PROLOG
Aku memandang pilu pada tanah kuburan Bapak yang masih memerah.
Lima hari yang lalu beliau wafat. Diagnosa dokter karena pembengkakan di organ liver. Itu saja.
Meski beliau perokok berat, tak di temukan tanda-tanda paru-paru bapak rusak. Malah dalam kondisi yang sangat baik. Ginjal serta organ dalam yang lainnya dalam kondisi baik. Hanya liver beliau saja yang membengkak.
"Pak, sudah kutunaikan janjiku. Selama Bapak hidup aku tak akan menyeret dia ke jeruji besi. Aku tak mau membuat Bapak jadi tersangka pembunuhan karena menebas lehernya. Aku juga tak sudi bila di nikahkan dengan dia. Maafkan aku, Pak. Maaf kali ini aku sudah tak sanggup menahan luka ini sendiri. Akan aku bawa dia menghadap meja hijau," ucapku berbicara sendiri dengan nisan bapak.
"Pak, aku dengar dari Ibu, kematianmu sebenarnya bukan hanya karena sakit, pak. Siapa yang sudah tega melakukan hal itu, Pak? Aku tahu keluarga kita itu rumit. Terlanjur rumit. Tapi, apakah harus sampai menghilangkan nyawa? Buat apa mereka sholat dan melakukan ibadah yang lain jika itu tak sanggup mengobati luka hati mereka, pak? Pak, kemana aku harus mencari jawaban atas hal ini?"
Air mataku meluncur deras mengingat di hari-hari terakhir Bapak, aku justru sibuk dengan pekerjaan. Aku harus pergi ke kota Semarang untuk mendampingi seorang klien survey legalitas usaha yang di tawarkan oleh temannya.
Dua pekan sebelum Bapak wafat, beliau memohon agar aku tak menerima pekerjaan ke luar kota. Sebuah permintaan yang tak pernah sekalipun beliau minta semasa sehatnya. Bosku berbaik hati melonggarkan izin tersebut. Beliau menyuruh Samuel menggantikanku, yang tentu saja dia sambut dengan senang hati.
Dinas ke luar kota berarti mendapatkan koneksi baru. Juga tambahan uang saku. Selain itu kami akan mendapat poin yang berguna saat akhir tahun.
Aku tak keberatan di ganti oleh Samuel. Aku tahu dia sedang membutuhkan tambahan uang untuk melanjutkan kuliah ke jenjang pascasarjana. Samuel dan aku saling berkompetisi sejak pertama kali masuk di biro jasa hukum Mahendra Datta.
Lamunanku pecah karena ada panggilan masuk dari Ibu. Aku menyusut air mata dan menarik nafas panjang sebelum mengangkat telepon.
"Assalamu alaikum, Bu ... Ada apa?" tanyaku.
"Wa alaikum salam. Nduk, kamu di mana? Ini ada tamu nyariin kamu," jawab Ibu di seberang sana.
"Siapa, Bu?"
"Bos kamu dan istrinya."
"Baik, bu. Aku segera pulang ... Nduk menjenguk Bapak di kuburan."
Telepon kumatikan dan berpamitan pada kubur Bapak.
"Pak, Salsa pulang ya ... "
Lalu aku berjalan keluar dari area pemakaman. Aku menoleh dan menatap dari kejauhan kubur Bapak yang bersebelahan dengan kubur almarhum Eyang Uti. Mulai saat ini aku melepas janji.