Dark Shadow

2548 Kata
" Selamat pagi! Mau sarapan? Aku sudah memasakkan ayam rica rica untukmu." Sambut Ghea saat Noah melangkah turun dari tangga bersama Clara yang tidak lepas menggandeng lengan suaminya. " Saya harus mengantar Clara pulang dan mungkin akan sarapan di sana." Celetuk Noah bahkan tidak menatap Ghea. Clara mengulas senyum melihat ekspresi sedih di wajah Ghea " Lagi pula Noah tidak suka makanan pedas. Sebaiknya kau makan yang banyak sendirian. Karna aku yakin hatimu butuh banyak asupan kan? Ayo sayang!" Clara mengajak Noah beranjak. Tapi... Ghea menahan lengan Noah, membuat gadis itu mengenyit " Aku akan menyiapkan bekal untukmu. Tunggu sebentar!" Senyum Ghea kemudian berlari ke arah dapur. Ia menyiapkan semuanya secepat mungkin. " Apa ini bekal untuk tuan Noah?" Tanya Farah mendekat. Ghea mengangguk cepat lalu bergegas membawa bekal yang sudah siap menemui Noah. Tapi sesampainya di sana, Noah sudah pergi bersama Clara. Ghea hanya menghela napas menatap bekal di tangannya " Sia sia." Gumamnya " Apa yang sia sia?" Tanya seseorang mengagetkan. " Kamu?" Ghea mengernyit tak suka. Juan tampak berdiri dengan senyum manis di hadapannya " Itu bekal untuk tuan kan? Apakah boleh saya membawanya? Dia tidak akan menolak pemberian dari saya." Tawar Juan tulus. Ghea berpikir sejenak " Jangan takut nona, saya tidak akan membuang bekal anda." Juan mengulas senyum " Aku ingin bertanya padamu. Kenapa kamu sangat setia pada Noah, bahkan kamu membantu semua hal buruk yang dia lakukan? Kenapa?" Tanya Ghea dengan wajah dingin. Mendengar pertanyaan itu, Juan menarik napas panjang " Tuan Noah adalah orang yang menyelamatkan saya nona. Dia membawa saya dari panti asuhan saat semua orang menjauhi saya. Dia menyekolahkan dan membiayai semua kebutuhan saya. Saya berhutang seluruh hidup padanya. Jangankan melakukan apa yang diperintahkan, saya bahkan rela mengorbankan nyawa demi tuan Noah." Jawabnya membuat Ghea mengernyit " Saya bukan siapa siapa tanpa tuan Noah." Imbuhnya Ghea menghela napas panjang. Ia merasa berdosa telah berprasangka buruk pada sosok di depannya ini. Wajar kalau Juan ingin membalas budi pada Noah, yang kurang ajar itu Noah justru memerintahkannya melakukan kejahatan " Bagaimana nona? Apakah saya boleh membawa bekal itu?" Tanya Juan sekali lagi " Baiklah, ini! Tapi jika dia menolak buang saja ya. Jangan kembalikan padaku, takutnya dia sudah kenyang di rumah Clara." Senyum Ghea getir " Baik nona." Juan mengambil bekal itu dari tangan Clara kemudian berbalik dan melangkah pergi. " Aku harus siap siap, hari ini tidak boleh terlambat masuk kantor." Ghea berlari ke kamarnya. Di luar sana, di dalam salah satu mobil koleksi Noah yang biasa dibawa Juan, pemuda itu menatap bekal yang dititipkan Ghea padanya. Senyum tipis mengulas di bibirnya " Bagaimana bisa tuan Noah mengabaikan gadis sebaik nona Ghea. Dia tentu tidak akan mau menerima bekal ini." Gumamnya kemudian menyalakan kemudi dan melaju pergi. Sesampainya di kantor, Juan melihat Noah ke luar dari mobilnya yang baru saja diparkir. " Selamat pagi tuan." Sapanya menunduk hormat menyambut kedatangan Noah lalu mengiringinya masuk ke dalam kantor menuju ruangan. " Apa semuanya baik baik saja Juan?" " Tentu tuan. Semua masalah sudah diselesaikan. Polisi yang sebelumnya datang dinyatakan meninggal karna kecelakaan mobil tunggal." Tutur Juan patuh. Noah memasuki ruangannya kemudian duduk santai di kursi kebesaran miliknya. " Oh iya tuan, saya membawa bekal titipan dari bibi Farah." Tutur Juan meletakkan bekal dari Ghea di meja Noah. " Tumben." Noah mengernyit " Bibi Farah terkadang memang suka terlalu berlebihan, tapi dia selalu memikirkan anda." Senyum Juan " Baiklah, kau boleh ke luar!" Perintah Noah. Juanpun menunduk hormat kemudian melangkah ke luar. Seperginya Juan, Noah membuka bekal di mejanya. Ia mengulas senyum singkat kemudian menyantap sandwich itu perlahan " Jadi kamu memang pantang menyerah Ghea, sampai sampai Juan bisa berbohong." Gumamnya menikmati. Beberapa menit kemudian... Di lantai bawah, di luar kantor, Ghea tampak baru turun dari taxi. Ia berlari masuk ke dalam kantor. Noah bisa melihatnya melalui CCTV ruangan pribadinya. Tanpa sadar, pemuda itu mengulas senyum. Apalagi saat... Brak Tanpa sengaja, Ghea menabrak seorang karyawan. Menyebabkan berkas berkas yang dibawa karyawan itu berhamburan ke sana ke mari. " Maaf maaf saya terburu buru." Ucap Ghea merasa bersalah. Apalagi saat tahu karyawan yang ia tabrak tidak lain adalah Maya, orang yang paling membencinya. Ghea membantu Maya merapikan berkas berkasnya. Anehnya, Maya justru tidak berkedip menatap Ghea. " Kau masih hidup?" Tanyanya membuat Ghea mengernyit " Maksudmu?" Tanya Ghea Maya langsung berdiri dan beranjak pergi tanpa mengatakan sepatah katapun. " Aneh." Decak Ghea mengangkat bahunya kemudian melenggang pergi. Noah yang memperhatikan mereka dari CCTV juga merasa aneh dengan tatapan dan tingkah Maya yang seperti ketakutan melihat Ghea. Maka iapun mengarahkan CCTV itu ke ruangan Maya. Wanita itu terlihat marah dan menggebrak meja kerjanya kesal. " Sial! Bagaimana bisa dia masih hidup? Apa kerja preman preman itu. Sudah bayar mahal malah begini hasilnya. Sia sia saja!" Gerutunya cukup terdengar di telinga Noah yang langsung menguar urat lehernya, jari jari Noah mengepal hingga buku bukunya memutih. Sorot matanya memancarkan kemarahan. " Juan!!!" Teriaknya kuat. " Juan!!!" Teriaknya berulang kali. Klek Pintu terbuka, Juan memang tidak pernah pergi jauh dari ruangannya tanpa pamit. " Iya tuan, anda memanggil saya?" Tanya Juan " Kemarilah! Aku punya beberapa tugas untukmu!" Panggil Noah melambaikan tangan. Juanpun mendekat dan mendengarkan apa yang diperintahkan Noah. Seperti terbiasa, Juan hanya menunduk hormat dan patuh pada perintah itu. Tanpa raut kaget ataupun ada penolakan. Entah apa yang diperintahkan Noah, Juan langsung beranjak meninggalkan ruangan dengan kunci mobil di tangannya. Seperginya Juan, Noah meraih telepon di mejanya lalu menghubungi seseorang " Ghea, kamu bisa ke ruangan saya?" Tanyanya yang ternyata menghubungi Ghea. " Baik tuan." Ucap Ghea kemudian mematikan telfonnya. Beberapa menit kemudian, Ghea mengetuk pintu. " Masuk!" Teriak Noah dari dalam ruangan. Dan ketika Ghea membuka pintu... Deg Ghea tercekat. Bagaimana tidak? Noah langsung memeluknya erat. Seolah pemuda itu begitu cemas dan takut kehilangan Ghea. " Bukankah sudah saya bilang, jangan pernah membuat masalah dengan karyawan manapun! Bagaimana kalau diantara mereka ada yang berniat jahat? Hah! Sampai kapan kamu tidak patuh dengan perintah saya? Bagaimana jika kejadian malam itu terulang lagi? Mungkin waktu itu kamu bisa selamat. Tapi bagaimana kalau saya tidak ada atau Bian tidak datang tepat waktu. Kamu pikir apa yang akan terjadi?" Tekan Noah dengan wajah memerah. Melihat itu, Ghea mengulas senyum " Kenapa tersenyum? Saya sedang marah dan kamu hanya tersenyum?" Noah meradang " Baik tuan, lain kali saya akan berhati hati." Ujarnya manis Noah mengusap rambutnya jengah. Itu sama seperti kebiasaannya waktu kecil. Waktu ia mencemaskan Ghea dulu. Ada bagian dari diri Noah yang belum berubah. Ghea semakin yakin, Noah tidak benar benar membencinya. " Baguslah! Saya berkata seperti ini karna saya tidak mau ada masalah lagi. Jangan salah paham!" Noah memalingkan wajahnya grogie. " Saya mengerti tuan. Apakah sekarang saya boleh kembali ke ruangan? Ada banyak jadwal anda yang harus saya atur." Raut gembira terlihat jelas dari wajah Ghea " Sana! Pergi saja!" Celetuk Noah cuek " Baik tuan." Ghea menunduk hormat kemudian beranjak pergi " s**t! Noah apa yang baru kamu lakukan? Dia bisa besar kepala. Sialan! Kenapa bisa lepas kendali begini." Noah mengacak ngacak rambutnya sendiri. Ia benar benar frustasi. Sementara Ghea, gadis itu melangkah girang menuju ruangannya. Tapi sesampainya di sana, senyumnya surut melihat Clara tampak menunggu dengan senyum sinis. " Aku ingin menanyakan jadwal Noah hari ini, apakah ada waktu luang? Soalnya aku mau mengajaknya ke villa pribadi keluargaku." Ujar Clara memanas manasi suasana " Ini kantor Clara, kau tidak harus membawa urusan pribadimu ke tempat ini." Ghea duduk di kursinya, mencoba tenang " Baiklah, beri tahu saja jadwal Noah padaku. Anggap saja ini bagian dari pekerjaanmu." Senyum Clara " Tunggu sebentar. Akan aku cek." Ghea menghela napas kemudian membaca jadwal yang belum terprint di komputernya. " Maaf Clara, hari ini jadwal tuan Noah sangat padat. Ada 6 meeting yang harus dihadiri. Dan semuanya bersama sekertarisnya, aku." Senyum Ghea penuh kemenangan. Clara mengerutkan dahi " Sini biar aku lihat!" Ia berdiri dan melihat komputer Ghea seolah tak percaya. Ekspresinya berubah kesal melihat apa yang Ghea sampaikan ternyata benar " Aku tidak akan berbohong Clara, aku tidak suka menipu siapapun." Sindir Ghea Clara menghentakkan kakinya kesal kemudian beranjak ke luar setelah membanting pintu. Ghea mengulas senyum Benar saja, hari itu mereka sibuk dengan meeting hingga larut malam. Seharian Ghea berada di sisi Noah, menemaninya rapat, menghadiri pertemua dan launching majalah bulanan perusahaan mereka. Hingga saat jam 18:00, Noah tampak melonggarkan dasi, menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan keringat di kening yang membuat boss muda itu terlihat semakin sexi. " Tuan, masih ada agenda lagi. Satu meeting penting di hotel Lavegas jam 19:30. Kita harus berangkat dari sekarang." Senyum Ghea memperhatikan suaminya yang tampak kelelahan. " Baiklah, ayo!" Ajak Noah Merekapun berangkat bersama menuju hotel yang disetujui untuk meeting. Butuh 1 jam untuk sampai ke sana, dan itu sangat menyita waktu. Apalagi, saat tiba di sana, clien mereka menelfon dan mengatakan akan terlambat karna pesawat delay. Mereka baru tiba di bandara transit dan masih menunggu jadwal pemberangkatan berikutnya. Kira kira 6 jam lagi mereka akan tiba dan hanya memiliki 30 menit untuk bertemu dengan Noah. Itu membuat Noah mau tidak mau harus menunggu di sana dan memesan kamar untuk istirahat. " Tuan, kata resepsionisnya hanya ada satu kamar. Bagaimana ini?" Tanya Ghea melapor. Noah memijit pelipisnya " Ambil saja! Saya sangat lelah dan butuh istirahat. Perusahaan Alfa's Company adalah perusahaan besar. Kita harus menunggu mereka." Celetuk Noah begitu saja. Dan inilah insiden 10 menit kemudian... " Kalau kamu mau tidur! Tidur saja di sofa! Jangan menyentuh tempat tidur saya!" Tekan Noah menunjuk wajah Ghea kemudian meraih handuk, hendak ke kamar mandi. Ghea hanya pasrah lalu duduk di sofa, padahal ia juga merasa sangat lelah dan pegal. Beberapa menit kemudian, Noah ke luar dari kamar mandi dengan rambut yang tampak basar. Terlihat begitu sexi dan elegan membuat Ghea tak berkedip menatapnya " Tutup itu mulut! Nanti ada kecoa masuk!" Noah mengibas wajah Ghea dengan handuk di tangannya " Mandi sana!" Tekan Noah melempar handuk ke pangkuan Ghea " Iya iya." Ghea melangkah malas menuju kamar mandi. Gadis itu melepaskan pakaiannya satu persatu, melilitkan handuk ke badannya lalu bersiap menyalakan shower. Sebelum... " Aaarrkkh!!!" Teriak Ghea histeris " Ada apa?" Tanya Noah dari luar " Tolong!!!" Teriak Ghea Mendengar teriakan sehisteris itu, Noah langsung berlari menuju kamar mandi. Dan... Brak Ia menabrak Ghea yang hendak berlari ke luar hingga tubuhnya jatuh menimpa tubuh Ghea. Sejenak, tatapan mereka beradu. Jantung Ghea berdebar kencang berada sedekat itu dengan Noah, merasakan hembusan napasnya. Hampir saja, Noah menyentuh bibirnya. Tapi, segera berdiri merapikan diri " Ada apa sih?" Tanyanya memalingkan wajah melihat Ghea yang hanya mengenakan handuk " Itu!" Tunjuk Ghea Noah memutar bola matanya melihat apa yang ditunjuk istrinya. " Kecoa? Kamu histeris seperti orang kebakaran hanya gara gara kecoa? Perfect!" Celetuk Noah kesal lalu melangkah ke luar kamar mandi dengan muka garang. Ghea tersenyum gemas melihat ekspresi Noah yang imut. Iapun mengikuti Noah ke luar kamar " Pakai bajumu! Nanti orang mengira ada apa apa diantara kita." Celetuk Noah " Tapi kamu suka kan?" Senyum Ghea duduk di sisi Noah. Membuat pemuda itu menatapnya intens " Kamu pikir ini lucu? Pakai pakaianmu dan jaga sikap!" " Kenapa? Kamu nafsu?" Senyum Ghea mencolek bahu Noah yang mulai mengambil napas berat " Ujian apalagi ini tuhan!" Celetuknya berdiri lalu duduk di sofa, menjauhi Ghea " Ujian cinta!" Teriak Ghea gemas dengan sikap Noah. " Bodoh amat." Celetuk Noah kemudian membaringkan tubuhnya di sofa dan memejamkan mata. Namun... " Aaawww!" Ghea kembali teriak " Ada apa? Apa ada sesuatu?" Tanya pemuda itu langsung terduduk. " Imutnyaaa!" Senyum Ghea mengedipkan mata kemudian mengambil baju dan beranjak menuju kamar mandi. Noah mengulas senyum menatap kepergian Ghea, sikap Ghea sebenarnya membuat Noah gemas. Ia hanya harus jaga image saja. Gengsi menunjukkan senyum di depan Ghea. Beberapa waktu kemudian, gadis itu ke luar dari kamar mandi. Ia melihat Noah sudah terlentang di sofa bersandar pada lengannya. Dilihat dari sisi manapun, Noah terlihat menawan. Tak heran banyak yang menyukainya. Ghea menarik napas lega, setidaknya Noah tumbuh dewasa dengan baik. Bahkan jadi sorotan utama di dunia bisnis. Perlahan, Ghea melangkah ke sisinya, duduk di ruang kosong karna sofa itu memang berukuran besar. Mata Noah yang terpejam terlihat memikat, bibirnya yang diam begitu menggoda, jambang tipis yang tumbuh di area dagu dan menghiasi rahangnya membuat Noah terlihat sangat berwibawa. Ghea membelai pelan rambut coklat Noah " Dulu kau bilang, kalau kau sudah dewasa kau akan menjadikan aku istrimu. Sekarang keinginan itu menjadi kenyataan. Aku menjadi istrimu dalam status tapi tidak dalam arti sebenarnya. Sampai kapan kau akan membenciku, Alex." Air mata Ghea tanpa sadar meluncur. Ia mendekati wajah Noah, hendak mengecup keningnya. Tapi... Deg Ghea mengerjab beberapa kali saat tiba tiba mata Noah terbuka, mereka jadi saling pandang, begitu dekat. Bahkan napas mereka saling bertukar. Ghea hendak beranjak karna grogie. Namun Noah menahan pergelangan tangannya kemudian menarik Ghea hingga terjatuh di atasnya. Bola mata gadis itu membundar saat tiba tiba Noah mengecup bibirnya pelan. Rasanya, seluruh darah Ghea mendidih dibuatnya. Ghea langsung melepas ciuman itu canggung dan segera berlari ke ranjang, bergulung di dalam selimutnya. Noah mengulas senyum melihat sikap Ghea yang malu malu tapi mau. " Belum pernah dicium ya? Kasihan sekali." Celetuk Noah kemudian kembali memejamkan mata " Dasar CEO m***m! Celetuk Ghea jelas dengan suara gemetar. Gengsi dong ketahuan kalau seumur hidup ia belum pernah ciuman. Paling banter nyiumin poster Noah yang dipajang di kamarnya. Eh sekarang malah keturutan dicium orang aslinya. Wajah Ghea jadi berubah semerah kepiting rebus. Beralih ke lain tempat... Maya tampak menyetir mobilnya dengan wajah kesal, sejak melihat Ghea tadi di kantor emosinya menjadi tidak stabil. Berkali kali ia memukul bangku stir dan mengumpat. Tak lama kemudian, ia sampai ke rumah. " Loh kenapa banyak orang?" Gumamnya panik. Bagaimana tidak, rumahnya dipenuhi dengan para tetangga yang tampak membawa ember berisi air. Maya segera turun dari mobil. " Sabar ya nak." Hibur seorang tetangga saat Maya melihat rumahnya sudah rata dengan tanah dan hanya tersisa puing puing bekas terbakar. Habislah sudah semua uang dan simpanan yang ia sembunyikan di bawah tempat tidur. " Di mana Jenny?" Tanya Maya saat menyadari ia tak melihat adik perempuannya di sana. Semua wajah tertunduk, tak ada yang menjawab pertanyaan wanita itu. " Di mana adikku?" Tanya Maya makin panik " Dia berada di rumah sakit. Kondisinya kritis saat kami menemukannya di belakang rumahmu tadi. Sepertinya, ada yang melecehkan adikmu. Sebaiknya kamu melapor polisi agar pelakunya segera di tangkap." Tutur seorang warga Maya langsung terjatuh di atas lututnya dan menangis sesak. Entah siapa yang tega melakukan semua ini pada keluarganya. Wanita itu langsung meraih kembali kunci mobil dan berlari menuju mobilnya. Ia harus menemui adiknya. Tapi sayang, sesampainya di rumah sakit, dokter menyatakan adik Maya tidak tertolong. Karna selain menjadi korban pelecehan, ternyata adiknya mengidap penyakit kelamin yang cukup kronis. Itu karena kebiasaannya menjual diri di tempat hiburan selama ini. Hancurlah hidup Maya saat itu. Ia merasa tidak memiliki apapun lagi. Apakah ini karma perbuatannya pada Ghea tempo hari? Dibalik tembok rumah sakit, Juan tampak memperhatikan Maya yang menangis sesak. Ia kemudian beranjak pergi sembari menghubungi seseorang yang tentu saja tidak lain dan tidak bukan adalah tuan besarnya, Noah Alexsander. " Semuanya sudah beres tuan, saya juga sudah menghubungi beberapa media untuk meliput kematian adik Maya, besok beritanya akan tersebar dan nama baik wanita itu pasti akan hancur." Senyum Juan Di sana... Noah mengulas senyum puas dengan kinerja orang kepercayaannya itu " Bagus! Pekerjaanmu tidak pernah mengecewakan." Senyum Noah menutup ponselnya " Apanya yang tidak mengecewakan?" Tanya Ghea yang tiba tiba duduk di dekatnya menguping " Bukan urusan kamu!" Jawab Noah menyembunyikan ponselnya di dalam saku kemeja " Kau tidak membunuh lagi kan? Apa itu Juan? Apa kau melakukan hal aneh lagi?" Tanya Ghea curiga. Noah justru merapikan kembali posisinya dan tiduran bersandar di tangan sofa. " Hei!" Ghea mengembungkan pipinya kesal. Pemuda itu sama sekali tidak perduli. Karna siapapun yang menyentuh milikku Harus menerima balasan dua kali lipat
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN