Bab 1. Bertemu Kembali
“Kak Raka ….” Aruna berusaha mendorong tubuh Raka agar menjauh darinya.
“Kenapa? Bukankah ini yang kamu inginkan, hmm….” Dengan sengaja Raka mengecup pundak Aruna yang masih tertutup dengan baju.
Pria itu benar-benar gila malam ini, padahal niat Aruna hanya ingin mengantar Raka ke apartemen. Tak disangka ia harus terjebak dan dipaksa melayani nafsu b***t dari seorang Raka.
“A-aku mau per—“ Perkataan Aruna terpotong saat melihat sebuah tangan menyusup ke dalam dress yang ia pakai.
Aruna memejamkan mata saat merasakan sentuhan demi sentuhan yang dilakukan Raka. Keringat dingin tak henti-hentinya mengalir dari pelipisnya. Ia ingin menghentikan semua ini, tapi entah kenapa mulutnya tercekat dengan semua yang dilakukan Raka. Aruna terbuai dengan sentuhan Raka.
“Ini kan yang kamu ingin,” lirih Raka, sedikit lagi ia hampir menyentuh bagian sensitif milik Aruna.
Aruna yang tau ini bahaya untuk mereka berdua, akhirnya sekuat tenaga melawan Raka. Kejadian tujuh tahun yang lalu terlintas di benaknya. Di mana Raka memaksa Aruna melakukan hubungan intim dengan embel-embel pembuktian cinta. Aruna yang waktu itu masih polos terbuai dengan bujuk rayu dari seorang Raka.
Ia dan Raka memang pernah berpacaran, dulu. Namun, semuanya selesai saat Raka pergi memilih perempuan lain dibandingkan dirinya yang sedang hamil. Dengan berat hati Aruna menggugurkan kandunganya. Tapi entah kenapa ia tak bisa membenci Raka, Aruna masih mencintai Raka sampai detik ini.
“Ka—kak!” teriak Aruna, berhasil menjauh dari Raka.
Raka menyeringai melihat respon Aruna, Raka tau Aruna sangat licik. Bahkan dulu, Aruna meminta Hana untuk menjodohkannya dengan Raka. Sedangkan Raka pada saat itu sangat menyukai Hana. Ia menerima Aruna menjadi kekasihnya, gara-gara Hana yang terus menerus memaksa Raka untuk bersama Aruna.
“Kenapa? Bukankah itu yang kamu mau? Dulu kamu juga pasrah saat aku tawari berhubungan intim,” cemeeh Raka, masih memandang mata sayu Aruna. Raka masih ingat bagaimana malam panas mereka dulu yang tak bisa ia lupakan dengan begitu saja.
Aruna cantik, sangat cantik malah. Pipinya tembem, kulit putih mulus, belum lagi saat Aruna mengerai rambut membuat Raka terpesona. Raka saja sampai jatuh cinta terhadap Aruna, tapi tak sebesar cinta Raka ke Hana pada saat itu.
“Aku? Bukankah Kak Raka yang memaksaku dulu!” Aruna tak terima saat Raka menuduhnya mengoda pria itu. Jelas-jelas Raka lah yang ingin itu darinya.
“Sudahlah, tak usah munafik Aruna. Aku tau bagaimana liciknya kamu!” Raka tak henti-hentinya merendahkan Aruna.
Ia sangat membenci wanita yang ada di depannya itu, yang Raka inginkan Aruna mengalami penderitaan yang ia alami selama ini.
Aruna tak tahan lagi berada di dekat Raka, ia pun turun dari ranjang untuk segera pergi dari sana. Walaupun ia masih mencintai Raka sampai sekarang, tapi ia tak mau mereka berdua melakukan kesalahan yang sama untuk yang kedua kalinya. Cukup sekali Raka menghancurkan masa depannya.
“Eits … kamu tak bisa pergi semudah itu, Aruna,” ucap Raka dengan tatapan nakal. Raka melihat dari atas sampai bawah penampilan Aruna.
“Boleh juga,” kata Raka menilai bentuk tubuh Aruna.
Aruna mengerti arti tatapan Raka padanya.
“Ayo ikut!” kata Raka wajahnya berubah datar saat mengatakan itu.
“Tidak!” teriak Aruna sambil melepaskan diri dari Raka.
Raka menarik paksa tangan Aruna, sehingga Aruna kembali terbaring di atas ranjang.
“Kak Raka, apa yang akan kakak lakukan?” Aruna panik bukan main saat melihat Raka membuka ikat pingangnya. Raka juga membuang jas ke sembarang arah.
“Menurutmu?” tanya Raka lalu mengikat tangan Aruna ke kepala ranjang mengunakan ikat pinggang.
“Kak! Jangan lakukan itu … tolong! Tolong!” teriak Aruna meronta-ronta minta dilepaskan.
Air mata Aruna pun luruh saat menyaksikan betapa gilanya Raka malam ini.
“Kau tau … aku sudah cukup menderita gara-gara kehilangan Hana ….” Raka mencengkram erat dagu Aruna.
“Dan kamu penyebab semua itu, Aruna! Kamu harus membayar semuanya!” teriak Raka, pria itu langsung saja membungkam bibir Aruna.
“K-kak ja-jangan aku mohon!” Aruna berusaha berbicara di sela-sela ciuman brutal dari Raka.
Raka tak memperdulikan perkataan Aruna ia terus saja menjamah tubuh wanita itu dengan kasar. Berkali-kali Aruna mengaduh kesakitan akibat perbuatan Raka. Namun, Raka seakan tuli atas semua rintihan-rintihan dan rasa sakit yang dialami Aruna.
Raka tak memikirkan hal lain lagi, ia terlampau emosi saat pertama kali melihat Aruna yang tampak baik-baik saja, setelah kejadian tujuh tahun yang lalu. Raka tak terima hal itu, ia saja menderita akibat ulah Aruna.
“Kak Raka!” teriak Aruna, badannya melengking hebat antara sakit dan nikmat secara bersamaan.
Setelah melakukan hal itu, Raka pun tertidur di samping Aruna.
Aruna menyingkirkan tangan Raka dari tubuhnya, ia membalikkan badan agar tak melihat ke arah Raka. Tubuhnya terasa remuk dan terasa sakit apalagi di bagian sensitif. Tak hanya itu saja Raka juga memberi luka baru di hidupnya, Raka menghancukan hidup Aruna untuk yang kedua kali.
***
Matahari sudah menampakkan diri, dua insan yang melakukan hubungan panas semalam belum ada tanda-tanda untuk membuka mata. Padahal sudah jam delapan, mereka belum ada tanda-tanda untuk bangun dari tidur indah.
Terlihat Raka memeluk Aruna dengan sangat erat, ia meletakkan kepala Aruna di bawah dagunya. Ini yang Raka inginkan kenyamanan bersama Aruna. Munafik jika Raka mengatakan tak mencintai Aruna, ia sangat mencinta Aruna. Hanya saja tertutup dengan ego dan dendam yang Raka miliki terhadap Aruna.
“Jadi benar yang bersamaku, Aruna?” Raka bertanya-tanya di dalam hatinya. Matanya terbuka lebar saat sadar mereka berdua tak berpakaian.
“Tunggu … apa yang aku lakukan!” panik Raka, dengan spontan ia mendorong tubuh Aruna hingga terjatuh ke lantai.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Raka, tak habis pikir ada Aruna di ranjangnya.
Aruna menatap marah ke arah Raka, yang melupakan kejadian semalam. Jelas-jelas pria itu dengan brutal menjamahnya tanpa membiarkan ia beristirahat.
“Menurut, Kakak!” Aruna sedikit membentak saat mengatakan hal itu, jujur saja ia kesal dengan sikap Raka.
Walaupun sangat mencintai Raka, tapi untuk harga diri, pelecehan yang dilakukan Raka. Aruna tak bisa menerima semua itu.
Raka memegang kepalanya, berusaha mengingat apa yang mereka lakukan malam tadi. Terekam jelas di ingatannya saat ia dan Aruna berhubungan intim.
“Sial! Kenapa aku bisa kelepasan!” umpat Raka pada dirinya sendiri. Kali ini ia akui, ia lah yang memaksa Aruna melayani nafsu bejatnya itu.
“Sudah ingat?” tanya Aruna sambil memakai kembali pakaiannya, bahkan ia melakukan hal itu di depan Raka langsung. Aruna bahkan tak malu.
“Melihat reaksimu yang biasa saja berarti sudah sering melakukannya dengan pria lain, bukan?” ejak Raka, ia sangat faham orang seperti apa Aruna.
Aruna menghentikan kegiatannya saat Raka mengatakan hal itu.
“Sudah, ya Kak. Aku pergi dulu, anggap saja tak terjadi apa-apa malam tadi,” kata Aruna, ia tak ingin bertemu dengan Raka lagi. Melihat wajah Raka membuat hatinya sakit, dadanya terasa sesak mengingat semua perlakuan buruk Raka baik hari ini maupun di masa lalu.
Raka melototkan mata saat Aruna mengatakan hal itu. “Hei! Mau pergi dengan begitu saja?” tanya Raka menghentikan langkah Aruna.
“Iya, aku permisi,” ujar Aruna berusaha melepaskan cekalan di tangannya.
“Bagaimana kalau hamil? Tak ingin aku bertanggung jawab?” tanya Raka, kali ini Raka serius mengatakan hal itu. Entahlah Raka merasa bersalah karena telah menjamah tubuh Aruna tanpa izin.
Aruna menghentikan langkah saat Raka mengatakan hal itu. “Tinggal gugurkan,” kata Aruna.