu menuduh saya sembarangan itu bukan berurusan dengan harga diri?" Tanya Noah menyerang balik " Juan berada di sana. Itu sudah bukti valid. Dia selalu menaati perintahmu!" Ghea mendekat. " Kamu tidak masuk berhari hari tanpa kabar juga sudah cukup membuatmu dipecat secara tidak hormat!" Tunjuk Noah " Tapi aku tidak mau berhenti bekerja." " Menjauh!" Noah geregetan melihat Ghea semakin mendekat " Cabut dulu keputusan pemecatan itu!" Ghea semakin mendekat hingga kaki Noah yang melangkah mundur kepentok kaki ranjang " Saya bossnya. Terserah saya mau memecat siapa saja!" Tekan Noah " Tapi aku istrimu kan. Aku bisa meminta keringan. Atau..." Ghea mendekati Noah dan hendak menyentuh lengannya " Menjauh!!" Teriak Noah histeris " Cabut gak?" Celetuk Ghea " Tidak!" " Cabut!" " Tidak akan!" Dan... Brak Ghea tersandung karpet lalu jatuh menubruk Noah tepat ke ranjang mereka. Bersamaan dengan itu... Klek Pintu terbuka " Clara!" Noah segera melepas pelukan Ghea yang tidak sengaja " Jadi kau memanggilku untuk ini? Keterlaluan kamu Noah!" Clara langsung berlari setelah membanting pintu. " Ini semua gara gara kamu!" Tunjuk Noah kemudian beranjak mengejar Clara Clara berladi menuju mobilnya. Sesampainya di dalam mobil, ia merogoh ponselnya dan langsung menghubungi seseorang " Kamu bilang setelah Bian ditembak, Noah akan semakin dekat denganku dan Ghea akan menjauhinya. Tapi kenapa mereka semakin dekat? Dasar pembohong!" Teriaknya marah " Clara, semua berjalan sesuai rencana. Ghea tidak mungkin semakin dekat dengannya!" Bantah suara di seberang. Suara yang tidak asing " Aku tidak mau tahu! Pikirkan cara lain agar aku bisa menjadi nyonya Alexsander! Apapun itu atau kerja sama kita batal! Semua usahamu juga akan sia sia!" Tekan Clara lalu mematikan ponselnya " Keterlaluan." Gumamnya menyeka air mata Tapi siapa sosok yang bekerja sama dengan Clara dibalik insiden tertembaknya Bian?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN