Selesai Juga

807 Kata
Sisy membuka bekalnya setelah mendapatkan tempat yang nyaman di bawah tangga, mengulurkan pada Disty yang bersandar dengan mata separuh terpejam. Orientasi ini tidak seberat di perguruan tinggi lain, tidak terlalu banyak acara dan hukuman … tapi benar benarmembosankan. Duduk berjam jam mendengarkan materi baginya lebih menyiksa daripada hukuman jalan jongkok keliling lapangan. “ Oh, tidak …" Disty segera memperbaiki sikap duduknya. “ Ada apa ?” “ Itu …" bisik Disty ,” Selamat siang, Kak …" Sisy menahan tawa melihat temannya mendadak salah tingkah hanya karena Miftah melintas ,” Selamat siang, Kak.” sapanya. “ Siang …" lelaki itu menatap mereka sejenak, tersenyum dan melanjutkan langkahnya. “ Ngapain sih pakai acara tersipu segala ?” Sisy menggerutu lalu melanjutkan makannya. “ Cakep, tahu gak ?” “ Tahu tahu …. Cakep, baik, sabar, keren, apa lagi ? Tapi biasa aja deh …" “ Ah seleramu payah.” Sisy tergelak, matanya berkeliling menyapu sekitar, dan menemukan ssok yang tengah berdiri dibawah pohon dengan kameranya ,” Itu baru ok.” “ Mana ?” “ Itu … yang lagi jalan kesini bawa kamera.” “ Oh … Kak Iskandar.” “ Itu namanya ? Not bad ….. “ “ Cakepan Kak Mif.” “ Tampang tenang begitu …. Ini lebih espresif, senyumnya ada bandel bandelnya dan kelihatannya lebih keras kepala.” ujar Sisy sambil tertawa. “ Yaelah …. keras kepala dicari.” “ Biarin … ini kan selera.” dimasukkannya suapa terakhir ,” Siang Kak.” ujarnya bersamaan dengan Disty. “ Siang.” Iskandar berhenti sejenak dan memicing menyesuaikan tempat yag teduh. Ia tersenyum melihat makhluk buruannya disitu,” Kayaknya enak makan siangnya, bagi dong.” “ Mau Kak ?” tanya Disty serius. Sisy tertawa kecil ,” Kotaknya.” “ Yah, gak jadi.” Iskandar mengeluarkan cengiran mautnya, melambaikan tangan sebelum masuk ke sekretariat dan menemukan Miftah sedang menghadapi ktak makan siangnya ,” Lihat Dewi ?” Yang ditanya menunjuk Dewi tengah makan bersama Ito. Senyum tak pernah lepas dari bibir gadis berambut indah itu. “ Perasaan Ito gak pernah sukses melucu, apa yang bikin Dewi senyam senyum gitu ?” Iskandar meletakkan kamera diatas meja dan meraih kota makan siangnya. “ Pasti cukup efektif untuk penonton tertentu.” ditutupnya kembali kotak makan dan meraih botol air. “ Sudah banyak penggemarmu, Mif ?” Iskandar nyengir melihat menu yang tidak jauh berbeda dengan kemarin. “ Ada ada aja … mana aku tahu.” “ Maksudku, sudah berapa yang salah tingkah hanya karena kamu lewat.” terpaksa ditelannya juga potngan daging ayang dengan sekali kunyah. “ Ada barusan diluar, dekat tangga.” “ Yang didekat tangga ?” Iskandar tersedak dan segera meraih minumnya ,” Yang mana ?” “ yang kecil.” “ Oh …" “ Kok kedengerannya lega begitu ? Yang jangkung burunmu ya ?” Iskandar tersenyum ,” Kamu memang pengertian.” ujarnya sambil berkonsentrasi memisahkan bwang putih dari sayurnya. Miftah menghembuskan nafas perlahan ~~ gadis seperti itu menarik perhatian, lebih dikarenakan pembawaanya ~~  Malam sudah cukup larut ketika panitia membubarkan diri setelah melakukan pembersihan sekedarnya. Mereka menyimpan bahan bahan untuk menyusun laporan tiga hari kedepan, dan memilih pulang sesegera mungkin. “ Belum pulang ?” Dewi memalingkan wajahnya ,” Kelihatannya mobilku ikut capek.” ujarya sambil tersenyum pada Ito. “ Boleh ?’ tanpa menunggu jawaban Ito membuka kap mesin dan mendapati kabel accu tidak terpasang dengan sempurna ,” Sudah, cobalah.” Dewi tertawa senang ,” Terima kasih. Kamu mau pulang ?” “ Jangan mengajukan pertanyaan yang sudah tahu jawabannya.” ditutupnya kap mesin, berjalan mendekati pintu dan menutupnya pelan ,” buang energi.” “ Siapa yang buang energi ? Kamu tinggal jawab Ya … lebih praktis.” Ito tertawa lepas dan menatap gadis yang lama lama salah tingkah, dan itu membuat dadanya menggembung. “ Bareng ?” “ Gak usah, aku jalan kaki saja.” “ Beneran ?” ~~ Daripada aku ingin mengikutimu dan tidak mau pergi ~~ ,” Seratus persen, pergilah. Hati hati.” “ Yo wis, makasih ya.” Ito melambaikan tangan, melangkah perlahan menatap mobil keluaran terbaru itu menjauh. Beberapa hari ini mereka begitu dekat … kebersamaan mereka begitu menyenangkan. Tapi, itu membuat perbedaan antara mereka semakin nyata terlihat. Dewi memang bukan gadis yang sok dengan keberadaannya, tapi bagaimanapun kehidupan ekonomi dan sosial antara mereka berdua berbeda sangat jauh. Sejak kepergian ayahnya beberapa tahun lalu, ia hidup bersama ibu dan Irfan adiknya dengan mengandalkan pensiun almarhum ayah pegawai negeri, itupun bukan golongan yang tinggi ditambah dengan hasilkerja keras ibunya menerima jahitan. Sejak SMA ia terbiasa memenuhi sendiri kebutuhannya, walaupun hanya cukup untuk dirinya. Bisakah Dewi memahami ini ? Kalaupun bisa apakah tidak lebih dari sekedar simpati ? Dihembuskanya nafas panjang, membuka pintu kamar yang pengap. Dihempaskannya tubuh dan pikirannya ke atas kasur dan terlelap dalam hitungan menit
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN