Hurt

2687 Kata
" Pagi!" Ujar Ghea pagi itu dengan celemek yang masih menempel di tubuhnya, wajahnya terlihat cantik dengan rambut yang dicepol asal, senyum yang manis membuat Noah memalingkan wajah. Pemuda itu sudah rapi dengan style kerja dan tas di tangan. Terlihat seperti bangsawan. Baru saja Noah turun dari tangga dan Ghea langsung menyambutnya " Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu. Aku memasaknya sendiri. Sebaiknya sarapan dulu sebelum berangkat yuk!" Ajaknya benar benar manis. " Apa kamu tidak bersiap siap untuk bekerja? Jangan membuang buang waktu!" Tolak Noah hendak beranjak " Tunggu!" Ghea menahan tangannya, membuat Noah mengernyit menghempas genggamannya " Ada apa lagi?" " Cicipi saja sedikit. Yuk!" Ajak Ghea pantang menyerah. Sepertinya, ia mendalami perannya sebagai istri " Saya buru buru!" Tolak Noah memalingkan wajah lalu beranjak begitu saja meninggalkan Ghea yang menatapnya kecewa " Sabar Ghea, semangat! Kamu tidak boleh menyerah." Gumamnya menyemangati diri sendiri. Juan yang melihat usaha Ghea dari pagi menghela napas panjang. " Kasihan juga." Gumamnya Noah memasuki mobil kemudian menatap ke arah rumah. Dari wajahnya terlihat gusar, mungkin ia terpikirkan soal perasaan Ghea. Bukannya tidak tahu, Noah sadar Ghea bangun sejak jam 3 pagi tadi dan meminta pelayan membantunya memasak untuk Noah. Pemuda itu tahu, Ghea pasti kecewa. Tapi ia berusaha tidak perduli Noah menyalakan mesin mobilnya. " Tunggu!!!" Teriak Ghea berlari ke luar pintu " Apa lagi ini?" Decak Noah jengkel. Gadis itu menggedor jendela mobil. " Apa?" Tanya Noah membukanya " Ini! Bawa ini! Ini bekal sarapanmu. Aku tidak mau suamiku sakit karena terlambat makan." Senyum Ghea kemudian meletakkan kotak makanan di sisi Noah " Kamu kira saya anak kecil?" Alis Noah menyatu " Gak kok. Kamu bukan anak kecil, tapi mirip hahaha. Bye suamiku!! Sampai ketemu di kantor ya." Ghea memainkan mata lalu berlari pergi. Takut Noah menolak makanannya. Pemuda itu hanya bisa menggelengkan kepala dan melaju pergi dengan perasaan kesal Sementara Ghea... Gadis itu menarik napas panjang sesampainya di rumah. Ia memijit pundaknya yang terasa nyilu. Bagaimanapun, sakit di tubuhnya belum hilang. " Nona." Sapa Juan mendekati Ghea mengernyit. Dari awal, ia memang kurang begitu suka pada pelayan yang super patuh pada semua perbuatan Noah ini. " Apa?" Tanyanya ketus " Ini! Bersihkan wajah anda dengan sapu tangan ini. Anda pasti sangat lelah. Tolong maafkan sikap tuan Noah." Senyum Juan menyodorkan sapu tangan yang justru membuat alis Ghea berkedut " Kenapa kau yang meminta maaf? Lagi pula apa urusanmu? Urus saja urusanmu sendiri!" Celetuk Ghea kemudian beranjak menaiki tangga tanpa memperdulikan sapu tangan dari Juan. Pemuda itu menatap Ghea yang bersikap dingin padanya, ia mengulas senyum, meletakkan sapu tangan itu kembali ke saku. " Cantik." Gumamnya *** 30 menit kemudian, mobil mewah Noah tiba di kantornya. Seperti biasa, Noah selalu disambut hangat oleh semua karyawan terutama karyawan wanita. Dan khusus pagi itu, Maya mendekatinya dengan bekal sandwich di tangan. Ia menghadap Noah dengan wajah berseri seri. Tentu saja, mungkin ia merasa paling bahagia setelah apa yang dilakukannya pada Ghea semalam. " Boss, saya menyiapkan sandwich ini untuk sarapan anda. Semoga anda berkenan." Ucapnya menyodorkan kotak makanan ke hadapan Noah " Maaf ya Maya, saya sudah membawa bekal sendiri." Noah mengulas senyum menunjukkan bekal yang disiapkan Ghea tadi. Maya menatap bekal itu kecewa, para karyawan lain saling berbisik. Belum pernah Noah membawa bekal sendiri. Siapa yang menyiapkan bekal itu? Bukankah Noah hanya tinggal dengan adiknya saja? " Oh ya Maya, tolong carikan sekertaris pengganti untukku. Karna sepertinya nona Ghea izin cuti beberapa hari." Ucap Noah sebelum melenggang pergi menuju ruangannya. Mendengar itu, Maya mengulas senyum puas. " Pasti dia sudah mati." Gumamnya senang. Sesampainya di ruangan... " Siapa yang menyiapkan bekal? Istrimu?" Pertanyaan Clara langsung menyambut Noah yang baru saja tiba. Gadis cantik itu tampak duduk di kursinya dengan tatapan mengintimidasi " Jangan mulai pertengkaran Clara, aku sangat lelah." Tutur Noah mendekat. Clara berdiri dari duduknya, mengambil bekal dari tangan Noah " Wah, nasi goreng seafood. Baunya enak sekali, seperti bau tempat sampah. Aku yakin kau tidak akan memakan makanan dari tempat sampah kan?" Senyum Clara kemudian membawa bekal itu menuju tempat sampah. Noah ingin mencegahnya, tapi ia tak berdaya. Ia tidak mau Clara semakin marah atau curiga. Gadis itu membuang makanan buatan Ghea ke tempat sampah " Selesai! Aku membelikanmu salad tadi. Lebih sehat dan baik untuk kesehatan. Selamat menikmati sayang." Ujarnya memainkan mata kemudian melenggang ke luar dari ruangan Noah dengan perasaan puas. Pemuda itu menatap bekal yang disiapkan Clara di mejanya kemudian menarik napas panjang. Ia ingat sesuatu saat masih kecil dulu. " Kau menyukai nasi goreng seafood?" Tanya Ghea kecil menatap bekal sekolah Noah " Iya, masakan ibuku sangat lezat. Kau harus mencobanya." Noah menyuapkan makanan itu ke mulut mungil Ghea " Hmm enak sekali! Kelak kalau sudah besar aku akan membuatkanmu bekal seperti ini." Ujar Ghea berbinar binar Tanpa sadar, bola mata Noah memerah mengingat kenangan itu. Bagaimana bisa Ghea masih mengingat makanan kesukaannya. Seandainya Ghea tidak menjadi penyebab kematian ibunya, Noah mungkin tidak semenderita ini. Gara gara ibunya meninggal, Noah harus menjalani penderitaan panjang bersama ibu tirinya. Semua ini karna Ghea. Jari jari Noah mengepal erat " Aku tidak boleh mengasihinya. Dia harus menderita sama sepertiku." Gumamnya kemudian meraih gagang telfon dan menghubungi seseorang " Kau sudah merindukanku?" Tanya suara di seberang yang tak lain adalah Clara " Nanti malam pulanglah ke rumah bersamaku! Aku ingin mengajakmu makan malam bersama." Ajak Noah dengan sorot menajam " I see, sampai jumpa nanti sayang." Senyum Clara mengerti maksud Noah. Telfonpun di tutup dan gadis itu menghela napas panjang " Menarik." Ucapnya tak sabar. *** Kediaman Alexsander Ghea melangkah pelan menyusuri sebuah ruangan. Mengikuti beberapa perawat yang mengantarkan Bian tadi. Pemuda itu baru saja menjalankan operasi pasca menyelamatkan Ghea semalam. Dan demi keamanan dari media, dokter keluarga Alexsander memindahkannya ke klinik pribadi di rumah mereka agar bisa dirawat lebih tenang dan intensif. " Boleh saya masuk?" Tanya Ghea pada perawat yang berjaga di depan pintu " Maaf nona, tuan Bian sedang istirahat. Dia belum siuman, jadi sebaiknya nanti saja." Tolak perawat itu ramah " Saya hanya ingin melihatnya sebentar saja." Pinta Ghea memelas. Perawat itu berpikir sejenak " Please! Saya tidak akan mengganggunya." Pinta Ghea merajuk " Baiklah nona, silahkan. Saya akan berjaga di sini. Jika ada apa apa anda bisa memanggil saya." Senyumnya mengizinkan. Ghea berbinar senang kemudian masuk ke dalam ruangan yang sarat dengan aroma obat obatan. Ghea menatap seonggok tubuh yang tampak terbaring lemah dengan berbagai alat penyambung nyawa. Sosok yang sejak awal bertemu selalu membantunya, Gheapun melangkah mendekatinya " Bian, aku tidak tahu harus mengatakan apa padamu. Kau satu satunya orang yang baik padaku di rumah ini. Rasanya berterima kasih saja tidak cukup. Aku merasa malu sekaligus canggung, begitu lemahnya aku di hadapanmu. Berkali kali membutuhkan bantuan darimu. Bangunlah Bian, cepatlah sembuh. Aku tidak akan memaafkan diriku jika terjadi sesuatu padamu. Semoga setelah ini hubungan kita semakin baik." Senyum Ghea memegang tangan dingin Bian yang kelu. " Cepat sembuh ya." Gadis itu mengusap tangan Bian lembut kemudian menghela napas panjang dan hendak berbalik ke luar. Sebelum... " Ghea." Ghea tercekat, matanya mengerjab beberapa kali berusaha menyadarkan diri. Dan benar saja, perlahan kelopak mata Bian bergerak, pemuda itu membuka mata. " Bian, kau sadar? Suster!!!" Teriak Ghea senang. Ia langsung berlari ke luar dan mengatakan perkembangan Bian barusan. Perawat dan dokter yang ada di rumah itu langsung memeriksa Bian. Syukurlah, Bian benar benar sadar dari komanya. Ia bahkan tersenyum pucat ke arah Ghea yang hampir menangis saking leganya. Senyumnya seolah mengatakan " Aku baik baik saja, Ghea." Tapi... Kebahagiaan Ghea tidak berlangsung lama. Karna, dokter pribadi keluarga Alexsander mengajaknya bicara serius di luar beberapa menit setelah itu. " Ada apa dokter?" Tanya Ghea dengan wajah berbinar " Nona Ghea, apakah anda tahu kalau tuan Bian menderita Leukimia?" Deg Pertanyaan dokter membuat senyum di bibir Ghea surut. " Kanker darah?" Tanyanya gemetar " Iya, insiden ini berakibat buruk pada kondisinya. Kanker yang ia derita naik dari stadium 1 ke stadium 2. Tuan Bian harus menjalani terapi rutin. Tapi selama satu tahun ini, sepertinya tuan Noah tidak begitu memperhatikannya. Jika tidak, tuan Bian akan membutuhkan donor sumsum tulang belakang untuk proses kesembuhannya." Tutur sang dokter yang berhasil membuat Ghea berkaca kaca " Apakah Noah tahu tentang penyakit Bian?" " Tentu saja, hanya sumsum tuan Noah yang cocok. Tapi saya tidak mengerti kenapa tuan Noah belum merencakan operasi untuk adiknya. Saya harap anda bisa membicarakan ini dengan suami anda. Kalau tidak semuanya akan berakibat fatal. Bisa saja tuan Bian terlambat diselamatkan." Dokter itu menundukkan wajah penuh penyesalan. Ghea terdiam, ia bingung harus mengatakan apa. Bagaimana bisa Noah bersikap seacuh itu pada adiknya sendiri? Apa yang terjadi pada Noah kecilnya yang dulu begitu baik dan penyayang. Apakah semua ini gara gara Ghea yang menyebabkan ibunya meninggal? Tanpa sadar, air mata Ghea menetes turun " Apa saya bisa melihat Bian?" Tanyanya getir " Tentu nona, tapi pastikan dia beristirahat setelah ini." Ghea mengangguk sedih. Ia kembali masuk ke dalam ruangan, mendapati Bian yang mengulas senyum padanya. Ghea duduk di sisi Bian, tapi gadis itu sama sekali tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Air matanya langsung mengalir turun. " Kenapa? Dokter mengatakan sesuatu? Apakah tentang penyakitku?" Pertanyaan Bian justru membuat Ghea semakin sedih " Semua ini adalah salahku." Isak Ghea dengan suara gemetar " Aku adalah penyebab Noah menjadi sekeji ini. Mungkin karna diriku, dia tidak mau mendonorkan sumsumnya padamu. Maafkan aku Bian, aku sudah menyakitimu bahkan sebelum aku mengenalmu." Ghea memegang tangan Bian kemudian menangis sesak " Ghea sudahlah." " Maafkan aku." Isak Ghea " Bagaimana bisa ini salahmu? Aku adalah putra dari wanita yang merusak kehidupannya. Kelahiranku membuat posisinya selalu dinomor duakan. Dia tidak membenciku karnamu. Dia sangat menyayangiku, aku tahu itu." Tutur pemuda itu begitu tulus " Apa kau tidak merasa sedih akan perlakuannya? Dia bisa saja menolongmu jika dia mau." Tanya Ghea menatap Bian yang menarik napas tenang " Tidak, aku cukup merasa senang karna dia menjagaku sampai sekarang. Jika dia mau dia bisa mengirimku ke panti asuhan atau melenyapkan diriku saat ibu dan ayah meninggal. Tapi lihat, dia justru merawatku. Ghea, pasti suatu saat nanti kakak bisa melupakan semuanya. Dendamnya, amarahnya, semua kebiasaan buruknya. Semua hal memiliki akhir bukan." Tutur pemuda itu tanpa beban sedikitpun di wajahnya. Ghea menunduk sedih " Tersenyumlah. Aku suka melihat senyummu." Bian mengangkat dagu Ghea agar menatapnya. Entah kenapa? Hati Ghea begitu tenang saat berada di sisi Bian. Kenapa Bian bisa memiliki hati sebaik ini? Sedangkan perlakuan Noah kepadanya tidak sebaik itu. " Terima kasih." Senyum Ghea berat. Bianpun mengangguk senang " Aku akan membuatkanmu bubur. Apa ada yang terasa sakit?" Tanya Ghea khawatir " Bagaimana aku bisa merasakan sakit? Aku dirawat dengan baik." Jawab Bian manis. Ghea mengulas senyum kemudian berdiri dari duduknya. " Aku akan membuatkan bubur dan meminta pelayan membawakannya untukmu." Ujarnya lalu beranjak meninggalkan Bian yang tersenyum tenang. Tapi... Seperginya Ghea, senyum di wajah Bian surut. Tatapannya menajam dan jari jarinya mengepal menyiratkan emosi. Seakan ia menyembunyikan sesuatu. Jam menunjuk pada angka 17:51 saat Ghea selesai mandi dan berpakaian secantik mungkin. Ia menunggu kedatangan Noah sembari membantu para pelayan menyiapkan makanan. " Anda begitu cantik nona, tuan Noah tidak salah memilih istri." Puji seorang pelayan wanita berusia 50 tahunan di sisinya " Terima kasih bibi." Senyum Ghea tersipu " Nama saya Farah. Saya melayani keluarga ini sudah 30 tahun lamanya. Saya sangat bahagia tuan Noah memilih wanita yang baik dan anggun sebagai istrinya." Ujar pelayan itu senang " Berarti anda tahu banyak kebiasaan Noah?" Tanya Ghea penasaran " Tentu saja, lain kali akan saya ceritakan jika kita memiliki waktu luang." Jawab bi Sarah Ghea tersenyum senang. " Ayo kita bawa makanan makanan ini ke meja makan!" Ajak Ghea membawa semangkok sup di tangannya. Mereka menuju meja makan. Beberapa saat kemudian, suara mobil Noah terdengar. " Saya akan menyambutnya dulu." Ucap Ghea berlari ke arah pintu masuk. Benar saja, Noah tampak melangkah dari pintu dan tertegun menatap Ghea. Bagaimana tidak, Ghea terlihat sangat anggun dengan dress peach selutut dan rambut panjang yang dikepang ke samping dengan hiasan hiasan kecil di rambutnya. Benar benar cantik. " Kenapa menatapku begitu? Aku cantik ya?" Senyum Ghea lebar. Sebelum... Seorang gadis melangkah masuk menggandeng Noah. Seketika senyum di wajah Ghea surut " Clara? Kenapa dia kemari?" Tanya Ghea kecewa " Apa aku tidak boleh ke rumah kekasihku?" Tanya Clara dengan dagu terangkat. Benar benar tidak tahu diri " Noah, aku sudah menyiapkan makanan untukmu. Dan kau membawa kekasihmu ke sini? Apa tidak bisa sedikit saja kau menghargai perasaanku?" Tanya Ghea berkaca kaca. Noah memalingkan wajahnya " Baguslah. Saya dan Clara memang lapar. Siapkan semuanya! Saya ganti baju dulu." Celetuknya tak berperasaan lalu melangkah melewati Ghea dan membawa Clara bersamanya ke kamar. Ghea hampir saja meneteskan air mata, hanya saja ia meyakinkan dirinya supaya kuat. Farah yang melihat semua itu hanya bisa menarik napas panjang, merasa kasihan pada Ghea yang dianggap seperti angin oleh suaminya sendiri. " Nona, anda istirahat saja. Biar saya yang menyiapkan semuanya." Ujarnya begitu ramah menghampiri Ghea " Tidak bi, aku ingin tahu seberapa jauh dia bisa menyakitiku. Terima kasih." Ghea berusaha tersenyum, walaupun. Terlihat jelas ia berkaca kaca. Beberapa menit kemudian, Noah turun dari tangga dengan pakaian casual dan duduk di meja makan. Diikuti Clara yang duduk di meja tak jauh darinya. Ghea menyiapkan semua makanan lalu hendak beranjak pergi " Kau mau ke mana? Bukankah sebaiknya kita makan sama sama?" Tanya Clara menghentikan langkah Ghea yang berbalik menatapnya dengan senyum kecut " Oh tidak terima kasih. Aku tidak mau mengganggumu dan Noah. Kasihan kan, kau sudah repot repot membuang harga dirimu datang ke rumah suami orang kalau aku tidak membiarkan kalian berdua?" Ujar Ghea terdengar pedas. Clara memerah marah mendengar ucapan Ghea " Berani sekali kau berkata begitu? Noah dan aku saling mencintai. Apa kau sangat menderita hingga tidak bisa melihat kami berdua?" Tanya Clara memerah " Duduklah Ghea!" Pinta Noah dengan tatapan tajam " Apa?" Ghea tak habis pikir " Duduk! Jika Clara meminta kamu duduk, maka kamu harus duduk dan makan bersama kami." Celetuk Noah gamblang " Oke." Ghea berusaha menahan perasaannya dan duduk di sana. Clara mengambilkan makanan untuk Noah, bahkan menyuapinya dengan mesra. Tentu saja, ia ingin Ghea menangis karna sakit hati. Tapi, bukannya terlihat sedih, Ghea justru makan dengan lahap. Dan itu membuat hati Clara semakin panas. Sementara Noah, ia cukup heran karna Ghea sama sekali tidak terlihat emosi. Benarkah Ghea tidak emosi? Usai makan bersama, Clara berdiri dari duduknya dan menguap ngantuk " Noah, apa malam ini aku boleh tidur di kamarmu?" Tanyanya memeluk lengan Noah mesra. Sementara Ghea membantu para pelayan membereskan semua sisa makanan " Tentu saja, aku memang sangat merindukanmu." Jawab Noah yang sebenarnya memang sengaja ingin melihat ekspresi sedih dari wajah istrinya. Anehnya, Ghea sama sekali tidak menggubris " Aku mandi dulu ya sayang. See you di kamar!" Clara mengecup pipi Noah sekilas lalu berlari riang menuju kamar Noah. Noah menatap Ghea. Kenapa Ghea sama sekali tidak menunjukkan emosinya? " Tunggu!" Ujarnya menarik lengan Ghea saat hendak beranjak pergi " Ada apa?" Tanya Ghea dengan wajah menantang " Apa kamu sama sekali tidak emosi melihat saya bersama Clara?" Pertanyaan Noah membuat Ghea mengulas senyum " Kenapa aku harus emosi. Dia tidak sebanding denganku!" Jawabnya mengangkat sebelah alis " Apa maksudmu?" Pemuda itu terlihat emosi. " Dia hanya kekasih pria yang sudah beristri, aku justru kasihan karna dia sama sekali tidak mempunyai harga diri. Sementara aku, walaupun TERPAKSA tapi aku adalah istri sahmu. Bukankah aku dan dia sangat tidak sebanding? Jadi kenapa aku harus emosi?" Tutur Ghea penuh penekanan " Beraninya kamu!" Noah hendak melayangkan tangannya. Namun... Seseorang menahan pergelangannya sebelum menyentuh Ghea " Sudah kak cukup!" Ucapnya yang tak lain adalah Bian. " Jangan mencampuri urusanku! Sebaiknya kamu istirahat dan pulihkan diri!" Tekan Noah menghempas tangan Bian yang menarik napas panjang dengan wajah pucat " Aku bosan di kamar. Apa kau mau menemaniku bermain catur?" Senyum pemuda itu kemudian " Persetan!" Noah membalikkan tubuhnya lalu beranjak pergi menyusul Clara ke kamar. Seperginya Noah, " Kau baik baik saja?" Tanya Bian menyentuh dagu Ghea yang tertunduk. Gadis itu meneteskan air mata, Ghea kemudian menangis sedih. Tentu saja ia sangat sedih dengan perlakuan Noah padanya. " Kemarilah!" Bian menarik Ghea ke dalam pelukannya Bagaimana hatiku tidak sakit? Tentu saja aku merasa sedih Tidak ada istri yang sanggup suaminya bersama wanita lain Tapi... Harga diriku menolak untuk menangis Karena air mata, adalah sisi terlemah wanita Dan aku tidak ingin ia melihat itu
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN