" Apa kau marah?" Tanya Ghea setibanya di kamar Noah. Pemuda itu mengulas senyum kemudian menggeleng pelan, mendekati Ghea dan mengusap pipinya hangat. " Bagaimana bisa saya marah padamu. Justru saya sangat merindukanmu." Bisiknya mendekati Ghea dan mendorong tubuh Ghea melangkah mundur. Ghea memejamkan mata saat Noah mulai mencium pipinya, lehernya dan... " Noah." Ghea memalingkan wajah. Ia berusaha menghindar " A-aku sedang tidak enak badan." Imbuhnya dengan suara gemetar. Noah mengernyit, ia mengulas senyum kemudian kembali mendekati Ghea dan memegang bahunya hangat " Kenapa? Apa kamu tidak merindukan saya?" Tanyanya " Tentu aku merindukanmu." Jawab Ghea terlihat gusar. Ia tahu dengan jelas apa yang sebenarnya diinginkan Noah darinya. Terlebih memang sudah lama mereka tidak berhubu

